Setelah memergoki kekasihnya berselingkuh membuat Nina Safira kehilangan akal sehatnya. Dia datang ke sebuah bar berniat untuk menghibur diri, namun hal tak terduga terjadi, akibat kecerobohannya dia mabuk berat dan bermalam bersama pria asing di sebuah hotel. Bukannya menyelesaikan masalah tapi malah menambah masalah. Lantas tindakan apa yang diambil Nina setelah kehormatannya terenggut oleh pria yang belum dikenalnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Maaf
"Maura! Cepat minta maaf sama om Hermawan!"
Mendapati sikap dingin Hermawan Wiryo semakin gelisah saja. Ia hanya khawatir, bagaimana kalau sampai Hermawan tidak memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya. Ia sudah cukup bersabar meskipun Hermawan terang-terangan sudah merendahkannya.
Maura langsung berjongkok dengan wajah menunduk di depan Hermawan. "Om..., tolong maafkan kami. Saya mengaku bersalah karena sudah bersikap kasar terhadap anaknya Om, tapi tolong beri kami kesempatan untuk memperbaiki kesalahan kami. Jika sampai Om memblacklist perusahaan kami, bagaimana dengan nasib kami Om...? Demi perikemanusiaan kami mohon, tolong beri kami kesempatan."
Hermawan menatap dingin gadis itu, rasanya masih belum bisa menerima maaf darinya, tapi di sisi lain ia juga seorang pemimpin, jika ia bersikap kejam maka semua orang akan takut atau bahkan ilfeel padanya.
"Minta maaflah kepada putriku," tegasnya dengan suara berat.
Maura mengangguk. "Ba—baiklah. Di mana dia sekarang?"
"Tunggulah di sini, biar aku yang akan panggilkan."
Hermawan beranjak meninggalkan mereka, menyisakan tiga orang di ruang tamu.
"Kamu harus benar-benar tulus meminta maaf Maura! Kalau sampai gadis itu tidak mau memberimu maaf, maka jangan salahkan aku jika aku bakalan mengirimmu ke tempat orang tuamu di desa, biar tahu rasa kamu!"
Zoya memukul lengan suaminya tak terima. "Pa! Jangan keterlaluan! Maura sudah bersujud di hadapan pak Hermawan. Dia membuang harga dirinya, jangan karena orang lain kau mempersulit hidup Maura!" Apapun yang terjadi ia akan tetap mempertahankan Maura. Selama ini hanya Maura yang masih peduli padanya, bahkan saudaranya yang lain tidak pernah membagi kabar atau bahkan sekedar mengunjunginya.
"Maura! Maura! Maura!" Wiryo meninggikan suaranya. "Dia sudah mencoreng nama baik keluarga kita. Gara-gara ulahnya aku sampai di blacklist oleh Adijaya grup. Apa kehebatan Maura di matamu!"
Maura mengepalkan tangannya. Sungguh perkataan Wiryo terlalu kasar. Kalau bukan demi kebutuhannya tercukupi ia tak sudi meminta maaf atau bahkan mengakuinya sebagai Omnya.
"Pa! Jangan salah, Maura itu anak kita. Meskipun bukan aku yang melahirkannya, tapi aku yang merawatnya sejak bayi. Bahkan kau juga turut andil ikut merawatnya. Apa kau tega mengirimnya ke desa?"
Dengan senyuman smirknya Wiryo menjawab. "Kenapa tidak? Gara-gara kalian aku bahkan kehilangan istri dan juga anakku!"
Zoya melengos dengan dengusan kesal. "Itu lagi, itu lagi! Selalu istri dan anakmu yang kau pikirkan," gerutunya. "Ingatlah dulu! Siapa yang sudah membantumu sampai ada di titik ini. Di saat kau menjadi gelandangan tak diakui oleh orang aku datang untuk memungutmu! Kau bahkan setuju saat kutawari nikah dan menjadi ayah dari keponakanku ini. Jangan congkak kamu! Tanpa bantuanku mungkinkah kau bisa menduduki kursi CEO? Memangnya istrimu bisa apa? Dia hanya orang kampung yang tak jelas!"
Perdebatan mereka terhenti kala Hermawan datang bersama istri dan anak-anaknya. Sebenarnya Widya menolak untuk diajak menemui tamunya, tapi Hermawan memaksanya agar tahu keluarga Wiryo benar-benar meminta maaf pada putrinya.
"Ini istri dan juga anak-anak saya. Jika tujuan kalian datang ke sini untuk meminta maaf pada putri kami, maka lakukanlah di hadapan kami."
Wiryo tercengang dan menggumam. 'istri? Jadi Widya menikah dengan pak Hermawan? Kenapa bisa begini? Bagaimana mereka bisa bertemu?'
Bibir Wiryo gemetar dengan matanya tak teralihkan pada sosok wanita yang pernah singgah di hatinya. Ia tak pernah menyangka, Widya menikah kembali dengan pria yang memiliki gelar tertinggi di perusahaan induk.
"Pak Wiryo? Kenapa anda diam? Bukankah anda tadi bilang setuju meminta maaf pada putri saya?"
