Nasib sial beruntun menimpa Kiara Masita, seorang siswi kelas 3 SMA yang energik. Setelah ditinggal pulang oleh sahabatnya, Kiara harus berjalan kaki di malam hari dengan ponsel yang mati total. Puncak kesialannya terjadi saat sebuah mobil mewah yang dikendarai oleh Abraham Wijaya (Bara) melindas ponsel kesayangannya hingga hancur berkeping-keping.
Pertemuan yang diawali dengan keributan di pinggir jalan ini memaksa Bara, seorang duda muda berusia 27 tahun sekaligus pengusaha sukses, untuk mengganti ponsel Kiara saat itu juga.
Dalam perjalanan pulang, suasana yang awalnya penuh perdebatan berubah menjadi negosiasi serius. Bara secara mengejutkan menawarkan sebuah kontrak pernikahan selama satu tahun kepada Kiara. Sebagai imbalannya, Bara menjanjikan fasilitas yang sulit ditolak rumah mewah untuk kedua orang tua Kiara, serta kehidupan yang terjamin dan serba mewah bagi Kiara sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar Mama Papa
"Aku sengaja memberimu kejutan, Bar. Harusnya aku tidak ada jadwal terbang ke Bali, tapi begitu dengar kamu di sini, aku langsung menyusul. Kebetulan sekali, Pak Yudha juga memintaku ikut dalam pertemuan nanti. Sepertinya kita akan bekerja sama lagi di proyek ini," ujar Hanum riang sembari mengusap lengan Bara.
Dengan gerakan tangkas, Bara segera mengelak.
Dug... dug... dug...
"Iih, kenapa sausnya susah sekali keluar!" gerutu Kiara yang tengah mengguncang-guncang botol saus tomat dengan wajah memerah.
"Tutup botolnya belum kamu buka, Kiara. Bagaimana sausnya bisa keluar?" sahut Bara datar.
Kiara tersipu malu atas tingkah konyolnya sendiri, sementara Hanum melempar senyum meremehkan. Baginya, Kiara hanyalah gadis kecil dengan perilaku yang janggal.
"Ngomong-ngomong Kiara, kamu masih sekolah kan? SMP? Atau SMA?" tanya Delia.
"SMA." jawab Bara cepat. Ia menyadari Kiara mulai merasa tidak nyaman.
"Oh, SMA? Masa-masa yang indah, ya. Sudah punya pacar belum? Sayang sekali kalau melewatkan masa-masa itu, seperti kita dulu ya, Bar?"
Klentang!!!
Kiara menjatuhkan garpunya. Dadanya bergemuruh mendengar pernyataan Hanum tentang masa SMA bersama suaminya. Kiara yang mengenakan gaun panjang dibalut kemeja oversized itu langsung berdiri, membuat Bara sempat khawatir gadis itu akan berbuat nekat.
"Aku mau ke toilet, Om!" rengek Kiara manja.
"Ya sudah, toiletnya ada di pojok sana." tunjuk Bara.
"Temani!" tuntutnya kemudian.
"Biar aku saja yang mengantar, Bar." tawar Hanum sembari menegakkan duduknya. Namun, Kiara langsung menunjukkan penolakan keras.
"Aku maunya sama Om Bara!" sergah Kiara lantang, membuat Hanum terpaksa duduk kembali. Bara pun bangkit, mengawal istrinya menuju toilet wanita.
“Dasar bocah manja, menyusahkan saja!” gerutu Hanum dalam hati setelah keduanya menjauh.
"Jadi, dia itu mantan pacar Om?" tuding Kiara setibanya mereka di depan pintu toilet.
"Iya." jawab Bara tenang tanpa beban.
Jawaban jujur itu justru membuat Kiara semakin kesal. Ia berharap Bara akan merasa gugup atau setidaknya terbata-bata, namun nyatanya sang suami menjawab dengan sangat lancar.
“ Kenapa? Kamu cemburu?”
"Aku tidak peduli dia itu siapanya Om. Apalagi cemburu... hih, tidak mungkin!" Kiara melipat tangan di depan dada.
"Lalu?" tanya Bara polos.
"Aku hanya tidak suka ada yang mengganggu acara makan kita. Aku lapar sekali. Jadi, tolong suruh 'nyamuk' itu pergi, atau aku sendiri yang akan bertindak!"
"Nyamuk?" Bara terkekeh, membuat Kiara membelalakkan matanya. "Baiklah, aku akan memintanya pergi."
"Bagus."
Kiara kembali melangkah menuju meja, namun Bara menahan lengannya. "Tidak jadi ke toilet?"
"Nanti saja, sekalian yang banyak biar irit air." sahut Kiara cepat sembari melangkah mendahului Bara.
"Hanum, nanti saja kita bertemu di tempat rapat. Aku dan Kiara ingin menyelesaikan makan kami dulu." ucap Bara, mengusir secara halus.
"Aku temani ya? Janji tidak akan mengganggu. Atau kalau mau, aku bisa menyuapi Kiara. Biasanya anak-anak makan lebih lahap kalau disuapi." goda Delia lagi.
Kesabaran Kiara habis. Ia kembali meraih botol saus dan mengguncangnya lebih kencang dari sebelumnya.
"Aww!"
Hanum memekik saat wajahnya terkena percikan saus merah. Tak hanya wajah, gaun merahnya kini semakin bernoda pekat.
