Malam sebelum pernikahan yang seharusnya menjadi puncak kebahagiaan Ambar berubah menjadi mimpi buruk saat ia memergoki Jayden, calon suaminya, berkhianat dengan Gea, adik tirinya sendiri. Alih-alih mendapat pembelaan, Ambar justru diusir dalam kehinaan oleh ayahnya yang menganggapnya "wanita kuno" dan tidak becus menjaga pria.
Di titik nadir kehidupannya, di atas sebuah jembatan kelam, Ambar bertemu dengan Baskara Mahendra, seorang pria di kursi roda yang nyaris mengakhiri hidup karena merasa tak berharga. Dalam sisa-sisa harga diri yang hancur, Ambar menawarkan sebuah kesepakatan nekat: sebuah pernikahan kontrak untuk saling menyelamatkan.
Ambar tidak tahu bahwa pria lumpuh yang ia selamatkan adalah penguasa tunggal keluarga Mahendra yang sangat disegani. Kini, tepat di jam yang sama saat mantan kekasih dan adiknya merayakan pesta mereka, Ambar siap kembali—bukan sebagai korban, melainkan sebagai istri dari pria yang kekuasaannya mampu meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Kotak beludru merah di kursi penumpang itu seakan memancarkan cahaya.
Di dalamnya, sepasang cincin emas putih dengan ukiran nama—Jayden & Ambar—berkilat tertimpa cahaya matahari sore yang mulai meredup.
Ambar menyentuh permukaannya dengan ujung jari, sebuah senyum tipis terukir di bibirnya yang lelah.
"Seharusnya kamu ikut, Jay," gumam Ambar pelan pada ruang kosong di dalam mobilnya.
Pikirannya melayang pada percakapan telepon satu jam lalu.
Jayden terdengar sangat sibuk, suaranya diwarnai riuh rendah suara orang-orang di latar belakang.
“Sayang, maaf sekali, tamu-tamu Papa masih banyak yang datang ke rumah. Kamu ambil sendiri saja ya? Aku tidak enak meninggalkan mereka,” begitu alasan Jayden.
Ambar memaklumi. Sebagai calon menantu di keluarga terpandang, ia tahu persiapan pernikahan mereka bukan hanya soal dua orang, tapi soal relasi dan nama baik. Dengan sisa semangat yang ada, ia melajukan mobilnya menuju rumah kediaman keluarga Jayden, tempat yang beberapa hari ini menjadi pusat kesibukan dekorasi.
Namun, sesampainya di halaman depan, Ambar mengerutkan kening. Suasana rumah itu sepi. Tidak ada deretan mobil tamu, tidak ada keriuhan yang diceritakan Jayden. Hanya ada mobil Jayden dan mobil mungil milik Gea, adik tirinya, yang terparkir di sana.
Perasaan tidak enak mulai merayap di tengkuknya.
Ambar melangkah masuk tanpa suara. Pintu depan tidak terkunci.
Saat ia melewati koridor menuju kamar utama yang rencananya akan mereka tempati setelah menikah, sayup-sayup terdengar suara yang membuat jantungnya berhenti berdetak.
Suara tawa manja yang sangat ia kenali bercampur dengan erangan rendah seorang pria.
Tangan Ambar gemetar saat meraih gagang pintu.
Pandangannya seketika memburam. Di atas ranjang yang seharusnya menjadi tempat suci bagi malam pertamanya nanti, dua orang manusia sedang terbuai dalam nafsu yang menjijikkan.
Jayden, pria yang baru saja ia ambilkan cincin pernikahannya, sedang berada di pelukan Gea. Adik tiri yang selama ini selalu ia manjakan.
BRAK!
Gagang pintu menghantam dinding dengan keras karena dorongan tangan Ambar yang tak lagi terkendali. Kotak cincin di tangannya jatuh, menggelinding tak berarti di lantai.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN?!" teriak Ambar. Suaranya pecah, melengking membelah udara, membawa seluruh rasa sakit yang menghunjam jantungnya seketika itu juga.
Jayden tersentak hebat, wajahnya memucat seketika saat beradu pandang dengan mata
Ambar yang mulai memerah karena air mata. Sementara Gea, dengan tenangnya, hanya menarik selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu menyunggingkan senyum tipis yang penuh kemenangan.
Dunia Ambar runtuh saat itu juga. Cincin di lantai itu tak lagi berharga, sama seperti janji-janji yang baru saja hancur berkeping-keping.
Kamar yang seharusnya menjadi saksi bisu janji suci, kini berubah menjadi panggung sandiwara yang paling memuakkan dalam hidup Ambar.
Suara pintu yang terbanting keras rupanya memicu langkah kaki terburu-buru dari luar.
Hendra, papa kandung Ambar, dan Shinta, mama tirinya, menyeruak masuk.
Mata mereka tertuju pada kekacauan di atas ranjang, pada Jayden yang kalang kabut mengenakan pakaiannya, dan Gea yang meringkuk di sudut kasur—berakting seolah ia adalah korban yang paling tersakiti.
Ambar menunjuk ke arah ranjang dengan tangan bergetar hebat.
"Pa, lihat apa yang mereka lakukan! Jayden berkhianat dengan Gea! Di kamar ini!"
Ia mengharapkan sebuah pembelaan. Ia mengharapkan ayahnya akan menyeret Jayden keluar atau setidaknya menampar pengkhianatan itu. Namun, keheningan yang menyusul justru jauh lebih menyakitkan daripada suara makian.
