Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 11. Meminta Bagian
PoV Rengganis
Bagai mendengar petir di siang bolong, tubuhku terperanjat ketika berita itu disampaikan oleh Arya. Sebuah berita layaknya belati tajam yang berhasil menembus dada hingga mengalirkan darah tak kasat mata. Berita yang sanggup membuatku tertegun, terdiam, membisu dengan lidah yang terasa begitu kelu. Dan sebuah berita yang sanggup memporak-porandakan bangunan yang bernama rumah tangga yang sudah sepuluh tahun aku bangun juga aku rawat dalam waktu sekejap.
"Istri kedua mas Krisna? Kamu sedang bercanda Ar?"
Meski berita itu disampaikan oleh seseorang yang merupakan orang kepercayaan mas Krisna, namun aku masih mencoba untuk meyakinkan diri bahwa berita itu hanya sebuah candaan semata. Satu hal yang mustahil dilakukan mengingat aku dan Arya bukanlah teman dekat atau sahabat karib yang biasa saling bercanda.
"Tidak Bu, saya tidak bercanda. Dinda Larasati adalah istri kedua pak Krisna. Bahkan saya ikut menjadi saksi ketika mereka menikah secara sirri."
Akhirnya runtuh juga air mata yang sedari tadi aku usahakan untuk tidak terjatuh dari telaganya. Air mata yang menjadi isyarat jika kabar yang disampaikan oleh Arya benar-benar membuatku kecewa. Kekecewaan yang selama ini sedikitpun tak pernah aku impikan untuk mengalaminya.
"Sudah berapa lama?" tanyaku sembari kuusap kristal bening itu.
"Setahu saya, pak Krisna mengenal Dinda awal-awal kantor ini berdiri, Bu. Saat itu Dinda datang ke kantor menawarkan rokok yang ia jual. Tapi pak Krisna baru menikahi Dinda kurang lebih lima bulan terakhir ini."
"Apakah Dinda hamil terlebih dulu baru dinikahi? Atau mereka menikah dulu baru Dinda hamil?" tanyaku kian penasaran.
Arya menggelengkan kepalanya. Mungkin lelaki itu tidak begitu tahu akan hal itu.
"Untuk hal itu saya kurang tahu, Bu. Karena pada saat itu saya hanya diminta oleh pak Krisna untuk menjadi saksi tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya."
Penjelasan dari Arya sudah cukup membuatku kehilangan harga diri sebagai seorang istri. Istri yang sudah dinikahi secara sah baik di mata agama dan negara selama sepuluh tahun dikalahkan oleh seorang spg rokok keliling yang baru dikenalnya selama satu tahun. Ikrar suci yang terucap yang langsung di saksikan oleh Allah dan para malaikatNya ternodai dengan dusta yang selama ini disembunyikan. Sungguh satu mimpi buruk yang berhasil memporak-porandakan hidupku.
"Lalu, di mana mereka tinggal?"
"Ada di rumah pak Krisna yang baru selesai di bangun beberapa waktu yang lalu Bu."
Dahiku berkerut. "Maksudmu rumah yang ada di pinggiran kota, yang suasana asri masih begitu terasa?"
"Betul Bu. Yang jelas rumah itu belum lama selesai di bangun."
Dadaku terasa semakin sesak seakan dihimpit oleh dua bongkahan batu besar. Rumah yang kami bangun yang rencananya akan kami jadikan tempat tinggal di masa tua. Di mana di rumah itu kami bisa menikmati landscape keindahan barisan gunung-gunung yang ada di provinsi ini.
Air mata itu kian mengalir deras jika teringat bahwa rumah itu dibangun juga tak lepas dari tetes keringatku. Hasil tabungan menjadi staff bandara sebelum menikah dan laba dari toko kue yang aku jalankan, saat ini dinikmati oleh istri simpanan suamiku. Sungguh tercabik-cabik harga diriku.
"Bu Ganis.... Yang sabar ya. Saya tidak menyangka jika seperti ini yang terjadi sesungguhnya."
Kulihat Rani mendekat ke arahku. Ia memelukku erat, mungkin sebagai bentuk keprihatinannya melihat garis takdir hidupku. Aku tersenyum sumbang. Aku yang berencana membuka kebohongan Arya di depan Rani, yang terjadi justru kebohongan suamiku yang terbongkar.
"Tidak apa-apa Ran. Allah sebaik-baik pengatur skenario kehidupan. Mungkin seperti inilah cara Allah membongkar kebohongan suamiku."
"Tapi ini semua pasti membuat bu Ganis terluka."
