NovelToon NovelToon
Darah Di Atas Putih

Darah Di Atas Putih

Status: tamat
Genre:Sistem / Romansa Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: iinayah

Arkan Pemimpin organisasi mafia "The Void". Dingin, efisien, dan tidak mempercayai cinta karena masa lalunya yang kelam. Baginya, wanita adalah kelemahan yang tidak perlu ada di dunianya.
​Liana Seorang gadis dari keluarga sederhana yang hangat. Hidupnya hancur saat keluarganya tewas dalam sebuah insiden berdarah. Ia lembut namun memiliki tekad baja untuk membalas dendam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon iinayah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Baja di Bawah Kulit

Dinding baja kapal selam Unit 9 bergetar halus saat mesin jet hidroelektriknya membelah arus bawah laut menuju Samudra Pasifik. Di dalam ruang simulasi taktis yang diterangi cahaya inframerah, Arkan berdiri dengan napas teratur, matanya tertutup, sementara empat sensor gerak di sekelilingnya memancarkan sinar laser merah yang mematikan.

​ZAP!

​Arkan merunduk, berputar, dan melepaskan tiga tembakan peluru cat ke arah target mekanis yang muncul dari langit-langit. Gerakannya bukan lagi gerakan kasar seorang petarung jalanan mafia; Varo telah membentuknya menjadi instrumen presisi yang efisien. Di sudut ruangan, Liana duduk di depan konsol simulasi cyber-warfare, pelipisnya ditempeli elektroda yang terhubung langsung ke sistem saraf pusat komputer.

​"Tingkatkan tingkat kesulitan ke level delapan," perintah Varo dari ruang pengawas.

​"Kapten, detak jantung Nona Putri sudah mencapai 140 per menit. Enkripsi Phoenix di simulasi ini terlalu agresif," lapor seorang teknisi Unit 9.

"Biarkan dia," jawab Varo dingin. "Elena tidak akan memberi kita peringatan kesehatan saat kita mendarat di Pandora."

​Liana menggertakkan giginya. Di dalam benaknya, ia tidak melihat barisan kode, melainkan labirin api yang terus berubah bentuk. Setiap kali ia mencoba memutus simpul enkripsi, sistem itu menyerang balik dengan virus saraf yang membuat tangannya gemetar. Namun, ia membayangkan Sektor Selatan—bayangan anak-anak yang bermain di taman yang dijanjikan Arkan. Itu adalah jangkar kewarasannya.

​Tiga jam kemudian, sesi latihan berakhir. Liana limbung saat elektroda dilepaskan dari kepalanya. Arkan segera menghampirinya, menyampirkan handuk ke bahu Liana dan memberinya botol air mineral.

​"Kau memaksakan diri terlalu keras, Liana," bisik Arkan, jemarinya menyeka keringat di dahi gadis itu.

Aku harus, Arkan. Varo benar. Elena membangun Pandora bukan hanya dengan senjata, tapi dengan teknologi yang melampaui logika kita. Jika aku tidak bisa menembus gerbang digitalnya dalam sepuluh detik, tim taktis Unit 9 akan dibantai oleh sistem pertahanan otomatis pulau itu."

​Arkan terdiam. Ia menatap telapak tangannya yang penuh kapalan baru akibat latihan menembak ribuan amunisi. "Aku benci melibatkanmu dalam hal ini. Seharusnya kau tetap di toko bunga, merangkai mawar, bukan meretas kiamat."

​Liana tersenyum tipis, menggenggam tangan Arkan. "Toko bunga itu tidak akan pernah ada jika kita tidak menyelesaikan ini. Kita adalah dua kelopak dari bunga yang sama, Arkan. Jika satu gugur, yang lain tidak akan bisa mekar."

​Tiba-tiba, alarm merah berbunyi di seluruh koridor kapal selam. Suara Varo menggema melalui interkom. "Semua personel ke ruang pengarahan. Kita telah memasuki zona sensor Pulau Pandora. Target terlihat di radar."