Hendra menatap Ambar, bukan dengan kemarahan pada Jayden, melainkan dengan tatapan dingin dan penuh penghinaan.
"Cukup, Ambar! Jangan mempermalukan dirimu sendiri dengan berteriak seperti wanita jalanan," desis Hendra tajam.
Ambar tertegun. "Apa? Pa, mereka yang berselingkuh! Mereka yang memalukan!"
"Wajar jika Jayden mencari kenyamanan lain!" Hendra melangkah maju, suaranya merendah namun penuh tekanan.
"Lihat dirimu. Kaku, membosankan, dan kuno. Kamu tidak tahu cara melayani pria, tidak tahu cara menjaga calon suamimu agar tidak berpaling. Jangan salahkan Jayden kalau dia lebih memilih Gea yang jauh lebih mengerti dirinya."
Dada Ambar sesak, seolah ada batu besar yang menghimpit pernapasannya.
"Papa menyalahkan Ambar? Karena Ambar menjaga kehormatan sampai pernikahan?"
Di sudut lain, Shinta langsung memeluk Gea yang mulai terisak buatan.
"Sudah, sayang. Jangan takut. Mama di sini," bisik Shinta, lalu menoleh ke arah Ambar dengan tatapan sinis.
"Ambar, berhentilah bersikap dramatis. Gea hanya ingin membantu Jayden yang selama ini merasa tertekan oleh sifatmu yang terlalu menuntut moralitas tinggi. Kamu yang membuat pria itu lari, Ambar!"
Jayden, yang melihat dukungan dari mertuanya, kini menegakkan punggung.
Rasa bersalah di wajahnya menguap, berganti dengan ekspresi meremehkan.
"Benar kata Papa, Ambar. Menikah denganmu mungkin hanya akan menjadi penjara bagiku."
"Keluar dari rumah ini sekarang," perintah Hendra tanpa keraguan sedikit pun.
"Pesta besok akan tetap berjalan. Tapi bukan kamu pengantinnya. Gea yang akan berdiri di samping Jayden. Kami tidak butuh menantu yang hanya bisa mengeluh dan kuno sepertimu."
Diusir oleh Ayah kandungnya sendiri demi seorang pengkhianat.
Ambar mundur perlahan, menatap orang-orang yang selama ini ia sebut keluarga.
Tanpa kata, ia berbalik, meninggalkan kotak cincin yang terinjak di lantai, membawa hancurnya harga diri menuju kegelapan malam yang tak berujung.
Hujan mulai turun membasahi aspal, namun Ambar tidak merasakannya.
Ia berjalan gontai di sepanjang trotoar dengan gaun yang sebagian sudah kotor terkena cipratan air.
Air matanya mengalir deras, menyatu dengan rintik hujan yang kian menderu.
Pikirannya kosong, hanya menyisakan gema suara ayahnya yang menyebutnya "kuno" dan "membosankan."
BIIIIIP! BIIIIIIIIIP!
Suara klakson mobil yang memekakkan telinga berkali-kali menyalak di sampingnya.
Ambar hampir saja terserempet sebuah sedan hitam yang melaju kencang karena ia berjalan terlalu ke tengah jalan, namun ia bahkan tidak menoleh.
Dunianya sudah kiamat, apa gunanya peduli pada nyawa yang sudah dianggap sampah oleh keluarga sendiri?
"Apa kurangku...?" bisik Ambar parau di tengah isak tangisnya.
Malam semakin larut. Suasana jalanan mulai sepi, hanya menyisakan lampu-lampu jalan yang berpendar redup. Ambar akhirnya jatuh terduduk di pinggir jalan yang dingin.
Ia menekuk lutut, menenggelamkan wajah di sana, membiarkan bahunya berguncang hebat karena tangis sesenggukan yang tak kunjung usai.
Ia melamunkan setiap detik pengabdiannya selama ini.
Ia selalu menjadi anak yang penurut, menjaga kehormatannya dengan ketat demi harga diri keluarga, dan selalu berusaha menjadi pendamping yang sempurna bagi Jayden.
Namun, semua prinsip yang ia jaga justru menjadi senjata bagi orang tuanya untuk menghakiminya.
"Hanya karena aku tidak murahan seperti Gea... aku dianggap salah?" rintihnya pada kegelapan malam.
Ambar menatap kosong ke arah genangan air di
depannya.
Di sana, ia melihat bayangan dirinya yang hancur. Tidak ada lagi pernikahan besok. Tidak ada lagi rumah tempat pulang.
Yang tersisa hanyalah selembar baju di badan dan hati yang sudah menjadi abu.
Perlahan, ia bangkit berdiri. Tatapannya tertuju pada sebuah jembatan besar yang melintang di kejauhan.
Langkah kakinya yang berat mulai terseret menuju ke sana, tanpa menyadari bahwa di atas jembatan yang kelam itu, ia bukan satu-satunya jiwa yang sedang menantang maut.
Langkah Ambar terhenti di tengah jembatan yang dingin.
Angin malam menusuk hingga ke tulang, namun pemandangan di depannya jauh lebih membekukan darahnya.
Seorang pria di atas kursi roda tampak berusaha payah mencengkeram besi pembatas, tubuhnya condong ke depan, siap menyerahkan nyawanya pada arus sungai yang menderu di bawah sana.
"Jangan!!" teriak Ambar spontan. Suaranya serak, sisa dari tangis yang belum usai.