NovelToon NovelToon
Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Singa Yang Menunduk Pada Mawar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Penyelamat / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tamu yang tak di undang

Ketukan di pintu kamar itu terdengar berat dan berwibawa, sangat berbeda dengan ketukan panik Azka atau ketukan lembut para santri. Ghibran segera melepaskan pelukannya dari Aira, wajahnya kembali menegang. Ia berdiri dan melangkah menuju pintu, sementara Aira merapikan jilbabnya dengan tangan gemetar.

"Siapa?" tanya Ghibran tegas sebelum membuka kunci.

"Pamanmu, Habib Mansyur," jawab suara berat dari balik pintu.

Ghibran tertegun sejenak. Habib Mansyur adalah ketua dewan pembina pesantren, sosok yang paling dihormati setelah Habib Fauzan. Ia jarang sekali mencampuri urusan domestik keluarga Al-Husayn, kecuali jika ada masalah besar yang menyangkut stabilitas pesantren.

Begitu pintu dibuka, sosok pria paruh baya dengan sorban rapi dan jubah abu-abu berdiri di sana. Matanya tajam, namun ada kilat emosi yang tertahan saat ia menatap Aira yang berdiri di belakang Ghibran.

"Paman Mansyur? Ada apa malam-malam begini ke kamar kami?" tanya Ghibran, berusaha tetap sopan meski waspada.

Habib Mansyur tidak menjawab Ghibran. Ia justru melangkah masuk ke dalam kamar, mengabaikan protokol privasi. Ia berhenti tepat di depan Aira. "Salsabila... kamu sangat mirip dengan ibumu, Sarah."

Aira mengerutkan kening. "Paman kenal dengan Ibu Sarah? Kak Ghibran bilang beliau adalah istri pertama Ayah Amir yang sudah meninggal."

Habib Mansyur tertawa getir. "Amir? Dia tidak pernah menikahi Sarah. Dia hanya 'ditugaskan' olehku untuk membawa Sarah pergi jauh dari sini karena saat itu aku sedang dalam posisi dicalonkan sebagai ketua dewan pembina. Aku tidak boleh memiliki skandal dengan wanita biasa."

Aira menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi... Paman adalah ayah kandungku?"

Konfrontasi di Ruang Tengah.

Mereka turun ke ruang tengah, di mana Habib Fauzan sudah menunggu dengan wajah masygul. Di sana juga ada Zivanna yang terduduk lemas di sudut ruangan. Ghibran duduk di samping Aira, tangannya tetap menggenggam tangan istrinya di bawah meja—sebuah bentuk dukungan yang nyata.

"Jelaskan semuanya, Mansyur," perintah Habib Fauzan dengan suara parau.

Habib Mansyur menghela napas panjang. "Dua puluh lima tahun lalu, aku menjalin hubungan dengan Sarah. Namun, karena tekanan keluarga besar, aku tidak bisa mengakuinya. Saat Sarah hamil, aku meminta bantuan Aminah—yang saat itu adalah asisten di klinik—untuk mengurus persalinan Sarah secara rahasia."

Zivanna mendongak, matanya sembab. "Lalu kenapa Bunda menukarku dengan Mbak Aira?"

"Karena saat itu," Habib Mansyur menunjuk ke arah Zivanna, "Aminah juga baru melahirkanmu, Zivanna. Kamu lahir dari hubungan gelap Aminah dengan salah satu asatidz. Kamu lahir prematur, lemah, dan hampir meninggal. Aminah yang ambisius tidak mau punya anak 'cacat' karena dia ingin menggunakan anaknya untuk menguasai harta keluarga Amir."

Aminah—yang kini sudah diborgol di sudut ruangan oleh petugas keamanan pesantren—berteriak histeris. "Aku melakukannya untuk kita semua! Aku menukar Aira yang sehat dengan Zivanna yang hampir mati agar Aira bisa hidup mewah sebagai anak Amir, sementara Zivanna aku titipkan di panti asuhan agar aku tidak perlu malu punya anak sakit-sakitan!"

