NovelToon NovelToon
Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Kaisar: Menguasai Takhta Dengan Darah

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Balas Dendam / Perperangan
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: ikyar

Dikhianati oleh orang-orang yang paling ia percaya, sang kaisar kehilangan segalanya—takhta, kekuasaan, bahkan nyawanya sendiri.
Namun kematian bukanlah akhir.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Denting Perak di Bengkel Pandai Besi

Jalanan Distrik Pengrajin Kota Ironforge dipenuhi oleh simfoni logam.

Tang... Tang... Tang...

Suara palu yang menghantam besi panas menggema dari setiap sudut, bersahutan dengan desisan uap air pendingin dan teriakan para mandor yang memarahi pekerja magang. Udara di sini kering dan panas, berbau arang batu bara yang menyengat hidung.

Yang Chen berjalan melewati deretan toko senjata yang memajang pedang-pedang mengkilap di etalase.

Yang Chen tidak tertarik pada toko-toko mewah itu. Toko mewah hanya membeli barang jadi, bukan bahan mentah. Yang Chen butuh bengkel produksi.

Mata Yang Chen tertuju pada sebuah bangunan batu bata merah yang cerobong asapnya mengepulkan asap hitam pekat. Papan nama di depannya terbuat dari pelat besi tebal yang digantung dengan rantai: "Bengkel Besi Darah (Iron & Blood Smithy)".

Di depan bengkel itu, tumpukan rongsokan logam dan senjata rusak menggunung.

Yang Chen melangkah masuk.

Gelombang panas langsung menerpa wajah Yang Chen. Suhu di dalam bengkel setidaknya sepuluh derajat lebih tinggi daripada di luar.

Di tengah ruangan yang luas dan remang-remang itu, seorang pria raksasa bertelanjang dada sedang menempa sebatang besi merah. Otot-otot punggung pria itu berkilauan oleh keringat dan minyak. Rambutnya diikat sembarangan, dan janggutnya yang lebat hangus di beberapa bagian.

Itu adalah Master Tie, pandai besi terbaik untuk urusan senjata berat di distrik ini.

Master Tie tidak menoleh saat Yang Chen masuk. Fokus Master Tie sepenuhnya pada batang besi di paron (landasan tempa).

"Kami tidak menerima pesanan baru sampai minggu depan!" teriak Master Tie kasar, suaranya menggelegar mengalahkan suara palu. "Pergi sana!"

Yang Chen tidak pergi. Yang Chen berjalan mendekat, menjaga jarak aman dari percikan api tempa.

Yang Chen menurunkan buntalan berat dari bahunya.

GEDEBUK.

Suara jatuhnya buntalan itu berat dan tumpul, berbeda dengan suara rongsokan logam.

Master Tie menghentikan ayunan palunya. Pria raksasa itu menoleh, menatap buntalan terikat tali tanaman itu dengan alis tebal yang berkerut.

"Apa itu?" tanya Master Tie curiga.

Yang Chen tidak menjawab dengan kata-kata. Yang Chen berjongkok, membuka ikatan tali itu dengan satu sentakan.

Buntalan terbuka.

Gulungan kulit hitam tebal dan sepasang taring melengkung berwarna gading tergeletak di lantai bengkel yang berdebu.

Mata Master Tie membesar. Sebagai ahli senjata, Master Tie mengenali bahan berkualitas dalam sekilas pandang.

Master Tie meletakkan palunya, lalu berjalan mendekat sambil menyeka tangan kotornya ke celana kulit.

Master Tie berjongkok di depan barang-barang itu. Tangan kasar Master Tie meraba permukaan kulit hitam tersebut.

"Kulit Babi Hutan Besi..." gumam Master Tie. "Masih segar. Baru dikuliti kurang dari 24 jam. Dan lihat ini..."

Master Tie menekan kulit itu dengan jempolnya. Keras, tapi elastis. Tidak ada lubang bekas senjata yang merusak bagian tengah kulit.

