Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kotak pandora di lemari ibu
Setelah melihat pesan di ponsel Juna, suasana kantin yang tadinya riuh mendadak terasa seperti ruang isolasi yang hampa udara. Dewi Laras tidak menunggu lama. Tanpa sepatah kata pun, dia menyambar tasnya dan berlari menuju parkiran.
"Ras! Tunggu!" teriak Bagas Putra sambil mengejar di belakang, diikuti yang lain yang sibuk membereskan barang dengan grasak-grusuk.
Bagas berhasil menahan lengan Laras tepat di samping motornya. "Jangan pulang sendirian dengan kondisi kepala panas kayak gini. Gue anter."
Laras tidak membantah. Dia naik ke jok belakang motor Bagas dengan tubuh gemetar. Di sepanjang jalan, angin sore yang biasanya menenangkan kini terasa seperti sembilu. Pikirannya penuh dengan kata 'hutang'. Apa yang disembunyikan ibunya selama sepuluh tahun ini? Mengapa mereka harus hidup seperti buronan yang berpindah dari satu kota kecil ke kota kecil lainnya?
Sesampainya di depan rumah, mobil hitam itu sudah tidak ada, tapi aura ketegangannya masih tertinggal di udara. Laras masuk ke dalam rumah dan mendapati ibunya sedang duduk di meja makan, menatap satu titik kosong dengan tangan yang memegang cangkir teh yang sudah dingin.
"Bu," panggil Laras lirih.
Ibunya tersentak, lalu buru-buru menghapus air mata yang sempat menggenang. "Eh, Laras. Sudah pulang, Nak? Bagas juga ada?"
Bagas berdiri di ambang pintu, memberikan ruang pribadi tapi tetap dalam jarak pantau.
Laras meletakkan ponsel Juna di atas meja makan, memperlihatkan pesan ancaman itu. "Apa maksudnya ini, Bu? Hutang apa? Bukannya selama ini kita pindah-pindah karena Ibu bilang Papa selingkuh dan kita mau hidup tenang?"
Ibu Laras terdiam. Bahunya merosot, seolah beban seberat gunung baru saja dijatuhkan ke sana. Dia menarik napas panjang, lalu memberi isyarat agar Laras duduk.
"Papa kamu bukan cuma pria yang keras, Laras. Dia pengusaha yang ambisius," suara Ibu terdengar parau. "Dulu, saat perusahaan Papa hampir bangkrut, dia mengambil pinjaman besar atas nama Ibu tanpa sepengetahuan Ibu. Dia menjadikan Ibu sebagai penjamin. Saat Ibu tahu dan ingin cerai, dia mengancam akan membiarkan Ibu dipenjara kalau tidak menuruti semua kemauannya."
Laras menutup mulutnya dengan tangan. "Jadi... kita lari karena itu?"
"Ibu lari untuk melindungimu, supaya kamu tidak tumbuh di lingkungan yang beracun itu. Ibu mencicil hutang itu sedikit demi sedikit selama sepuluh tahun dengan bekerja serabutan, tapi bunga dari Papa kamu... itu sengaja dibuat supaya tidak pernah lunas. Dia ingin Ibu selalu berada di bawah telapak kakinya."
Di luar, Eno Surya, Gia Kirana, Rhea Amara, dan Juna Pratama akhirnya sampai dan menguping dari balik jendela dapur. Eno yang biasanya tidak bisa diam, kini hanya bisa mengepalkan tinju. Gia mencatat sesuatu di otaknya, sementara Rhea menangis tanpa suara.
"Jadi sekarang dia datang buat nagih itu lewat aku?" tanya Laras dengan suara bergetar.
"Dia bilang, kalau kamu ikut ke Jakarta dan menikah dengan anak rekan bisnisnya, semua hutang itu dianggap lunas. Ibu tidak akan pernah dipenjara, dan kamu akan hidup mewah," tangis Ibu pecah. "Maafkan Ibu, Laras. Ibu gagal jadi pelindungmu."
Laras memeluk ibunya erat-erat. Ruang makan itu dipenuhi isak tangis yang memilukan.
Bagas yang berdiri di pintu merasa dadanya sesak. Dia melangkah masuk, berlutut di samping Laras dan Ibunya. "Tante, Laras... maaf saya lancang. Tapi Pak Gunawan meremehkan satu hal."
Laras mendongak dengan mata merah. "Apa, Gas?"
"Dia pikir dia bisa membeli masa depan orang dengan uang. Tapi dia lupa kalau Laras punya kita," Bagas menoleh ke arah jendela. "Woy, masuk sini! Nggak usah ngintip-ngintip kayak maling jemuran!"
Eno, Gia, Rhea, dan Juna masuk dengan wajah canggung tapi penuh tekad.
"Tante," Gia Kirana bicara dengan nada profesionalnya yang kembali. "Hutang atas nama orang lain tanpa persetujuan itu bisa diperkarakan secara hukum. Saya punya sepupu yang pengacara handal. Kita nggak akan biarkan Laras jadi tumbal."
"Dan soal uang," Eno Surya menyahut sambil benerin kacamatanya. "Kita mungkin nggak kaya, tapi kita bisa cari jalan. Gue bakal kerja lembur jadi maskot ayam, jadi tukang parkir, atau apa pun! Kita kumpulin bareng-bareng!"
"Gue juga punya tabungan dari hasil jualan preloved baju gue, lumayan kok buat cicilan awal," tambah Rhea Amara sambil menghapus air matanya.
Juna mengangguk mantap. "Gue... gue bisa bantu bikin strategi manajemen keuangan atau apa pun deh yang penting nggak pakai nangis."
Laras melihat satu per satu wajah sahabatnya. Di tengah badai yang paling besar dalam hidupnya, mereka tetap berdiri di sana, menawarkan payung yang mungkin tambal sulam, tapi cukup untuk menjaga hatinya tetap kering.
Namun, di tengah momen mengharukan itu, sebuah mobil mewah kembali berhenti di depan rumah. Kali ini bukan mobil hitam yang kemarin. Seorang cowok muda, seumuran mereka, turun dari mobil dengan gaya yang sangat angkuh. Dia memegang sebuah buket bunga mawar besar.
"Permisi? Saya cari Dewi Laras. Calon tunangan saya," suara cowok itu terdengar dari depan.
Geng Enam Serangkai saling pandang.
"Calon tunangan?!" teriak Eno. "Gas, kayaknya lo punya saingan yang mobilnya lebih keren dari motor butut lo!"
Bagas tidak menjawab, tapi rahangnya mengeras. Dia melangkah keluar paling depan, siap menyambut "tamu" yang baru saja menyulut api di dalam dirinya.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...