Merasa kesal karena ada yang mengatakan bahwa dirinya tidak akan laku bahkan akan terus menjomblo seumur hidup, tidak ada satu pun pria yang tertarik padanya.
"Enak aja dia bilang begitu padaku! Awas saja kau! Akan aku buktikan diriku ini bisa memiliki seorang kekasih dan layak untuk dicintai!" geramnya wanita cantik itu.
Ia bersumpah pada dirinya sendiri, setelah mendapatkan kekasih justru ia akan langsung memamerkan kemesraannya terhadap orang yang telah berani berkata seperti itu.
"Tapi tunggu! Dari mana aku akan mendapatkan seorang kekasih!?" ia gelisah dan mondar-mandir.
"Astaga..." dirinya mengusap wajah dengan kasar.
"Hah, semoga dapat ya?" batinnya berdoa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xeynica_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode Empatbelas
"Sayang, kumohon jangan diam saja!" lirih Aren.
"Ayo bicaralah pada Aren.." pintanya pria itu sambil mendekatkan wajahnya kepada Cellsyia.
"Menjauhlah.." telunjuk wanita itu sedikit mendorong kening Aren agar tak dekat sekali.
"Ih! Sayang" pria bule itu merengek lalu akan kembali dekatkan wajah tampannya namun gagal, karena Cellsyia membalikkan tubuhnya sehingga posisinya Aren saat ini berada di bawah wanita itu.
"Kau terus saja berminta maaf, apa tidak lelah, hm?" tangannya Cellsyia mengelus lembut pipinya Aren, pria itu memejamkan mata sembari menikmati elusan tersebut.
"Apa aku sudah keterlaluan?" pikirnya wanita itu saat dirinya tak sengaja melihat bekas cekikan yang dilakukan olehnya pada Aren.
"Tapi ketika tadi aku mencekik dirinya, justru Aren diam saja dan tidak memberontak sama sekali bahkan melawan juga tidak" batinnya Cellsyia.
Lalu wanita itu melirik ke arah Aren yang dimana, pria bule itu masih memejamkan mata namun ia melihat air mata menetes ke pipinya.
"Di..dia menangis?" Cellsyia bertanya pada dirinya sendiri, ia berpikir apakah setelah mencekiknya itu membuat Aren merasa tersiksa.
"Aren? Kamu menangis?" Cellsyia bertanya dengan hati-hati.
Perlahan pria itu membuka matanya dan bertatapan dengan Cellsyia.
"Tidak, aku tidak menangis sama sekali" pria itu mengelak tapi air mata terus mengalir tanpa henti.
"Yia ketelaluan, ya?" tanya Cellsyia tapi tak mendapatkan respon apapun dari Aren.
Saat wanita itu akan bangkit dari atas tubuhnya, kedua tangan kekar Aren menahannya agar tak pergi.
"A..Ar..." perkataannya terhenti, tubuhnya dipeluk erat oleh pria itu.
"Hah..." terdengar helaan nafas ke telinganya sampai Cellsyia geli sendiri.
"Sayang.." Aren memanggil dirinya.
Satu tangan kekar mengelus pelan punggungnya, pria itu pun mengatakan sesuatu.
"Asal kan kamu tahu, hm? Ketika tadi kamu mencekik leherku rasanya luar biasa" celetuk Aren, sedangkan Cellsyia membulatkan mata setelah mendengar ucapan pria itu.
"Apa? Luar biasa katanya? Harusnya jika dicekik itu rasanya luar sakit sekali!" batinnya Cellsyia.
"Kamu mencekik diriku selama 2 menit, aku memang pantas dicekik seperti itu" ucapnya Aren yang tak berhenti mengelus punggungnya.
"Kamu boleh marah sama aku, pukul silakan pukul saja, tendang juga bisa, dan bahkan menampar pipiku silakan atau hal lain lebih ekstrim pun aku tidak masalah. Yang penting kamu bisa menyalurkan perasaan marahmu pada diriku secara langsung" ujar pria bule itu.
"Aku mencintaimu, Sayang. Kamu juga kan cinta sama aku, hm?" tanya Aren.
"....." tanpa ragu wanita itu membalasnya dengan anggukkan kepala.
"Akhirnya cintaku terbalas juga walau secara diam-diam dan aku percaya seiring berjalannya waktu kamu akan mencintaiku" lanjutnya Aren.
"Putus? Itu tidak akan terjadi pada hubungan kita ini, Sayang" tangannya beralih menjadi mengelus rambut panjangnya dan sesekali merapikannya.
"Jangan putuskan aku, Sayang. Aku tidak akan bercanda seperti tadi lagi" pintanya Aren, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa tidak akan berbicara yang bisa menimbulkan amarah sang kekasih hatinya.
"Kamu menyeramkan sekali loh saat marah apalagi sambil mencekik leherku, sungguh aku takut dan tatapan matamu itu seperti bukan Yia nya Aren"
"Terlebih bola matamu berwarna merah darah"
Deg
Mendengar hal tersebut wanita itu terdiam membisu.
"Hahaha, tidak mungkin! Pasti Aren cuman bercanda! Mataku merah saat marah tadi? Itu tak benar! Hahaha.."
"Sayangku, jangan marah lagi"