"Bagian punggungnya utuh," komentar Master Tie kagum. "Biasanya pemburu bodoh merusak bagian ini dengan tombak. Tapi ini... ini sempurna untuk membuat Breastplate (Pelindung Dada)."

Lalu Master Tie beralih ke taring.

Master Tie mengangkat salah satu taring itu, mengetukkannya ke lantai batu.

Ting.

Bunyinya nyaring seperti keramik kualitas tinggi.

"Ini dari pejantan dewasa. Kepadatan kalsiumnya tinggi," analisis Master Tie.

Master Tie mendongak, menatap Yang Chen yang masih berdiri tenang dengan jubah hitamnya. Tatapan Master Tie berubah. Tidak ada lagi sikap mengusir. Yang ada adalah tatapan pebisnis yang sedang menghitung untung.

"Barang bagus," kata Master Tie datar, berusaha menyembunyikan antusiasmenya. "Tapi pasar sedang lesu. Aku hanya bisa memberimu 40 keping perak untuk semuanya."

Tawaran yang sangat rendah. Harga pasar untuk kulit utuh saja bisa 30 perak. Taring sepasang bisa 20 perak.

Yang Chen tersenyum tipis di balik tudung.

"Master Tie," suara Yang Chen tenang namun menekan. "Kau lihat pangkal taring itu?"

Master Tie melihat ke pangkal taring yang masih ada sisa daging merahnya.

"Aku mencabutnya dengan akar utuh," jelas Yang Chen. "Aku tidak memotongnya. Itu artinya, rongga Spirit Marrow (Sumsum Roh) di dalam taring itu masih tertutup rapat. Energinya tidak bocor."

Yang Chen menunjuk ke arah tungku api.

"Jika kau melebur taring ini dengan teknik Fire Folding yang benar, kau bisa membuat belati Tingkat 2 yang memiliki efek penetrasi Earth Qi. Senjata seperti itu laku dijual seharga 5 Keping Emas (500 perak) kepada para kapten penjaga kota."

Wajah Master Tie berubah merah padam. Master Tie tertangkap basah mencoba menipu.

Lebih dari itu, Master Tie terkejut. Bocah berjubah hitam ini bukan pemburu kasar biasa. Bocah ini mengerti teknik penempaan Fire Folding.

"Kau... kau juga seorang pengrajin?" tanya Master Tie hati-hati.

"Hanya seorang pengamat," jawab Yang Chen diplomatis. "Jadi, berapa harga sebenarnya? Jangan buat aku membawanya ke Paviliun Harta Karun. Mereka pasti senang mendapatkan bahan taring dengan sumsum utuh."

Ancaman membawa barang ke kompetitor selalu ampuh.

Master Tie mendengus kasar. "Cih. Lidahmu tajam, Nak. Baik. 70 perak. Itu harga tertinggi. Aku juga butuh untung untuk beli batu bara."

"Delapan puluh," tawar Yang Chen. "Dan kau boleh ambil Kapak Baja Hitam rongsokan ini sebagai bonus."

Yang Chen menendang kapak rampasan milik Si Botak ke arah Master Tie. Kapak itu kualitasnya buruk, Yang Chen tidak butuh sampah itu lagi setelah punya uang.

Master Tie melihat kapak itu. "Baja hitam daur ulang... lumayan untuk dilebur jadi paku."

Master Tie berdiri, mengulurkan tangan kanannya yang kapalan.

"Sepakat. 80 Perak."

Yang Chen menjabat tangan raksasa itu. Tangan Yang Chen yang terlihat kurus ternyata tidak remuk saat diremas oleh tangan pandai besi itu, membuat Master Tie mengangkat alisnya lagi. Kuat, batin Master Tie.

Master Tie berjalan ke meja kasirnya yang berantakan, membuka laci besi, dan menghitung delapan puluh keping perak.

Master Tie menyerahkan kantong uang itu kepada Yang Chen.

