seorang muda mudi yang lama berteman dan memulai dengan saling ada ikatan cinta Siska namanya paras cantik dan menawan mendapatkan masalah dari keluarganya dia adalah seorang tepandang namun ia harus menikah untuk mewarisi perusahaan keluarganya bertemulah Andi dan menjalin asmara dengan berbagai masalah namun di ujung mereka resmi menjalani pernikahan dengan bahagia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alif Cariza Nofiriyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 3
Satu bulan di pedalaman Kalimantan terasa seperti satu tahun. Andi berdiri di tengah lahan yang masih berlumpur, mengenakan rompi proyek dan helm keselamatan yang sudah penuh debu. Di hadapannya, alat berat mulai bergerak mengikuti koordinat yang ia tentukan.
Siska datang dengan helikopter perusahaan sore itu, sepatu botnya langsung terbenam di tanah liat begitu ia turun. Ia menghampiri Andi yang sedang mempelajari peta digital bersama beberapa mandor.
"Bagaimana progresnya?" tanya Siska, suaranya nyaris tenggelam oleh deru mesin.
Andi menunjuk ke arah struktur jembatan yang mulai berdiri. "Fondasi untuk green-bridge sudah stabil. Pamanmu mencoba memutus jalur logistik beton kemarin, tapi aku sudah menyiapkan pemasok cadangan dari Balikpapan sebelum dia sempat bergerak."
Siska menghela napas lega, namun wajahnya tetap tegang. "Paman Hardi tidak akan berhenti di situ, Ndi. Dia tahu kalau proyek ini selesai tepat waktu, posisinya di dewan direksi akan tamat. Dia sedang berusaha menghasut para pemegang saham bahwa kamu hanya menggunakan dana perusahaan untuk eksperimen lingkungan yang tidak perlu."
Andi menyeka keringat di dahinya, lalu menatap Siska dengan tajam. "Biarkan saja. Angka tidak bisa bohong. Minggu depan, jalur ini akan selesai dan biaya pengiriman logistik utama akan turun drastis. Saat itulah Ayahmu akan melihat hasilnya secara nyata."
Tiba-tiba, seorang mandor berlari ke arah mereka dengan wajah pucat. "Pak Andi! Ada masalah di sektor timur. Sekelompok orang memblokade jalan, mereka bilang kita tidak punya izin lingkungan dari warga lokal!"
Siska dan Andi saling berpandangan. Mereka tahu ini adalah permainan kotor Paman Hardi yang terakhir: memprovokasi warga dengan informasi palsu.
"Aku akan bicara dengan mereka," kata Andi sambil melangkah maju.
"Jangan sendiri," Siska menahan lengan Andi. "Aku adalah pewaris sah perusahaan ini. Jika mereka butuh jaminan, mereka harus mendengarnya langsung dariku. Kita hadapi mereka sebagai satu tim."
Mereka berjalan beriringan menuju barisan massa yang tampak emosional. Di sana, di tengah ketidakpastian dan ancaman sabotase, keduanya sadar bahwa pernikahan yang mereka impikan bukan sekadar tentang pesta mewah, melainkan tentang kesiapan untuk saling melindungi saat dunia mencoba meruntuhkan apa yang mereka bangun.
Andi melangkah ke depan tanpa ragu, namun ia tidak berteriak. Ia justru melepas helm proyeknya, sebuah tanda penghormatan yang membuat kerumunan itu sedikit mereda. Di sampingnya, Siska berdiri tegak, membiarkan angin hutan mengacak rambutnya yang biasanya tertata rapi di Jakarta.
"Bapak-bapak, Ibu-ibu," Andi memulai dengan suara yang berat namun tenang. "Saya tahu apa yang dikatakan orang pada kalian. Bahwa jembatan ini akan merusak aliran air dan hutan kalian. Tapi lihatlah ke sana." Ia menunjuk ke arah struktur green-bridge yang baru setengah jadi. "Itu bukan jembatan beton biasa. Kami membangun kolong luas di bawahnya agar hewan dan air tetap bisa lewat seperti biasa. Kami di sini bukan untuk merampas tanah, tapi membangun jalan agar hasil panen kalian bisa keluar ke kota dengan murah."
Seorang pria tua maju, wajahnya sangar. "Tapi orang perusahaan yang satu lagi bilang kalian cuma mau ambil untung dan tinggalkan sampah!"
Siska maju selangkah, mensejajarkan dirinya dengan Andi. "Orang itu berbohong untuk kepentingan pribadinya, Pak. Saya Siska, putri dari Pak Gunawan pemilik perusahaan ini. Saya berjanji, jika proyek ini merugikan satu saja jengkal tanah warga tanpa ganti rugi yang adil, saya sendiri yang akan menghentikan mesin-mesin itu sekarang juga."
