Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.
Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 35
Suasana di dalam Master Suite Villa Karang Putih berubah menjadi sedingin bongkahan es di kutub utara.
Mainan kerincingan bayi berbahan perak itu masih tergeletak di lantai, memancarkan teror bisu dengan ukiran lambang teratai hitamnya. Di mata Dylan Alexander Hartono, benda kecil itu bukanlah mainan; itu adalah pisau yang diarahkan langsung ke leher istri dan ketiga anaknya yang belum lahir.
"Kunci seluruh akses vila. Aktifkan lapis baja di setiap jendela. Tidak ada satu manusia pun yang boleh masuk atau keluar dari area ini, termasuk dokter dan koki," perintah Dylan melalui saluran komunikasi radionya. Suaranya tidak meledak-ledak, melainkan sangat pelan, datar, dan mematikan. Jenis suara yang mendahului sebuah pembantaian.
Dylan menoleh pada Marco yang berdiri dengan wajah pias di ambang pintu.
"Kumpulkan seluruh staf, pengawal, dan tim taktis yang bertugas jaga malam hingga pagi ini di ruang bawah tanah. Lucuti senjata mereka. Aku akan turun dan mencari tahu sendiri siapa tikus yang berani menjual nyawanya pada Vespera."
Marco mengangguk kaku. "Dilaksanakan, Bos."
Setelah Marco menghilang, Dylan berbalik menghampiri Yvone. Wanita itu tengah duduk memeluk perut buncitnya di tepi ranjang, wajahnya pucat pasi, namun matanya menatap tajam ke arah pintu.
Dylan berlutut di hadapan istrinya. Pria itu menangkup wajah Yvone dengan kedua tangan besarnya yang sedikit gemetar.
"Dengarkan aku, Sayang," bisik Dylan, menatap lurus ke dalam mata Yvone. "Ruangan ini adalah titik teraman di seluruh vila. Pintu ini terbuat dari baja padat berbalut kayu oak, tahan terhadap ledakan C4. Kaca jendelanya tidak bisa ditembus oleh peluru kaliber 50 sekalipun. Sistem udaranya independen. Kau akan mengunci pintu ini dari dalam, dan kau tidak akan membukanya untuk siapa pun kecuali kau mendengar suaraku. Apakah kau mengerti?"
Yvone menelan ludah yang terasa tajam seperti pecahan kaca. Ia menangkup tangan suaminya yang berada di pipinya. "Kau akan menginterogasi mereka sendiri? Dylan, jangan biarkan amarah membuatmu gegabah. Vespera mungkin sengaja memancingmu agar meninggalkan ruangan ini."
"Aku tidak akan membiarkan iblis-iblis itu berpikir mereka bisa meneror keluargaku dan lolos begitu saja," geram Dylan, mencium kening Yvone dengan dalam dan penuh keputusasaan. "Tetaplah di sini bersama anak-anak kita. Aku akan segera kembali."
Dylan berdiri, mengambil pistol Glock 19-nya dari laci, memeriksa magasinnya, dan menyelipkannya ke pinggang belakang. Tanpa menoleh lagi, sang tiran melangkah keluar dari kamar.
Terdengar suara klik berat dari sistem penguncian otomatis saat pintu tertutup. Yvone kini benar-benar terisolasi di dalam ruangan tersebut.
Keheningan yang mencekam langsung menyergapnya. Yvone membelai perutnya yang buncit, merasakan gerakan halus dari salah satu bayinya. Tiga detak jantung kecil itu bergantung padanya.
"Ibu di sini, Sayang. Ibu akan melindungi kalian," bisik Yvone dengan suara bergetar.
Namun, diam dalam ketakutan bukanlah sifat Yvone. Insting bertahan hidupnya yang telah terlatih oleh kejamnya ibu kota mulai mengambil alih. Ia berjalan menuju meja kerjanya dan menyalakan layar monitor komputer sentral.
