Sebuah kesaksian hidup yang di angkat dari kisah nyata yang pernah terjadi di kota Manado di tahun1998,tentang keterlibatan seorang gadis bernama Laura dalam kelompok penyembah iblis/ Satanic Church,sebuah perjanjian lama dan satu nyawa sebagai taruhan.
Bagi Laura,kebebasan adalah segalanya.namun,ia tidak pernah menyadari bahwa apa yang ia dapat dari kebebasannya harus ia bayar dengan potongan jiwanya sendiri.
Dalam pelarian mencekam antara logika dan mistis,Laura harus mencari cara untuk membatalkan dan memutuskan kontrak darahnya dengan Lucifer.
Bisakah ia lepas dari cengkraman Lucifer sebelum fajar terakhir menyapa? ataukah ia akan menjadi penghuni abadi dalam kegelapan tak berujung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gans March, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang hilang,takdir yang tersembunyi
Meski secara fisik luka itu hilang tanpa bekas,ada hal-hal kecil yang kini tampak berbeda pada diri Laura,yang hanya di sadari olehnya saat ia sedang sendiri.
Laura kini bisa mendengar bisikan dari jarak yang sangat jauh,atau mencium bau hujan sebelum mendung datang.
Setiap kali ia melewati jalanan sepi menuju rumah,ia merasa ada mata-mata yang sedang mengawasinya dari balik bayang-bayang.
bayangan para pengikut Michael yang belum menyerah.meski Laura telah kembali ke rutinitas sekolah,namun dunianya tak lagi sama.kehidupan normal yang ia usahakan terasa seperti lapisan tipis cat di atas dinding yang sudah retak.ada beberapa hal yang membuatnya merasa asing dengan dirinya sendiri.
Laura mulai bisa merasakan kehadiran orang di belakangnya tanpa menoleh.terkadang saat ia menatap pantulan dirinya di cermin,pupil matanya berpendar ke emasan selama sepersekian detik,sebelum kembali normal.ia segera membasuh wajahnya,meyakinkan diri bahwa itu hanya kelelahan.
Suatu sore saat ia berjalan pulang,sekelompok gagak hinggap di atas kabel telepon di kepala Laura.mereka tidak terbang saat Laura lewat,mereka justru diam di kabel telepon seolah ada sesuatu.Laura mempercepat langkahnya menuju rumah majikannya.ia sadar,gelar Anak Setan Emas bukan hanya sekedar gelar yang bisa di hapus dengan doa.itu adalah bagian dari darahnya sekarang.
Di suatu pagi yang cerah,sinar matahari menembus jendela rumah,menyinari asap tipis dari secangkir teh yang baru saja di seduh Oma.suasana tampak tenang.namun di balik itu,ada ketegangan yang hanya di rasakan Laura.ia terus memperhatikan telapak tangannya,seolah memastikan tidak ada warna emas yang muncul di balik kulitnya.
Oma masuk ke kamar dengan pakaian yang sudah rapi,sambil menatap cucunya yang sedang melamun.
" nak,ayo lekas bersiap jangan sampai kita tertinggal angkot jam sembilan.hari ini,Minggu spesial.Oma harus ikut perjamuan Kudus."
Laura tersentak dari lamunannya,segera menurunkan tangannya.
" eh,iya Oma,aku sudah siap hanya tinggal memakai sepatu."
Oma mendekat dan duduk di tepi tempat tidur, menatap mata Laura dalam-dalam.
" wajahmu masih pucat,apa semalam tidurmu tidak nyenyak?atau...apa kepalamu masih terasa berat?"
Laura mencoba tersenyum lebar untuk menenangkan hati Oma.
" tidak apa-apa Oma,aku hanya sedikit mengantuk saja.mungkin karena udara pagi ini masih terasa dingin."
Oma mengusap kepala Laura dengan lembut,tangannya terasa hangat.namun bagi Laura yang sekarang,kehangatan itu sedikit menyengat.
" dinginnya tak seperti beberapa hari yang lalu nak,rumah ini sekarang sudah kembali hangat .itu tandanya,Tuhan sudah membersihkan sisa-sisa angin-angin jahat di sekitar kita."
Laura menelan ludah,suaranya sedikit bergetar.
" Oma,apakah kita harus benar-benar pergi ke gereja hari ini? biasalah aku di rumah saja? rasanya punggungku agak kaku."
Oma menggeleng pelan.dengan nada tegas namun penuh kasih,
" justru karena itu kita harus pergi.di sana kita akan berdoa dan meminta pemulihan.kenapa? Kamu malu bertemu orang banyak?atau ada hal lain yang mengganggu pikiranmu?"
Gadis itu menunduk menghindari tatapan Oma yang tajam.
" tidak,bukan begitu Oma...aku hanya kuatir jika nanti aku tak bisa duduk tenang di sana."
