NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:610
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Duduk Berdua

Malam harinya. Tepi pantai di belakang villa.

Api unggun menyala di tengah halaman belakang villa yang menghadap langsung ke laut. Ombak terdengar gemuruh pelan, angin malam membawa bau garam dan pasir basah. Langit di atas mereka bertabur bintang. Jauh lebih banyak dari yang bisa Adea lihat di tengah kota Mataram.

Dua kursi santai dari rotan diletakkan mengelilingi api unggun. Seoul Lee duduk di salah satunya, memegang cangkir kopi hitam buatan sendiri. Angga di kursi sebelahnya, teh hangat di tangan, matanya mengikuti gerak-gerik Adea yang berlarian di kejauhan.

Gadis itu sedang bermain dengan kucing.

Bukan Cumi. Tapi tiga ekor kucing liar yang tinggal di sekitar villa. Kucing oren gendut, kucing hitam kurus dengan satu mata buta, dan kucing putih kecil yang masih anak-anak. Adea berlari ke sana kemari, mengejar kucing oren yang tidak mau digendong, sambil tertawa kecil setiap kali kucing putih berlari di sela-sela kakinya.

"Adea, sini! Udaranya dingin," panggil Angga.

Adea menoleh. Wajahnya merah karena berlari, rambutnya yang diikat kepang dua mulai berantakan, beberapa helai menempel di pelipis. Tapi matanya berbinar.

Ia berlari kecil menghampiri.

Seoul Lee yang duduk di kursi santai tersenyum gemas melihatnya. "Lucu banget sih," bisiknya pada Angga.

"Jangan bilang lucu."

"Tapi emang lucu."

Angga tidak sempat menjawab karena Adea sudah sampai di depannya. Gadis itu berdiri di samping kursi Angga, napasnya masih terengah-engah. Di tangannya, ia menggendong kucing putih kecil yang tidak berani turun.

"Angga, liat! Ini kucing putih. Imut banget. Bisa dibawa pulang gak?"

"Gak bisa."

"Tapi Cumi butuh teman."

"Cumi punya lu. Cukup."

"Cumi butuh adek!"

"Cumi steril."

"YAUDELA!"

Adea memasang wajah cemberut. Tapi cemberutnya tidak bertahan lama karena Angga sudah berdiri dari kursinya dan menyampirkan kain tipis. Sebuah selendang besar berwarna krem, tersampir di pundak Adea. Kain itu hangat, masih menyimpan sisa kehangatan dari tubuh Angga.

"Duduk," ucap Angga sambil menepuk kursi di sampingnya.

Kursi rotan itu sebenarnya cukup untuk satu orang. Tapi Angga duduk di sisi kanan, dan ia menarik Adea untuk duduk di sisi kirinya, sehingga mereka berdua berbagi satu kursi. Tubuh kecil Adea hampir tidak terasa di samping tubuh besarnya.

Adea meletakkan kucing putih itu di pangkuannya. Kucing kecil itu langsung meringkuk dan mendengkur.

"Kucing itu hamil kali ya?" komentar Seoul Lee dari kursi sebelah.

"Masih kecil. Mana mungkin hamil," balas Adea.

"Kucing cepet dewasa. Usia enam bulan udah bisa hamil."

"Serius?"

"Iya. Aku punya kucing di Korea. Namanya Bbok. Dia hamil umur tujuh bulan."

Adea menatap kucing putih di pangkuannya dengan ekspresi waspada. "Kamu jangan hamil dulu ya, kecil. Nanti aku adopsi kamu pas udah gede."

Angga tertawa kecil mendengar itu. Adea menoleh.

"Lu ketawa?"

"Iya."

"Jarang-jarang."

"Ya elu aja yang bikin gue ketawa."

Adea terdiam. Pipinya merona bukan karena api unggun. Tapi karena kalimat Angga yang terdengar... berbeda. Lembut. Hangat. Dan sedikit menggoda.

Ia menunduk, mengelus kucing putih di pangkuannya agar tidak ketahuan sedang tersipu.

 

Seoul Lee mengamati mereka berdua.

Pria berambut ungu itu duduk santai di kursi rotannya, cangkir kopi di tangan, mata menyipit di balik uap panas. Ia melihat bagaimana Angga tanpa sadar selalu mengarahkan tubuhnya ke arah Adea. Bagaimana bahu mereka bersentuhan. Bagaimana Angga sesekali menoleh hanya untuk memastikan Adea tidak kedinginan.

Mereka ini... pikir Seoul, ...sudah seperti pasangan tua yang menikah puluhan tahun.

"Adea."

"Hm?"

"Kamu gak takut sama Angga?" tiba-tiba Seoul bertanya.

Adea mengangkat wajah. "Takut kenapa?"

"Dia tuh... judes. Sering diem. Susah ditebak."

"Gue udah kenal dia dari kecil. Gak ada yang perlu ditakutin." Adea menoleh ke Angga. "Dia tuh kayak... Cumi versi gede."

"Maksudnya?" tanya Seoul.

"Judes di luar, tapi manis di dalam."

Angga yang mendengar itu hanya diam. Tapi di sudut bibirnya, tersimpan senyum kecil yang tidak bisa ia sembunyikan.

Seoul Lee tertawa. "Aku setuju. Tapi aku gak berani bilang ke dia."

"Kenapa?"

"Nanti aku diusir dari villa ini."

Ketiganya tertawa. Adea paling keras. Tawanya terdengar riang, seperti belum ada yang terjadi di dua hari terakhir. Seperti tidak ada air mata. Seperti tidak ada pintu yang terkunci. Seperti tidak ada ciuman di tengah malam.

Tapi Seoul Lee memperhatikan.

