NovelToon NovelToon
Takdirku Yang Tak Terduga

Takdirku Yang Tak Terduga

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Romansa Fantasi / Iblis
Popularitas:564
Nilai: 5
Nama Author: Veela_

Aku hanya menginginkan kehidupan yang normal. Aku pikir saat aku berpindah tempat bersama ayah dan meninggalkan teman-teman lamaku, itu akan menjadi kesempatanku untuk merasakan kehidupan yang sesuai dengan apa yang aku harapkan. Namun kenyataannya, kemanapun aku pergi dan kemanapun kakiku melangkah, hal-hal "itu" akan selalu mengikutiku. Dan saat aku bertemu dengan mereka, kehidupanku mulai berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veela_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bagian 10

"Apa ini?"

"Aku mohon... Selamatkan temanku."

Polisi wanita itu menerima kotak yang aku serahkan padanya. Dengan sedikit ragu polisi itu membuka kotak yang kuberikan.

"Kartu memori?"

Aku mengangguk.

Kesedihanku sudah tidak bisa terbendung lagi. Kekhawatiran dan ketakutan, perasaan itu berkumpul menjadi satu. Melihat kondisiku yang cemas polisi itu membawa aku ke dalam sebuah ruangan agar aku merasa aman. Dengan segera polisi itu melaporkan barang yang aku bawa ke pimpinannya. Agar aku merasa tenang. Polisi itu kemudian memeriksa isi kartu memori yang aku bawa. Ekspresi para polisi itu berubah ketika melihat apa yang ada di dalam kartu memori yang ku bawa. Mereka benar-benar terkejut. Lalu polisi itu menoleh ke arah ruangan tempat di mana aku berada. Saat itu aku masih menangis seorang diri diruangan itu. Polisi wanita yang mulai khawatir juga karena mendengar tangisanku dari luar ruangan berlari menemuiku lalu memelukku sambil mengelus pelan punggungku.

"Tolong dia. Tolong... Huaaaaaa. Hiks. Hiks."

"Tenang ya. Tenang. Kami akan menolong temanmu. Jangan takut."

Polisi itu kemudian mengantarku menelpon ayahku. Ayah dan ibu sangat terkejut karena ada polisi bersamaku. Kemudian polisi itu menjelaskan dengan detail apa yang terjadi padaku. Ibuku sesekali melihatku yang masih duduk diam di sofa dengan pakaian yang kotor berlumuran tanah seperti gembel di jalanan. Tidak. Saat aku menyadari hal ini sekarang, ternyata yang di lihat ibuku bukanlah diriku. Namun sosok yang ada di sebelahku yang sedari tadi mengikutiku.

"Mukamu sakit?"

Tanyaku saat mulai sedikit tenang pada sosok itu. Sosok itu hanya menunduk. Awalnya dia hanya diam saja. Namun akhirnya mulutnya terbuka.

"Iya."

 

"Siapa namamu?"

"Jeni."

Aku turun dari sofa lalu menghampiri ayahku. Aku pun menangis lagi.

"Ayah. Tolong temanku. Jeni sangat kesakitan. Tolong adik-adiknya juga. Hiks. Hiks. Ayah..."

Ibuku  yang melihatku menangis lagi langsung memelukku dengan lembut.

"Ayah pasti akan menolong Jeni. Jeni tidak akan merasa sakit lagi."

Ucap ibuku. Wajah ayahku benar-benar khawatir saat itu.

Malam itu pasukan kepolisian langsung menyerbu ke kediaman Jeni dan menangkap ayah tirinya. Benar saja, Eca dan Eci, anak kembar yang saat itu berusia 16 tahun, ditemukan dalam keadaan mengenaskan dengan trauma berat yang dialaminya. Mereka berdua langsung dilarikan kerumah sakit untuk segera memulihkan keadaannya dan mendatangkan psikolog untuk mencoba memulihkan mentalnya.

