Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.
Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.
Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?
Ikuti kisah selanjutnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membenci
"—Tiara ...." suaranya tertahan, wajahnya sembab, sebab terlalu lama terisak dalam tangisannya.
Warga di sekitar berdatangan. Akan tetapi, warung sembako Inem semakin ramai saja, bahkan ia berusaha menutupnya, sebab sedang berduka, tetapi lonjakan pembeli tak dapat dihindari.
Hal itu dikarenakan ia sebagai satu-satunya warung sembako yang ada di Desa Getih.
Kematian Tiara, sebagai pembuka aura bagi warungnya, yang memberikan kelipatan harta yang didapatnya.
Tampak Novita datang dengan mobil mewahnya. Ia berias sama seperti yang lainnya.
Kedatangan mereka tak ubah seperti orang sedang arisan para sultan, tak ada aura kesedihan sebagai symbol sedang berduka.
Sebab bagaimanapun, mereka juga saling mengerti satu sama lainnya, jika kemagian Tiara akibat pesugihan yang dianut oleh Inem.
Bagi warga Desa Getih, ini adalah hal yang lumrah.
"Nem, yang sabar—ya. Kamu harus tabah."
Sarinah mengusap punggung Inem, dan suara gemerincing gelang tangannya saling beradu, dan itu merupakan bentuk pamer terselubungnya.
"Aku sedih, Nah. Kemapa harus Tiara, kan masih ada suamiku yang pemalas itu, kenapa harus Tiara ...." tangisannya sangat sedih, pundaknya berguncang, membuat semakin sesenggukkan.
"Bersabarlah, besok-besok kamu tumbalkan saja si Parto, biar gak salah lagi," Sarinah menguatkan hati sahabatnya itu.
"Iya, aku kapok milih menantu si Ratih, besok aku buat list nya saja, siapa yang mau ku tumbalkan," jawabnya, dengan suara yang serak, akibat banyak menangis.
"Bagus, itu. Jadi kamu tinggal targetin saja setiap bulannya,"
Inem manggut-manggut, lalu mengusap air mata dan ingusnya yang keluar masuk.
"Nah, gitu, dong. Kamu jangan sedih lagi. Anggap saja semua itu titipan," Sarinah menimpali ucapannya.
Tampak para tetangga mulai ramai berdatangan. Mereka tampil dengan berlomba-lomba dalaam kemewahan.
Tak Hanya Sarinah, Suketi, Sumi, dan yang lainnya, melalukan hal yang sama, leher mereka menggunakan kalung emas yang menyerupai rompi, dan sangat mewah.
Diantara mereka, hanya Ratih dan juga tiga orang warga lainnya yang tampak tampil sama, sederhana, tanpa ada perhiasan yang mencolok.
Hal yang membuat Ratih kali ini berbeda, ia menggunakan hijab instan, pemberian dari Alawiyah.
Semua mata tertuju padanya. Sangat aneh sekali, saat Ratih tampil beda diantara mereka.
Inem menatap Ratih dengan penuh kebencian. "Aku tau, pasti ia yang melakukannya!" dagu Inem terangkat keatas, giginya merapat, dan ada dendam didalam hatinya, yang terpatri dengan cukup jelas.
Sarinah ikut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh tatapan Inem. "Maksudmu?"
"Siapa lagi yang menggagalkannya, kalau bukan si Ratih. Lihat saja dia, sejak kedatangan menantunya, sudah berani ia berhijab. Emang cari masalah."
Inem meremas jemari tangannya, menghindari rasa amarah yang membuncah.
"Iya, sejak menantunya datang, dia sudah mulai terkontaminasi." Suketi menimpali, sembari merapikan tusuk konde disanggulnya—yang terbuat dari emas dua puluh empat karat.
"Sebaiknya, kita labrak saja dia besok, biar dia jera." usul Sumi, yang membenahi liontin berbentuk uang logam.
"Iya, aku setuju. Besok kita labrak dia. Jangan lupa, share di group WA, jadwal melabraknya," Suketi mengingatkan.
"Ok."
Sarinah mengacungkan jempolnya.
"Tapi, jasad Tiara ini di apakan?" tanya Sumi bingung.
"Ya, dibungkus, dikubur, lalu mau diapain?" sahut Suketi.
"Gak disholat—kan jenazah?" Sumi menyela.
Ketiganya menatap tajam pada Sumi.
"Shalat jenazah, katamu? Kau mau buat masalah dengan desa ini, jika ada yang melantunkan kalimat suci?" Inem menekan nada bicaranya.
"Oh, iya—ya. Aku lupa."
Sumi menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Jangan katakan kalau kau mau logout dari kebiasaan kita?!" Suketi menekan nada bicaranya.
Sumi bergidik ngeri, dan tersenyum datar. "Ya, enggaklah, mana mungkin aku keluar dari pesugihan ini," sangkalnya dengan cepat.
Sementara itu, jasad Tiara sudah dimandikan, dikafani, dan langsung dikuburkan, tanpa harus di shalatkan.
