NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4: Kertas Kalkir dan Sisa Badai

​Semalaman suntuk, aku nyaris tidak bisa memejamkan mata. Ucapan gila Arka kemarin sore terus berputar-putar di kepalaku seperti kaset rusak.

​‘Kayaknya gue harus siap-siap berantem sama dewan direksi besok pagi.’

​Hari ini adalah hari penentuannya. Sejak membuka kedai pukul delapan pagi, aku bekerja seperti orang linglung. Setiap kali ada suara mesin truk atau deru kendaraan berat lewat di jalan raya depan kedai, jantungku otomatis melompat. Aku takut yang datang adalah rombongan bulldozer kuning yang dikirim paksa oleh perusahaan Arka karena pria itu gagal meyakinkan dewan direksi.

​Pukul tiga sore, langit Jakarta perlahan berubah mendung. Dan tepat saat gerimis mulai turun membasahi aspal, sebuah BMW hitam yang sangat familier memutar arah dan parkir di depan kedaiku.

​Napas yang sedari tadi kutahan akhirnya bisa kuhembuskan panjang.

​Pintu kemudi terbuka. Arka keluar menembus gerimis tanpa payung, setengah berlari menuju pintu kedaiku. Begitu lonceng pintu berbunyi dan ia melangkah masuk, aku mematung di balik meja bar.

​Penampilan Arka hari ini sukses membuatku terkesiap. Pria yang biasanya terlihat luar biasa sempurna dan licin bagai model sampul majalah bisnis itu, kini tampak seperti orang yang baru saja selamat dari badai topan. Jas mahalnya hanya ia sampirkan asal di sebelah bahu. Dasinya sudah ditarik longgar hingga ke tengah dada, kerah kemejanya sedikit terbuka, dan rambutnya berantakan.

​Namun, yang paling menonjol adalah raut wajahnya. Lingkaran hitam di bawah matanya tercetak jelas. Ia memancarkan aura kelelahan yang luar biasa pekat, seolah seluruh energi hidupnya baru saja disedot habis. Tapi, di balik kelelahan itu... ada kilat kemenangan di matanya.

​Di tangan kanannya, Arka membawa sebuah tabung gambar arsitektur berukuran besar yang terbuat dari plastik hitam.

​Tanpa mengatakan apa-apa, Arka berjalan gontai menghampiri meja bar. Ia meletakkan tabung gambar itu ke atas meja kayu dengan bunyi 'thud' yang berat, lalu menjatuhkan dirinya di atas kursi stool.

​"Satu Americano," suaranya terdengar luar biasa serak dan parau. "Nggak pakai gula. Double shot. Air esnya sedikit aja."

​Aku tidak membalas. Tanpa banyak tanya, aku berbalik dan mulai menggiling biji kopi. Bunyi bising mesin grinder memecah keheningan yang mencekik di antara kami. Setelah menuangkan double shot espresso ke dalam gelas plastiknya, aku menyodorkannya ke seberang meja.

​"Buka itu," perintah Arka pelan, dagunya menunjuk ke arah tabung plastik hitam di depanku.

​Aku mengernyitkan dahi. "Apa ini? Surat perintah penggusuran paksa karena lo kalah meeting?" tanyaku defensif, bersiap untuk kemungkinan terburuk.

​Arka mendengus pelan, sebuah senyum lelah yang tipis muncul di sudut bibirnya. "Buka aja, Senja. Gue lagi nggak ada tenaga buat berdebat sama lo sore ini."

​Dengan tangan sedikit gemetar, aku memutar tutup tabung tersebut dan menarik keluar sebuah gulungan kertas kalkir tebal berukuran A3. Aku menggelarnya di atas meja bar, menahan ujung-ujungnya dengan asbak dan botol sirup agar tidak menggulung kembali.

​Itu adalah sebuah cetak biru. Desain arsitektur 3D.

​Mataku menyapu garis-garis presisi dan rendering bangunan di atas kertas itu. Terdapat gambar sebuah shopping mall raksasa yang sangat megah dan modern, dengan fasad kaca dan baja. Namun, di bagian tengah mal itu tepat di area center courtyard desainnya berubah total.

​Ada area terbuka hijau. Dan di tengah-tengah taman indoor yang dinaungi kubah kaca raksasa itu, berdiri sebuah bangunan kecil berdinding bata ekspos berdesain vintage. Sebuah bangunan kecil yang sangat kukenal.