Keheningan mengikuti ucapan Siska. Kehadiran langsung sang pewaris memberikan bobot yang berbeda dibandingkan hanya bicara dengan mandor. Satu per satu, warga mulai menurunkan kayu dan batu yang mereka pegang.
Satu minggu kemudian, keajaiban kecil itu terjadi. Truk logistik pertama berhasil melewati jalur perbukitan timur dengan waktu tempuh setengah dari biasanya. Biaya operasional anjlok, dan laporan keuangan proyek Kalimantan berubah dari merah menjadi hijau pekat.
Kembali di Jakarta, di ruang rapat dewan direksi yang megah, Pak Gunawan duduk menatap layar yang menampilkan kesuksesan proyek tersebut. Paman Hardi duduk di pojok ruangan dengan wajah pucat, tak berani menatap siapa pun setelah audit internal membongkar semua permainan kotornya.
"Siska, Andi," suara Pak Gunawan kali ini tidak lagi mengancam. Ada nada bangga yang tersembunyi di balik wibawanya yang kaku. "Kalian membuktikan bahwa idealisme dan bisnis bisa berjalan bersama jika ada nyali dan kejujuran."
Ia berdiri, berjalan menuju jendela besar yang menghadap cakrawala Jakarta. "Pernikahan kalian bukan lagi soal warisan perusahaan. Tapi karena perusahaan ini butuh pemimpin seperti kalian berdua."
Andi menatap Siska, dan Siska menggenggam tangan Andi di bawah meja rapat. Tidak ada lagi keraguan. Masalah keluarga, intrik perusahaan, dan tekanan status telah mereka lalui di lumpur Kalimantan. Di ujung perjalanan yang melelahkan itu, mereka akhirnya berdiri di ambang kebahagiaan yang bukan lagi sekadar pemberian, melainkan sesuatu yang mereka menangkan bersama.
Enam bulan kemudian, Jakarta tidak lagi terasa seperti medan perang yang menyesakkan bagi mereka. Di sebuah taman belakang rumah keluarga yang dihiasi lampu-lampu gantung temaram, Siska berdiri mengenakan gaun putih sederhana namun sangat anggun. Tidak ada lagi gaun merah yang penuh provokasi; kali ini, yang ada hanyalah ketulusan.
Andi menghampirinya, kali ini tanpa rompi proyek atau debu Kalimantan. Ia mengenakan tuksedo hitam yang membuatnya tampak setara dengan lingkungan kelas atas itu, meski binar matanya tetaplah Andi yang sama—sahabat yang selalu bisa menenangkan badai di hati Siska.
"Siap untuk langkah terakhir?" bisik Andi sambil berdiri di sampingnya.
Siska menarik napas panjang, menghirup aroma melati yang memenuhi udara malam itu. "Ini bukan langkah terakhir, Ndi. Ini langkah pertama kita tanpa bayang-bayang tuntutan Ayah atau ancaman kehilangan warisan. Kita di sini karena kita mau, bukan karena kita terpaksa."
Pak Gunawan berjalan mendekati mereka. Wajahnya yang dulu keras kini tampak lebih lembut. Ia menatap Andi cukup lama, lalu menepuk bahu pria itu dengan mantap.
"Jaga putriku, Andi. Dan jaga perusahaan itu seperti kamu menjaga prinsipmu di hutan kemarin. Ternyata saya salah; perusahaan ini tidak butuh merger dengan keluarga konglomerat lain. Perusahaan ini butuh integritas."
Setelah sang ayah berlalu, musik mulai mengalun lembut. Andi mengulurkan tangannya, sebuah ajakan yang pernah ia lakukan belasan tahun lalu saat mereka masih remaja.
"Dulu kita sering berandai-andai akan jadi apa kita saat dewasa nanti," kata Andi saat mereka mulai berdansa pelan di tengah perhatian para tamu. "Aku tidak pernah menyangka jalannya akan serumit ini."
Siska tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu Andi, merasakan detak jantung pria itu yang tenang. "Masalah itu yang membuat akhir ini terasa nyata, Ndi. Kalau semuanya mudah, kita mungkin tidak akan pernah tahu seberapa kuat kita saat bersama."
Di bawah langit Jakarta yang cerah tanpa mendung malam itu, mereka merayakan kemenangan yang bukan hanya soal harta atau jabatan, melainkan kemenangan atas cinta yang berhasil bertahan di tengah badai kepentingan. Masalah keluarga telah menjadi sejarah, dan di depan mereka, sebuah lembaran baru yang mereka tulis sendiri telah menanti.
"Aku mencintaimu, CEO-ku," bisik Andi jenaka di telinga Siska.
"Aku lebih mencintaimu, Arsitekku," balas Siska dengan tawa kecil yang bahagia.