****
"Mir, mau pulang?" tanya Ratih, sembari mempercepat langkahnya.
"Iya, Mbak. Mau di bonceng?" Mira menawarkan.
"Iya, saya ikut, ya. Sampai rumah kamu juga gak apa-apa." Ratih naik ke boncengan motor, dan Mira adalah salah satu yang tidak menganut pesugihan.
Tetapi nasibnya masih lebih baik dari Ratih, karena suami Mira masih hidup, dan ia bisa membeli motor yang cukup bagus.
"Ya, sudah, ayo naik," ajaknya dengan cepat.
"Mir, Kinasih melahirkan dimana?" tanya Ratih, saat mereka sudah dalam perjalanan.
"Belum tau, Rat. Tapi aku maunya dia melahirkan di kampung suaminya saja. Aku khawatir, Rat, kamu tau sendiri bagaimana warga di desa ini."
Mira juga memperlihatkan rasa khawatirnya.
Ia tidak mau jika nantinya Kinasih akan menjadi tumbal dari keserakahan warga.
"Sebaiknya di kampung suaminya saja, Mir. Aku takut terjadi sesuatu padanya," saran Ratih.
"Iya, semoga saja Kinasih tetap di sana." jawab Mira dengan penuh harap. "Tetapi dengan menantumu bagaimana? Apakah kau tak khawatir?"
Saat ini, Mira yang justru bingung.
"Tidak,"
"Lho, kok bisa?"
"Karena dia memiliki doa yang tidak dimiliki oleh warga desa ini," jawab ratih menegaskan.
Mira terdiam. Ternyata Ratih setenang itu, karena yakin, jika Alawiyah dapat melewati semuanya.
****
Juminten dan Gina memutuskan untuk pergi ke hutan segitiga yang ada di lereng Gunung Kawi secara bersamaan.
Sebelumnya mereka singgah ke makam Eyang Jugo, dan setelah menemui kuncen yang pernah menghubungkan dengan iblis yang menjadi sekutu mereka, untuk mendapatkan kekayaan secara instan.
Mereka melewati hutan pinus yang tinggi menjulang, serta banyaknya sesaji yang di letakkan dibawah pohon pinus, dengan kain kuning yang diikatkan ke batang pohon.
Aroma dupa dan juga kemenyan yang baru saja habis dibakar, menambah suasana dan kesan mistis yang sangat kuat.
Kabut tipis mulai tampak menutupi hutan, saat senja mulai tiba.
"Jum, aku ke pohon yang sana—ya. Kamu cari pohon yang tepat dan nyaman untukmu," Gina berpesan pada Juminten yang mulai tampak kelelahan.
"Baiklah, aku akan pohon yang itu saja." Juminten menunjuk pohon yang masih belum diikat oleh kain kuning dan juga sesaji.
Setibanya di tempat yang diinginkan, masing-masing mereka mulai menyediakan alat ritual. Mengikat kain kuning ke pohon, meletakkan sesaji, lalu membakar arang, menyalakan dupa, dan menaburkan bubuk kemenyan.
Kedua mata terpejam, kedua telapak tangan mengatup di bawah dagu, lalu mulai merapalkan mantra penghubung kepada iblis yang mereka sekutui.
Juminten memanggil Sundel Bolong yang menjadi sekutunya. Ia sudah merapalkan mantra, tetapi sosok itu belum juga datang.
Ia terus saja memanggil, dan ternyata Sundel Bolong sedang bergosip dengan Kuntilanak Putih, tentang penampilan Kuntilanak Merah yang saat ini semakin cetar membahana, saat mendapatkan jiwa Kiara.
"Lihat, tuh. Si Kunti Merah. Gayanya sok kecentilan. Biar apa coba?" Sundel Bolong menatap sinis pada Kuntilanak Merah yang saat ini sadang duduk diatas genteng rumah Inem.
"Ya, biar apa? Ya biar si Genderuwo naksir-lah!" jawab Kuntilanak putih dengan kesal.
"Iya, sok kecantikan sekali dia," Sundel Bolong masih saja tampak sewot.
Hingga ia mendengar suara teriakan Juminten yang memanggilnya dari arah hutan pinus.
"Sundel ... Dimana, Kau!" panggil Juminten dengan lantang, sebab Sundel Bolong tidak merespon panggilannya.
kn JD nya gak bisa di sebut Surti Tejo ,, JD mlh Intan Tejo 🤣🤣🤣🤣
kasihan bgt nasib nya si Intan , lg masak soto mlh di cabut jiwa nya oleh si Wewe JD meninggal deh ,, mna tuh Soto nya bntr lg Mateng ,, kn JD nya gak bisa nyobain deh 🤣🤣
mana dh nongkrong di pos ronda gda yg godain lg 🤣🤣🤣🤦
sungguh Tejo lucknut 😡🤬
si Sundel kn msh magang jd kerjanya hrs bagus dan gercep biar naik pangkat , biar gak magang lg 🤣🤣👏