NovelToon NovelToon
"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

"STERILIZED SECRETS: MY HYGIENIC MAFIA HUSBAND"

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:598
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

Arkan Alesandro Knight adalah seorang King Mafia dari organisasi Black Eclipse yang memiliki reputasi mematikan, namun ia menyimpan satu rahasia konyol: ia menderita Mysophobia akut. Baginya, kuman lebih berbahaya daripada peluru. Hidupnya yang steril dan kaku berubah total ketika ia terjebak dalam sebuah perjodohan dengan gadis pilihan ayahnya, Evelyn Valentina Grant.

​Evelyn tampil sebagai sosok "My Nerdy Wife"—gadis culun dengan kacamata tebal, daster bunga-bunga yang aneh, dan sifat ceroboh yang luar biasa. Namun, di balik penyamaran konyolnya, Evelyn sebenarnya adalah Queen EVG, seorang peretas kelas dunia dan pemimpin organisasi spionase yang sangat tangguh. Ia sengaja berakting bodoh untuk melindungi identitasnya sekaligus memata-matai Arkan.

penasaran dengan cerita mereka jangan lupa mampir yapp🥰🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Peraturan Radius Satu Meter

Seminggu berlalu secepat kilat, atau lebih tepatnya secepat peluru yang keluar dari moncong glock milik Evelyn. Hari ini adalah hari pertama mereka menempati rumah baru pemberian keluarga Knight. Sebuah mansion minimalis yang sangat modern, terletak di pinggiran kota yang sepi—persis seperti keinginan Arkan yang benci kebisingan.

Evelyn berdiri di tengah ruang tamu dengan koper besarnya yang bergambar kartun kelinci (salah satu properti penyamaran culunnya). Ia masih setia dengan kacamata tebal dan kardigan rajut berwarna ungu muda yang ukurannya dua kali lipat tubuhnya.

"Jadi... ini rumah kita?" tanya Evelyn dengan suara sengau yang dibuat-buat, sambil menatap langit-langit rumah yang tinggi.

Arkan masuk ke ruangan itu sambil membawa botol semprotan disinfektan berukuran besar. Tanpa menyapa istrinya, ia mulai menyemprot gagang pintu, meja, hingga udara di sekitarnya. Sstt! Sstt! Sstt!

"Rumahku," koreksi Arkan dingin. "Kau hanya menumpang di sini karena kertas pernikahan itu. Dan sebelum kita melangkah lebih jauh, ada peraturan yang harus kau patuhi."

Evelyn mengerjapkan matanya yang tertutup lensa tebal. "Peraturan? Seperti... jadwal piket membersihkan jamur?"

Arkan meletakkan botol semprotannya di meja (setelah mengelap meja itu dengan tisu alkohol, tentu saja). Ia mengeluarkan selembar kertas dari saku jasnya dan membukanya dengan sangat formal.

"Peraturan pertama: Radius Satu Meter. Jangan pernah mendekatiku lebih dari jarak satu meter. Jika kau melanggarnya, aku akan menganggapnya sebagai serangan fisik dan aku tidak segan-segan menggunakan alat pertahanan diri," ucap Arkan tegas.

Evelyn menahan tawa. Serangan fisik? Dia pikir aku akan menerjangnya seperti fans fanatik? "O-oh... baik, Tuan Arkan. Eve juga takut kuman... kuman dari orang sombong biasanya lebih galak," gumamnya pelan, namun cukup keras untuk didengar.

Arkan menyipitkan mata. "Apa kau bilang?"

"Eh? Tidak! Eve bilang... kuman di sini sangat banyak!" Evelyn segera meralat sambil berpura-pura ketakutan.

"Peraturan kedua: Jangan menyentuh barang-barang pribadiku. Terutama koleksi jam tanganku dan peralatan kerjaku. Peraturan ketiga: Jangan pernah masuk ke ruang kerjaku di lantai dua. Jika kau masuk ke sana tanpa izin, sistem keamanan laser akan otomatis mengunci pintu dan kau akan terjebak di dalam selama dua belas jam."

Evelyn mendengus dalam hati. Laser? Aku bisa mematikan sistem itu sambil menutup mata dan mengunyah permen karet. "Baik, Tuan. Eve mengerti. Eve hanya akan berada di dapur atau di kamar Eve."

"Bagus. Kamarmu di ujung lorong lantai satu. Kamarku di lantai dua. Jangan pernah naik ke atas kecuali ada kebakaran atau kiamat," tambah Arkan. Ia kemudian berbalik dan berjalan pergi menuju kamarnya yang steril.