Sistem keamanan vila ini terhubung langsung ke komputernya. Yvone memunculkan rekaman CCTV dari teras belakang dari pukul dua belas malam hingga pukul enam pagi.
Matanya yang tajam dan terlatih sebagai arsitek memindai layar demi layar. Sudut kamera, transisi cahaya, bayangan pepohonan. Semuanya tampak normal. Dua orang penjaga berpatroli secara menyilang setiap lima belas menit. Tidak ada satu pun celah bagi seseorang untuk menyelinap masuk dan meletakkan kotak beludru itu di atas meja makan.
Kecuali... Yvone menyipitkan matanya.
Ada yang aneh dengan pola patroli pada pukul 03.15 WITA. Salah satu pengawal yang bertugas di sektor timur teras seorang pria muda bertubuh kekar yang Yvone kenal bernama Anton berhenti di dekat pilar. Anton tampak menghidupkan rokoknya, membelakangi meja makan selama hampir dua menit penuh. Dan pada menit itulah, kamera di atas meja mengalami glitch (gangguan sinyal) statis selama tepat sepuluh detik.
Sepuluh detik titik buta. Cukup bagi seseorang yang sudah berada di dalam untuk meletakkan barang itu, atau cukup bagi Anton sendiri untuk melakukannya.
Yvone segera meraih ponsel internalnya dan menekan tombol panggilan ke Marco.
Di ruang interogasi bawah tanah yang dingin dan berdinding beton, dua puluh orang pria berbaris tegang. Mereka adalah elit keamanan Alexander Group, namun saat ini mereka terlihat layaknya tahanan yang menunggu eksekusi mati.
Dylan mondar-mandir di depan mereka layaknya serigala yang mengendus mangsa. Jasnya telah ia tanggalkan, kemejanya digulung kasar hingga siku.
"Satu kotak beludru hitam," desis Dylan, suaranya memantul di dinding beton yang lembap. "Berada tepat di tengah teras belakangku. Melewati sensor inframerah, melewati detektor logam, dan melewati kalian semua yang kubayar ratusan juta sebulan untuk tidak tertidur sedetik pun!"
Tidak ada yang berani bersuara. Udara terasa sangat tipis.
"Vespera tidak memiliki sihir," Dylan melangkah mendekati barisan itu, menatap mata anak buahnya satu per satu. "Mereka memiliki uang. Dan seseorang di ruangan ini baru saja menukar nyawanya sendiri dengan uang itu."
Tiba-tiba, ponsel Marco bergetar. Marco melihat layar ponselnya, keningnya berkerut. Ia segera menghampiri Dylan dan membisikkan sesuatu.
"Bos. Nyonya Yvone baru saja menganalisis rekaman CCTV dari kamarnya. Beliau menemukan anomali. Sektor timur teras, pukul 03.15. Penjaga bernama Anton," lapor Marco dengan suara sangat pelan.
Mata kelam Dylan perlahan beralih ke ujung barisan. Tepat pada sosok Anton yang kini menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Tanpa peringatan, Dylan bergerak secepat kilat. Ia menerjang maju, mencengkeram kerah seragam taktis Anton, dan membanting pria berotot itu ke dinding beton dengan kekuatan yang meremukkan tulang.
Brak!
"Ukh!" Anton terbatuk, wajahnya pucat pasi saat lengan bawah Dylan menekan lehernya dengan mematikan.
"Sepuluh detik gangguan kamera," bisik Dylan tepat di depan wajah Anton, matanya berkilat oleh kegilaan seorang ayah yang diancam. "Bagaimana kau memasukkannya ke dalam rumahku, Anton?! Berapa mereka membayarmu?!"
"B-Bos... ampuni saya," Anton terengah-engah, matanya membelalak panik. "S-Saya tidak meletakkannya! Saya bersumpah!"
