Tujuh tahun Sheilla mencintai Ardhito dalam diam, sejak masa SMA yang polos hingga dewasa. Namun di tahun kedelapan, takdir justru memberinya luka. Akibat jebakan salah sasaran di sebuah kamar hotel yang dirancang teman-teman Ardhito, keduanya terpaksa menikah demi menutupi skandal.
Pernikahan yang Sheilla dambakan berubah menjadi neraka. Ardhito yang merasa dijebak melampiaskan amarahnya melalui pengabaian dingin dan kekerasan fisik (KDRT). Di tengah sisa-sisa cintanya yang hancur, Sheilla harus memilih: terus bertahan sebagai martir cinta yang tak terbalas, atau mengumpulkan keberanian untuk pergi dan menyembuhkan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocolate_coffee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema yang Menghilang
Warna jingga di langit sore kota kecil itu tampak lebih cantik dari biasanya. Sheilla melangkah keluar dari toko bunga "The Second Bloom", mengunci pintu kaca yang sudah ia hiasi dengan papan bertuliskan Closed. Ia mengenakan gaun linen berwarna krem, sederhana namun elegan, sangat kontras dengan Sheilla setahun lalu yang selalu berusaha tampil mencolok hanya demi mendapatkan satu lirikan dari Ardhito.
Langkah kakinya ringan menuju sekolah dasar tempat pameran seni anak-anak diadakan. Di sepanjang jalan, beberapa penduduk lokal menyapanya. "Sore, Mbak Sheil!" atau "Mbak, rotinya Bu Retno enak banget tadi pagi!" Sheilla membalas semuanya dengan senyuman tulus. Di sini, dia bukan "istri skandal" atau "korban jebakan". Di sini, dia hanyalah Sheilla, perempuan pecinta bunga yang ramah.
Sesampainya di aula sekolah, suasana riuh dengan tawa anak-anak dan orang tua mereka. Adrian langsung melambai dari kejauhan. Pria itu tampak sibuk mengarahkan beberapa murid, namun begitu melihat Sheilla, ia segera menitipkan tugasnya pada rekan guru yang lain dan menghampiri.
"Kamu datang tepat waktu," ujar Adrian, matanya berbinar tulus. "Ada satu lukisan yang harus kamu lihat. Murid kelas 3 membuatnya, katanya terinspirasi dari toko bungamu."
Adrian membimbing Sheilla ke sebuah sudut. Di sana, tergantung sebuah lukisan cat air yang sedikit berantakan namun penuh warna. Gambarnya adalah sebuah toko kecil dengan banyak bunga matahari di depannya, dan seorang wanita yang sedang tersenyum lebar. Di bawahnya tertulis judul: Wanita yang Membawa Matahari.
Dada Sheilla berdesir. Bukan karena jatuh cinta secara instan pada Adrian, melainkan karena rasa syukur yang meluap. Setahun lalu, dia adalah wanita yang layu di kegelapan apartemen mewah. Sekarang, bahkan seorang anak kecil melihatnya sebagai sumber cahaya.
"Bagus sekali, kan?" bisik Adrian. "Anak itu bilang, setiap lewat tokomu, dia merasa senang karena kamu selalu tersenyum. Kamu memberikan energi itu ke orang lain, Sheil."
Sheilla mengangguk pelan, matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku hanya sedang mencoba membayar hutang pada diriku sendiri, Yan. Terlalu lama aku membiarkan diriku redup."
--
Tanpa Sheilla ketahui, di luar gedung sekolah, sebuah mobil sedan hitam mewah terparkir di bawah pohon rindang. Ardhito duduk di balik kemudi, tangannya mencengkeram stir hingga buku-buku jarinya memutih. Ia sudah berada di kota ini sejak pagi, namun ia tidak punya keberanian untuk keluar dari mobil.
Ia melihat dari kejauhan saat Sheilla tertawa bersama Adrian. Ia melihat bagaimana Sheilla menyentuh bahu seorang anak kecil dengan lembut. Dan yang paling menyakitkan, ia melihat pancaran kebahagiaan yang tidak pernah ia berikan selama mereka bersama.
Ardhito mengambil sebuah kotak kecil dari dasbor. Di dalamnya ada sebuah kalung berlian yang sangat mahal, diniatkan sebagai hadiah permintaan maaf yang entah ke berapa kalinya.