"Oh, shit!" umpatnya sembari meraih tisu dengan gusar.
"Maaf, Tante, tidak sengaja. Namanya juga anak-anak." Kiara menyengir tanpa dosa, merasa sangat puas. "Habisnya dandan Tante terlalu 'panas', sampai-sampai saus pun ingin menempel di badan Tante."
Hanum menatap sinis, seolah ingin menenggelamkan Kiara ke lautan saat itu juga. Perjuangan berdandan berjam-jam demi memikat Bara sirna seketika.
"Aku kembali ke hotel dulu, Bar. Sampai jumpa nanti." Hanum melangkah pergi dengan perasaan dongkol, sementara Kiara tersenyum penuh kemenangan.
**
"Sekarang kamu istirahat, ya. Jangan buat ulah lagi dan ingat, jangan keluar dari kamar ini!" pesan Bara setelah mereka tiba di vila.
"Om mau ke mana lagi?" Kiara memasang ekspresi sok dewasa.
"Sudah kubilang tadi, ada pertemuan penting dengan Pak Yudha." Bara melangkah ke lemari, meraih jas yang telah dipersiapkan.
"Tante tadi ikut juga?" Kiara berdiri di belakang suaminya sembari menyesap permen tangkai yang dibelikan Bara tadi.
"Hmm." jawab Bara singkat.
Kiara segera menarik jas yang melekat di tubuh suaminya. Niatnya merapikan, namun ia melakukannya dengan tenaga yang berlebihan seolah ingin merobek kain tersebut. Tak berhenti di situ, Kiara menata rambut Bara menggunakan gel. Rambut Bara yang semula tertata rapi dengan potongan quiff kini basah berminyak dan disisir sepenuhnya ke belakang. Kiara sengaja melakukannya agar suaminya tak terlihat menarik di mata wanita lain.
"Kenapa jadi seperti ini?" protes Bara saat menatap pantulan dirinya di cermin.
"Tidak, kok. Keren!" Kiara mengacungkan kedua jempolnya sambil menahan tawa.
"Ya sudah, aku berangkat dulu." Bara mengusap pelan rambut istrinya sebelum keluar. Kiara mengantar hingga pintu dengan wajah sendu, seolah akan ditinggal selamanya.
"Sini..." Bara menarik pinggang istrinya lembut, lalu mendaratkan kecupan singkat di kening. Lagi-lagi, Kiara merasakan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh tubuh, membuatnya terpaku sesaat. Meskipun berpura-pura keberatan, hatinya berbunga-bunga.
Sepeninggal suaminya, rasa sepi mulai melanda. Kiara mencoba mencari hiburan di televisi namun tak ada yang menarik. Ia mengecek ponselnya, tapi Sean kekasihnya sama sekali belum memberi kabar sejak siang.
"Membosankan!" Kiara menghempaskan ponselnya, namun segera meraihnya kembali saat sebuah panggilan dari nomor tak dikenal masuk.
"Halo?"
"Ha... lo..." suara di seberang terdengar terputus-putus akibat sinyal yang buruk.
"Ya, siapa ini?" ketus Kiara.
"Bunga-bunga yang indah... mengalun dalam Kiara... bek... bak..." Suara nyanyian sumbang itu segera dikenali Kiara.
"Mama? Papa?" pekiknya histeris.
"Kiara... apa kabar, Nak?" sahut ibunya dengan nada suara yang bergetar.
"Mama... Papa... kenapa baru berkabar? Mentang-mentang sudah punya rumah baru, Kiara dilupakan!" tangis Kiara pecah.
"Kami tidak melupakanmu, Sayang. Papa dan Mama sampai harus memanjat pohon mangga tetangga hanya untuk mencari sinyal agar bisa meneleponmu." Kali ini ayahnya yang menjawab.
"Benar, Kiara. Dari tadi Mama menahan perih karena digigit serangga di pohon ini." tambah sang ibu.
Kiara mengusap air matanya, merasa bingung. "Sebenarnya Mama dan Papa ada di mana?"
"Rumah baru kita, Kiara. Rumah pemberian menantu Papa, si Bara. Gede sekali, dua lantai dengan kolam renang di belakang. Tapi karena kami tidak bisa berenang, Papamu memasukkan bibit lele dan mujair saja ke sana."
Kiara memijit dahi, kepalanya mulai berdenyut menghadapi tingkah absurd orang tuanya. "Memangnya rumah itu di mana, Pa? Sampai susah sinyal begitu?"
"Agak jauh dari Jakarta, tapi tempatnya sangat nyaman." jawab ayahnya ragu.
"Di mana?" desak Kiara curiga.
"Di... pegunungan Bogor, dekat kawasan hutan."
Kiara terlonjak kaget. "Hah?"
"Waktu itu Mama yang minta pada Bara agar ditempatkan di tempat yang sunyi, jauh dari keramaian agar bebas berekspresi tanpa gangguan tetangga. Kebetulan rumah ini dulunya vila yang sudah lama tidak berpenghuni. Tetangga terdekat hanya seorang kakek berusia 91 tahun yang punya pohon mangga ini. Untungnya, pendengarannya sudah tidak tajam, jadi beliau tidak terganggu saat Mama dan Papa berkolaborasi drama musikal."
Kiara merasa dunianya berputar. Ia merasa kesal pada suaminya yang seolah 'mengasingkan' kedua orang tuanya ke tempat terpencil.
semangat💪 crazyup