NovelToon NovelToon
Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Pangeran Kedua Jadi Kultivator Yang Tak Tertandingi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Pangeran
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Neon Pena

Apa yang menyebabkan seseorang Putra Kedua sang Raja menjadi sang Kultivator yang paling hebat?
____
So Guys! ini kisahlah kisah Qinar sang Kultivator kita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neon Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 27

Di titik tertinggi pegunungan ini, aku berdiri tegak di atas batu granit yang sudah terkikis oleh badai ribuan tahun. Di bawah sana, Ki Kusumo berdiri tenang di mulut gua, menatapku dengan mata yang dalam.

"Ini adalah ujian terakhirmu, Qinar!" teriak Ki Kusumo, suaranya mampu menembus deru angin kencang. "Ujian Kesembilan: Menahan Petir. Jangan kau tolak sambaran itu. Tarik ia ke dalam sumsum tulangmu! Jadikan dia bagian dari kekuatan tubuhmu!"

Aku tidak menjawab. Aku melepaskan seluruh kendali atas Qi-ku. Aku membiarkan tubuhku menjadi konduktor bagi energi alam. Tanda lahir berwarna merah di pergelangan tanganku kini berdenyut hebat, seolah merespons kilatan petir yang menyambar-nyambar di atas kepala.

DOR!

Sebuah kilatan petir ungu sebesar batang pohon beringin turun dari langit, menghantam tepat di dadaku.

Dunia mendadak menjadi putih. Rasa sakit yang luar biasa merambat ke seluruh sarafku. Ini bukan sekadar rasa panas, ini adalah energi murni yang mencoba menghancurkan struktur daging dan tulangku dari dalam. Aku berlutut, napasku keluar sebagai uap panas, namun aku menolak untuk roboh. Aku mengerahkan seluruh sisa kekuatan dari Level 6 Kultivasi-ku untuk mengunci energi tersebut.

Jangan hancur, perintahku pada diriku sendiri.

Aku membiarkan petir itu mengalir ke seluruh meridianku. Setiap kali aliran listrik itu merusak serat ototku, aku segera memerintahkan Inti Sejatiku untuk menyalurkan energi penyembuh sekaligus penguat. Itu adalah proses yang menyiksa, sebuah pertarungan hidup dan mati di mana tubuhku dipaksa untuk beradaptasi atau mati terbakar.

"Tahan, Qinar! Jangan biarkan ia lepas!" teriak Ki Kusumo.

Aku mengertakkan gigi. Keringat yang bercampur debu mengalir deras di wajahku. Tanda lahir merah di tanganku kini berpijar panas, seolah-olah ia sedang menyerap energi petir itu untuk dirinya sendiri. Aku merasa kekuatanku meledak, menembus batasan yang selama ini membelengguku.

Saat sambaran kedua datang, aku tidak lagi berlutut. Aku berdiri. Aku merentangkan kedua tanganku ke atas, menyambut kemarahan langit dengan dadaku yang terbuka.

BOOM!

Gelombang kejut dari sambaran petir itu membuat batu-batu di sekitarku hancur berkeping-keping. Namun, aku tetap tegak. Aku merasakan energi petir itu kini tenang, mengalir di dalam darahku seperti sungai emas yang dingin. Kekuatan ini... ini adalah puncak dari segalanya. Aku merasa kini aku mampu membelah awan dengan satu ayunan tangan.

Perlahan, badai itu reda. Langit mulai tenang, menyisakan kesunyian yang mencekam di puncak gunung. Aku berdiri di sana, dengan napas yang teratur dan pandangan yang jauh lebih tajam dari sebelumnya.

Aku turun dari puncak dengan langkah yang tenang. Ki Kusumo menungguku di bawah. Ia tidak membungkuk, ia tidak memberikan segel apa pun. Ia hanya menatapku dengan tatapan seorang guru yang tugasnya telah selesai.

"Sembilan ujian sudah kau lalui," ucap Ki Kusumo dengan nada datar namun penuh makna. "Kau sudah menjadi kultivator yang melampaui siapapun di puncak ini. Tapi ingat, Qinar, kekuatanmu hanyalah alat. Dunia di luar sana tidak peduli seberapa kuat kau menahan petir jika kau tidak tahu cara mengendalikan hatimu."

"Apa yang harus kulakukan sekarang, Ki?" tanyaku.

Ki Kusumo menatap ke arah jauh di mana lampu-lampu kota Kerajaan Geedapa mulai terlihat samar di ufuk timur. "Turun gunung. Hiduplah sebagai manusia biasa di ibu kota. Cari tahu siapa dirimu sendiri di sana. Jangan pernah menyebut namaku, dan jangan pernah membuka jati dirimu yang sebenarnya sampai kau siap."

Ia tidak memberitahuku siapa orang tuaku. Ia tidak membicarakan soal kerajaan atau ramalan. Ia hanya memberiku sebuah kantong berisi uang perak secukupnya dan sebuah pedang kayu tua.

"Kenapa kau tidak memberitahuku tentang asal-usulku?" tanyaku, merasakan ada sesuatu yang disembunyikan.

Ki Kusumo hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh misteri. "Karena jika kau tahu, kau akan berjalan dengan kebencian. Dan seorang kultivator yang berjalan dengan kebencian, tidak akan pernah bisa mencapai puncak tertinggi."

1
Sport One
salah fokus🤣 sama kalimat ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!