Polisi juga mendatangi tempat di mana aku menemukan kartu memori itu dan langsung menggali semak-semak mencoba menemukan ada hal apa lagi yang bisa ditemukan atas informasi yang aku berikan. Jeni menunjuk gundukan tanah yang sudah ditumbuhi rerumputan yang tinggi. Dan aku pun menunjuk tempat yang sama agar polisi bisa menggali tempat tersebut. Para polisi hanya menurutiku tanpa bertanya. Galian mereka semakin dalam. Dan tiba-tiba mereka terdiam saat melihat apa yang ada di balik gundukan tanah itu. Garis polisi pun di pasang. Gundukan itu ternyata tempat dimana Jeni dikuburkan. Hanya tulang belulang yang tersisa. Aku pikir sosok itu baru saja meninggal. Aku tidak pernah menyangkanya. Tragedi yang menjadi rahasia selama 8 tahun kini terkuak. Ayah tirinya bahkan menguburkan Jeni tanpa sehelai kain.

"Tolong rahasiakan identitas anakku."

Ucap ibuku.

Ibu dan ayah memberikan laporan ke kepolisian. Aku berdiri tak jauh dari ayah dan ibu. Jeni mendekatiku. Tiba-tiba luka-luka yang selama ini terlihat menghilang. Dan tubuhnya kembali kebentuk aslinya. Dengan senyum manis yang terukir diwajahnya ia mentapku. Akupun turut membalas senyuman yang penuh kelegaan itu. Cahaya putih dari langit mulai menerangi keseluruh tubuhnya. Jeni adalah sosok pertama anak kecil yang ku lihat dan begitu cantik dimataku saat itu.

"Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tetapi dendamku sudah bisa aku lepaskan. Terimakasih karena sudah menolongku dan juga adik-adikku. Aku senang bahwa penjahat itu sudah ditangkap dan akan segera dihukum. Aku bisa pergi dengan tenang sekarang."

Tiba-tiba ibuku memelukku dari belakang. Dan ikut tersenyum pula pada Jeni yang hendak pergi.

"Jeni, beristirahatlah dengan tenang. Akan kupastikan adik-adikmu sembuh dan tumbuh dengan baik."

Aku menoleh kearah ibuka yang berbicara seperti itu. Ternyata bukan hanya aku.

"Ibu bisa melihat temanku?"

Ibuku tak berkata apapun dan hanya tersenyum ke arahku.

"Terimakasih. Katakan pada Eca dan Eci bahwa aku sangat mencintai mereka."

Itulah ucapan terakhir Jeni sebelum dia menghilang ke langit yang menyilaukan itu.

"Pasti."

Balas kami.

Ibuku benar-benar menepati janjinya. Eca dan Eci tumbuh dibawah pengawasan langsung ayah dan ibu. Walau dengan trauma berat yang dialaminya, entah kenapa Eca dan Eci kini bisa menjalani hidupnya dengan baik seperti tidak pernah merasakan kejadian mengerikan dihidupnya. Setelah dia bisa mandiri, pengacara keluarga beserta notaris menyerahkan wasiat terakhir ibu kandungnya yang selama ini disembunyikan ayah tirinya. Mereka hidup dengan baik. Dan ayah juga tidak pernah menanyakan apapun padaku. Namun... Kebahagiaan orang lain malah menjadi awal mula tragedi berdarah dikeluarga bahagia milikku.

Setelah semua kebaikan yang telah ibu dan ayahku lakukan, ibuku meninggal. Alasan utama ibuku meninggal  adalah karena ibuku dibunuh oleh ayah tiri Jeni. Saat itu ayah tiri Jeni melarikan diri dari penjara, lalu datang kerumah kami dan langsung menikam ibuku yang sedang menyiram tanaman tepat didepan mataku. Polisi yang ternyata sedang mengejarnya mendengar teriakanku lalu segera meringkus ayah tiri Jeni yang hendak menyerangku. Aku berusaha berlari menghampiri ibuku. Namun polisi menghalangi aku. Beberapa saat kemudian ambulance datang.

"Ibu!! Ibu!! Ibu!!"