"Kalau kau dapat bahan bagus lagi, bawa ke sini," kata Master Tie. "Jangan ke tempat lain. Orang lain tidak akan membayarmu setinggi ini."

Yang Chen menerima kantong itu, menimbangnya sebentar di tangan. Berat yang memuaskan.

"Tentu," jawab Yang Chen singkat.

Yang Chen berbalik dan melangkah keluar dari bengkel panas itu kembali ke jalanan yang berdebu.

Sekarang, total kekayaan likuid Yang Chen (selain Inti Monster yang sudah ditanam) adalah:

·         10 Keping Emas (dari Rumah Lelang).

·         80 Keping Perak (dari Master Tie).

·         30 Keping Perak (dari saku bandit).

·         Beberapa koin tembaga receh.

Total sekitar 11 Emas lebih. Cukup untuk hidup mewah selama setahun bagi rakyat jelata. Tapi bagi kultivator, ini hanya cukup untuk beli beberapa pil.

Namun, ada satu hal yang lebih mendesak daripada belanja obat.

Yang Chen mencium bau tubuh Yang Chen sendiri.

Bau asap daging babi, bau darah kering, bau keringat, dan sekarang ditambah bau asap batu bara dari bengkel.

"Aku butuh air," keluh Yang Chen. "Bukan air sungai. Air panas bersih dengan sabun bunga."

Yang Chen berjalan menuju Distrik Hiburan.

Di sana, berdiri sebuah bangunan kayu tiga lantai yang dihiasi lampion biru muda. Uap putih hangat terlihat mengepul dari jendela-jendela lantai atasnya.

Paviliun Air Surgawi (Heavenly Water Pavilion).

Ini adalah pemandian umum kelas atas. Tempat para pedagang kaya dan prajurit elit bersantai membersihkan diri. Biaya masuknya 50 tembaga—setara harga makanan seminggu orang miskin.

Yang Chen masuk ke lobi. Lantainya marmer licin.

Penjaga di depan mengerutkan hidung saat melihat penampilan Yang Chen yang kotor.

"Tempat ini khusus anggota..." penjaga itu mulai menghalangi.

Yang Chen melemparkan satu keping perak ke dada penjaga itu.

"Satu bilik pribadi. Paket lengkap dengan gosok punggung dan baju ganti bersih," perintah Yang Chen.

Penjaga itu menangkap koin perak itu dengan sigap. Sikapnya langsung berubah ramah. "Tentu, Tuan Muda! Silakan lewat sini. Bilik Melati kosong."

Lima belas menit kemudian.

Yang Chen sudah telanjang, berendam di dalam kolam batu persegi berukuran 2x2 meter. Airnya jernih, panas, dan beraroma melati. Uap panas menyelimuti ruangan, membuat otot-otot Yang Chen yang tegang menjadi rileks seketika.

"Hhh..."

Yang Chen menyandarkan kepala di pinggiran kolam batu. Mata Yang Chen terpejam.

Ini adalah kemewahan pertama yang benar-benar dinikmati Yang Chen sejak reinkarnasi ke tubuh ini.

Kotoran hitam dari pori-pori Yang Chen luruh ke air, tapi sistem sirkulasi kolam ini canggih, terus mengalirkan air baru sehingga airnya tetap bersih.

Yang Chen mengambil sabun batang yang terbuat dari lemak nabati dan bunga. Yang Chen mulai menggosok kulitnya.

Saat menggosok lengan kirinya, Yang Chen merasakan tekstur kulitnya yang kini jauh lebih padat dan halus. Bekas-bekas luka lama Zhao Wei (bekas cambuk, bekas sundutan rokok) sudah memudar, digantikan oleh jaringan kulit baru yang sehat hasil regenerasi Inti Monster.

Tiba-tiba, telinga Yang Chen menangkap suara percakapan.

Dinding pemandian ini terbuat dari kayu tipis. Di bilik sebelah, ada dua orang pria yang sedang berendam sambil mengobrol. Suara mereka bergema di ruangan yang lembap.

