Cerita ini mengisahkan tentang Kaelen, Raja Es Kerajaan Celestial yang hidup terisolasi selama seratus tahun dalam kesendirian dan dingin yang abadi. Hidupnya berubah drastis saat kedatangan Lira, seorang wanita dari dunia luar yang datang meminta bantuannya untuk melawan kekuatan gelap yang mengancam nyawa banyak orang. Seiring berjalannya waktu, terungkap bahwa Lira memiliki kekuatan es yang sama dengan Kaelen, yang mengindikasikan adanya hubungan rahasia antara dirinya dan Kerajaan Celestial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raja Ilusi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15:Pertarungan Terakhir Yang Memilukan Dan Penyelamatan Yang Tak Terduga
Setelah mengalahkan Vorath, Kaelen dan Lira melanjutkan perjalanan mereka menuju ruang ter deepest di benteng Malakar. Setiap langkah terasa semakin berat, seolah-olah gravitasi di tempat ini berlipat ganda karena energi gelap yang pekat. Akhirnya, mereka sampai di sebuah pintu yang terbuat dari kristal hitam yang berkilauan, yang bersinar dengan cahaya yang sangat gelap dan menakutkan. Tanpa ragu, Kaelen mendorong pintu itu terbuka.
Di dalamnya, terdapat sebuah ruangan yang sangat luas dan megah, namun juga sangat suram. Di tengah ruangan itu, di atas sebuah singgasana yang terbuat dari tulang-belulang dan batu hitam, duduk seorang pria yang tampak tua namun memiliki aura yang sangat kuat dan jahat. Itu adalah Malakar. Dia mengenakan jubah hitam yang panjang dan lebar, dengan wajah yang penuh dengan kerutan namun matanya bersinar dengan cahaya ungu yang sangat terang dan menakutkan. Di tangannya, dia memegang sebuah tongkat sihir yang terbuat dari tulang naga dan dihiasi dengan sebuah batu merah menyala yang bersinar dengan energi yang sangat besar.
"Ah, akhirnya kalian datang," kata Malakar, suaranya rendah namun terdengar jelas di seluruh ruangan. "Saya sudah menunggu kalian, Kaelen dari Kerajaan Celestial. Dan juga kamu, Lira, keturunan dari Raja Arion yang sudah lama hilang. Kalian benar-benar membuat saya terkejut. Kalian berhasil melewati semua rintangan yang saya siapkan untuk kalian. Tapi sekarang, perjalanan kalian berakhir di sini."
Kaelen dan Lira segera mengeluarkan pedang es mereka, siap untuk bertarung. "Kami datang untuk mengakhiri kejahatanmu, Malakar," teriak Kaelen, suaranya tegas. "Kami akan mengalahkanmu dan membawa kedamaian kembali ke dunia ini."
Malakar tertawa dengan suara yang keras dan mengerikan. "Mengalahkan saya? Kalian? Dua anak kecil yang baru saja belajar menggunakan kekuatan mereka? Itu adalah lelucon yang paling lucu yang pernah saya dengar. Kalian tidak tahu betapa kuatnya saya sekarang. Saya telah mengumpulkan kekuatan gelap selama ratusan tahun, dan sekarang, saya adalah makhluk yang paling kuat di dunia ini. Kalian tidak memiliki kesempatan sedikit pun untuk melawan saya."
Tanpa peringatan apa pun, Malakar mengangkat tongkat sihirnya, dan sebuah bola energi gelap yang sangat besar dan kuat terlempar ke arah Kaelen dan Lira. Kaelen dan Lira segera menciptakan perisai es dan cahaya emas untuk melindungi diri mereka. Namun, kekuatan bola energi itu begitu besar sehingga perisai mereka segera retak dan hancur. Mereka terdorong ke belakang dan jatuh ke tanah, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka terasa sakit.
"Lihatlah," kata Malakar dengan sinis. "Itu hanya sedikit dari kekuatan saya. Kalian bahkan tidak bisa menahan satu serangan pun dari saya. Bagaimana kalian berharap bisa mengalahkan saya?"
Kaelen dan Lira bangkit berdiri dengan susah payah. Mereka tahu bahwa Malakar jauh lebih kuat daripada yang mereka bayangkan. Tapi mereka tidak mau menyerah. Mereka harus mencoba.
"Mari kita serang dia bersama-sama, Lira," bisik Kaelen. "Kita harus mengerahkan semua kekuatan kita. Kita tidak punya pilihan lain."
Lira mengangguk dengan tegas. "Baiklah, Yang Mulia. Saya siap."
Mereka pun melompat ke arah Malakar, mengayunkan pedang mereka dengan sekuat tenaga. Malakar menangkis serangan mereka dengan mudah menggunakan tongkat sihirnya. Pertarungan pun dimulai. Namun, ini bukanlah pertarungan yang seimbang. Malakar terlalu kuat. Dia bergerak dengan kecepatan yang luar biasa, dan serangan-serangannya sangat dahsyat. Kaelen dan Lira hanya bisa bertahan dan berusaha menghindari serangan-serangan Malakar.
