Seraphina Gunawan atau yang sering di sebut Sera, menikahi CEO Ashford Sync yang dingin dan tanpa perasaan serta hanya mencintai, cinta pertamanya Celesta.
Selama tiga tahun Sera hanya menanggung rasa sakit karena hanya menjadi pengganti dalam hidup sang CEO dan melihat pria itu telah bertemu kembali dengan cinta pertamanya. Namun, ketika dia ingin meninggalkan kehidupan nya yang menyakitkan tiba-tiba dia mengandung anak CEO.
Bagaimana kelanjutan cerita nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Celesta
Selepas tujuh bulan meninggalkan kediaman Ashford, Sera terlihat lebih bahagia dan stresnya semakin berkurang. Dia mengelus perut dengan berjalan tertatih. Sebab, ternyata di dalam rahim ada dua anak, dia tidak menyangka mendapatkan kesempatan oleh seperti ini oleh Tuhan.
Meskipun tanpa cinta dari suaminya, dia kemudian mengantri untuk menuju keruangan dokter spog bersama ibu-ibu lain yang tentu saja memiliki permasalahan yang berbeda-beda.
"Mari bu," sapa Sera sembari tersenyum pada ibu hamil yang berada di sebelahnya, yang tentu saja akan mengecek kehamilannya juga.
"Oh, iya ibu... Ibu kenapa perut nya besar sekali? Mana suami ibu?" jawab ibu yang berada di sebelah Sera dengan raut wajah khawatir.
"Suami saya sedang sibuk," bohong Sera, padahal yang terjadi dia kabur dari rumah suaminya kerena tertekan, sebab suaminya itu belum habis dengan cinta pertamanya.
"Hish... yang benar saja, dasar laki-laki," decak nya kesal.
Kemudian menoleh pada pria jangkung yang menghampiri ibu itu dengan sebotol minuman dingin, "Sayang, ini minuman kamu..." sembari memberikan minuman pada ibu itu, namun yang di terima adalah pukulan dari istri karena kesal melihat keadaan Sera.
"Lah, kamu kenapa sayang?" tanya suami ibu itu, bingung sebab semua permintaan istrinya sudah di penuhi namun tetap saja kena geplakan.
Ibu itu makin kuat memukul suaminya dan kini suaminya itu hanya bisa tersenyum kecut kearah Sera sebab malu dengan wanita muda itu, kemudian duduk di kursi tunggu di sebelah istri dan memeluk erat istrinya itu untuk meredahkan amarahnya.
Beberapa saat Sera meperhatikan kemesraan mereka, Sera menjadi sedikit iri dengan pasturi itu. Dia mulai memikirkan apa Dominic khawatir dengan kepergiannya atau merasa biasa saja, karena Sera tidak pernah terlihat dimata Dominic, sebab perempuan itu bukanlah kecintaanya.
"Ibu Anna!"seorang perawat membuyarkan lamunannya.
Ternyata ibu di sebelahnya sudah di panggil sekarang, terlihat suaminya dengan telaten membantu ibu itu yang nampak kesulitan memegang pingangnya. Membuat Sera semakin iri saja.
Sedangkan di sisi lain, Celesta, kekasih suaminya itu, menatap Sera dari kejauhan, ya, wanita itu kesini bukan untuk cek kehamilan namun ada satu hal dan tak menyangka menemukan saingannya untuk merebutkan Dominic ada disini.
"Kenapa perempuan itu datang kedokter kandungan dengan perut buncit? Jangan-jangan... Ehm, tapi Dominic tidak pernah menyentuh, mungkin saja itu anak haram dengan selingkuhannya," gumam Celesta di balik kerumunan pasien yang nampak berlalu lalang.
"Aku akan labrak perempuan itu sebentar lagi," ujar Celesta menunggu di kursi tunggu pasien di sudut ruangan agar tidak di sadari Sera.
"Nyonya Celesta!" panggil seorang perawat yang membuat Sera dengan cepat lantaran familiar dengan nama itu.
Selepas melihat kepergian ibu Anna dan suaminya, mata bergerak meliar menuju kearah orang yang di panggil dan jelas memperlihatkan wajah Celesta yang menatap dengan sinis, sontak saja membuat Sera meneguk liur dengan kasar, serat akan ekspresi ketakutan.
*
Celesta duduk di hadapan dokter spog dengan santai, bahkan terlalu santai untuk seorang pasien. Dia mengangkat kaki kanan ke kaki kiri sembari melihat jari-jari nya yang lentik yang terukir nail art sembari menunggu dokter yang sedang mengecek berkas, hasil catatan perawat administrasi.
