Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Capter 11 - Yang Pergi dari Kesia-siaan
Setelah makan bakso bersama, Isya, Ba’da, dan nenek berjalan pulang dengan santai.
Ba’da terlihat sangat senang.
Ia berjalan sambil melompat kecil di samping kakaknya.
“Baksonya enak ya, Kak!” kata Ba’da.
Isya tertawa kecil.
“Iya dong, kan yang traktir kak Sya.”
Nenek hanya tersenyum melihat tingkah cucu-cucunya.
Saat mereka melewati jalan dekat sekolah Isya, Isya tiba-tiba berhenti.
Di pinggir jalan terpasang spanduk besar yang sangat mencolok.
Lampu-lampu kecil dipasang di sekelilingnya.
Isya menyipitkan mata membaca tulisan di spanduk itu.
“Ehh…”
Ia menunjuk spanduk tersebut.
“Ini kan dekat sekolah Isya.”
Ba’da ikut menengok.
Di spanduk itu terlihat beberapa foto anak-anak muda.
Sebagian memakai pakaian panggung yang mencolok.
Namun Isya tiba-tiba mengernyit.
“Hee?”
“Ini anak sekolah bukannya belajar… tapi sudah manggung?”
Di salah satu foto terlihat sekelompok boyband muda memakai seragam sekolah sambil memegang mikrofon di panggung.
Isya menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Hmmm…”
Ba’da menatap kakaknya penasaran.
Isya lalu melanjutkan berjalan sambil berkata santai,
“Ahh males…”
“Besok kayaknya kuping bakal sakit nih.”
Ba’da tertawa kecil.
Nenek hanya tersenyum melihat Isya yang kadang polos seperti itu.
Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang menuju rumah.
------------------------------------------------------------------------
Malamnya, seperti biasa Isya berangkat bekerja ke restoran.
Ia sudah mengenakan masker seperti biasanya.
Saat sampai di kasir, Kak Rara sudah lebih dulu ada di sana.
Rara terlihat sangat bersemangat.
“Syaa! Kamu tahu nggak?”
Isya meletakkan tas kecilnya.
“Tahu apa, Kak?”
Rara mendekat sedikit.
“pagi ini ada konser besar di lapangan kota!”
Isya mengangguk kecil.
“Ohh… yang spanduknya gede itu ya.”
Rara semakin semangat.
“Dan yang tampil itu idolku!”
Isya menatapnya bingung.
“Idol?”
Rara mengangguk cepat.
“Iya! Penyanyi muda yang lagi terkenal banget!”
Isya hanya mengangguk kecil.
“Oh gitu ya…”
Rara lalu tertawa.
“Kamu ini ya Sya… kok kayak nggak tertarik sama sekali sih.”
Isya hanya tersenyum kecil.
“Yang penting kerjaan selesai aja, Kak.”
Rara menggeleng sambil tertawa.
------------------------------------------------------------------------
Keesokan Harinya
Pagi hari tiba.
Isya sudah siap berangkat sekolah.
Seperti biasa ia berjalan di jalan yang sama.
Tidak lama kemudian, ia bertemu Ayin di jalan.
“Ayin!” panggil Isya.
Ayin menoleh lalu tersenyum lebar.
“Isyaaa!”
Mereka berjalan bersama sambil berbincang.
Terkadang tertawa kecil.
Namun tiba-tiba—
Bruk!
Seseorang menabrak Isya dari depan.
Isya terjatuh ke jalan.
“Ahh!”
Orang itu juga terlihat kaget.
Ia memakai topi dan kacamata hitam.
“Maaf!”
Ia langsung mengulurkan tangannya untuk membantu Isya bangun.
Namun Isya yang melihat tangan itu langsung menggeleng cepat.
“Ihhh… nggak mau nggak mau!”
“Haraam!”
Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.
Laki-laki itu langsung terdiam.
Wajahnya terlihat sedikit bingung.
Beberapa detik kemudian ia tersadar.
“Ah… saya minta maaf.”
“Permisi.”
Ia langsung berbalik dan berlari pergi.
