Arkan Xavier adalah definisi dari kekejaman. Sebagai pemimpin sindikat mafia paling ditakuti, dunianya hanya dipenuhi dengan pengkhianatan dan genangan darah. Namun, satu malam yang fatal mengubah segalanya. Dalam kondisi sekarat akibat penyergapan, Arkan diselamatkan oleh Aisyah, seorang wanita bercadar yang hatinya sedalam samudera dan imannya sekokoh karang.
Bagi Arkan, Aisyah adalah anomali—cahaya yang seharusnya tidak pernah bersentuhan dengan kegelapannya. Terobsesi dengan ketenangan yang dimiliki Aisyah, Arkan mulai masuk ke kehidupan wanita itu, menyeretnya ke dalam pusaran bahaya yang belum pernah Aisyah bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon putri Sefira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Jauh di Mata, Dekat di Doa
Dinding beton setinggi enam meter dengan kawat berduri yang melilit di puncaknya kini menjadi batas dunia bagi Arkan Xavier. Suara pintu besi yang berdentum berat saat terkunci di belakangnya seolah-olah menjadi titik noktah bagi masa lalunya sebagai penguasa logistik gelap. Di sini, di Lapas Kelas I Cipinang, ia bukan lagi "Tuan Arkan" yang ditakuti; ia hanyalah Narapidana Nomor 7042.
Langkah Arkan terasa ringan meski ia mengenakan seragam oranye yang kasar. Di tangannya, ia mendekap erat bungkusan kecil pemberian Aisyah: Al-Qur'an saku dan buku catatan medis. Baginya, kedua benda itu lebih berharga daripada seluruh saham perusahaan yang pernah ia miliki.
"Nomor 7042! Masuk ke Blok B, Sel 12!" teriak sipir penjaga dengan nada yang tidak mengenal kompromi.
Arkan masuk ke dalam sel yang sempit. Bau apak dan udara pengap menyambutnya. Ada tiga orang lain di dalam sel itu—pria-pria dengan wajah keras yang langsung menatapnya dengan penuh selidik. Salah satu dari mereka, pria bertato kalajengking di lengannya, berdiri dan menghalangi jalan Arkan.
"Jadi, ini si anak emas Xavier itu?" ejek pria itu, yang ternyata adalah mantan anak buah klan Scorpio yang pernah Arkan jebloskan ke penjara dua tahun lalu. "Di luar kau raja, tapi di sini, kau hanya mangsa."
Arkan tidak membalas. Ia meletakkan bungkusannya di kasur tipis yang tersedia.
Matanya tenang, tidak ada ketakutan, namun juga tidak ada niat untuk menantang. "Aku di sini untuk menjalani hukuman, bukan untuk mencari takhta. Jangan ganggu aku, maka aku tidak akan mengganggumu."
Pria itu tertawa, mencoba melayangkan pukulan ke arah wajah Arkan. Namun, dengan gerakan yang sangat tenang, Arkan menangkap tinju itu dan menekannya ke bawah dengan kekuatan yang terkontrol.
"Aku sudah bersumpah pada seorang wanita untuk tidak lagi menggunakan tangan ini untuk menyakiti," bisik Arkan tepat di telinga pria itu.
"Jangan buat aku melanggar sumpahku di hari pertama."
Pria itu terdiam, merasakan cengkeraman Arkan yang seperti besi. Ia segera mundur, menyadari bahwa meski Arkan sudah "hijrah", singa tetaplah singa.
Sementara itu, di Panti Asuhan Kasih Bunda, Aisyah sedang sibuk merapikan apotek kecil yang baru saja dibangun kembali. Kehidupan di panti telah pulih, namun kehadiran Aisyah di sana kini menjadi sorotan. Wartawan terkadang masih bersembunyi di balik pohon, mencoba mengambil foto "calon istri mafia" yang melegenda itu.
"Aisyah, ada tamu untukmu," panggil Hamdan dari pintu depan.
Hamdan kini terlihat lebih segar. Ia sudah kembali mengajar mengaji, dan ayahnya, Rahman Malik, sudah mulai bisa berjalan sedikit demi sedikit dengan bantuan kruk. Mereka tinggal di paviliun kecil di dekat panti, menjaga kedekatan dengan anak-anak yang mereka cintai.
Seorang wanita paruh baya dengan pakaian sangat sederhana berdiri di sana. Ia adalah Ibu Ratna, ibu dari salah satu anak panti yang dulu sempat diculik Luciano.
"Nona Aisyah... saya hanya ingin memberikan ini," Ibu Ratna menyodorkan rantang berisi masakan rumahan. "Saya dengar Nona sedang sedih karena Tuan Arkan... ya, Nona tahu maksud saya.
Tapi saya ingin Nona tahu, bagi kami, Tuan Arkan adalah pahlawan. Dia menyelamatkan anak saya."
Aisyah tersenyum tulus di balik cadarnya. "Terima kasih, Bu Ratna. Doakan saja Tuan Arkan agar kuat di sana."
Setelah tamu itu pergi, Hamdan mendekati adiknya. "Aisyah, kau benar-benar sanggup? Lima tahun itu lama. Kau cantik, kau dokter, kau bisa mendapatkan pria mana pun yang... yang lebih 'normal'."
Aisyah menatap ke arah langit sore. "Bang, normal bagi orang lain belum tentu damai bagi Aisyah. Arkan mungkin punya masa lalu yang kelam, tapi dia punya hati yang berani untuk berubah. Dan Aisyah ingin menjadi saksi dari perubahan itu sampai selesai."
