Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nonton Bareng
Semua mata beralih ke Gwen.
“Hai!” Gwen tersenyum dan melambaikan tangan.
Tidak ada yang berkomentar.
Bagus.
“Kami menikah secara sipil siang tadi. Tapi pernikahan gereja kami tunda sampai musim panas. Gwen mau upacara di luar ruangan.”
“Iya. Di pinggir danau.” Gwen mencium pipinya. “Makasih ya, Babby, sudah nurutin aku.”
“Aku tahu ini mendadak, tapi itu enggak mengubah apa pun. Kalau ada yang berani enggak menghormati istri aku, dia bakal menyesal.” Raymon menatap satu per satu pria di meja sampai berhenti pada pamannya. “Siapa pun itu. Jelas?”
“Iya, President,” jawab mereka serempak.
“Gwen, kamu sudah kenal Troy dan Grimm,” kata Raymon. Keduanya mengangguk. Raymon lalu menoleh ke sisi lain meja. “Itu Esmond, paman aku.”
Raymon mengamati reaksinya. Esmond tidak bodoh. Ia hanya mengangguk, wajahnya tenang, tapi kilatan gelap di matanya tidak bisa disembunyikan.
“Di sebelah kiri Esmond ada Jamerson, saudara Whitman dan Dalton, serta Darius. Di kanan Grimm ada Slade, Mason, dan Xavier. Mereka orang-orang terdekat aku. Aku mempercayakan hidupku ke mereka. Mulai sekarang, hidup kamu juga.”
Gwen menoleh ke arah para pria itu.
Mereka semua mengepalkan tangan kanan, memukul dada secara bersamaan, lalu mengangguk.
Gwen menatap dengan mata membesar. Wajahnya tetap tenang, tapi dari cara dia mencengkeram lengan Raymon, jelas dia sedikit terkejut. Sepertinya Gwen baru benar-benar sadar dia terlibat dalam dunia mafia malam ini.
“Makan,” kata Raymon sambil memberi isyarat ke Carolina yang menunggu di pintu.
Carolina lalu memanggil Clarra, Dottie, dan Shea untuk membawa makanan.
Makan malam berlangsung seperti yang Raymon perkirakan. Sebagian besar dalam diam. Setiap beberapa menit, seseorang melirik ke arah Gwen. Dan Gwen pasti menyadarinya, tapi pura-pura tidak tahu. Dan dia sangat pandai berpura-pura.
Raymon sempat mengira Gwen akan berlebihan, tertawa, atau terlihat dibuat-buat. Tapi tidak sama sekali.
Sesekali Gwen mendekat untuk berbisik sesuatu, atau menyentuh tangannya. Semua terasa begitu alami, sampai Raymon sendiri hampir percaya itu nyata.
“Aku berubah pikiran,” bisik Gwen di telinganya, “Kita pakai meja ini saja. Megah banget.”
“Bagus kalau kamu suka.”
“Tapi gordennya harus diganti, Babby. Warna cokelat itu suram banget. Guru fengshui aku bilang kita harus buang semua hal yang bikin kita murung.”
Nada suaranya serius, wajahnya tulus, tapi matanya jelas sedang menertawakannya. Raymon mendekat.
“Kalau begitu kita bakar saja,” katanya, lalu mencium Gwen.
...***...
Ada yang tidak beres.
Gwen ingat Raymon sempat bilang ada pertemuan penting pagi ini. Tapi sekarang sudah lewat pukul sembilan dan dia belum juga keluar dari kamar.
Tadi sekitar pukul delapan, Gwen sempat mendengar ponselnya berdering, lalu suara Raymon berbicara dengan seseorang. Lima belas menit kemudian, Dottie datang membawa sarapan, bilang Raymon menyuruhnya mengantar ke Gwen.
Mungkin dia harus mengecek.
Gwen meletakkan kuas di piring kecil di samping kanvas, membersihkan tangannya, lalu berbalik menuju kamar Raymon.
Tiba-tiba pintu terbuka, dan Raymon keluar menuju dapur.
Dia hanya mengenakan celana training, bagian atas tubuhnya telanjang. Gwen tidak bisa berhenti menatapnya.
Raymon bahkan tidak menyadari Gwen mendekat. Dia langsung menuju laci dekat wastafel dan mulai mengobrak-abrik laci paling atas.
Saat tidak menemukan yang dicari, dia menggerutu, menutup laci dengan keras, lalu membuka yang berikutnya.
“Butuh bantuan?” tanya Gwen.
“Enggak,” jawabnya singkat.
Gwen melihat Raymon mengambil botol putih dari laci, mengeluarkan dua pil, lalu menelannya. Ia menatap botol itu lagi, mengambil satu pil tambahan, lalu melempar botol itu kembali ke dalam laci.