"Ah..., i—iya." Wiryo dibuat gelagapan. Lamunannya buyar seketika. Dia menoleh pada istrinya dan juga Maura yang duduk bersanding dengannya.
"Ayo kita minta maaf kepada nona muda," bisiknya pelan namun terkesan dingin.
Dengan berjongkok mereka mengucapkan kata-kata yang membuatnya tercengang. "Nona, kami meminta maaf. Kami mengaku salah. Kami berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Bagai seorang ratu saja Nina disembah oleh orang-orang yang sudah mempermalukannya. Padahal ia tak pernah berpikir mereka bakalan datang untuk meminta maaf padanya. Cukup baginya menghindari Maura saja, tapi sangatlah tak terduga mereka tiba-tiba datang ke rumahnya untuk meminta maaf.
"Sayang, kamu mau maafin mereka atau enggak? Papa tidak memaksamu untuk memaafkan mereka, terserah kamu saja."
Widya ikut menimpali. "Minta maaf itu memang mudah, tapi bagaimana dengan perasaan putri kita Pa? Mentalnya pasti terluka."
Hermawan mengangguk. "Iya, aku tahu itu ma. Makanya aku tanya sama putri kita, apakah dia mau memaafkan, atau sebaliknya. Di sini aku tidak memaksanya."
"Oh..., jadi ini orang yang sudah melukaimu, kak? Mendingan kamu nggak usah maafin mereka. Mereka sudah membuat tanganmu terluka. Kamu bahkan dipermalukan di depan umum."
Dion, si bungsu berharap Nina tidak memberinya maaf. Dia ikut terbawa emosi saat mendapati tangan kakak perempuannya terluka akibat kelakuan orang lain.
"Nina, kita sama-sama perempuan. Kita tahu bagaimana rasanya disakiti. Aku bisa mengerti perasaanmu, tapi tolonglah..., beri aku satu kesempatan untuk menebus kesalahanku. Kamu boleh melakukan apa saja padaku, tapi tolong maafkan aku."
Maura terlihat begitu menyedihkan. Dia berjongkok dengan menggenggam kaki Nina hingga membuatnya dibuat kebingungan. Dalam hatinya menolak untuk memberinya maaf, tapi ia juga tidak ingin masalahnya berkelanjutan. Jika ia tidak memberinya maaf tentu Maura bakalan menyebarkan gosip yang membuatnya tersudutkan.
"Sudah-sudah! Bangunlah Maura!"
Semua orang menatapnya. Rendra bahkan tak setuju jika Nina memberinya maaf..
"Nina, apakah kamu sudah memaafkanku?" tanya Maura dengan mendongak. Tangan gadis itu masih memegang kaki Nina seolah tak akan melepaskannya sampai Nina mau memaafkannya.
Nina beralih menatap Hermawan dan juga Widya. Kedua orang tuanya tidak bisa berbuat apa-apa, mereka menyerahkan sepenuhnya pada gadis itu.
"Jangan mau kak! Kalau kakak masih memberinya maaf, lain kali dia pasti akan menindas lagi." Dion memberinya nasehat.
Nina diam tak bergeming. Ia juga memiliki keyakinan bahwa gadis itu tidak benar-benar tulus meminta maaf padanya.
"Nona manis, Om juga minta maaf atas ketidaknyamanannya saat berada di pesta," celetuk Wiryo. "Untuk mewakili keluarga Om meminta maaf sedalam-dalamnya. Om janji kejadian seperti ini tidak akan terulang kembali."
Dengan menarik nafasnya Nina mengambil keputusan untuk memberikan kesempatan kedua untuk mereka, termasuk Maura. Biar bagaimanapun juga Wiryo tidak sepenuhnya bersalah. Dia tak pantas sampai merendahkan diri di hadapannya.
"Baiklah Maura, aku akan memberikan kesempatan kedua untukmu. Demi orang tuamu aku masih memiliki perikemanusiaan. Aku tidak suka disembah oleh orang yang umurnya jauh lebih tua dariku. Tapi kalau kau sampai mengulanginya lagi ceritanya beda lagi."
Maura langsung beranjak. "Terimakasih banyak Nina. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi."
Maura merangkulnya namun tidak dibalas oleh Nina. Gadis itu memilih untuk mundur beberapa langkah.
"Terimakasih banyak pak Hermawan. Putri anda sudah berbesar hati untuk memberi maaf kepada kami."
Dengan suara beratnya Hermawan menjawab. "Putriku memang baik, tapi bukan berarti bisa kalian manfaatkan. Saya juga menyarankan agar pak Wiryo mendidik putrinya dengan baik agar tidak congkak seolah-olah dunia hanya miliknya."
Wiryo mengepalkan tangannya. Ia harus menahan malu demi mendapatkan kepercayaan Hermawan Adijaya.
"Oh ya..., saya ingatkan lagi pada pak Wiryo. Meskipun putri saya sudah memaafkan..., bukan berarti kita bisa bekerjasama lagi. Anda tidak saya blacklist, tapi saya tidak bisa menerima kerjasama dengan perusahaan anda lagi. Mohon dimengerti."