"Tidak ada kebohongan yang tidak membuat terluka terlebih kebohongan itu dilakukan oleh suami kita sendiri. Tapi semoga ini semua segera berlalu."
"Bu Ganis...."
Kudengar jelas isak tangis Rani di dalam pelukanku. Mungkin aku terlihat begitu menyedihkan di hadapannya hingga ia pun ikut menangis tergugu seperti ini.
"Lalu, saat ini bu Ganis mau bagaimana dan melakukan apa?"
Aku melepaskan pelukan Rani. Mencoba meraup udara dalam-dalam untuk membebaskan rasa sesak dalam dada yang tak kunjung reda ini.
"Untuk sementara, aku ingin tinggal di sini. Sedangkan untuk kamu Ar, aku minta tolong antarkan Rani pulang ke Jogja. Kamu bisa nyetir mobil kan?"
Kulihat Arya nampak sejenak berpikir. "Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya Bu?"
"Aku rasa kamu bisa izin barang sehari untuk mengantarkan Rani. Aku yakin diizinkan oleh mas Krisna."
"Baiklah Bu."
"Ran, titip toko untuk beberapa hari ke depan ya. Kalau ada apa-apa kamu bisa langsung menghubungiku."
"Baik Bu."
Senyum getir itu masih tergambar jelas di bibir. Pikiranku menerawang jauh. Aku seperti dilanda oleh kebingungan yang luar biasa. Entah, harus mulai dari mana aku melangkah untuk menyelesaikan masalah ini satu persatu.
***
Pov author
Krisna duduk di beranda sembari menikmati sebatang rokok yang asapnya masih mengepul. Tak lupa, secangkir kopi juga turut menemani untuk membuat harinya jauh lebih bersemangat lagi. Malam ini ia masih susah untuk memejamkan mata. Entah ada hal apa yang mengganggu hati juga pikirannya.
"Kris, belum tidur?" tanya Rika yang tiba-tiba ada di dekat Krisna. Ia geser kursi yang masih kosong dan ia daratkan bokongnya di sana.
"Belum Ma, aku masih belum ngantuk."
"Bagaimana Kris? Apa kamu sudah menghubungi orang tuamu? Kapan mereka akan ke sini?" tanya Rika langsung pada intinya. Wanita itu seakan ingin cepat-cepat bertemu dengan sang besan.
"Sudah Bu, aku sudah menghubungi keluargaku."
"Lalu bagaimana tanggapannya ketika mereka tahu bahwa mereka akan memiliki cucu? Mereka bahagia kan?" tanya Rika dengan wajah yang berbinar terang. Ia seakan tidak sabar untuk segera bertemu dengan keluarga Krisna.
"Aku belum ngasih tahu perihal kehamilan Dinda, Ma. Nanti saja kalau mereka sudah sampai, akan langsung aku kasih tahu semua."
"Lalu, kapan mereka akan kemari Kris?"
"Mungkin tiga harian lagi Ma. Saat ini mamaku lagi disibukkan opening outlet baru, jadi masih belum ada waktu senggang."
Rika mengangguk-anggukkan kepala. "Memang sudah ada berapa outlet beauty store milik keluargamu?"
"Ada kali kalau lima belas outlet dan tersebar di Jabodetabek."
Wah.. Dinda benar-benar pintar cari suami. Kalau melihat usaha yang dijalankan keluarga Krisna aku yakin hartanya tidak akan habis tujuh turunan, delapan tanjakan dan tujuh tikungan. Hahahaha ini kesempatanku meminta warisan untuk Dinda.
"Kris, Mama rasa mulai saat ini sudah bisa kamu pikirkan perihal harta bagian untuk Dinda. Sebentar lagi dia kan melahirkan jadi bisa tenang jika sudah mendapatkan bagian secara jelas."
Krisna mengerutkan dahi. "Apa tidak terlalu dini Ma?"
"Mama rasa tidak. Toh saat ini Dinda tengah mengandung anakmu. Itu semua pantas ia dapatkan karena Dinda sudah berhasil memberimu keturunan. Satu kelebihan yang tidak bisa dilakukan oleh istri pertamamu kan?"
Krisna nampak menimbang-nimbang ucapan sang mertua. Hingga ia pun menganggukkan kepala.
"Baik Ma. Rumah ini akan aku berikan untuk Dinda. Perihal balik nama bisa kita urus pelan-pelan."
Wajah Rika kian berbinar terang dengan senyum yang tiada henti mengembang.
Bagus, dengan mendapatkan bagian rumah ini setidaknya aku tidak akan pernah jadi gelandangan yang tidak memiliki rumah.
.
.
.