Ketika Adea tertawa, matanya sesekali melirik ke Angga. Dan ketika Angga tertawa, matanya hanya tertuju pada Adea.

Ada yang berubah di antara mereka, pikir Seoul. Dan aku harus mencari tahu.

 

Api unggun mulai meredup.

Seoul Lee berdiri, meregangkan tubuh. "Aku masuk dulu ya. Mau telepon Eomma. Kalian berdua di sini aja."

"Sendirian?" tanya Adea.

"Kalian kan udah dewasa. Gak perlu pendamping." Seoul Lee mengedip, lalu berjalan masuk ke villa. Pintu kaca geser tertutup pelan di belakangnya.

Sekarang hanya Adea, Angga, dan api unggun yang tersisa.

Ombak masih terdengar. Angin masih berhembus. Kucing putih di pangkuan Adea sudah tertidur pulas.

"Angga."

"Hmm."

"Kemarin... kenapa lo cium gue?"

Pertanyaan itu keluar tiba-tiba. Tanpa basa-basi. Tanpa persiapan.

Angga yang sedang menyesap tehnya berhenti bergerak. Cangkir di tangannya terasa berat.

Ia menurunkan cangkir. Menatap api unggun di depannya. Tidak menoleh ke Adea.

"Gue gak tahu."

"Gimana bisa gak tahu?"

"Gue..." Angga berhenti. Mencari kata. "Gue cuma... gue gak mau kehilangan lo."

Adea diam. Tangannya berhenti mengelus kucing.

"Lo gak akan kehilangan gue," ucap Adea pelan. "Gue di sini. Gue gak kemana-mana."

"Tapi lo nutup pintu. Lo ngunci diri. Lo gak mau ngomong ke gue." Angga akhirnya menoleh. Matanya gelap. Bukan marah. Tapi sakit. "Gue di luar kamar lo, Dea. Ngetok pintu. Bawa makanan kesukaan lo. Lo ambil makanannya, tapi lo gak buka pintu buat gue."

Adea menggigit bibir bawahnya.

"Gue takut."

"Takut apa?"

"Takut lo ninggalin gue."

"Itu kan mimpi lo."

"Bukan cuma mimpi." Adea menunduk. Suaranya hampir berbisik. "Ada cewek cantik di kelas lo. Ferrari pink. Thalia. Lo duduk berdua sama dia di taman. Orang-orang ngirim foto ke gue."

Angga terdiam.

Jadi ini penyebabnya.

Bukan dosen. Bukan ujian. Bukan Seoul Lee.

Thalia.

"Itu cuma foto, Dea. Kita lagi ngobrol biasa."

"Lo senyum ke dia."

"Gue senyum ke semua orang."

"Gak. Lo senyum ke dia kayak lo senyum ke gue."

Angga menghela napas panjang. Ia meletakkan cangkir tehnya di pasir, lalu memutar tubuhnya menghadap Adea.

"Dengar," ucapnya. Suaranya tegas, tapi lembut. "Thalia itu teman sekelas. Dia baik. Dia cantik. Tapi dia bukan lo."

"Maksudnya?"

"Maksudnya..." Angga meraih tangan Adea yang memegang kucing. Jari-jarinya yang besar menggenggam jari-jari mungil itu. "...gue gak akan ninggalin lo buat orang lain. Titik."

Adea menatap genggaman tangan mereka. Tangannya terlihat sangat kecil di dalam genggaman Angga.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah pake apa?"

"Sumpah pake Cumi."

Adea tertawa kecil. Air matanya jatuh. Tapi kali ini bukan karena sedih. Ia menghapusnya dengan punggung tangan.

"Angga."

"Hmm."

"Lo harusnya bilang itu dari kemarin."

"Gue gak tahu lo ngeliat foto."

"Bukan cuma foto. Banyak yang bilang kalau lo sama Thalia cocok. Anak ekonomi sama anak ekonomi. Sama-sama ganteng cantik. Sama-sama pinter. Masa depan cerah. Sedangkan gue..." Adea menunduk. "Gue cuma anak kedokteran yang suka telat. Rumah aja nempelin lo."

"Adea."

"Hm."

"Rumah itu rumah lo juga."

"Tapi-"

"Rumah itu beli pake uang hasil lukisan gue. Iya. Tapi siapa yang ngerawat bunga di halaman setiap pagi? Siapa yang bersihin rumah setiap sore? Siapa yang ngelap debu dari rak buku gue yang gak pernah gue baca? Siapa yang bangunin gue kalo gue ketiduran di sofa?"

Adea tidak menjawab.

"Lo, Dea. Semua itu lo." Angga mengangkat tangan Adea ke bibirnya. Ia mengecup punggung tangan gadis itu lembut, lama. "Jadi jangan pernah bilang lo cuma nempelin. Lo bukan beban. Lo bukan numpang. Lo adalah..."

Ia berhenti.

...rumah buat gue.

Tapi ia tidak mengucapkannya.

"Lo adalah Adea," lanjutnya akhirnya. "Dan gue gak butuh lebih dari itu."

Adea tidak bisa berkata apa-apa. Ia hanya menangis. Tapi kali ini ia tersenyum di sela-sela air matanya.

"Angga goblok," isaknya.

"Iya. Gue goblok."

"Goblok banget."

"Iya."

"Tapi..." Adea memeluk Angga. Kucing putih di pangkuannya terbangun, mengeong protes, lalu melompat turun dan berlari ke arah villa. Adea tidak peduli. Ia memeluk Angga erat-erat. "...gue sayang, Angga."

Angga membalas pelukan itu.

"Gue juga sayang, Dea."

Api unggun di depan mereka hampir padam. Tinggal bara merah yang masih menyala samar.

Tapi mereka tidak merasa dingin.

Karena mereka sudah saling hangat.

 

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!