Belum sempat Isya berpikir apa-apa—
Tiba-tiba dari arah belakang muncul rombongan gadis berlari kencang.
Mereka membawa foto, buku, bahkan baju.
“Mana dia?!”
“Cepat!”
“Minta tanda tangan!”
Isya menatap mereka dengan heran.
“Ihh…”
“Ini mereka kenapa?”
“Ada demo apa?”
Ia lalu menoleh ke Ayin.
Namun Ayin justru terdiam dan bengong.
Isya melambaikan tangannya di depan wajah Ayin.
“Ehh kamu kenapa?”
“Halo?”
“Ayinn… Ayinnn!”
Ayin tiba-tiba tersadar.
“Ahhh Isya!”
Isya mengerutkan kening.
“Ihh kamu nggak tahu itu siapa?”
Isya mengangkat bahu.
“Hee siapa emang…”
“Jackie Chan apa?”
“Hihi.”
Ayin langsung mencubit kedua pipi Isya.
“Aduh!”
“Isyaa!”
“Itu orang terkenal!”
Isya mengusap pipinya.
“Ehhh… kalau dia terkenal kenapa emangnya?”
Ayin terlihat gemas.
“Ihh Isya kamu nggak paham!”
“Dia itu aset negara!”
“Penggemarnya banyak banget!”
Isya langsung mengetok pelan kepala Ayin.
“Tuk!”
“Hei!”
“Terus kenapa kalau dia banyak penggemar?”
Isya mengangkat bahu santai.
“Kagum kok sama orang.”
“Kagum tuh sama Nabi Muhammad💕💕.”
Isya lalu menarik tangan Ayin.
“Udah ah…”
“Ayo masuk sekolah.”
Mereka pun berjalan menuju gerbang sekolah.
------------------------------------------------------------------------
Pagi itu suasana sekolah terasa berbeda.
Di hampir setiap sudut, para siswa terlihat berkumpul dan berbicara dengan sangat antusias.
Topik yang mereka bicarakan hanya satu.
Konser besar di dekat sekolah mereka.
“Katanya boy band itu bakal tampil pagi ini!”
“Iya! Aku lihat di spanduknya!”
“Gila, mereka terkenal banget!”
Beberapa siswi bahkan sudah terlihat sangat bersemangat sejak pagi.
Isya dan Ayin berjalan melewati kerumunan itu.
Isya hanya melirik sekilas.
“Hmmm… konser lagi.”
Namun tiba-tiba tiga siswi yang pernah mengganggu Isya dulu lewat di depan
mereka.
Mereka berhenti sebentar sambil melihat Isya dari atas sampai bawah.
Salah satu dari mereka berkata dengan nada mengejek.
“Eh, kalian tahu nggak? Boy band itu bakal tampil di dekat sini.”
Yang lain langsung tertawa kecil.
“Ahh… kalau Isya mana tahu konser beginian.”
“Paling juga nggak pernah dengar.”
Mereka saling tertawa.
Isya hanya tersenyum kecil.
Ia tidak membalas ejekan itu.
Namun Ayin langsung membela.
“Eh, kenapa sih kalian?”
“Memang kalau nggak suka konser itu salah ya?”
Salah satu dari mereka mengangkat bahu.
“Ya nggak sih…”
“Cuma kasihan aja.”
“Ketinggalan zaman.”
Mereka lalu berjalan pergi sambil tertawa kecil.
Ayin masih terlihat kesal.
“Ihh… ngeselin banget mereka.”
Isya justru tertawa kecil.
“Udah, biarin aja.”
“Ayo masuk kelas.”
Mereka pun masuk ke kelas.
------------------------------------------------------------------------
Beberapa jam kemudian…
Pelajaran berjalan seperti biasa.
Sampai akhirnya bel sekolah berbunyi menandakan waktu istirahat.
Trriiiinggg!
Para siswa mulai ramai.
Tiba-tiba terdengar suara dari loudspeaker
sekolah.
“Perhatian kepada seluruh siswa SMA Negeri 1 Lahat.”
Suara pengumuman itu membuat semua siswa terdiam sejenak.
“Kami memiliki hiburan spesial dan kejutan untuk kalian semua.”
