Namanya Zhara Chandrawinata, gadis berusia 20 tahun. Ia punya mimpi hidup tenang, bahagia, dan kaya raya.
Di balik senyumnya yang manis, Zhara tumbuh dari kluarga broken home, ia tidak menyangka hidupnya akan berjalan sulit, mimpi yang ia bangun, keputusan yang di ambil, kisah cintanya, selalu terbentur masalah.
Tahun demi tahun berlalu, Zhara mulai kehilangan arah. Pikirannya lelah, hatinya terluka, pada akhirnya tubuhnya menyerah. Zhara ditemukan meninggal karena Asam Lambung GERD yang ia derita.
Dewa kematian berkata. Jiwanya tidak dapat menyebrang, karena ada seseorang yang menukar jiwanya, agar Zhara hidup kembali.
Dalam gelap Zhara mendengar ada yang manggil namanya, “Zhaa.. bangun.. Jangan tidur dikelas! ” Zhara terbangun di ruang kelas dan melihat Tiara menggoyangkan lengannya.
Zhara kembali hidup dan siapa yang telah menukar jiwanya?
mengapa dewa kematian masih mengikutinya?
Apakah pertukaran jiwa itu tidak sempurna?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terbaring lemah
...“Hah? Siapa?” Tiara terkejut dan penasaran....
...“Zhara...” jawabnya singkat, suaranya berat....
...Tiara kaget, matanya langsung membesar, jantungnya seakan berhenti berdetak mendengar siapa yang dimaksud....
...“Zhara?...” ucapnya keras, hampir tak percaya. Tiara melangkah mendekati pintu, matanya menatap kedalam melalui celah kecil....
...Di balik pintu itu, bayangan tenaga medis yang sibuk terlihat samar. Suara alat dan langkah tergesa terdengar jelas, menambah rasa cemas di dadanya....
...Tangannya Daniel kembali saling menggenggam, ia menyenderkan tubuhnya di kursi, terlihat jelas raut wajahnya masih tegang....
...“Dia sakit perut, tiba tiba muntah dar*h, dan pingsan.” lanjutnya pelan, seolah menjelaskan tanpa benar-benar diminta....
...Tiara tak mampu lagi menahan emosinya, air matanya jatuh begitu saja, lalu berubah menjadi tangis yang tersedu sedu. Bahunya bergetar, tangannya menutup mulut mencoba meredam suara, namun isak itu tetap lolos....
...Di belakangnya, Daniel duduk, memperhatikannya dengan wajah tegang. Ia tak menghentikan Tiara, tapi juga tahu mereka hanya bisa menunggu....
...“Zhara masih ditangani, tenangkan dulu dirimu. Kita hanya bisa menunggu dokter keluar.” ucapnya tegang, mencoba menenangkan meski dirinya sendiri belum sepenuhnya tenang....
...Tiara mengangguk lemah, ia mencoba untuk duduk, meski tangisnya belum berhenti....
...Di ruang tunggu itu, rasa cemas dan takut campur jadi satu, menyelimuti keduanya dalam diam yang berat....
...Dikejauhan terlihat sosok Rani dan Mega, berjalan cepat di lorong menuju kearahnya. Wajah keduanya penuh kepanikan dan kekhawatiran. Mata mereka langsung mencari ke arah ruang penanganan, hingga melihat sosok Kak Daniel dan Tiara duduk di sana....
...“Kak!” panggil Mega, suaranya terdengar cemas....
...Daniel menoleh, wajahnya datar, namun sorot matanya menyimpan kelelahan dan tekanan yang berat....
...Tiara juga menoleh, matanya masih basah oleh air mata....
...Tak ada kata-kata yang keluar diantara mereka berdua....
...Rani dan Mega langsung mendekat, tatapannya panik....
...“Gimana Kondisi Zhara?!” tanya Rani tanpa jeda, suaranya gemetar....
...“Masih di dalam… lagi ditangani,” jawab Daniel singkat....
...Rani menutup mulutnya, matanya berkaca kaca, sementara Mega berdiri terpaku, mencoba mencerna keadaan....
...“Tiara... Tenangkan dirimu, Zhara pasti baik baik saja.” ucap Rani duduk, tanganya memeluk Tiara....
...“Apa yang terjadi Rann? Selama aku tidak ada.” suaranya masih bergetar, ia tidak dapat berhenti menangis....
...Rani menarik napas sejenak, mencoba menenangkan dirinya....
...“Aku bertemu dengannya dikantin, wajahnya sangat pucat, aku memesankan Zhara bubur agar ada sedikit tenaga... Hiks.” ucapnya pelan, matanya kembali berkaca-kaca....
...“Saat Zhara makan, Dia terlihat kesakitan, terus tiba-tiba tersedak, dia lari menuju toilet lalu muntah dar*h.” Rani menundukkan wajah, menangis tersedu sedu....
...Tiara menatap Rani tanpa berkedip, mencoba membayangkan keadaan itu. Air matanya juga ikut mengalir tanpa dapat ia cegah....
...Di samping mereka, Mega hanya bisa berdiri diam, matanya berkaca-kaca. Sementara Daniel tetap terdiam, rahangnya mengeras, menahan emosi yang tak ia tunjukkan....