Saat Raymon mengambil air dari kulkas, Gwen melirik labelnya.
Obat penghilang rasa sakit.
Akhirnya Raymon berbalik menghadapnya, dan Gwen menghela napas.
“Kamu kelihatan parah.”
Wajah Raymon pucat, matanya merah.
“Kamu sempat tidur?”
“Enggak.”
Gwen mengikutinya kembali ke kamar dan melihat saat Raymon masuk ke lemari lalu keluar dengan celana dan kemeja di tangannya.
“Kamu mau ngapain?”
“Ada meeting dua puluh menit lagi. Tolong keluar, aku mau ganti baju.”
“Kamu enggak dalam kondisi buat ke mana-mana, Raymon.”
Raymon mengabaikannya. Dia meletakkan pakaian di sampingnya di ranjang dan mulai berdiri dari kursi roda. Tapi begitu mencoba tegak, desis kesakitan keluar dari mulutnya dan dia jatuh kembali.
“Sial!”
“Kayaknya itu berarti enggak akan ada adegan telanjang dalam waktu dekat,” kata Gwen santai. “Ayo, kita pindahin kamu ke ranjang.”
“Ranjang enggak bisa. Lutut aku kaku, aku enggak bisa lurusin kaki.”
“Kalau sofa? Kita ganjel kaki kamu dan nonton film saja.”
Raymon menatapnya seperti Gwen gila. “Aku enggak bisa seharian nonton film. Aku punya bisnis yang harus diurus.”
“Iya, dan buat hari ini kamu jelas enggak bakal ke mana-mana. Kamu barusan minum tiga dosis obat, jadi mungkin satu jam lagi kamu sudah pingsan tidur.”
“Sial,” gumam Raymon, lalu mengumpat dan menggeleng.
“Kamu harus telepon mereka buat batalin?” tanya Gwen.
“Iya. Kasih aku ponselnya.”
Saat mereka sampai di ruang tamu, Raymon berhasil memindahkan dirinya ke sofa.
Gwen mengambil bantal besar dan menyelipkannya di bawah kakinya, lalu masuk ke kamar Raymon untuk mengambil selimut dan menutupinya.
Raymon mengikuti setiap gerakan Gwen dengan mata, tapi tidak berkata apa-apa. Sepertinya dia tidak terbiasa diperhatikan seperti ini.
Mungkin Gwen salah, tapi dia merasa Raymon diam-diam menyukainya.
Gwen kembali ke dapur dan memeriksa sarapan di atas nampan. Semacam pai isi buah. Dia menggigitnya sedikit. Masih hangat. Lumayan.
“Aku semalam mulai nonton film. Mau lanjut bareng? aku baru nonton sekitar lima belas menit. Nanti aku ceritain,” teriaknya sambil mengambil jus jeruk dari kulkas.
“Kedengarannya oke.”
“Ada popcorn enggak ya?” tanya Gwen sambil membuka lemari.
“Kayaknya enggak.”
“Di dapur bawah mungkin ada. Masa nonton film tanpa popcorn.”
“Aku enggak tahu. Telepon Carolina saja.”
Gwen membawa nampan sarapan ke meja di depan sofa, lalu menoleh ke Raymon. “Badan kamu makan tempat banget. Angkat kepalamu sedikit.”
“Dan kamu hari ini galak banget,” kata Raymon, tapi tetap bersandar pada siku.
Gwen duduk di tempat kepala Raymon tadi, meluruskan kaki ke meja, lalu menepuk pahanya.
Raymon perlahan menurunkan tubuhnya kembali, meletakkan kepalanya di pangkuan Gwen.
Dia menyerahkan ponselnya dengan nomor Carolina yang sudah terbuka. Raymon hampir tidak sabar mendengarnya.
“Carolina, maaf ya kalau aku ganggu,” kata Gwen dengan nada ceria di telepon. “Kira-kira ada popcorn enggak?”
Raymon tidak mendengar jawaban di seberang, tapi ia bisa membayangkan ekspresi Carolina. Seingatnya, tidak pernah ada popcorn di rumah ini. Yang ada justru bom, peti granat, dan tumpukan amunisi di garasi.
“Iya, popcorn… buat dimakan. Kita lagi nonton film.”
Gwen terdiam sebentar, mendengarkan.
“Maksudnya ‘kita’ siapa? Aku sama Raymon.”
Hening lagi.
“Iya, Carolina, aku serius… Enggak, enggak perlu… aku— oke, makasih.”
Gwen menutup telepon, meletakkannya di meja, lalu menatap Raymon dengan ekspresi tidak suka.
“Enggak ada popcorn, tapi dia bakal bawain kacang. Aku benci itu, tapi dia kelihatan semangat banget mau datang.”