“Kami mengundang seluruh siswa untuk berkumpul di lapangan sekolah.”
Beberapa siswa langsung saling menatap dengan penuh rasa penasaran.
Suara pengumuman kembali terdengar.
“Kejutan ini akan dimulai dalam hitungan tiga.”
“Satu…”
“Dua…”
“Tiga!”
Tiba-tiba—
DUMM!
Suara musik keras menggema dari lapangan sekolah.
Lagu yang sangat terkenal itu langsung terdengar.
Dalam sekejap seluruh sekolah menjadi heboh.
“AHHH ITU LAGUNYA!”
“SERIUS?!”
“ITU MEREKA!”
Para siswa langsung berlari keluar kelas menuju lapangan.
Jeritan kegembiraan terdengar di mana-mana.
Namun berbeda dengan yang lain…
Isya justru menutup kedua telinganya.
“Ihhhh…”
“Berisik ahhhh!”
Ia meringis sambil menutup kupingnya kuat-kuat.
Sementara Ayin sempat keluar kelas sebentar.
Ia melihat ke arah lapangan dengan mata berbinar.
“Wah…”
“Ternyata benar mereka!”
Namun tiba-tiba Ayin sadar sesuatu.
“Loh… Isya mana?”
Ia kembali ke kelas.
Ternyata Isya masih duduk di kursinya.
Kedua tangannya menutup telinga.
Ayin tertawa kecil melihat itu.
“Isyaaa…”
“Kamu nggak mau lihat?”
Isya menggeleng kuat.
“Ihhhh kesel.”
“Pengen rasanya aku siram itu speaker.”
Ayin langsung tertawa keras.
“Hahaha!”
“Kamu ini ya.”
Isya ikut tertawa kecil.
Ayin masih tertawa kecil setelah mendengar keluhan Isya tentang speaker.
Kemudian ia menatap sahabatnya dengan penasaran.
“Eh Sya…”
Isya menoleh.
“Iya?”
“Kenapa sih kamu nggak suka musik?”
Isya menghela napas kecil.
“Ah… iya.”
“Abati pernah bilang kalau musik itu tidak boleh.”
Isya menatap Ayin sambil berbicara pelan.
“Soalnya terlalu banyak dalil yang menjelaskan tentang itu.”
“Dan juga banyak sekali nasehat ulama yang membahas tentang musik.”
Ayin mulai mendengarkan dengan serius.
Isya melanjutkan dengan tenang.
“Walaupun begitu… ada beberapa yang memang pernah dibolehkan oleh Nabi.”
Ayin menatap penasaran.
“Contohnya seperti rebana atau duff pada hari raya dan pernikahan.”
Isya mengangkat bahu kecil.
“Tapi selain itu… para ulama banyak yang memberi peringatan agar kita menjauhi musik.”
“Makanya Isya memilih untuk tidak menyukainya.”
“Apalagi kalau kita lihat… banyak juga kerugiannya.”
Isya tersenyum kecil.
“Bahkan ada pendapat yang mengatakan…”
“Jarang sekali hati yang dipenuhi Al-Qur’an bisa bersatu dengan hati yang dipenuhi musik.”
Ayin tampak berpikir.
Isya melanjutkan dengan lembut.
“Kalau satu dalil saja sudah cukup kuat untuk kita percaya…”
“Lalu bagaimana lagi kalau dalilnya banyak?”
Isya mengangkat bahu ringan.
“Makanya Isya ingin mengikuti saja ajaran Nabi.”
“Apa yang diperintahkan, Isya coba jalankan.”
“Dan apa yang dilarang… Isya berusaha menjauhinya.”
Isya kemudian berkata pelan.
“Toh… hidup kita di dunia ini hanya ujian.”
Ia kemudian membaca ayat dengan lembut.
“Alladzi khalaqal mauta wal hayata liyabluwakum ayyukum ahsanu ‘amalaa.”
“Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.”
(QS Al-Mulk: 2)
Ayin terdiam beberapa saat.
Seolah baru memahami sesuatu.
“Wah…”
“Isya…”
“Kamu kalau ngomong suka bikin aku dapat ilmu.”