...Pintu ruang penanganan tiba-tiba terbuka....
...Tiara dan Rani yang sedang menangis langsung tersentak. sementara Daniel dan Mega serempak menoleh ke arah pintu....
...Seorang dokter keluar, diikuti perawat di belakangnya. Wajahnya serius, namun tetap terlihat tenang....
...“Siapa keluarga atau yang mengantar pasien?” tanyanya tegas....
...“Saya dok.” Daniel langsung melangkah maju....
...Tiara, Rani, dan Mega ikut mendekat, wajah mereka penuh harap sekaligus takut....
...“Pasien sudah kami tangani. Saat ini kondisinya sudah stabil, tapi…” ucap Dokter itu menatap Daniel....
...“Pasien mengalami GERD yang cukup parah, dan kami menemukan luka pada lambungnya, atau robekan esofagus” ucapnya hati-hati....
...Semua yang mendengar langsung membeku....
...“Ini adalah kondisi darurat medis yang serius, yang menandakan adanya perdarahan di saluran cerna atas, umumnya karena tukak lambung parah. Hingga dapat menyebabkan muntah darah.”...
...“Dinding lambungnya mengalami iritasi berat hingga terjadi luka. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berbahaya.” ujarnya tegas....
...Tiara menutup mulutnya, matanya membesar penuh shock. Rani pun tampak terpaku, tak mampu berkata apa-apa....
...“Sekarang gimana kondisinya, Dok?” tanya Tiara, suaranya tertahan....
...“Untuk saat ini sudah kami tangani. Pendarahannya sudah kami kontrol, dan pasien sedang dalam pemantauan ketat,” jawab dokter....
...“Tapi ini bukan kondisi ringan. Pasien harus benar benar dijaga, tidak boleh telat makan, harus konsumsi obat secara rutin, dan menghindari hal hal yang bisa memicu asam lambungnya.” ucapnya selesai menjelaskan, dokter itu mengangguk pelan kepada mereka....
...“Saat ini pasien masih dalam perawatan, mohon tunggu di sini,” ucapnya singkat namun tetap profesional....
...“Terimakasih dok.” Suara Tiara bergetar, ia sedang menahan tangisan....
...Dokter itu pun pamit, lalu berjalan menjauh bersama perawat, meninggalkan mereka....
...Tiara menunduk, masih menahan tangis. Rani berdiri terpaku, pikirannya penuh dengan penjelasan dokter tadi. Sedangkan Mega hanya diam, sesekali melirik ke arah pintu ruang perawatan....
...Sementara itu, Daniel kembali duduk perlahan di kursi. Tangannya mengepal di antara lututnya, pandangannya kosong menatap lantai....
...Kabar yang baru saja mereka dengar masih terasa berat untuk dicerna....
...Kenyataan itu terasa berat, bahwa kondisi Zhara jauh lebih serius dari yang mereka kira. Dan kini, yang tersisa hanyalah menunggu, dengan perasaan yang jauh lebih dalam dari sebelumnya....
...“Ini sudah sore, Kalian semua boleh pulang dan beristirahat.” ucap Tiara pelan, meski suaranya masih terdengar lelah setelah menangis....
...Rani langsung menggeleng cepat....
...“Aku nggak mau pulang,”...
...“Aku mau nunggu Zhara sadar…” jawabnya lirih, matanya masih sembab....
...Mega juga terlihat ragu, ia meremas kedua tangannya, menatap Tiara lalu ke arah pintu ruang perawatan....
...Tiara terdiam sejenak, menatap mereka satu per satu. Ia paham, perasaan mereka sama. Namun tidak ada kepastian kapan Zhara terbangun dan sadar....
...“Kalian juga butuh istirahat, besok kalian akan kembali dengan rutinitas masing masing.”...
...“Ada aku di sini, nanti kluarga Zhara juga akan datang. Kalau ada apa-apa, aku kabarin kalian.” katanya lebih lembut. Namun ia menarik napas panjang, mencoba tetap tegar....
...Daniel yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara....
...“Tiara benar. Nggak semua harus nunggu di sini.” ucap Daniel suaranya rendah namun tegas....
...Rani mendekati Tiara, dan memeluk tiara erat erat. “Tii... Titip Zhara” ucapnya lirih....
...Tiara hanya mengangguk, tidak dapat berkata kata lagi....
...“Rani, Mega, ayo pulang dan istirahat dulu,” Daniel sambil berdiri, suaranya tegas namun tetap menenangkan....
...Rani terlihat ragu, matanya masih tertuju ke arah pintu ruang perawatan. Ia masih memandang diam sejenak, lalu akhirnya mengangguk lemah....
...“Iya…”...
...Daniel menepuk pelan bahu Rani dan Mega, memberi isyarat untuk bergerak. Rani melambaikan tangan pada Tiara, dan perlahan, mereka mulai melangkah pergi dari lorong itu, meski hati mereka masih tertinggal di sana....
...Sementara itu, Tiara tetap berdiri di tempatnya, tak bergeming. Matanya masih tertuju ke pintu yang sama, menunggu Zhara terbangun....
...◦•●◉✿✿◉●•◦...