Setiap kali Kaelen mencoba untuk menyerang Malakar dengan kekuatan esnya, Malakar dengan mudah menangkisnya dengan energi gelapnya. Dan setiap kali Lira mencoba untuk menyerang Malakar dengan kekuatan cahaya emasnya, Malakar tertawa dan mengatakan bahwa cahaya itu tidak cukup kuat untuk melawan kegelapan yang ada di dalam dirinya.
Salah satu serangan Malakar sangat dahsyat. Dia menciptakan sebuah badai energi gelap yang menghantam Kaelen dan Lira. Kaelen sempat menghindar, tapi Lira tidak sempat. Badai energi itu menghantam tubuh Lira dengan kekuatan yang besar. Lira menjerit kesakitan dan terlempar ke belakang, menabrak dinding batu ruangan itu dan kemudian jatuh ke tanah dengan lemah.
"Lira!" teriak Kaelen, melihat Lira terbaring di tanah dengan darah yang mengalir dari mulutnya dan luka-luka yang parah di tubuhnya. Kaelen menjadi sangat marah. Dia mengerahkan semua kekuatannya, menciptakan badai es yang sangat besar dan kuat yang menghantam Malakar. Namun, Malakar hanya tertawa dan menangkis badai es itu dengan mudah menggunakan tongkat sihirnya.
"Kau marah, Kaelen?" kata Malakar dengan sinis. "Bagus. Marah akan membuatmu kehilangan akal sehatmu, dan itu akan membuatmu lebih mudah untuk dikalahkan. Dan lihatlah temanmu itu. Dia hampir mati. Sebentar lagi, dia akan mati, dan kemudian giliranmu."
Kaelen berlari ke arah Lira dan memeluknya dengan erat. "Lira! Lira! Apakah kamu baik-baik saja? Jangan mati padaku, Lira! Tolong jawab aku!"
Lira membuka matanya dengan susah payah, menatap Kaelen dengan mata yang lemah. "Yang Mulia... saya... saya tidak apa-apa... tapi... saya merasa sangat lelah..."
Kaelen melihat bahwa luka-luka Lira sangat parah. Darah terus mengalir dari luka-luka itu, dan wajah Lira sangat pucat. Kaelen tahu bahwa jika mereka terus bertarung di sini, Lira pasti akan mati. Dan dia juga tahu bahwa dia tidak bisa mengalahkan Malakar sekarang. Malakar terlalu kuat.
"Maafkan saya, Lira," bisik Kaelen, air matanya menetes ke wajah Lira. "Kita harus mundur. Kita harus pergi dari sini. Saya tidak bisa membiarkanmu mati."
Kaelen mengangkat tubuh Lira dengan lembut, dan dia bersiap untuk lari keluar dari ruangan itu. Namun, Malakar menghalangi jalan mereka.
"Kau pikir kalian bisa pergi begitu saja?" kata Malakar dengan sinis. "Tidak. Kalian tidak akan pernah bisa keluar dari sini hidup-hidup. Kalian akan mati di sini, bersama-sama."
Malakar mengangkat tongkat sihirnya, siap untuk memberikan serangan terakhir kepada Kaelen dan Lira. Kaelen menutup matanya, memeluk Lira dengan erat, siap untuk menerima serangan itu. Namun, tiba-tiba, sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Tiba-tiba, sebuah cahaya putih yang sangat terang menyelimuti seluruh ruangan. Cahaya itu begitu terang sehingga Malakar harus menutup matanya dan mundur ke belakang karena tidak tahan dengan cahaya itu. Kaelen juga terkejut melihat cahaya itu.
Saat cahaya itu meredup, Kaelen melihat bahwa di depan mereka, berdiri seorang pria yang mengenakan jubah putih yang bersih dan berkilauan. Pria itu memiliki rambut yang putih dan wajah yang tampak sangat tua namun juga sangat tenang dan damai. Di tangannya, dia memegang sebuah tongkat kayu yang sederhana, yang bersinar dengan cahaya putih yang hangat dan suci.
"Siapa kau?" teriak Malakar, marah karena rencananya digagalkan. "Beraninya kau mengganggu urusanku!"
Pria itu menatap Malakar dengan pandangan yang tenang namun tegas. "Aku adalah seseorang yang tidak akan membiarkanmu membunuh dua jiwa yang berani dan murni ini, Malakar. Kau sudah terlalu banyak melakukan kejahatan di dunia ini. Dan sekarang, waktunya untukmu berhenti."
Pria itu mengangkat tongkatnya, dan sebuah gelombang cahaya putih yang besar terlempar ke arah Malakar. Malakar berteriak kesakitan dan terdorong ke belakang, menabrak singgasana tulang-belulangnya yang kemudian hancur menjadi potongan-potongan kecil.