Oma memegang pundak laura.suaranya rendah,namun penuh wibawa.
" dengarkan Oma.apapun yang terjadi,itu semua tidak lebih besar dari doa-doa kita.tunjukan bahwa kita adalah cahaya,bukan milik siapapun yang ada di luar sana."
Laura hanya bisa mengangguk pelan.ia ingin menceritakan banyak hal pada Oma.namun,ia tak tega menghancurkan senyum dan harapan di wajah Oma.
Gereja tua itu terasa sangat megah dengan langit-langit tinggi dan jendela kaca patri yang menggambarkan tentang kisah para nabi.namun bagi Laura, keindahan itu terasa menyesakkan.begitu melintasi pintu besar dari kayu jati tersebut,ia merasakan tekanan udara yang sangat berat, seolah-olah atmosfer di gedung suci ini menolak keberadaan zat asing yang mengalir dalam darahnya.
Karena kondisi gereja yang cukup ramai,Oma mendapatkan tempat duduk di barisan tengah,sementara Laura yang semakin gelisah dan mual,memilih duduk di tempat duduk barisan paling belakang,tepat di sudut yang agak gelap di bawah bayang-bayang pilar besar.
Duduk terpisah dari Oma,membuat Laura merasa rentan,namun sekaligus lega karena Oma tidak bisa melihat ekspresi wajahnya yang mulai berubah.
Saat musik organ mulai mengalun merdu memenuhi ruangan,telinga Laura mulai berdenging tajam.setiap dentuman nada rendah dari organ tersebut, terasa seperti hantaman Godam di dadanya.ia mencengkram pinggiran bangku kayu,hingga buku-bukunya memutih.
Di sekelilingnya,jemaat tampak khusyuk dengan hangat,namun area di sekitar bangku Laura perlahan berubah menjadi sangat dingin.napas yang keluar dari dalam mulutnya membentuk uap tipis,sesuatu yang mustahil terjadi di ruangan yang di penuhi banyak orang.
Kitab tua yang terletak di samping Laura mulai terbuka dan lembarannya berbalik dengan sangat cepat,seolah di tiup angin kencang,meski tak ada jendela yang terbuka di area itu.
lembaran itu terbuka tepat di bagian yang menceritakan tentang kejatuhan Lucifer.
Saat lampu gereja bergoyang,tak ada seorang pun yang memeperhatikannya.bayangan Laura di lantai marmer tampak tidak mengikuti gerakan tubuh.
Laura seperti penyusup di rumah Tuhan setiap kali ia melihat jemaat yang begitu khusyuk berdoa,rasa bersalah menghujam jantungnya.
" apakah aku masih pengikut Tuhan yang dulu?ataukah aku hanyalah cangkang dari sesuatu yang mengerikan?"
Ia merasa seperti noda hitam di atas kain putih bersih.iblis mulai mendakwa gadis itu.ia takut jika ia masih berada di sana,kesucian gereja itu akan mulai menyakitinya karena zat asing yang kini mengalir di dalam darahnya.
Di tengah lagu pujian yang meriah,Laura mendengar suara parau yang membisikan namanya.
Bukan sura Marco,bukan juga suara Michael.itu adalah suara dingin yang sekilas di dengarnya di dalam pub Borneo.dan itu adalah suara sang pangeran kegelapan " Lucifer ".
Pikiran Laura saat itu adalah sebuah Medan tempur antara penyangkalan,ketakutan murni dan insting gelap yang mulai mengambil alih kesadarannya.di tengah riuhnya nyanyian jemaat,batinnya menjerit dalam keheningan yang menyesakkan,dan ia seperti memegang bom waktu di dalam dadanya.
" jangan sekarang,ku mohon,jangan...jangan berpendar.jangan sampai ada yang melihatku bermanifestasi di sini."
Ia merasa tubuhnya bukan lagi miliknya.ada ketakutan bahwa,jika ia kehilangan konsentrasi sedetik saja,kekuatan Anak Setan Emas akan mengacaukan atau mencelakai orang-orang di sekitarnya.
Saat pendeta mulai berkhotbah, pikiran Laura menganggap kata-kata itu sebagai suatu ancaman.ia merasa terhina oleh cahaya lilin dan suara organ.
"mengapa khotbah ini seperti mengikuti kulitku?mengapa aku seperti ingin menghancurkan semua keheningan ini?"
Pada titik puncaknya,Laura hanya ingin lenyap .dia merasa terjepit di antara dua dunia yang sama-sama menakutkan.
Dunia Oma yang penuh cahaya namun ia merasa tidak layak lagi berada di sana,dan dunia para Satanik yang gelap,namun terasa "memanggil" darahnya.
" Oma,maafkan aku...aku tak seharusnya berada di sini.aku membawa neraka ke dalam tempat doamu,"
rintihnya dalam hati sambil terus menundukkan kepala sedalam mungkin.