Dokter itu mulai mengelengkan kepala selepas melihat catatan medis wanita di hadapan nya yang nampak tak perduli dengan situasi itu, meskipun belum meriksanya secara langsung, dokter itu sudah yakin dengan jawaban diagnosa nya nanti.
"Maaf bu, Sudah berapa lama Anda berhubungan dan sering berganti pria?"tanya dokter itu kini menatap kearah Celesta.
Wanita itu tiba-tiba menurunkan kaki dengan perasaan marah dan menatap dokter itu dengan berapo-api, "Kamu mengatakan apa dokter, kamu pikir saya perempuan yang tidak benar, tidak ada hal yang seperti itu," ucap Celesta mengebrak meja dokter spog itu, sembari berdiri dari duduknya.
Dokter itu terdiam, nyali tidak ciut hanya saja mencoba profesional dan tenang dalam menghadapi pasien beragam, "Baguslah kalau begitu ibu, saya akan memeriksa kelamin Anda dan melakukan USG untuk memastikan Anda baik-baik saja."
"Nah, begitu dong, tapi jangan panggil saya bu, panggil saya Nyonya, ibu tidak terlihat bermartabat untuk saya," ujar Celesta kembali duduk di tempatnya dan melipat kakinya.
Selepas itu dokter Spog memberikan pemeriksaan menyeluruh pada Celesta tetapi saja jawaban yang ada dipikiran dokter itu tidak meleset, membuatnya terus mengeleng kencang dan kembali ke posisi duduknya semula.
Dokter itu mencatat semua nya, dan terkadang menoleh pada perawat untuk memberikan dukungan. Sedangkan Celesta kembali duduk di tempat selepas merapikan pakaian yang kurang bahan itu, lalu bersender dengan santai di kursi khusus pasien itu.
"Nyonya, kami harus memastikan lagi diagnosa nya sudah benar atau belum lewat tes laboratorium, Anda harus datang lagi minggu depan," ujar dokter itu memberikan secarik kertas pada Celesta.
"Kenapa seminggu lagi? Kenapa tidak sekarang? Aku tidak hamil kan, aku tidak mau hamil?" jawab Celesta menolak kertas itu malah membuat banyak pertanyaan untuk dokter itu.
"Prosedur pemeriksaan cukup panjang, sehingga kami harus mepersiapkannya lagi pula banyak orang mengantri untuk tes di laboratorium pada minggu ini," jelas dokter itu.
"Rumah sakit bobrok, jelek, pelayanannya buruk, aku tidak mau kesini lagi," ujar Celesta mengambil kertas itu dengan kasar, kemudian keluar dari ruangan itu dengan perasaan kesal. Dia membanting pintu ruangan dokter itu dengan kasar.
Nafasnya masih memburu, lalu melihat Sera masih duduk dengan santai di kursi tunggu itu sembari mengelus perut dengan senang seolah tak ada beban. Sedangkan Celesta sangat marah saat ini, "Pas sekali..." gumamnya dalam hati.
Celesta dengan langkah cepat nya menghampiri Sera, tanpa basa-basi dia langsung menarik tangan Sera dengan kasar. Membuat wanita hamil itu kaget. Begitupun dengan para ibu yang menganggap hal itu kurang ajar. Bagaimana bisa seseorang merundung ibu hamil? mereka mulai berbisik liar menyalahkan sikap Celesta.
Celesta menoleh pada para ibu dengan mata yang akan menghunus jantung siapapun yang berani mencemooh dirinya, "Ternyata kau disini rupanya?!" ujar Celesta sinis.
"Apa yang kamu mau Celesta?" tanya Sera mencoba melepaskan cengkraman tangan Celesta yang terasa menyakitkan itu.
"Wanita tidak tau diri! Anak siapa itu kamu kandung, Ha?! Tidak mungkin anak Dominic, kan!" teriak Celesta agar semua orang tau bahwa Sera bukanlah perempuan baik-baik.
"Kamu tidak perlu tau anak ini, anak siapa. Yang pasti ini anak ku, jangan ganggu aku pergi sana! aku sudah tidak menganggu kamu dan Dominic. Lakukan lah apa saja bahkan berselingkuh atau meminta ku bercerai dengan pria itu," geramnya sembari menarik tangannya yang masih di cekal oleh Celesta.