Sheila Maharani hanya ingin hidup tenang sebagai karyawan baru yang kalem dan setia pada kekasihnya, Malik. Namun, impian itu hancur saat ia membuka pintu ruang CEO dan menemukan Jeremy Nasution—kakak tingkat masa kuliah yang dulu mengejarnya secara ugal-ugalan—kini menjadi bosnya.
Jeremy yang percaya diri maksimal (PD mampus) tidak membiarkan Sheila lari untuk kedua kalinya. Di antara tumpukan berkas properti dan aroma siomay kantin, Jeremy mulai menyusun strategi untuk merebut hati Sheila kembali.
Bisakah Sheila tetap profesional dan setia pada Malik, atau ia akan menyerah pada "perintah atasan" yang semakin hari semakin tidak masuk akal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Pintu ruang rawat itu tertutup dengan bunyi debuman halus, namun gema ketegangan di dalamnya terasa begitu pekak. Sheila berdiri di kaki ranjang, napasnya memburu, matanya yang sembab menatap Malik yang kini tampak jauh lebih rapuh dari sebelumnya. Bukan karena selang oksigen atau balutan perban di dadanya, tapi karena binar matanya yang biasanya penuh kehangatan kini meredup, digantikan oleh kabut kepasrahan yang pekat.
"Kamu tadi ngobrol apa sama Pak Jeremy? Sampai aku nggak boleh masuk?" suara Sheila bergetar, menuntut penjelasan. "Jujur sama aku, Malik. Aku nggak suka ada yang kamu tutup-tutupi! Kenapa harus dia yang masuk, bukan aku?"
Malik memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap langit malam yang hitam pekat. Ia menelan ludah dengan susah payah, tenggorokannya terasa kering dan perih. "Aku... aku nggak bisa jagain kamu lagi, Shei. Nggak kayak dulu. Maafin aku."
"Ya terus hubungannya sama Jeremy apa?!" seru Sheila, langkahnya maju mendekati sisi ranjang. "Kenapa kamu bicara soal penjagaan seolah-olah aku ini barang yang harus dipindahtangankan? Aku tunangan kamu, Malik!"
Malik perlahan menoleh, setitik air mata jatuh dari sudut matanya. "Kamu... kamu bakal aman sama dia. Dia punya segalanya yang nggak aku punya. Dia punya kuasa buat lindungin kamu dari tekanan ayahnya, dari denda kontrak kantor, dari semua kesulitan yang aku—dengan kondisi cacat sementara begini—nggak akan bisa atasi."
"Maksud kamu tuh apa sih, Malik?! Aku nggak ngerti, sumpah!" Sheila mencengkeram besi ranjang rumah sakit, jemarinya memutih. "Kamu meragukan aku? Kamu pikir aku bakal ninggalin kamu cuma karena kamu luka? Kamu pikir aku serendah itu?"
"Bukan kamu yang aku ragukan, Shei. Tapi duniaku yang terlalu kecil buat ngelindungin kamu," bisik Malik pedih. Ia menarik napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. "Kita... kita sampai di sini saja, Sheila. Aku mutusin kamu. Pergilah sama dia."
Dunia seolah berhenti berputar bagi Sheila. Ia melotot, matanya membelalak tidak percaya, seolah-olah Malik baru saja mengucapkan mantra kutukan paling mengerikan dalam hidupnya.
"Kamu ngigo ya? Maksudnya apa sih? Aku nggak ngerti sama cara pikir kamu!" bentak Sheila, suaranya pecah menjadi tangisan histeris. "Kamu kecelakaan, otak kamu keguncang ya? Kita sudah bangun ini bertahun-tahun, Malik! Dan sekarang, karena satu kecelakaan, kamu mau kasih aku ke orang yang paling kamu benci? Kamu gila!"
"Aku sadar sesadar-sadarnya, Shei," Malik memejamkan mata, tidak sanggup melihat kehancuran di wajah wanita yang ia cintai. "Keluar, Sheila. Tolong... biarkan aku tenang."
