NovelToon NovelToon
Tanah Berdebu

Tanah Berdebu

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan rahasia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Warning !!!
Cerita ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat, atau alur, Adalah Hasil Imajinasi Penulis, Murni Kebetulan Semata. Interpretasi agama dalam cerita ini merupakan bagian dari pengembangan karakter dan tidak dimaksudkan untuk mengubah ajaran atau akidah yang ada. Terimakasih 🙏

Di balik jubah sucinya sebagai pewaris pesantren, Zavier El-Shaarawy menjalani kehidupan ganda yang gelap di gemerlap Kota A. Sebagai pria liar yang haus kebebasan, ia terjerat dalam asmara membara bersama Zaheera Bareeka, gadis kota yang menjadi pusat dunianya. Namun, rahasia itu runtuh saat takdir menyeret mereka kembali ke tembok pesantren yang kaku.
Demi menutupi dosa dan menyelamatkan kehormatan keluarga, Zavier nekat membawa Zaheera masuk ke dunianya. Di bawah pengawasan Keluarga, sebuah pernikahan rahasia dilangsungkan demi menghalalkan sentuhan yang terlanjur melampaui batas.

Happy Reading Dear 🤗🌷

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#23

Pukul dua dini hari. Keheningan di kompleks Pesantren Al-Iman terasa begitu pekat, hanya sesekali dipecah oleh suara jangkrik dan gemerisik daun bambu yang tertiup angin malam.

Di dalam kamar pengantin yang masih menyisakan aroma harum bunga melati, Zavier menggeliat gelisah. Tubuhnya yang tegap kini meringkuk di bawah selimut tebal, mencoba mencari sela-sela kehangatan yang seolah menghilang dari udara di sekitarnya.

Zaheera, yang tertidur di sampingnya, terbangun karena merasakan gerakan suaminya yang terus merapat padanya. Saat lengannya tak sengaja bersentuhan dengan kulit Zavier, ia tersentak. Panas yang menyengat terasa merambat ke telapak tangannya.

"Mas... badanmu panas sekali. Kamu demam," bisik Zaheera dengan nada khawatir, suaranya serak khas orang bangun tidur. Ia menyentuh dahi Zavier dan mendapati suaminya sedang berkeringat dingin namun menggigil.

Zavier bergumam tidak jelas, matanya masih terpejam erat. "Hm? Tidak, Sayang... Mungkin hanya sedikit kedinginan karena tadi mandi air dingin sebelum shalat malam. Tidak apa-apa... Bangunkan Mas sepuluh menit lagi ya, mau lanjut dzikir..." ucapnya dengan suara lemah yang bergetar.

Zaheera tidak menjawab, ia hanya mengangguk pelan meski ia tahu Zavier tidak melihatnya. Ia mengecup kening suaminya yang panas, lalu merapatkan selimut ke tubuh pria itu. Ia memilih untuk tetap terjaga, menatap wajah Zavier di bawah cahaya lampu tidur yang remang-remang.

Sambil mengusap rambut Zavier dengan lembut, pikiran Zaheera melayang ke kejadian beberapa jam yang lalu. Malam penyatuan mereka sebagai suami istri yang sah. Sebuah malam yang selama ini ia bayangkan akan sama dengan malam-malam liar mereka di penthouse dulu, namun ternyata berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Zaheera teringat bagaimana Zavier membimbingnya dengan sangat perlahan. Di Kota A, mereka biasanya langsung terjun dalam gairah yang meledak-ledak, mengejar kenikmatan duniawi tanpa peduli pada waktu dan keadaan. Namun semalam, untuk pertama kalinya, Zavier memulai segalanya dengan Bismillah. Ia memegang ubun-ubun Zaheera, membacakan doa yang belum pernah Zaheera dengar sebelumnya.

"Ingat Allah, Sayang. Kita sedang menjemput ridho-Nya," bisik Zavier semalam di telinganya.

Zaheera tertegun mengingat perubahan besar suaminya. Dulu, dalam racauan gairahnya, Zavier sering membisikkan kata-kata vulgar yang memuja keindahan fisiknya. Namun semalam, tidak ada lagi kata-kata seperti "Kamu sungguh nikmat, Sayang" atau ucapan-ucapan panas lainnya yang biasa keluar dari bibir Zavier saat mereka di apartemen.