Aku berteriak memanggil ibuku yang terkapar dengan kesadaran yang hampir tidak bisa dipertahankan. Dengan segera petugas ambulance membawanya pergi untuk melakukan pertolongan. Keramaian mulai terjadi. Para tetangga mulai mengerumuni rumahku. Suara di sekelilingku tiba-tiba menghilang dari telingaku. Bahkan aku tidak bisa mendengar suara tangisku sendiri. Aku berteriak. Terus berteriak memanggil ibuku berharap ibuku baik-baik saja. Aku memberontak. Lalu berlari dan ikut masuk menemani ibuku didalam mobil ambulance itu. Sepanjang perjalanan, dengan tangan yang berlumuran darah itu ibuku menyentuh pipiku. Dan dengan air mata yang mengalir ibuku tersenyum kearahku untuk terakhir kalinya. Dan perlahan matanya tertutup. Untuk selama-lamanya. Hal itu terjadi di saat ayah tidak ada dirumah.

Sejak hari itu aku memutuskan untuk menyembunyikan kemampuanku. Aku berpikir, kemampuan ini hanya akan membawa malapetaka bagi keluargaku. Walau terkadang masih ada saja roh-roh yang berusaha mendekatiku untuk memastikan apakah aku melihat mereka atau tidak. Namun aku berusaha menghindar dan berpura-pura tidak melihat mereka. Aku belajar ilmu bela diri untuk menjaga diriku dan belajar memanah untuk mengalihkan fokusku. Aku benar-benar berusaha dalam hidupku agar kejadian seperti sebelumnya tidak akan pernah terjadi lagi. Aku takut ayahku akan bernasib sama dengan ibu. Eca dan Eci, aku bahkan sudah kehilangan kabarnya. Sebenarnya aku enggan menghubungi atau mencari tau keberadaan mereka lagi setelah tragedi itu.

Di negara S, aku semakin sering melihat roh-roh gentayangan. Bahkan sosoknya kini lebih jelas dari sebelumnya. Dan aku bahkan hampir tidak bisa menyembunyikan kemampuanku lagi. Dan ditengah hal itu semua, kebetulan ayahku dipindah tugaskan dari perusahaan tempat dia bekerja di negara S ke negara P. Itu suatu keberuntungan bagiku. Aku sempat berpikir bahwa di negara P nanti aku tidak akan bertemu dengan hal-hal semacam ini lagi. Namun perkiraanku salah. Sebenarnya... saat pertama kali aku memasuki ruang guru milik Tuan Josep, aura hitam yang mencekam mulai kurasakan. Bahkan apa yang aku lihat lebih parah dari apa yang biasa aku lihat di negara S. Aku tidak tahu hal apa yang memicu roh-roh tersebut tiba-tiba muncul di hari itu.

Banyak sosok yang aku lihat di sekolah ini yang awalnya tidak ada kini memenuhi setiap lorong yang aku lewati. Perasaan tidak adil yang kuat kurasakan dari aura yang keluar dari sosok-sosok itu. Bahkan saat aku tiba di sekolah, sosok-sosok itu malah terlihat mengelilingi tubuh pria yang sedari pagi mengikutiku. Dan salah satu roh itu bahkan beraura lebih kuat dan penuh dengan dendam dari sosok-sosok yang lain. Aku merasakan aura kematian akan mendekati pria itu sebentar lagi. Namun anehnya, roh-roh itu hanya mengelilingi pria itu di sekolah. Dan melepaskannya saat dia meninggalkan area sekolah.

"Jika kau mencemaskannya, maka tolonglah dia."

Ucap nenek itu tiba-tiba menyadarkanku kembali dari lamunanku.

Aku menebak sosok nenek itu adalah pemilik sebelumnya rumah ini. Dari apa yang kulihat, sepertinya dia meninggal dunia karena sakit. Entah apa yang membuatnya gentayangan sampai saat ini. Namun dari ucapan yang keluar dari mulutnya itu sepertinya dia roh yang baik. Awalnya aku tidak ingin membalasnya.

"Aku... Aku takut."

"Mila?!"

Ayahku memanggil tiba-tiba karena melihatku yang terdiam sendirian didapur dari arah masuk dapur. Seketika nenek itu menghilang dari pandanganku. Aku melihat teko kosong yang dibawa ayah.

"Biar aku bantu isikan ayah."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!