Sheila mundur selangkah, menggelengkan kepalanya berkali-kali. Ia merasa dikhianati oleh pengorbanan yang menurutnya sangat egois itu. Tanpa sepatah kata lagi, ia berbalik dan berlari keluar dari ruangan itu, melewati lorong rumah sakit yang dingin, dan berhenti di taman depan yang sepi.
Dengan tangan gemetar, ia merogoh ponsel di tasnya. Hanya ada satu nama yang terlintas di kepalanya untuk menumpahkan segala amarah dan kebingungannya. Ia menekan tombol panggil.
Di tempat lain, di sebuah apartemen mewah di Jakarta yang menghadap ke kerlap-kerlip lampu kota, Jeremy sedang berdiri di balkon sambil memegang gelas kristal berisi air mineral. Ia baru saja selesai berdebat hebat dengan ayahnya dan berhasil mempertahankan posisinya dengan syarat-syarat yang berat. Ponselnya berdering. Nama Sheila berkedip di layar.
Jeremy mengerutkan kening, segera menggeser tombol hijau. "Ya, Shei? Ada apa? Malik kenapa-napa?" suara Jeremy terdengar cemas, namun tetap terkontrol.
"Bapak apain dia?!" suara Sheila meledak di seberang telepon, diikuti isak tangis yang menyesakkan dada. "Bapak bilang apa sama Malik tadi di dalam ruangan?! Kenapa dia tiba-tiba mutusin aku dan bilang aku bakal aman sama Bapak?! Bapak pakai ilmu hitam apa buat cuci otak dia, hah?!"
Jeremy terdiam. Ia memejamkan mata, merasakan kepedihan yang menyambar melalui suara Sheila. Ia tahu Malik akan melakukannya, tapi ia tidak menyangka akan secepat dan sebrutal ini.
"Sheila, tenang dulu—"
"Jangan suruh aku tenang! Bapak seneng, kan? Ini yang Bapak mau, kan?! Bapak pengen aku lepas dari Malik supaya Bapak bisa milikin aku lewat kontrak gila itu! Selamat, Pak Jeremy Nasution! Bapak menang! Bapak berhasil bikin orang yang paling jujur di dunia ini jadi pengecut!"
"Dengar, Sheila Maharani," suara Jeremy merendah, sangat serius. "Aku nggak pernah minta dia mutusin kamu. Itu murni keputusannya karena dia terlalu mencintai kamu sampai dia merasa nggak layak lagi buat kamu. Dan kalau kamu pikir aku seneng denger kamu nangis kayak gini, kamu salah besar."
"Aku benci Bapak! Aku benci kalian berdua!" teriak Sheila sebelum mematikan telepon secara sepihak.
Jeremy menatap ponselnya yang sudah mati. Ia menghela napas panjang, menaruh gelasnya di meja dengan kasar. Ia tidak bisa diam saja. Ia mengambil kunci mobilnya dan kembali berlari menuju lift. Persetan dengan ancaman ayahnya, persetan dengan jam yang sudah menunjukkan pukul satu pagi. Saat ini, ada seorang asisten pribadi—yang sebentar lagi akan menjadi prioritas hidupnya—yang sedang hancur sendirian di depan rumah sakit daerah.
***
Malam di pinggiran kota itu terasa begitu mencekam. Angin kencang menusuk hingga ke tulang, namun Sheila seolah sudah mati rasa. Ia berjalan menyusuri trotoar di luar pagar rumah sakit dengan langkah gontai dan tatapan kosong yang lurus ke depan. Air matanya sudah mengering, menyisakan jejak asin di pipinya yang pucat. Dunia di sekitarnya mendadak menjadi abu-abu, tanpa suara, tanpa harapan.
"Kamu berhasil, Jeremy... Kamu berhasil bikin aku sama Malik selesai sekarang," bisik Sheila parau, suaranya nyaris hilang ditelan bising kendaraan yang sesekali lewat. Pikirannya terus memutar kalimat Malik tadi; kalimat yang terasa lebih tajam daripada pisau bedah mana pun di rumah sakit itu.
Tiba-tiba, sorot lampu mobil yang terang membelah kegelapan di belakangnya. Sebuah mobil SUV mewah yang sangat ia kenal melambat dan menepi tepat di sampingnya. Jeremy turun dengan terburu-buru, bahkan tidak sempat mematikan mesin mobilnya.