Sebagai gantinya, Zavier hanya membisikkan ucapan terima kasih berkali-kali. Terima kasih karena sudah mau bersabar, terima kasih karena sudah mau pulang ke jalan yang benar, dan terima kasih karena telah menjadi istrinya yang sah.

Yang paling membuat air mata Zaheera jatuh kembali saat ini adalah ketika ia teringat momen setelah penyatuan itu selesai. Zavier tidak langsung beranjak. Pria itu justru bergeser, mencium perut datar Zaheera dengan sangat takzim, lalu membisikkan sebuah doa yang menghancurkan pertahanan hati Zaheera.

"Maafkan Daddy ya, Sayang..." bisik Zavier tepat di depan perut Zaheera, seolah sedang berbicara pada ruh yang ia harapkan segera hadir. "Maafkan selama ini Mommy sama Daddy selalu menunda kehadiranmu di sini. Kami egois, kami hanya memikirkan kesenangan kami sendiri..."

Zavier mencium perut itu sekali lagi, lama dan penuh perasaan. "Tapi Insya Allah, mulai malam ini, Daddy sangat berharap kamu segera hadir di sini, Nak. Daddy akan menjagamu dengan cara yang paling benar."

Mengingat kata-kata indah itu, Zaheera kembali terisak dalam diam. Ia menyadari betapa jahatnya mereka dulu yang menganggap kehadiran seorang anak adalah gangguan bagi kebebasan mereka. Sekarang, melihat suaminya yang begitu bersungguh-sungguh bertaubat hingga jatuh sakit seperti ini, Zaheera merasa sangat terharu sekaligus bersalah.

Kini, melihat Zavier yang merintih pelan karena demam, pikiran Zaheera mulai melantur ke mana-mana. Ia teringat cerita-cerita di novel atau film yang sering ia tonton—tentang seseorang yang jatuh sakit setelah melakukan perubahan besar dalam hidupnya sebagai bentuk "pembersihan" atau bahkan pertanda buruk.

"Apa Allah sedang mencuci dosa-dosa mu lewat demam ini, Mas?" bisik Zaheera lirih. "Atau... apa badannya kaget karena kita terlalu memaksakan diri untuk bertaubat dalam waktu sesingkat ini?"

Ketakutan-ketakutan kecil mulai menghinggapi kepalanya. Ia takut jika sakitnya Zavier adalah teguran karena kebohongan mereka yang masih tertutup rapat dari keluarga besar. Ia takut jika kedamaian ini hanya sementara.

Zaheera bangkit pelan-pelan, ia mengambil handuk kecil dan sebaskom air hangat. Dengan telaten, ia mengompres dahi suaminya. Setiap kali kain basah itu menyentuh kulit Zavier, Zavier mendesah lega namun matanya tetap terpejam.

"Istirahatlah, Imamku," gumam Zaheera. "Jangan sakit... Aku belum siap belajar banyak hal tanpamu. Aku masih butuh kamu untuk mengajariku cara menjadi wanita yang pantas berdiri di sampingmu di depan Mas Azlan dan Abi."

Di tengah malam yang sunyi itu, Zaheera menyadari satu hal: cinta mereka bukan lagi soal ledakan adrenalin di ranjang apartemen mewah, melainkan soal bagaimana mereka saling menjaga dalam sakit, saling mendoakan dalam sujud, dan bagaimana mereka berdua berjuang merangkak keluar dari lumpur dosa menuju cahaya yang selama ini mereka remehkan.

Zavier kembali mencari kehangatan, dan kali ini Zaheera tidak hanya memberikan selimut, tapi juga pelukan hangat seorang istri yang siap menemani suaminya menempuh sisa perjalanan hijrah yang mungkin akan semakin terjal ke depannya.

🌷🌷🌷

1
winpar
thorrrr lnjut ceritanya thorrrr
Ros🍂: ashiappp kak🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
semangat thor 💪💪💪
Ros🍂: Jangan lupa di-like ya kak🙏 biar Author semangat, ma'aciww 🥰
total 1 replies
Nasya Sifa Aura
di tggu up ny ya thor jgn lm2 ,, aku nggak sanggup nggu lm2 🤣🤣🤣
Ros🍂: persis Zavier 🤣 nggak kuat lama-lama 🥰🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!