Isya tertawa kecil.
Ayin tiba-tiba berkata sambil bercanda,
“Kalau gitu ayo kita siram aja speakernya.”
Isya langsung tertawa.
“Hahaha!”
Pada hari itu di sekolah terlihat perbedaan sikap seseorang menyikapi hal itu.
Ada orang yang tenggelam dalam kesenangan dan gemerlap dunia.
Dan ada pula orang yang memilih menjaga hatinya dari hal-hal yang sia-sia.
Isya memilih berjalan menjauh dari keramaian itu.
Sebagaimana salah satu ciri hamba Allah yang mulia.
Yaitu "Ibadurrahman"
“Hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih.”
Allah berfirman:
“Dan apabila mereka melewati perbuatan yang sia-sia, mereka melewatinya dengan menjaga kehormatan diri.”
(QS Al-Furqan: 72)
Hari itu, tanpa banyak kata…
Isya memilih meninggalkan sesuatu yang tidak ia sukai demi menjaga hatinya.
------------------------------------------------------------------------
Setelah pulang sekolah, Isya berjalan seperti biasa melewati jalan kecil dekat jembatan.
Di sana ada tempat yang sering ia datangi.
Isya berhenti sebentar.
“Mpuss…”
"Kuroo.."
“Mpuss…”
Tak lama kemudian seekor anak kucing kecil muncul dari bawah semak.
“Meong…”
Isya tersenyum lebar.
“Nah ini dia.”
Ia duduk di pinggir jalan sambil mengeluarkan makanan kecil dari kantong plastik.
“Ini ada rezeki buat kamu.”
“Yang kenyang yaa.”
Di sampingnya, Ayin berdiri sambil tersenyum melihat tingkah sahabatnya.
“Kadang aku heran sama kamu, Sya.”
Isya menoleh.
“Kenapa?”
Ayin tertawa kecil.
“Kamu itu bisa temenan sama semua makhluk.”
Isya tertawa.
“Hihi… semua juga ciptaan Allah.”
Di Dalam Mobil Boyband
Tidak jauh dari tempat itu…
Sebuah mobil hitam besar melaju perlahan.
Di dalamnya duduk beberapa anak muda.
Mereka adalah anggota boyband yang baru saja tampil di sekolah tadi.
Suasana di dalam mobil cukup ramai.
Mereka saling bercanda.
“Hei, tadi penonton hampir pingsan lihat kamu!”
“Ah biasa aja!”
“Tapi yang paling banyak diteriakin tetap Ahnaf!”
Salah satu dari mereka tertawa.
Di dekat jendela, Ahnaf sedang melihat keluar.
Namun tiba-tiba pandangannya berhenti.
Ia melihat dua gadis di pinggir jalan.
Satu gadis duduk memberi makan seekor kucing kecil.
Yang satu lagi berdiri di sampingnya sambil tertawa.
Ahnaf memperhatikan mereka cukup lama.
Ada sesuatu yang berbeda.
Bukan wajah mereka.
Tapi cara mereka memperlakukan makhluk kecil itu dengan penuh kasih.
Ahnaf terdiam.
Salah satu temannya memperhatikan.
“Eh…”
“Kenapa kamu bengong?”
Ahnaf tidak menjawab.
Temannya ikut melihat ke arah yang sama.
“Ohhh…”
Ia langsung tersenyum jahil.
“HEE!”
“Ahnaf yang paling ganteng, populer, dan terkenal bisa suka sama orang juga ya!”
Seketika seluruh isi mobil heboh.
“WOOOO!”
“BENER NIH!”
“Siapa tuh?!”
Ahnaf langsung kaget.
“Ahh apa sih!”
Wajahnya sedikit memerah.
“Perasaan nggak gitu deh!”
Teman-temannya justru semakin menggoda.
“CIELAH!”
“Udah ketahuan!”
Ahnaf hanya menggeleng sambil menatap keluar jendela lagi.
Namun mobil sudah melaju menjauh.
Hari itu…
Berakhir dengan kejadian yang tidak disangka-sangka.
---Namira Ahsya\_\_
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