"Sheila!" teriak Jeremy. Suaranya penuh kecemasan yang nyata.
Sheila tidak menoleh. Ia terus berjalan, kakinya yang hanya beralaskan sandal rumah sakit terasa perih terkena kerikil tajam, namun ia tidak peduli.
Jeremy mengejarnya dan mencengkeram bahu Sheila agar gadis itu berhenti. "Kamu ngapain di sini?! Ini sudah jam dua pagi, Sheila! Trotoar ini sepi, bahaya! Ayo ikut aku ke mobil. Kita bicara baik-baik."
Sheila menghempaskan tangan Jeremy dengan sisa tenaga yang ia miliki. Matanya yang merah menatap Jeremy dengan kebencian yang mendalam. "Nggak... Aku mau pulang. Aku nggak mau ketemu siapapun! Terutama kamu, Pak Jeremy Nasution yang terhormat!"
"Sheila, dengerin dulu—"
"Dengerin apa lagi?! Dengerin gimana cara kalian berdua ngatur hidup aku seolah-olah aku ini aset perusahaan?! Malik mutusin aku karena dia merasa nggak layak, dan kamu... kamu datang sebagai pahlawan kesiangan yang siap menampung aku? Lucu banget sandiwara kalian!" Sheila tertawa getir, tawa yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Jeremy.
"Aku nggak pernah merencanakan ini, Sheila! Aku cuma mau kamu aman!" balas Jeremy, suaranya meninggi karena frustrasi.
"Aman? Aku nggak pernah merasa aman sejak ketemu kamu! Sekarang minggir, aku mau jalan kaki sampai ke Jakarta kalau perlu!" Sheila mencoba melangkah pergi lagi, namun tubuhnya yang belum makan sejak siang itu limbung. Ia hampir terjatuh jika Jeremy tidak sigap menangkap pinggangnya.
"Kamu pucat banget, Shei. Kamu bisa pingsan di jalan," ucap Jeremy lembut, namun tegas.
"Lepasin... aku bilang lepasin!" Sheila mulai meronta, memukul dada Jeremy dengan kepalan tangan yang lemah. Isak tangisnya pecah lagi, sebuah tangisan frustrasi yang membuat hati Jeremy mencelos.
Melihat kondisi Sheila yang sudah di ambang batas kesadarannya dan keras kepalanya yang tidak mau diajak kompromi, Jeremy mengambil keputusan cepat. Tanpa aba-aba, ia menyelipkan satu tangannya di bawah lutut Sheila dan tangan lainnya di punggung gadis itu.
Dengan satu gerakan mantap, Jeremy menggendong Sheila ala bridal style.
"Jeremy! Turunin! Apa-apaan sih kamu!" teriak Sheila, kakinya menendang-nendang di udara.
Jeremy tidak menghiraukan protes itu. Ia berjalan tegap menuju mobilnya, mendekap tubuh mungil Sheila erat-erat di dadanya. "Diam, Sheila. Aku nggak akan biarkan kamu celaka di jalanan sepi begini. Kamu mau benci aku seumur hidup? Silakan. Tapi malam ini, kamu harus ikut aku."
Jeremy mendudukkan Sheila di kursi penumpang depan dengan sangat hati-hati, lalu memasangkan sabuk pengamannya. Sheila hanya bisa bersandar di kursi, memalingkan wajahnya ke arah jendela, bahunya naik turun karena isak tangis yang tertahan.
Jeremy memutari mobil dan masuk ke kursi kemudi. Ia tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia menatap profil samping wajah Sheila yang diterangi lampu jalanan.
"Aku minta maaf," bisik Jeremy lirih, kali ini tanpa nada memerintah. "Aku minta maaf karena dunia aku dan dunia Malik sudah bikin kamu hancur begini. Tapi satu hal yang harus kamu tahu, Shei... aku nggak akan pernah membiarkan kamu sendirian. Biarpun kamu benci aku, aku tetap di sini."
Mobil itu kemudian melaju pelan meninggalkan area rumah sakit, membawa dua jiwa yang sedang dilanda badai perasaan menuju ketidakpastian di Jakarta.