Sial! .
Lagi-lagi Dom dibuat menangis karena cinta.
Satu kali lagi pria itu berlutut, memohon maaf dan mengemis cinta kepada istri kecilnya. Namun, sebesar apa cinta yang dia tunjukkan, Bella tetap menggeleng dengan linangan air mata. Hukuman telah wanita itu jatuhkan sepenuh cinta.
"Bella, apakah pria brengsek sepertiku tidak layak untuk mendapatkan kesempatan kedua?" Gugu Dominic dengan suara bergetar.
Keduanya saling mencintai, namun Dom kembali terlena dengan masa lalunya, perselingkuhan pria itu dengan Sarah menjadikan boomerang hebat bagi bahtera rumah tangganya bersama Bella.
Bisakah Dom merebut kembali rasa cinta dan percaya istri kecilnya seperti semula?
"Aku begitu mencintaimu, Bella. Dan kau hampir membuat pria seksi ini menjadi gila!" Desis Dominic, saat cintanya kali ini tercampur dengan ambisi amarah dan gairah.
D O N ' T P L A G I A T ! ! !
H A P P Y R E A D I N G, S U G A R R E A D E R S ! !
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — Jika Kau Ingin Kembali
Malam di Sydney turun perlahan dengan gerimis tipis yang menggantung di udara.
Dari jendela apartemen Maya, lampu-lampu kota tampak berpendar lembut, memantulkan cahaya ke jalanan yang basah. Bella duduk sendiri di sofa, memeluk bantal kecil di dada sambil menatap kosong ke luar jendela. Suasana apartemen yang biasanya terasa tenang malam itu justru dipenuhi pikirannya sendiri.
Pertemuan dengan Dominic siang tadi masih berputar jelas di kepalanya.
Tatapan pria itu saat tahu dirinya hamil.
Wajahnya yang terlihat hancur.
Dan satu kalimat yang terus mengusik hati Bella.
Aku akan bertanggung jawab.
Bella memejamkan mata.
Ia membenci kenyataan bahwa kalimat itu masih mampu mengguncangnya.
Bukan karena ia ingin percaya.
Namun karena sebagian kecil hatinya masih mengenal Dominic sebagai pria yang dulu begitu melindunginya.
Ia mengusap pelan perutnya yang masih belum terlalu terlihat.
“Dia ayahmu,” bisiknya lirih.
Kalimat itu terdengar aneh di telinganya sendiri.
Karena sampai detik ini, ia masih belum tahu bagaimana masa depan anak ini akan terbentuk.
Dengan Dominic?
Atau tanpa pria itu?
Suara pintu apartemen terbuka memecah lamunannya.
Maya masuk sambil membawa beberapa paper bag makanan dan secangkir susu hangat.
“Masih kepikiran dia?”
Bella menoleh, lalu tersenyum tipis.
Maya duduk di sampingnya.
“Aku tahu wajah itu.”
Bella menghela napas panjang.
“Aku cuma takut.”
“Takut apa?”
Bella menunduk.
“Takut aku lemah.”
Suasana di antara mereka sejenak sunyi.
Maya memandang sahabatnya dengan lembut.
“Kalau dia memang serius, dia bakal buktiin.”
Bella tertawa kecil.
“Semudah itu?”
“Enggak.”
Maya tersenyum tipis.
“Makanya lihat dulu.”
Kalimat itu membuat Bella terdiam.
Lihat dulu.
Mungkin memang itu yang harus ia lakukan.
Bukan memaafkan.
Belum.
Tapi melihat apakah Dominic benar-benar mengejarnya karena dirinya.
—
Keesokan paginya, Bella kembali datang ke kantor penerbit.
Ia sengaja berangkat lebih pagi, berharap pikirannya bisa sedikit teralihkan oleh pekerjaan.
Namun begitu lift terbuka di lantai kantor, langkahnya langsung terhenti.
Di atas meja kerjanya, ada satu paper bag putih dan sebuket bunga lily putih kecil.
Bella membeku.
Di sampingnya terletak secarik kartu.
> Untuk morning sickness kamu. Teh jahe hangat dan crackers.
Jangan lupa makan.
— D
Jantung Bella langsung berdetak lebih cepat.
Ia menatap kartu itu cukup lama.
Tidak ada kata cinta.
Tidak ada permohonan maaf.
Tidak ada kalimat memaksa.
Hanya perhatian sederhana.
Dan justru itu yang membuat hatinya sedikit goyah.
Maya yang baru datang beberapa menit kemudian tersenyum kecil saat melihat ekspresi Bella.
“Dia cepat belajar.”
Bella menghela napas.
“Ini bukan berarti apa-apa.”
Maya mengangkat alis.
“Kalau begitu kenapa pipi kamu merah?”
Bella langsung memalingkan wajah.
“Apaan sih.”
Namun jauh di dalam dirinya, ia tahu.
Dominic sedang mencoba.
—
Di sebuah kafe tak jauh dari gedung penerbit, Dominic duduk sendiri sambil menatap layar ponselnya.
Ia tidak berniat memaksa Bella.
Ia mengingat jelas kalimat wanita itu.
Buktikan kamu mengejar aku, bukan anak ini.
Itulah yang sedang ia lakukan.
Untuk pertama kalinya, Dominic tidak datang dengan ego.
Tidak datang dengan ambisi.
Ia datang dengan kesabaran.
Ponselnya bergetar.