Pertemuan Pertama di Ruang Kunjungan
Satu bulan kemudian, hari kunjungan pertama tiba. Aisyah datang dengan mengenakan gamis berwarna hijau zamrud yang sejuk dipandang. Ia membawa rantang makanan berisi masakan kesukaan Arkan yang ia pelajari dari Bi Inah.
Di ruang kunjungan yang bising dan dipisahkan oleh jeruji besi, Arkan duduk menunggu. Saat ia melihat sosok Aisyah masuk, wajahnya yang kusam seketika cerah. Ia berdiri, tangannya secara refleks menempel di jeruji besi.
"Aisyah..." gumam Arkan.
Aisyah duduk di kursi plastik di seberangnya. Ia juga menempelkan tangannya di jeruji, tepat di depan tangan Arkan. Mereka tidak bersentuhan fisik, namun energi kerinduan itu terasa sangat nyata.
"Bagaimana keadaanmu, Ar-kan?" Aisyah memanggil namanya tanpa gelar untuk pertama kalinya.
Arkan tertegun. Suara Aisyah menyebut namanya terdengar seperti musik terindah yang pernah ia dengar. "Aku baik. Aku mengajar beberapa narapidana membaca Al-Fatihah di masjid Lapas setiap sore. Mereka memanggilku 'Ustadz Preman'."
Aisyah tertawa kecil, suara tawa yang membuat Arkan merasa seolah ia sedang berada di taman bunga, bukan di penjara. "Itu gelar yang bagus.
Ayah titip salam. Dia bilang, jangan malas olahraga, supaya saat keluar nanti Anda tetap kuat menggendongnya jika dia lelah."
Arkan tersenyum lebar. "Sampaikan pada Pak Rahman, aku berlatih push-up seratus kali setiap pagi agar tidak mengecewakannya."
Namun, suasana manis itu sedikit terusik ketika Arkan melihat lebam kecil di pergelangan tangan Aisyah. "Apa itu, Aisyah?" suaranya mendadak menjadi dingin dan protektif.
Aisyah segera menarik tangannya. "Bukan apa-apa. Hanya terbentur meja saat praktik."
"Jangan bohong padaku. Siapa yang mengganggumu? Apakah sisa-sisa anak buah Gideon?"
Aisyah menghela napas. "Hanya beberapa wartawan yang terlalu agresif saat Aisyah pulang dari rumah sakit semalam. Mereka mencoba menarik cadar Aisyah untuk mengambil foto wajah."
Rahang Arkan mengeras. Tangannya mengepal hingga buku-bukunya memutih. "Leo harusnya menjagamu lebih ketat."
"Arkan, dengar," ucap Aisyah tegas namun lembut. "Anda di sini untuk menebus dosa, bukan untuk memerintah pasukan lagi. Aisyah bisa menjaga diri. Leo sudah melakukan tugasnya dengan baik, tapi Aisyah yang meminta sedikit ruang pribadi. Jangan biarkan kemarahan merusak proses pertobatanmu."
Arkan menarik napas panjang, mencoba meredakan api di dadanya. "Maafkan aku. Aku hanya tidak sanggup membayangkan ada orang yang menyakitimu saat aku tidak bisa melakukan apa-apa."
"Justru di sinilah kesabaran kita diuji," bisik Aisyah. "Aisyah membawakan Anda buku catatan medis yang baru. Aisyah ingin Anda mencatat apa saja keluhan kesehatan teman-teman sel Anda. Nanti Aisyah akan konsultasikan dengan dokter senior, dan Aisyah akan bawakan obat-obatan yang diizinkan lewat prosedur resmi."
Arkan menatap buku itu. "Kau ingin aku menjadi 'dokter' di dalam sini?"
"Setidaknya asisten dokter," goda Aisyah.
"Gunakan waktu lima tahun ini untuk membangun reputasi baru. Reputasi sebagai pria yang menyembuhkan, bukan menghancurkan."
Saat Aisyah berjalan keluar dari Lapas, ia dihadang oleh seorang wanita muda dengan pakaian sangat modis—Clarissa, putri dari salah satu kolega bisnis lama ayah Arkan yang sangat ingin menjodohkan putrinya dengan Arkan demi harta Xavier.
"Jadi, kau si dokter suci itu?" ejek Clarissa sambil memandang Aisyah dari atas ke bawah. "Kau pikir Arkan akan betah menunggumu? Di dalam sana, pria seperti dia butuh hiburan, bukan ceramah agama. Begitu dia keluar dan melihat dunia lagi, dia akan menyadari bahwa wanita bercadar sepertimu hanyalah beban bagi karier sosialnya yang baru."
Aisyah berhenti melangkah. Ia menatap Clarissa dengan tenang. "Karier sosial bisa dibangun kembali, Nona. Tapi ketenangan hati tidak bisa dibeli. Arkan tidak sedang mencari hiburan, dia sedang mencari pengampunan. Dan jika Anda pikir cadar saya adalah beban, Anda salah. Cadar ini adalah pengingat baginya tentang apa yang harus ia jaga."
Aisyah berjalan pergi, meninggalkan Clarissa yang menghentakkan kakinya dengan kesal.
Malam itu, Aisyah menulis di buku hariannya:
Jarak ini mungkin menyiksa, tapi ia adalah pupuk bagi rindu yang suci. Aku akan menantimu, bukan sebagai penyelamatku, tapi sebagai teman perjalananku menuju-Nya.