NovelToon NovelToon
Siasat Manis Istri Kedua

Siasat Manis Istri Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Konflik etika / Pelakor
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Update setiap hari

"Di rumah ini, aku adalah madu yang paling manis, namun di dalam nadiku mengalir racun yang paling mematikan."

Gendis hanyalah seorang wanita dengan tutur kata lembut dan senyum yang menenangkan. Tidak ada yang menyangka, di balik wajah polosnya, ia menyimpan dendam membara terhadap Maya—istri pertama dari pengusaha muda sukses, Baskara. Baginya, kebahagiaan yang Maya miliki saat ini dibangun di atas puing-puing kehancuran keluarga Gendis di masa lalu.

Demi menuntaskan dendamnya, Gendis rela menanggalkan harga diri. Ia masuk ke dalam rumah tangga itu sebagai istri kedua, menjadi bayang-bayang yang perlahan-lahan menggerogoti kebahagiaan Maya dari dalam. Dengan siasat yang begitu halus dan manis, Gendis merebut simpati ibu mertua yang kaku, perhatian para pelayan, hingga seluruh ruang di hati Baskara.

Setiap tetes air mata yang jatuh di rumah itu adalah bagian dari simfoni balasan Gendis. Namun, saat rencana besarnya hampir mencapai puncak dan Maya mul

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: SKAKMAT DI RUANG SIDANG

Pagi itu, gedung pusat Hardianto Group tampak seperti benteng yang sedang dikepung. Puluhan wartawan ekonomi berkerumun di lobi, mencoba menangkap sekilas wajah sang Ratu Properti, Larasati Hardianto. Isu tentang perpecahan di jajaran komisaris dan pengunduran diri beberapa manajer kunci telah bocor ke media, membuat nilai saham perusahaan fluktuatif sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi.

Larasati berdiri di depan cermin besar di ruang rias pribadinya. Ia tidak lagi mengenakan warna-warna lembut. Hari ini, ia memilih setelan power suit berwarna merah marun gelap yang tajam, dengan bros emas berbentuk burung garuda yang dulu merupakan pemberian terakhir ayahnya. Riasan wajahnya minimalis namun tegas, dengan tatapan mata yang bisa membekukan siapa pun yang berani menentangnya.

"Adit, semua berkas sudah di tangan para pemegang saham independen?" tanya Larasati tanpa menoleh.

Aditama masuk, mengenakan jas hitam formal yang rapi. Wajahnya tegang namun penuh keyakinan. "Sudah, Laras. Mereka sudah menerima bukti audit forensik tentang aliran dana yayasan Tuan Kusuma tepat lima menit yang lalu. Sekarang, mereka sedang dalam kondisi terguncang. Mereka tidak menyangka 'pahlawan' perusahaan mereka ternyata adalah lintah darat yang menghisap aset kita selama satu dekade."

"Baskara? Di mana dia?"

"Dia ada di ruang monitor keamanan bersama saksi kunci, Pak Satpam tua itu. Dia akan masuk tepat saat kamu memberikan kode," jawab Aditama.

Larasati menarik napas dalam, memejamkan matanya sejenak. Ia membayangkan wajah ayahnya yang tersenyum. Ayah, hari ini keadilan akan pulang ke rumahnya sendiri.

Ruang rapat utama di lantai paling atas terasa sangat dingin. AC yang disetel maksimal tidak mampu mendinginkan suasana yang memanas. Tuan Kusuma duduk di ujung meja panjang, tampak sangat percaya diri. Di depannya terdapat daftar nama manajer baru yang ingin ia sahkan hari ini—orang-orang yang akan menjadi pion-pionnya untuk mengendalikan Larasati.

"Selamat pagi, semuanya," suara Tuan Kusuma menggelegar, penuh otoritas. "Hari ini kita berkumpul untuk memastikan masa depan Hardianto Group. Seperti yang kita lihat, kepemimpinan saat ini sedang mengalami guncangan emosional yang bisa membahayakan stabilitas kita. Oleh karena itu, saya mengusulkan restrukturisasi kekuasaan."

Larasati masuk ke ruangan tepat saat Tuan Kusuma selesai berbicara. Langkah sepatunya yang beradu dengan lantai marmer terdengar seperti detak jam menuju eksekusi. Ia tidak duduk di kursinya, melainkan tetap berdiri di kepala meja, menatap Tuan Kusuma dengan senyum tipis yang mematikan.

"Terima kasih atas kekhawatirannya, Paman Kusuma," ucap Larasati, menekankan kata 'Paman' dengan nada sarkasme yang halus. "Tapi sebelum kita bicara soal restrukturisasi, ada agenda tambahan yang harus kita bahas. Agenda tentang... integritas."

Tuan Kusuma mengernyitkan dahi. "Larasati, jangan membuang waktu kami dengan pidato moral. Kita di sini untuk bisnis."

"Oh, ini sangat relevan dengan bisnis, Paman," Larasati memberi isyarat kepada Aditama.

Layar proyektor besar di belakang Larasati menyala. Bukan menampilkan grafik keuntungan, melainkan sebuah rekaman video hitam putih yang buram namun jelas. Video itu memperlihatkan koridor rumah sakit sepuluh tahun lalu. Seorang pria dengan jas dokter masuk ke kamar nomor 402—kamar Tuan Hardianto. Pria itu tidak memakai masker, dan saat ia melewati kamera, wajah Tuan Kusuma terlihat jelas.

Ruangan seketika riuh. Para pemegang saham saling berbisik panik. Wajah Tuan Kusuma yang tadinya merah padam karena amarah, seketika berubah menjadi pucat pasi seperti mayat.

