NovelToon NovelToon
Menjadi Cantik

Menjadi Cantik

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Keluarga / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Sejak kecil, Hana terbiasa dibandingkan dengan kakaknya yang cantik dan sempurna. Sementara dirinya hanya dikenal sebagai gadis dengan wajah penuh jerawat.

Ia mencoba untuk tetap tidak peduli. Namun, semuanya berubah ketika orang yang ia percaya justru mengkhianatinya.

Memasuki SMK, Hana memutuskan untuk berubah. Ia mulai merawat diri, memperbaiki penampilan, dan berusaha menjadi "cantik" seperti yang diinginkan orang-orang.

Tetapi perjalanan itu tidak semudah yang ia bayangkan.
Dimulai dari masalah keluarga, tekanan pergaulan, dan luka masa lalu perlahan menghancurkan kepercayaan dirinya.

Di tengah semua itu, Hana mulai bertanya pada dirinya sendiri:

Apakah kecantikan benar-benar sesuatu yang harus diperjuangkan?

Atau selama ini ia hanya berusaha menjadi orang lain demi diterima?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Esok Paginya.

Pagi datang terlalu cepat. Hana bahkan tidak yakin apakah ia benar-benar sempat tidur, atau hanya memejamkan mata sambil membiarkan pikirannya berputar tanpa henti sampai langit berubah terang.

Cahaya matahari masuk perlahan lewat celah tirai. Hangat. Tapi tidak cukup untuk mengusir rasa berat di dadanya.

Ia membuka mata. Menatap langit-langit. Beberapa detik… ia hanya diam.

*Drttt

Ponselnya bergetar pelan di samping bantal. Hana tidak langsung meraihnya. Ia hanya melirik sekilas. Layar ponselnya menyala, menampilkan nomor tidak dikenal.

Dadanya langsung terasa sedikit mengencang. Ia tahu. Tanpa perlu membuka pun, ia sudah tahu itu dari siapa. Tangannya bergerak pelan, mengambil ponsel itu. Jempolnya berhenti sebentar di atas layar, seolah memberi dirinya waktu untuk bersiap.

Lalu ia membuka pesan itu.

| Nantikan saja apa yang akan menimpamu

Hana hanya menatap pesan itu dengan ekspresi yang datar. Ia tidak terkejut. Tidak panik. Hanya merasa... lelah.

“Ya iyalah…” gumamnya pelan. “Nggak tidur.”

Ia mengunci layar lagi. Meletakkan ponselnya begitu saja. Tidak dibalas. Tidak usah dipikirkan. Setidaknya, itu yang ia coba lakukan.

Ia bangkit perlahan dari tempat tidur, tubuhnya terasa berat. Langkahnya pelan menuju kamar mandi, menjalani rutinitas pagi seperti biasa.

Mencuci muka, lalu mengikat rambut. Memakai seragam. Semua dilakukannya tanpa perlu disuruh. Seolah tubuhnya bergerak sendiri tanpa benar-benar terhubung dengan pikirannya.

| Nantikan saja apa yang akan menimpamu

Seperti mengatakan bahwa kejadian kemarin belum selesai sampai di situ.

Hana menarik napas panjang di depan cermin. Menatap dirinya sendiri.

“Mikir nanti aja,” bisiknya pelan. “Sekolah dulu.”

Ia keluar kamar. Langkahnya menuju ruang tengah. Di sana, ia berhenti. Ibunya sedang duduk di sofa, di samping kakaknya.

Kakinya masih dibalut perban, ditopang di atas kursi kecil. Mama sedang membantu membenarkan posisi perban itu, tangannya hati-hati, wajahnya penuh perhatian.

“Sakit?” tanya Ibu pelan.

“Kagak sih… cuma agak nyut-nyutan,” jawab kakaknya.

“Makanya dibilangin. Jalan itu lihat ke depan, bukan ke layar.”

“Iya, Ma… udah, jangan diulang-ulang…”

“Tetap aja. Mama khawatir sama anak gadis mama."

Hana berdiri di ambang pintu. Melihat interaksi mereka. Ia tak mampu berkata apa-apa. Ada sesuatu di dadanya yang bergerak pelan. Bukan marah. Bukan juga cemburu sepenuhnya. Lebih ke… kosong. Seperti ada ruang yang seharusnya terisi, tapi tidak pernah benar-benar ada.

Ia memperhatikan cara Mama menyentuh kaki kakaknya dengan hati-hati. Cara suaranya melembut. Cara tatapannya penuh fokus.

Hana menunduk sedikit.

“Dari dulu…” gumamnya dalam hati. “Memang selalu begitu.”

Ia tidak menyalahkan. Tidak sepenuhnya. Ia tahu kakaknya memang sedang butuh perhatian. Ia tahu Mama hanya khawatir. Tapi tetap saja— perasaan itu tidak bisa diatur.

Hana menarik kursi pelan dan duduk di meja makan. Suara gesekannya membuat Mama menoleh sekilas.

