NovelToon NovelToon
My Possessiv Damian

My Possessiv Damian

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Zaara 26

Zona dewasa ‼️ Harap bijak dalam memilih bacaan!

Valerie seorang mahasiswa fresh graduate, cantik ,pintar, berkelas, sebenarnya hidupnya normal layaknya mahasiswi biasa, namun semuanya berubah saat sebuah kejadian yang membuatnya harus terikat dengan seorang gangster bernama Damian Callister.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaara 26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Kantin Universitas Arthemis bukanlah sekadar tempat makan biasa. Ruangan itu terbagi menjadi dua zona yang dipisahkan oleh sekat kaca elegan dan standar pelayanan yang kontras.

Di satu sisi, ada kantin yang khusus mahasiswa kalangan orang biasa, dan di sisi lain—zona kantin premium—untuk para elit, dengan aroma kopi mahal dan furnitur beludru mendominasi.

Sebagai kekasih Aiden, Valerie secara otomatis memiliki akses ke area elit ini.

Aiden dan Valerie duduk berhadapan, menyantap makan siang mereka di bawah lampu gantung kristal yang minimalis. Aiden menyesap minumannya sejenak, lalu mengulurkan tangan untuk meraih jemari Valerie di atas meja.

"Val, nanti malam ikut aku ya," ucap Aiden dengan nada membujuk. "Adrian ulang tahun, dan dia mau merayakannya di club. Anggota Legacy lainnya juga kumpul di sana."

Valerie tahu betul siapa Adrian. Keluarganya memiliki salah satu nightclub paling eksklusif di kota ini, tempat yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang memiliki nama besar atau kartu anggota berwarna emas. Bagi kelompok Legacy, tempat itu sudah seperti markas kedua mereka.

"Oke, aku ikut," jawab Valerie singkat sambil tersenyum tipis.

Aiden nampak lega. Ia mengusap punggung tangan Valerie dengan ibu jarinya. "Baguslah. Aku akan menjemputmu jam delapan malam di apartemenmu, dandan yang cantik ya."

Valerie terdiam sejenak. Jantungnya berdesir pelan saat teringat "janji" kepulangannya ke penthouse Damian sore nanti. Namun, otaknya ingin berkhianat. "Toh, aku hanya pergi nongkrong sebentar.

Setelah dari club, aku bisa langsung kembali ke tempat Damian. Dia tidak perlu tahu", pikir Valerie. Merasa itu hal yang wajar.

Valerie ingat masih ada beberapa pakaian dan barang penting yang tertinggal di apartemen yang tidak diangkut oleh anak buah Damian. Ia juga harus pulang ke sana dulu agar Aiden tidak menaruh curiga padanya.

"Iya, Aiden. Aku tunggu di apartemen jam delapan malam nanti," ucap Valerie mantap, ia sedang tidak ingin memikirkan bagaimana reaksi Damian, ia hanya ingin menikmati malam bersama dengan kekasihnya nanti.

Valerie menghela napas lega saat pintu apartemennya tertutup rapat. Langkah pertamanya adalah langsung menuju panel kontrol pintu dan mengubah kode kuncinya.

Ia tidak ingin kecolongan lagi; ia harus mengantisipasi agar anak buah Damian tidak bisa lagi masuk seenaknya dan "memindahkan" barang-barangnya tanpa izin.

Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Syukurlah, furniturnya masih utuh dan lengkap, hanya perlengkapan pribadinya—pakaian favorit, buku-buku, dan alat rias—yang sudah lenyap sebagian, berpindah ke penthouse mewah itu.

"Dasar pria gila," gerutu Valerie sambil melempar tasnya ke sofa.

Valerie kemudian merogoh sakunya dan mengambil ponsel. Ia membuka daftar kontak dengan perasaan campur aduk. Benar saja, di sana sudah tertera nama Damian Callister. Valerie mendecak kesal, namun sedetik kemudian sebuah ide jahil muncul di kepalanya.

Dengan senyum miring, ia menekan tombol edit. Ia menghapus nama tersebut dan menggantinya menjadi "Pria Gila".

Valerie tertawa kecil menatap layar ponselnya. Nama itu terasa sangat cocok dan entah kenapa memberikan sedikit kepuasan di hatinya.

"Nah, begini lebih baik," gumamnya puas.

Melirik jam dinding yang mulai merangkak naik, Valerie segera bangkit. Ia tidak boleh membuang waktu. Ia harus segera mandi dan bersiap-siap karena Aiden akan menjemputnya jam delapan malam tepat.

Ia ingin tampil sempurna malam ini, seolah-olah drama penculikan dan statusnya sebagai tawanan Damian Callister hanyalah mimpi buruk yang bisa ia lupakan sejenak.

Valerie berdiri di depan cermin besar di kamarnya, melakukan pemeriksaan terakhir pada penampilannya.

Ia memilih gaun malam selutut berwarna midnight blue yang membalut tubuhnya dengan sempurna, menonjolkan siluet tubuhnya yang ramping namun berisi.

Rambut panjangnya kali ini dibiarkan terurai bebas dengan sedikit aksen gelombang di ujungnya, memberikan kesan dewasa dan berkelas yang mendominasi.

Ia memoles lipstik dengan warna yang sedikit lebih berani dari biasanya. Pergi ke club eksklusif seperti milik keluarga Adrian menuntut standar penampilan tertentu, dan Valerie tahu cara memenuhinya.

"Sempurna," gumamnya pada bayangannya sendiri. Valerie nampak jauh lebih dewasa dan anggun,

Setelah selesai memakai heels tinggi yang senada, suara bel apartemennya berbunyi nyaring.

Valerie tersenyum puas, menyambar tas kecilnya, dan melangkah menuju pintu. Begitu pintu apartemen terbuka, nampak Aiden sudah berdiri di sana.

Aiden mengenakan pakaian semi-formal—kemeja gelap dengan blazer yang pas di tubuhnya—membuat pria itu terlihat sangat maskulin dan menawan. Matanya sempat terpaku selama beberapa detik saat menatap Valerie, terpesona oleh kecantikan kekasihnya yang luar biasa malam ini.

"Kau... kau sangat cantik, Val," puji Aiden tulus, suaranya terdengar sedikit serak karena kagum.

Valerie tertawa kecil, merasa senang karena berhasil membuat kekasihnya terpesona dengan penampilannya sekarang. "Terima kasih, Aiden. Kau juga terlihat sangat tampan malam ini."

Aiden meraih jemari Valerie dengan posesif, menuntunnya meninggalkan keheningan apartemen yang sejak tadi terasa. Langkah mereka menggema di lorong gedung hingga tiba di area parkiran. Di sana, mobil sport milik Aiden yang berwarna metalik sudah menunggu, memancarkan aura kemewahan yang setara dengan status sosialnya.

Aiden membukakan pintu untuk Valerie dengan gerakan gentleman, sebelum akhirnya ia melesat ke kursi pengemudi.

Mesin mobil itu menderu halus, lalu dalam sekejap, kendaraan bertenaga besar tersebut melesat membelah jalanan ibu kota yang mulai dihiasi kerlap-kerlip lampu kota.

1
@RearthaZ
lanjutin terus ceritanya kak
@RearthaZ
awalan cerita yang bagus kak
Raffa Ahmad
good
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!