Nama Diana muncul di layar.
Rahang Dominic langsung mengeras.
Ia hampir mengabaikannya, namun panggilan itu terus masuk.
Akhirnya ia mengangkat.
“Apa lagi?”
Suara Diana terdengar manis seperti biasa.
“Aku dengar kamu di Sydney.”
Dominic menatap lurus ke depan.
“Itu bukan urusan kamu.”
“Oh, come on, Dom.”
Nada suaranya berubah sedikit tajam.
“Kamu benar-benar ngejar dia sampai ke sana?”
Dominic memejamkan mata sejenak.
“Aku bilang jangan hubungi aku lagi.”
Namun Diana tertawa kecil.
“Sayangnya aku punya sesuatu yang harus kamu tahu.”
Dominic mengernyit.
“Apa?”
Diana diam sejenak, seolah sengaja membangun ketegangan.
“Aku juga ada di Sydney.”
Tubuh Dominic langsung menegang.
Tatapannya mengeras.
“Kamu ngapain di sini?”
Diana tertawa kecil.
“Liburan.”
Namun Dominic mengenalnya terlalu baik.
Tidak ada yang kebetulan dengan Diana.
“Jangan dekati Bella.”
Suara Dominic berubah dingin.
“Kalau sampai kamu ganggu dia—”
“Kenapa?” potong Diana cepat. “Karena dia hamil?”
Kalimat itu membuat Dominic membeku.
Tangannya mengepal.
“Aku tahu semuanya, Dom.”
Diana melanjutkan dengan nada licin.
“Dan kamu pikir aku akan diam lihat kamu main rumah-rumahan bahagia?”
Telepon langsung diputus oleh Dominic.
Dadanya naik turun.
Tatapannya gelap.
Diana di Sydney.
Ini buruk.
Sangat buruk.
—
Sore harinya, Bella memutuskan pulang sedikit lebih awal karena tubuhnya terasa lelah.
Hujan kembali turun tipis saat ia keluar dari gedung.
Namun langkahnya mendadak berhenti saat melihat sosok perempuan yang berdiri di dekat mobil hitam di seberang jalan.
Sepatu heels tinggi.
Mantel merah anggur.
Rambut panjang yang ditata sempurna.
Bella langsung mengenalinya.
Diana.
Jantung Bella langsung berdegup keras.
Perempuan itu tersenyum tipis.
Senyum yang terlalu tenang.
Terlalu menusuk.
“Bella.”
Suara Diana terdengar lembut, hampir seperti seorang teman lama.
Namun Bella tahu lebih baik.
Tatapannya langsung mengeras.
“Kamu ngapain di sini?”
Diana berjalan mendekat perlahan.
Tatapannya turun sejenak ke arah perut Bella.
Lalu kembali naik dengan senyum tipis.
“Jadi benar.”
Bella langsung menegang.
Diana tersenyum lebih lebar.
“Selamat.”
Nada suaranya terdengar manis.
Palsu.
“Dominic pasti senang.”
Bella menatapnya tajam.
“Jangan bawa nama dia.”
Diana tertawa kecil.
“Lucu ya.”
Ia melangkah sedikit lebih dekat.
“Dulu kamu datang setelah aku.”
Tatapannya berubah tajam.
“Sekarang kamu pikir anak itu bisa bikin Dom tetap sama kamu?”
Kalimat itu menghantam tepat di dada Bella.
Amarah langsung naik.
Namun sebelum Bella sempat menjawab, suara lain terdengar dari belakang.
“Menjauh dari dia.”
Dominic.
Pria itu berdiri beberapa langkah di belakang Bella dengan wajah gelap yang belum pernah Bella lihat sebelumnya.
Tatapannya tertuju lurus pada Diana.
Penuh amarah.
Dan kali ini, bukan Bella yang menjadi pusat konflik.
Melainkan perempuan yang telah merusak rumah tangga mereka.
---
END BAB 23 😭🔥
dulu aja alesannya sibuk Mulu
Ampe kita di abaikan
dasar...kalau ada maunya aja,so soan semua ditinggal demi kita
nanti kalau udah dapet lagi juga lupa🙄
tapi siapa yg ga yaaa🫣
kasih kesempatan ga ya?🙄🥹
.di otak para pelakor itu
dia cantik
dia sukses
tapi malah terobsesi sama milik orang lain
dan bodohnya para pria itu membuka pintu hati nya lebar"
aku bacanya ga nafas thor
ayo semangat bella
cape sama orang yg belum selesai sama masa lalunya
kita akan selalu sendirian
terabaikan
dan...bukan sesuatu yg jadi prioritas
dia datang hanya kewajiban 🥹
sebenarnya air mata bukan lah tanda kita lemah
tapi memberikan ijin buat tubuh kita mengeluarkan semua rasa
nangis aja..
yg kenceng.
tapi.....untuk saat ini aja
setelah nya kita bergerak maju ke masa depan
mereka kan selalu merasa di zona nyamannya
merasa kita akan ditempat dan rasa yg sama
walaupun apapun yg terjadi
tapi mereka lupa semua asalnya dr mereka 🥹🥹
kok aku yg emosi ya Thor
liat Diana yg ga tau malu
eh..mang lupa ya
pelakor mang semuanya ga tau malu🥹🥹
lelah itu sesuatu yg nyata tapi tida berasa🥹🥹
ini...memang dr awal seperti ada yg salah bukan?🥹🥹🥹