​Aku terkesiap. Mataku bergerak tak percaya menatap gambar kecil bangunan bata itu, lalu menatap tulisan header di pojok kanan atas kertas: REVISI MASTERPLAN CIPTA MEGAH - INTEGRASI KEDAI KALA SENJA.

​"I-ini..." Aku tergagap, jariku menyentuh permukaan kertas kalkir itu. "Ini kedai gue?"

​Arka menyesap kopi hitamnya dalam-dalam sebelum menjawab. "Gue tepatin janji gue. Lo nggak perlu tanda tangan surat penggusuran. Kedai lo bakal tetap ada di titik kordinat aslinya. Mal itu yang bakal dibangun ngelilingin lo."

​Bibirku sedikit terbuka. "Tapi... gimana caranya? Lo bilang ngubah desain masterplan di tengah jalan pasti makan biaya miliaran, Ka."

​Arka membuang pandangannya ke luar jendela, menatap rintik gerimis.

​"Tiga jam, Nja," gumamnya, suaranya dipenuhi rasa frustrasi yang tertinggal. "Tiga jam gue berdiri di ruang rapat board of directors. Diserang habis-habisan sama delapan pemegang saham, termasuk bokap gue sendiri. Mereka ngatain gue gila. Mereka bilang ngerombak desain demi warung kopi kumuh itu bunuh diri secara finansial."

​Aku terpaku mendengarnya. Aku bisa membayangkan situasinya. Seorang Arka Danadyaksa berdiri sendirian di sebuah ruang meeting raksasa, dihujani cacian dan penolakan dari pria-pria tua berkuasa.

​"Terus... gimana lo bisa dapet persetujuan ini?" bisikku.

​"Gue ancam mereka," Arka memutar gelas kopinya. "Gue bilang, kalau mereka berani sentuh satu bata aja dari kedai lo, gue bakal mundur dari posisi Project Director dan narik semua investor under-table gue dari proyek ini. Gue main gila sekalian."

​Deg.

​Jantungku serasa baru saja dihantam palu godam. Pria ini... baru saja mempertaruhkan posisinya dan melawan keluarganya sendiri, hanya untuk sepetak warung kopi. Hanya untukku.

​Melihat raut lelahnya, ego dan gengsi yang selama ini kubangun tinggi-tinggi untuk melawannya, tiba-tiba runtuh menjadi debu.

​"Makasih, Ka," ucapku tulus, suaraku nyaris bergetar. "Gue nggak tahu harus balas budi pakai apa."

​"Nggak usah mikir balas budi dulu," potong Arka. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, menatapku dengan raut wajah yang kembali serius. "Gue berhasil nyelamatin kedai ini, tapi ada harga yang harus lo bayar, Senja."

​Aku mengernyit tegang. "Harga apa?"

​"Mulai minggu depan, fase konstruksi awal bakal langsung dimulai gila-gilaan buat ngejar target waktu yang mundur gara-gara revisi desain ini," jelas Arka tegas. "Bakal ada paku bumi, ekskavator, debu, dan suara bising yang mungkin bakal bikin lo gila setiap hari. Akses jalan masuk ke kedai lo juga bakal dipager seng. Lo siap ngadepin itu berbulan-bulan ke depan?"

​Aku menatap mata kelam pria itu, lalu menatap cetak biru di atas meja. Rasa takut sempat menyusup, tapi melihat betapa hancurnya Arka memperjuangkan tempat ini hari ini, aku tahu aku tidak boleh mundur.

​Aku menegakkan bahuku, menatap Arka dengan penuh keyakinan. "Asalkan kedaian gue nggak dihancurin, gue siap. Biar debu setebal apa pun, gue bakal bersihin tiap hari."

​Arka tersenyum tipis, sebuah senyum puas. "Bagus. Kalau gitu, siap-siap aja, Nja. Mulai minggu depan, pemandangan di luar jendela lo bakal berubah jadi medan perang."

​Sore itu, diiringi suara hujan dan secangkir kopi hitam, kami menyepakati sebuah gencatan senjata. Arka mungkin telah menyelamatkan kedaiku di atas kertas, tapi di dunia nyata, ujian kesabaran kami yang sesungguhnya baru saja akan dimulai.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!