"TAPI KAU MEMBERIKAN JALANNYA!" raung Dylan, menarik pistol Glock-nya dan menempelkan moncong baja yang dingin itu tepat ke dahi Anton. Jari Dylan sudah berada di pelatuk. "Bicara, atau otakmu akan menghiasi dinding ini sekarang juga."
"A-Anak istri saya, Bos!" tangis Anton pecah, tubuhnya gemetar hebat di bawah cengkeraman maut sang tiran. "Mereka... orang-orang Eropa itu... mereka menyandera anak istri saya di rumah! Mereka mengirimi saya video! Mereka menyuruh saya memasang sebuah jammer sinyal kecil di pilar teras dan berpaling selama dua menit jika saya ingin keluarga saya tetap hidup!"
Rahang Dylan mengeras. Sindikat Vespera bermain dengan taktik klasik terorisme mental. Memeras orang dalam menggunakan keluarganya.
"Siapa yang masuk dan meletakkan kotak itu?" geram Dylan, tidak melepaskan tekanannya.
"S-Saya tidak tahu! Saya menutup mata saya sesuai perintah mereka!" isak Anton. "Tapi... tapi mereka memberi saya sebuah telepon sekali pakai (burner phone). Mereka bilang... mereka bilang Bos akan menelepon nomor di dalamnya jika Bos cukup pintar untuk menemukannya!"
Marco segera maju, menggeledah saku celana taktis Anton, dan menemukan sebuah ponsel hitam kecil yang terlihat murahan.
Dylan melepaskan Anton, membiarkan pengawal pengkhianat itu jatuh merosot ke lantai sambil terbatuk-batuk.
"Amankan dia. Temukan keluarganya dan selamatkan mereka jika masih bisa. Jika tidak, itu urusannya dengan Tuhan," perintah Dylan dingin tanpa belas kasihan, mengambil ponsel tersebut dari tangan Marco.
Ponsel itu tidak memiliki layar sentuh, hanya sebuah layar monokrom dengan satu nomor kontak yang tersimpan: V.
Dylan menatap layar itu. Jantungnya berpacu, namun otaknya bekerja dengan dingin. Ia menekan tombol panggil dan menempelkan ponsel itu ke telinganya.
Nada sambung berbunyi dua kali sebelum sebuah suara menjawab dari seberang sana.
"Dylan Alexander Hartono," suara pria itu terdengar dalam, berat, dengan aksen Eropa Timur yang kental dan aristokrat. Suara itu begitu tenang, seolah tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa menyentuhnya. "Kupikir kau butuh waktu lebih lama untuk menemukan saluran ini. Kau memang secerdas yang ayahmu ceritakan padaku dulu."
Napas Dylan tertahan di tenggorokan. Jari-jarinya mencengkeram ponsel itu hingga buku-buku jarinya memutih. Iblis itu menyebut ayahnya.
"Lucian Vance," desis Dylan, menyebut nama itu layaknya kutukan maut. "Aku akan mencabik-cabikmu dengan tanganku sendiri."
Terdengar tawa kecil yang merdu namun beracun dari seberang sana.
"Kau pemarah, persis seperti Abraham. Pria tua yang malang itu menolak tawaranku untuk berbagi pelabuhan, jadi aku harus membiarkan anjing piaraanku, Hadi, untuk memotong tali helikopternya," ucap Lucian Vance santai, memutar-mutar pisau pada luka lama Dylan. "Dan kini kau menghancurkan anjingku, menyita jalur distribusiku. Itu bisnis yang buruk, Dylan. Sangat buruk."
"Jika kau ingin membalas dendam, datanglah padaku!" geram Dylan. "Kirim pasukanmu! Kita selesaikan ini seperti pria! Jangan melibatkan istri dan anakku yang belum lahir!"
"Oh, aku tidak ingin membunuhmu, Dylan. Setidaknya belum," Lucian menjawab dengan nada yang membuat darah Dylan membeku. "Aku adalah seorang pebisnis. Kau telah mengambil sesuatu yang berharga dariku, maka secara alamiah, aku harus mengambil sesuatu yang paling berharga darimu sebagai kompensasi. Sebuah prinsip pertukaran yang adil (equivalent exchange)."