"Apa-apaan ini! Ini rekayasa! Video ini palsu!" teriak Tuan Kusuma sambil menggebrak meja.

"Palsu?" Larasati tertawa dingin. "Lalu bagaimana dengan catatan medis rahasia yang menunjukkan bahwa alat bantu napas Ayah saya sengaja dimatikan secara manual tepat di saat Anda berada di dalam ruangan itu? Dan bagaimana dengan dana 200 miliar rupiah yang mengalir dari rekening perusahaan ke yayasan fiktif milik Anda setiap bulan Juni—bulan di mana Ayah saya meninggal?"

"Cukup! Hentikan ini!" Tuan Kusuma mencoba berdiri, namun kakinya terasa lemas.

Tepat saat itu, pintu ruang rapat terbuka lebar. Baskara masuk, menuntun seorang pria tua yang mengenakan seragam satpam rumah sakit yang sudah lusuh. Di belakang mereka, dua orang petugas dari kepolisian unit tindak pidana korupsi dan pembunuhan mengikuti.

"Tuan Kusuma," suara Baskara tenang namun penuh tekanan. "Pak Rahman di sini telah memberikan kesaksian lengkap di bawah sumpah. Dia adalah saksi mata yang melihat Anda keluar dari kamar Tuan Hardianto malam itu dengan tergesa-gesa. Dan dia bukan satu-satunya."

Larasati menekan sebuah tombol di tabletnya. Suara Maya terdengar melalui pengeras suara ruangan. "Kusuma yang menyuruhku. Dia yang memberikan racun itu untuk Ibu Rahayu agar perhatian Baskara teralih, sementara dia bekerja sama dengan ayahku untuk menguras saham Hardianto. Dia ingin aku tetap menjadi istri Baskara agar dia punya mata-mata di dalam keluarga. Dia adalah otak dari semua ini..."

Tuan Kusuma jatuh terduduk di kursinya. Ia menatap para pemegang saham yang kini menatapnya dengan rasa jijik. Tidak ada lagi sekutu di ruangan itu. Semua orang yang tadi mendukungnya kini menjauh, seolah-olah ia adalah penderita kusta yang menular.

"Larasati... tolong... aku adalah sahabat ayahmu..." bisik Tuan Kusuma, suaranya parau dan gemetar.

Larasati melangkah mendekat, membungkuk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah pria yang telah menghancurkan hidupnya itu. "Sahabat tidak membunuh sahabatnya demi selembar kertas saham, Paman. Sahabat tidak membiarkan putri sahabatnya hidup dalam penderitaan selama sepuluh tahun."

Petugas kepolisian maju dan memborgol tangan Tuan Kusuma. "Tuan Kusuma, Anda ditahan atas dugaan pembunuhan berencana, penggelapan dana perusahaan, dan pencucian uang. Anda memiliki hak untuk diam."

Saat Tuan Kusuma digiring keluar melewati para wartawan yang sudah menunggu di luar pintu, Larasati merasa beban seberat gunung yang selama ini menghimpit pundaknya tiba-tiba menghilang. Ia menatap ke arah Baskara. Pria itu memberikan anggukan kecil—sebuah tanda hormat dan cinta yang mendalam.

Rapat dilanjutkan dengan suasana yang sangat berbeda. Para pemegang saham secara bulat memberikan mosi percaya kepada Larasati. Mereka tidak hanya mengukuhkannya sebagai CEO, tetapi juga memberikan mandat penuh untuk membersihkan seluruh sisa-sisa korupsi di dalam perusahaan.

Sore harinya, setelah semua hiruk-pikuk mereda, Larasati duduk di taman atap gedung, menikmati senja yang berwarna keunguan. Baskara datang membawakannya secangkir teh hangat.

"Kamu melakukannya, Laras," ucap Baskara lembut. "Keadilan sudah ditegakkan."

Larasati menerima teh itu, merasakan hangatnya menjalar ke telapak tangannya. "Aku tidak melakukannya sendirian, Baskara. Terima kasih sudah tetap di sampingku, bahkan saat aku mencoba mengusirmu demi keselamatanku sendiri."

Baskara duduk di sampingnya, menatap pemandangan kota yang mulai menyala oleh lampu-lampu. "Aku tidak akan pernah pergi, Laras. Dulu aku gagal menjagamu saat kita terikat dalam siasat. Sekarang, aku ingin menjagamu dalam kebenaran."

Larasati menyandarkan kepalanya di bahu Baskara. "Apa yang akan kita lakukan sekarang? Dunia tahu siapa kita. Mereka tahu tentang skandal ini."

"Biarkan mereka tahu," jawab Baskara mantap. "Kita akan membangun kembali semuanya. Kamu dengan perusahaanmu, aku dengan proyek-proyek kecilku. Dan mungkin... kita bisa membangun sesuatu yang lebih penting dari sekadar bisnis."

Larasati menoleh, menatap mata Baskara yang bersinar di bawah cahaya bulan yang mulai muncul. "Apa itu?"

"Sebuah rumah yang tidak butuh siasat untuk merasa aman. Sebuah cinta yang tidak butuh air mata untuk membuktikan kesetiaannya," bisik Baskara sebelum mengecup kening Larasati.

Di kejauhan, suara sirene polisi yang membawa Tuan Kusuma dan para kaki tangannya perlahan memudar, digantikan oleh suara desir angin malam yang membawa kabar tentang sebuah awal yang baru. Siasat manis istri kedua telah mencapai garis finisnya. Namun, bagi Larasati dan Baskara, ini bukanlah akhir. Ini adalah halaman pertama dari sebuah buku baru yang akan mereka tulis dengan tinta kejujuran, bab demi bab, hingga seratus bab kehidupan yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!