Evelyn menatap punggung Arkan dengan tatapan tajam yang tersembunyi di balik kacamata. Begitu Arkan menghilang, ia segera menyeret kopernya ke kamar. Di dalam kamar, ia mengunci pintu, membuang kacamata tebalnya ke tempat tidur, dan membuka laptop canggih yang tersembunyi di dasar koper kelincinya.

"Ed, kau dengar itu? Dia punya sistem keamanan laser. Dia pikir dia sedang tinggal di museum Louvre?" bisik Evelyn ke arah jam tangannya.

"Queen, saya rasa dia hanya paranoid," suara Edward terdengar geli. "Tapi ada kabar buruk. Sebastian Black mulai mengendus keberadaan rumah baru Anda. Dia mengira Arkan menyembunyikan dokumen proyek Knight Company di sana."

Mata Evelyn berkilat. "Bagus. Biarkan tikus-tikus itu datang. Aku sedang bosan berakting jadi gadis culun. Oh ya, periksa juga siapa yang memasang penyadap di bawah meja makan rumah ini. Aku merasakannya saat masuk tadi."

"Penyadap? Arkan tidak tahu?"

"Sepertinya tidak. King Mafia itu terlalu sibuk dengan semprotan disinfektannya sampai tidak sadar ada 'kuman' elektronik di rumahnya sendiri."

Malam itu, saat Arkan sedang sibuk menggosok tangannya dengan sabun antibakteri untuk yang kesepuluh kalinya, Evelyn keluar dari kamarnya dengan sangat senyap. Ia tidak memakai baju ungu mudanya; ia memakai pakaian serba hitam.

Ia merayap ke ruang makan. Benar saja, di bawah meja kayu jati yang mahal itu, terdapat sebuah alat penyadap kecil dengan lampu merah yang berkedip sangat halus. Evelyn tersenyum miring. Ia mengeluarkan sebuah alat kecil dari sakunya—sebuah scrambler frekuensi.

"Selamat tidur, pengintip," bisik Evelyn.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar dari arah tangga. Evelyn membeku. Sial, si Higienis turun!

Dengan gerakan kilat, Evelyn berguling ke balik sofa dan memasang kembali kacamata tebalnya yang ia kantongi. Ia meraih sebuah buku yang ada di meja dekorasi—ternyata itu buku panduan memasak—dan berpura-pura membacanya dengan sangat serius di bawah cahaya remang-remang.

Arkan muncul dengan jubah mandi putih bersih dan masker wajah kain. Ia membawa segelas air putih. Ia berhenti saat melihat sosok bayangan di sofa.

"Apa yang kau lakukan di sini jam dua pagi?" tanya Arkan dengan suara baritonnya yang membuat bulu kuduk Evelyn sedikit merinding (kali ini bukan karena takut).

Evelyn menoleh dengan wajah "bingung". "E-eh... Tuan Arkan. Eve... Eve lapar. Tapi Eve bingung bagaimana cara menyalakan kompor yang sangat canggih itu. Jadi Eve membaca buku ini dulu supaya kompornya tidak meledak."

Arkan menatap buku di tangan Evelyn. "Itu buku resep membuat kue tanpa oven. Tidak ada hubungannya dengan menyalakan kompor."

Evelyn tertawa canggung. "O-oh... pantas saja Eve tidak menemukan tombol on/off-nya. Hehe..."

Arkan menghela napas panjang. Ia merasa keputusannya menikahi gadis ini memang benar karena dia "aman", tapi ternyata dia juga sedikit bodoh. "Kembali ke kamarmu. Aku akan menyalakan lampu sensor agar kau tidak menabrak tembok."

"Terima kasih, Tuan Arkan yang baik!" Evelyn berdiri dan berlari kecil menuju kamarnya, sengaja menabrak pinggiran meja makan sedikit agar terlihat kikuk.

Begitu pintu kamar tertutup, Evelyn bersandar di balik pintu sambil memegang dadanya. "Hampir saja. Pria itu punya pendengaran yang tajam juga."

Sementara itu, Arkan berdiri di ruang makan. Ia merasa ada yang aneh dengan meja makannya. Ia berjongkok dan melihat alat penyadap yang tadinya berfungsi, kini sudah mati total terkena gangguan frekuensi.

Arkan menyipitkan matanya. "Apa mungkin si culun itu yang melakukannya? Tidak, dia bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor."

Arkan berdiri dan menatap ke arah kamar Evelyn. "Atau mungkin... kuman di rumah ini lebih berbahaya daripada yang kubayangkan."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!