Di ruang pengarahan, sebuah proyeksi hologram 3D menampilkan sebuah pulau karang yang dikelilingi oleh badai abadi—sebuah anomali cuaca buatan yang diciptakan oleh mesin pengontrol iklim milik The Scorpion.

Pulau itu berbentuk seperti taring yang mencuat dari laut, dengan menara komunikasi setinggi dua ratus meter di puncaknya.

​"Ini adalah Pandora," Varo menunjuk ke titik merah di tengah pulau.

"Dilindungi oleh sistem 'Aegis'. Setiap benda terbang yang mendekat tanpa sinyal pengenal akan ditembak jatuh oleh laser partikel. Kita tidak bisa menggunakan helikopter atau kapal permukaan."

​"Lalu bagaimana kita masuk?" tanya Arkan.

​"Kita akan menggunakan metode High-Altitude Low-Opening (HALO) menggunakan kapsul siluman dari stratosfer," jawab Varo.

"Kapsul itu akan menjatuhkan kalian tepat di zona buta radar, sekitar lima ratus meter dari pantai. Kalian harus berenang dalam diam, memanjat tebing karang setinggi seratus meter, dan menyusup ke laboratorium utama melalui jalur ventilasi reaktor nuklir."

Arkan menatap peta itu dengan saksama. "Bagaimana dengan ibuku? Di mana posisi pastinya?"

​"Elena berada di 'Core Zero', ruangan paling dalam yang terbungkus lapisan timbal dan baja setebal sepuluh meter. Dia sedang melakukan sinkronisasi terakhir Project Phoenix dengan satelit global. Begitu progresnya mencapai 100%, dia akan memiliki kendali atas setiap perangkat digital di planet ini."

​Liana melihat indikator progres di layar. 92%.

​"Kita hanya punya waktu kurang dari dua jam," ucap Liana dengan suara yang bergetar namun mantap.

​Varo mengangguk. Ia memberikan dua buah kotak logam kecil kepada mereka. "Di dalamnya ada serum adrenalin khusus dan pemancar sinyal darurat. Jika misi gagal, tekan tombol merah, dan Unit 9 akan meledakkan seluruh pulau ini dengan rudal termonuklir dari kapal selam. Tidak ada yang boleh keluar, termasuk kalian."

Arkan mengambil kotak itu tanpa ragu. Ia menatap Liana, memberikan isyarat bahwa mereka harus bersiap. Di ruang persenjataan, mereka mengenakan setelan taktis poly-carbon yang bisa menyerap gelombang radar. Arkan memeriksa senapan serbu HK416 miliknya, sementara Liana memasang perangkat peretas 'Dead-Drop' ke pergelangan tangannya.

​Saat mereka berdiri di depan pintu peluncuran kapsul, Arkan menarik Liana ke dalam pelukan singkat namun erat.

"Apapun yang terjadi di bawah sana, jangan pernah lepaskan tanganku."

​"Aku janji," bisik Liana.

​Pintu palka terbuka. Angin stratosfer yang menderu kencang menyambut mereka. Di bawah sana, di tengah samudra yang luas, Pulau Pandora berkedip seperti mata iblis yang menunggu mangsanya.

​"Meluncur sekarang!" perintah Varo.

Kapsul siluman itu melesat jatuh menembus awan badai, membawa dua jiwa yang membawa beban dunia di pundak mereka. Fajar terakhir bagi Elena Dirgantara sedang dipersiapkan, namun di pulau itu, kegelapan memiliki cara tersendiri untuk membalas dendam.

1
SILVA Nur LABIBAH
Masyaallah sungguh bagus cerita novelnya kak
inna Mardiana: membuat saya makin semangat menulis💪
total 2 replies
Dian
lanjutt
SILVA Nur LABIBAH
rahasia sudah terbuka,,,ayo Arkan & liana bangun kembali srmua yg telah hilang.
SILVA Nur LABIBAH
maaf baru bisa koment, bagus kisah novelnya. bisa mengambil hikmah dendam bisa melukai diri kira sendiri
inna Mardiana: makasih banyak yah Kak udah mampir😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!