"Villa ini tidak bisa ditembus oleh pasukanmu, Vance. Jika satu saja orangmu mendekat, mereka akan mati sebelum menyentuh pagar," ancam Dylan.
"Benteng beton memang tidak bisa ditembus dari luar, Tuan Hartono," kekeh Lucian Vance pelan, suaranya terdengar seolah ia sedang menyesap anggur merah yang mahal. "Tapi setiap benteng bisa dihancurkan dari dalam. Terutama jika musuhmu adalah udara yang kau hirup."
Mata Dylan terbelalak. Otaknya yang brilian memproses kata-kata itu dengan kecepatan kilat. Udara yang kau hirup.
Kotak beludru di teras.
Kaca anti-peluru kamar Yvone yang mengisolasi sistem udaranya.
Ventilasi.
"Marco!!" raung Dylan, membuang ponsel itu hingga hancur berkeping-keping ke dinding beton. "MATIKAN SISTEM VENTILASI SENTRAL! SEKARANG!!"
Tanpa menunggu konfirmasi dari Marco yang terlihat kebingungan, Dylan berlari. Ia melesat menaiki tangga beton dari ruang bawah tanah dengan kecepatan yang mustahil, otot-otot kakinya memompa adrenalin dalam jumlah yang mematikan.
"Yvone! Yvone!" teriak Dylan menggema di seluruh lorong vila.
Ia menyadari taktik mengerikan Vespera. Anton tidak disuruh untuk meletakkan bom. Anton disuruh untuk memberikan akses pada seseorang untuk meletakkan tabung gas saraf yang tidak berbau ke dalam saluran masuk ( intake ) Air Conditioner sentral di dekat teras belakang! Dan gas itu akan disalurkan langsung ke kamar-kamar utama.
Dylan tiba di depan pintu Master Suite yang terkunci rapat dari dalam.
"Yvone! Buka pintunya!" Dylan menggedor pintu baja berbalut kayu itu dengan kepalan tangannya hingga kulit buku jarinya berdarah. "YVONE! BUKA!!"
Dari dalam kamar, Yvone yang baru saja selesai berbicara dengan Marco melalui telepon internal, terkejut mendengar teriakan histeris suaminya. Ia bergegas berjalan menuju pintu, namun tiba-tiba kepalanya terasa sangat ringan.
Dunia di sekeliling Yvone mulai berputar.
Ia memegang kepalanya, matanya berkunang-kunang. Udara di dalam kamar yang kedap itu terasa aneh, seolah oksigennya telah digantikan oleh sesuatu yang membuat paru-parunya terbakar secara perlahan.
"D-Dylan..." panggil Yvone lemah, kakinya kehilangan keseimbangan.
Ia jatuh terduduk di atas karpet berbulu tebal, tangannya secara refleks memeluk perut buncitnya yang menahan tiga nyawa di dalamnya.
"Dylan..." bisik Yvone dengan sisa kesadarannya, pandangannya menggelap, dan tubuhnya ambruk sepenuhnya ke lantai.
Di luar pintu, Dylan mendengar suara benturan tubuh yang jatuh.
"TIDAAAAKKK!!!"
Raungan Dylan Alexander Hartono meledak, menghancurkan keheningan Uluwatu. Itu bukanlah teriakan amarah seorang CEO, melainkan lolongan keputusasaan dari seekor naga yang melihat ratunya terbunuh di dalam sarangnya sendiri.
"Marco! Bawa peledak C4! Hancurkan pintu ini sekarang juga!" perintah Dylan dengan suara yang hancur berkeping-keping.
Author Punya Permintaan Jika Kalian Suka dengan cerita ini mohon bantuan untuk beri rating bintang dan vote nya.. 🙏 Penilaian kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat meng update cerita ini. TERIMA KASIH.... ✌️