Namun, saat ia melihat pemandangan di depan matanya, ia menyadari betapa murahnya berlian itu dibandingkan dengan ketenangan yang kini dimiliki Sheilla.
Ia teringat kata-kata sahabatnya di Jakarta tempo hari. "Dhito, melepaskan itu bukan berarti kamu kalah. Tapi melepaskan adalah pengakuan bahwa kamu cukup mencintainya untuk membiarkan dia bahagia, meskipun kebahagiaannya bukan bersamamu."
Ardhito menunduk, dahinya menyentuh stir mobil. Air matanya jatuh, membasahi jok kulit mahal itu. Selama delapan tahun, ia adalah pusat gravitasi Sheilla. Ia adalah matahari yang membuat Sheilla terus berputar. Namun ia adalah matahari yang membakar, bukan menghangatkan. Dan sekarang, Sheilla telah menemukan sistem tata suryanya sendiri.
Perlahan, Ardhito menyalakan mesin mobil. Ia tidak keluar. Ia tidak memanggil. Ia tidak merusak momen itu. Ia memutar balik mobilnya, meninggalkan kota itu dengan hati yang berat namun mulai belajar untuk menerima. Ia meninggalkan satu-satunya wanita yang pernah mencintainya dengan tulus, demi membiarkan wanita itu tetap hidup.
--
Selesai pameran, Sheilla dan Adrian duduk di sebuah kedai kopi pinggir jalan. Udara mulai dingin, dan Adrian meminjamkan jaketnya untuk diletakkan di bahu Sheilla.
"Sheilla," panggil Adrian lembut. "Aku tahu kamu punya masa lalu yang berat. Aku tidak butuh tahu detailnya jika kamu belum siap.
Tapi aku ingin kamu tahu, aku tidak mencari seseorang untuk melayaniku atau melengkapiku. Aku hanya mencari seseorang untuk diajak berjalan beriringan. Tanpa paksaan, tanpa tuntutan.
Sheilla menyesap kopinya, merasakan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia menatap Adrian, pria yang sangat berbeda dengan Ardhito. Adrian tidak dominan, tidak dingin, dan tidak mengintimidasi.
Bersama Adrian, Sheilla tidak merasa harus menjadi "sempurna" agar tidak dimarahi.
"Terima kasih, Yan," jawab Sheilla tenang. "Tapi untuk saat ini, aku masih ingin belajar berjalan sendirian. Aku baru saja menemukan kakiku, dan aku ingin menikmati setiap langkahnya tanpa bergantung pada siapa pun dulu."
Adrian tersenyum, tidak tampak kecewa sedikit pun. "Aku mengerti. Dan aku akan tetap di sini, sebagai teman, sebagai tetangga, atau apa pun yang kamu butuhkan. Aku tidak akan lari."
Malam itu, saat Sheilla kembali ke kosannya, ia membuka buku harian lamanya. Buku yang berisi coretan-coretan kepedihan selama masa pernikahan dengan Ardhito. Ia mengambil sebatang pulpen, lalu di halaman paling terakhir yang kosong, ia menuliskan satu kalimat pendek:
"Penantianku bukan lagi tentang siapa yang akan datang, tapi tentang betapa jauhnya aku bisa melangkah."
Ia menutup buku itu, lalu memasukkannya ke dalam sebuah kotak yang ia lakban rapat. Ia menyimpannya di bawah tempat tidur—bukan untuk diingat setiap hari, tapi sebagai pengingat bahwa dia pernah selamat dari badai yang paling dahsyat.
Sheilla berjalan ke jendela, menatap bulan sabit yang menggantung indah. Tidak ada lagi rasa sesak di dadanya. Tidak ada lagi bayangan Ardhito yang menghantuinya. Yang ada hanyalah Sheilla, seorang wanita yang akhirnya bebas, yang telah berhenti menunggu keajaiban karena ia menyadari bahwa keajaiban itu adalah dirinya sendiri.
Besok pagi, ia akan bangun, membuka toko bunganya, dan menyambut dunia dengan tangan terbuka. Karena bagi Sheilla, musim dingin yang panjang telah usai, dan musim seminya baru saja dimulai.
To Be Continue...
-- Hallo terimakasih sudah selalu memberikan support kepada Author, Sehat selalu untuk kalian semua ya. Dukung selalu Author setiap harinya, dan jangan lupa komen selalu agar author makin semangat buat uploadnya hihi --