“Oh, Hana. Udah bangun?”

“Iya, Ma,” jawabnya singkat.

“Kamu sarapan aja dulu ya. Mama lagi bantu kakak kamu.”

“Iya.”

Singkat. Selesai.

Ibunya kembali fokus. Seolah percakapan tadi hanya jeda kecil. Hana menatap meja di depannya. Kosong. Tangannya bergerak mengambil roti, tapi ia tidak langsung memakannya.

Pikirannya melayang. Tiba-tiba— bayangan itu muncul. Seseorang yang dulu selalu duduk di depannya, yang akan menyodorkan makanan duluan sebelum ia sempat mengambil.

“Hari ini mau berangkat jam berapa?” Pertanyaan yang selalu ditanyakan oleh Ayahnya.

Hana tersenyum kecil, terlihat kecil tetapi pahit. “Kalau Ayah masih ada…” pikirnya pelan. “Pasti beda ya…”

Ayahnya selalu— memprioritaskannya. Selalu mendengarkan. Selalu memperhatikan hal-hal kecil yang bahkan orang lain tidak sadar.

Tetapi sekarang— tidak ada lagi. Tidak ada yang benar-benar berdiri di sisinya. Tidak ada yang otomatis memilihnya.

Hana menunduk dan akhirnya menggigit roti itu, meski tidak benar-benar terasa apa-apa.

“Han,” panggil Mama dari belakang.

Hana menoleh.

“Iya, Ma?”

“Nanti kamu berangkat sendiri ya. Naik Grab aja.”

Hana diam sebentar. Menunggu. Mungkin ada tambahan kalimat. Mungkin ada, “Hati-hati ya,” atau “Mama temenin sampai depan." Tapi percuma saja, yang ia harapkan itu tidak ada.

Mama melanjutkan, “Mama mau di rumah dulu. Kakak kamu belum bisa ditinggal.”

Hana mengangguk pelan. “Iya, Ma. Nggak apa-apa.”

Tetapii memang— tidak apa-apa. Setidaknya, itu yang ia katakan. Ia berdiri, merapikan tasnya.

"Han, jangan telat ya,” tambah Mama.

“Iya.”

Hana mengambil sepatu, memakainya di dekat pintu. Tidak ada yang benar-benar memperhatikannya pergi. Tetapi entah kenapa— itu terasa biasa. Terlalu biasa.

Ia membuka pintu dan melangkah keluar rumah. Udara pagi menyambutnya. Sedikit lebih segar dari dalam rumah. Ia menutup pintu pelan di belakangnya. Langkahnya turun dari teras. Tangannya sudah mengambil ponsel, siap membuka aplikasi.

Pesan itu masih ada. Belum dibalas. Belum hilang dari pikirannya juga. Tapi sebelum ia sempat melakukan apa pun—

“Hana.”

Suara itu membuatnya berhenti. Ia menoleh. Arga berdiri di dekat pagar. Bersandar santai di motornya. Tatapannya langsung tertuju ke Hana. Seolah sudah menunggu cukup lama. Hana sedikit terkejut.

“Kamu…” ia mengerjap pelan. “Ngapain di sini?”

Arga mengangkat bahu ringan. “Nunggu.”

“Nunggu?” Hana mengernyit. “Kenapa?”

Arga menatapnya sebentar. Lalu berkata santai, “Kamu kira aku bakal biarin kamu berangkat sendiri setelah semalam?”

Hana terdiam. Beberapa detik.

“Aku… bisa naik Grab kok,” jawabnya pelan.

“Bisa,” kata Arga. “Tapi nggak usah.” Nada suaranya tidak memaksa. Tapi juga tidak memberi banyak ruang untuk ditolak.

Hana menatapnya. Lalu ke motor itu. Lalu kembali ke Arga. Entah kenapa— untuk pertama kalinya sejak tadi pagi— dadanya terasa sedikit lebih ringan.

“Kamu nunggu dari kapan?” tanyanya.

“Lumayan.”

“Kok nggak bilang?”

Arga tersenyum tipis. “Kalau bilang, kamu nggak bakal keluar secepat ini.”

Hana menghela napas kecil. Hampir seperti menahan senyum. “…ya juga sih.”

Ia terdiam sebentar. Lalu akhirnya—

“Ya udah,” katanya pelan. “Bareng aja.”

Arga mengangguk. Seolah itu memang jawaban yang ia tunggu.

Hana melangkah mendekat. Naik ke belakang motor itu. Tangannya sempat ragu, lalu akhirnya berpegangan pelan pada jok motor.

“Siap?” tanya Arga.

"Iya.”

Mesin dinyalakan. Motor mulai bergerak.

Meninggalkan rumah itu perlahan, bersama dengan tekanan yang dirasakan Hana dalam rumah itu.

1
Night Watcher
coba mampir
Ran
sepertinya menairk
Ran
keren Thor, udah buat cerita baru aja nih
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!