"...kau sudah dengar pengumuman dari Kediaman Walikota pagi ini?" tanya suara berat—mungkin seorang pedagang atau prajurit bayaran.

"Tentang pajak baru?" jawab suara kedua, lebih cempreng.

"Bukan, bodoh. Tentang Ujian Masuk Sekte Awan Putih," kata suara berat itu, nadanya antusias.

Mata Yang Chen yang terpejam langsung terbuka.

Sekte Awan Putih (White Cloud Sect).

Itu adalah Sekte Penguasa di wilayah ini. Sekte yang mendominasi tiga kota besar, termasuk Ironforge. Tempat di mana sumber daya kultivasi terbaik, teknik bela diri tingkat tinggi, dan perlindungan politik berada.

"Kudengar tahun ini mereka mengubah aturannya," lanjut suara berat itu. "Biasanya mereka hanya menerima murid dari klan bangsawan. Tapi tahun ini... mereka membuka Jalur Umum."

"Jalur Umum? Maksudmu rakyat jelata bisa ikut?"

"Ya. Tapi syaratnya gila. Peserta harus di bawah 18 tahun dan sudah mencapai Body Tempering Tingkat 4."

"Tingkat 4?! Itu mustahil bagi rakyat jelata tanpa obat-obatan!" seru si cempreng.

"Itulah sebabnya harga Rumput Penguat Darah naik tiga kali lipat di pasar hari ini. Semua keluarga kecil sedang gila-gilaan membeli obat untuk mendongkrak kultivasi anak mereka sebelum seleksi bulan depan."

Yang Chen mendengarkan dalam diam.

Bibir Yang Chen melengkung membentuk senyum tipis di tengah uap panas.

Tingkat 4? Yang Chen sekarang sudah di Tingkat 3 Puncak. Dengan sumber daya yang Yang Chen miliki, Tingkat 4 hanyalah masalah waktu—mungkin dua atau tiga hari lagi.

Masuk ke Sekte Awan Putih adalah jalan pintas terbaik untuk mendapatkan akses ke perpustakaan teknik, bahan langka, dan... perlindungan dari ancaman Pangeran Pertama yang mungkin akan segera menyadari bahwa Zhao Wei belum mati.

"Sekte Awan Putih..." bisik Yang Chen.

Yang Chen mengangkat tangannya dari dalam air, menatap tetesan air yang jatuh dari jari-jarinya.

"Sepertinya aku harus mendaftar."

Tapi sebelum itu, Yang Chen punya janji lain. Janji untuk memberikan 'pelajaran' pada keluarga kerajaan yang telah membuangnya.

Yang Chen bangkit dari kolam. Air menetes dari tubuhnya yang kini bersih, tegap, dan penuh kekuatan.

Waktunya berganti kulit. Waktunya tampil sebagai pemain baru di papan catur kota ini.

1
saniscara patriawuha.
gasdddd polllllll...
saniscara patriawuha.
cobaaaa kalooo isooooo....
saniscara patriawuha.
sikattttt sudahhhhhh...
saniscara patriawuha.
serapppppp kabehhhhh
saniscara patriawuha.
bantaiiii sudahhhhh.....
saniscara patriawuha.
gasssss polllll jangan ada yg di tahan tahan,,, loshkeunnnn...
saniscara patriawuha.
gassssss deuiij manggg chennnn....
Bambang Slamet
luar biasa mantab menarik
saniscara patriawuha.
sikatttttt dannn cabik cabikkk....
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnn manggg otorrrr
saniscara patriawuha.
lanjottttt keunnnnn...
saniscara patriawuha.
gassdddd polllll...
Jojo Shua
👍💪
Jojo Shua
🔥👍
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
mantapppppp mang yangggg....
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd deuiiiii manggg yanggggg....
Jojo Shua
🔥
saniscara patriawuha.
gasssdd polll manggg chennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!