Aira merasa mual mendengar pengakuan itu. Jadi, ia adalah hasil dari hubungan rahasia seorang Habib besar, dan ia dijadikan alat tukar oleh Aminah hanya karena ia lahir dengan kondisi fisik yang lebih sehat daripada Zivanna.

"Lalu kenapa Azlan meninggal, Paman?" tanya Ghibran dengan nada menuduh. "Kenapa Azlan harus diracun jika targetnya adalah rahasia ini?"

Habib Mansyur menunduk dalam. "Karena Azlan menemukan surat wasiat Sarah sebelum meninggal. Sarah menulis bahwa Aira adalah putriku, dan Azlan ingin memberitahu dunia agar Aira mendapatkan haknya sebagai anak seorang Habib. Tapi Aminah... dia takut jika rahasia ini terbongkar, posisinya sebagai istri Amir akan hancur dan dia akan kehilangan segalanya."

"Jadi Aminah meracuni Azlan agar Azlan tutup mulut?" tanya Aira dengan suara yang pecah.

"Bukan hanya Aminah," suara lirih terdengar dari arah pintu. Azka masuk dengan sebuah rekaman CCTV dari koridor rumah sakit sepuluh tahun lalu—saat Ibu Fatimah (ibu kandung Ghibran) meninggal.

"Zivanna... kamu juga ada di sana saat itu, kan?" tanya Azka pelan.

Zivanna gemetar hebat. "Aku... aku dipaksa Bunda. Bunda bilang kalau aku tidak membantu menukar obat Ibu Fatimah, Bunda tidak akan pernah mengakuiku sebagai anak. Aku hanya ingin punya Ibu!"

Pukul 05:00 WIB, Fajar yang Menyakitkan.

Kebenaran akhirnya terungkap sepenuhnya, namun meninggalkan luka yang sangat dalam. Aminah dan Abrisam (yang ternyata adalah ayah biologis Zivanna) ditahan atas tuduhan pembunuhan berencana terhadap Azlan dan Syarifah Fatimah. Umi Intan juga ikut terseret karena terbukti mengetahui semua kejahatan itu namun diam demi mendapatkan aset pesantren.

Kini, hanya tersisa Ghibran dan Aira di taman belakang pesantren saat matahari mulai terbit. Cahaya kemerahan menyinari wajah mereka berdua yang tampak sangat lelah.

Aira menatap langit dengan pandangan kosong. "Ternyata hidupku adalah sebuah kebohongan besar, Kak. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanya 'barang' yang ditukar-tukar untuk ambisi orang lain."

Ghibran berdiri di samping Aira, lalu ia melakukan sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. Ia memeluk Aira dari belakang, menyandarkan dagunya di bahu istrinya itu.

"Kamu bukan barang, Aira. Kamu adalah istriku," bisik Ghibran. "Identitas ayahmu mungkin seorang Habib yang pengecut, dan ibumu mungkin sudah tiada. Tapi bagiku, kamu adalah Aira Salsabila Al-Husayn. Tidak ada yang berubah."

Aira berbalik dalam pelukan Ghibran. Ia menatap wajah suaminya yang kini tidak lagi sedingin dulu. Ada kehangatan, ada cinta yang mulai tumbuh di antara puing-puing rahasia keluarga mereka.

"Tapi Kak... keluarga kita hancur. Azlan tidak ada, Umi ditangkap, Baba terpukul..."

"Kita akan membangunnya kembali," ujar Ghibran yakin. "Tanpa kebohongan. Hanya aku dan kamu."

Aira tersenyum kecil, ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Ghibran. Untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar pulang. Rasa gugup yang tadi menyelimutinya kini berubah menjadi rasa nyaman yang mendalam.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Kutu Buku
Thor apa2an Ini
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂
Isti Mariella Ahmad: hihi🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!