"Kalian harus pergi sekarang!" teriak pria itu kepada Kaelen. "Aku akan menahannya sebentar. Tapi aku tidak bisa menahannya lama-lama. Cepat ikuti aku!"
Kaelen tidak tahu siapa pria itu, tapi dia tahu bahwa pria itu adalah satu-satunya harapan mereka untuk selamat. Dia mengangguk dengan cepat, dan dia mengikuti pria itu sambil memeluk Lira dengan erat.
Pria itu membawa Kaelen ke sebuah dinding batu di sudut ruangan. Dia menyentuh dinding itu dengan tongkatnya, dan tiba-tiba, dinding itu terbuka menjadi sebuah pintu rahasia yang tersembunyi. Di balik pintu itu, ada sebuah lorong rahasia yang sempit dan gelap.
"Masuklah ke dalam sini," kata pria itu. "Lorong ini akan membawa kalian keluar dari benteng ini dan ke tempat yang aman. Hanya aku yang tahu tentang lorong ini. Malakar tidak akan bisa menemukan kalian di sana."
Kaelen melangkah masuk ke dalam lorong itu, diikuti oleh pria itu. Pintu rahasia itu kemudian tertutup kembali, seolah-olah tidak pernah ada. Mereka berjalan cepat melalui lorong itu, yang berbelok-belok dan menurun ke bawah. Dari kejauhan, mereka bisa mendengar suara auman marah Malakar dan suara ledakan-ledakan yang terjadi di ruangan utama benteng itu.
Setelah berjalan selama beberapa waktu, mereka akhirnya sampai di ujung lorong itu. Pria itu membuka pintu di ujung lorong itu, dan mereka melangkah keluar. Mereka berada di sebuah gua kecil yang tersembunyi di sisi Gunung Hitam, jauh dari benteng Malakar dan dari bahaya.
Pria itu menutup pintu lorong itu lagi, dan pintu itu menyatu dengan dinding gua, seolah-olah tidak pernah ada.
Kaelen meletakkan tubuh Lira di atas sebuah tempat tidur batu yang sederhana di dalam gua itu. Dia segera memeriksa luka-luka Lira dengan cemas. Lira masih sadar, tapi dia sangat lemah dan pucat.
"Terima kasih banyak, Tuan," kata Kaelen, menatap pria itu dengan mata yang penuh dengan rasa syukur. "Anda menyelamatkan nyawa kami. Siapa Anda? Bagaimana Anda bisa ada di sana dan membantu kami?"
Pria itu tersenyum dengan lembut. "Namaku adalah Eldric. Aku dulunya adalah seorang penyihir yang juga teman baik dari Raja Arion dan Malakar. Aku tahu tentang lorong rahasia itu karena aku yang membangunnya bertahun-tahun yang lalu, sebagai jalan keluar darurat jika terjadi sesuatu yang buruk. Aku telah mengawasi perjalanan kalian, dan aku tahu bahwa kalian akan membutuhkan bantuan saat menghadapi Malakar. Dia terlalu kuat untuk kalian lawan sendirian saat ini."
"Dan Lira," lanjut Eldric, berjalan mendekati Lira dan menyentuh keningnya dengan tongkatnya. Sebuah cahaya putih yang hangat menyelimuti tubuh Lira, dan Lira terlihat lebih tenang dan nyaman. "Lukanya parah, tapi tidak mematikan. Dengan perawatan yang tepat dan dengan kekuatan penyembuhan dari tongkatku, dia akan sembuh. Tapi dia butuh istirahat dan waktu untuk memulihkan tenaganya."
Kaelen merasa lega mendengar kata-kata Eldric. Dia bersyukur karena mereka selamat, dan dia bersyukur karena ada seseorang yang membantu mereka.
"Terima kasih, Tuan Eldric," kata Kaelen. "Kami tidak tahu bagaimana cara membalas kebaikan Anda."
"Tidak perlu membalas apa pun," kata Eldric, tersenyum. "Yang aku inginkan hanyalah kedamaian kembali ke dunia ini. Dan aku tahu bahwa kalian adalah orang-orang yang bisa melakukannya. Tapi sekarang, kalian harus beristirahat. Kalian harus memulihkan tenaga kalian dan mempersiapkan diri untuk pertarungan berikutnya. Malakar tidak akan berhenti. Dia akan terus mencari kalian. Dan kalian harus siap untuk menghadapinya lagi saat waktunya tiba."
Kaelen mengangguk dengan tegas. "Ya, Tuan Eldric. Kami akan beristirahat dan mempersiapkan diri. Dan saat waktunya tiba, kami akan kembali dan mengakhiri semua ini."
Malam itu, Kaelen dan Lira beristirahat di dalam gua yang aman dan tersembunyi itu, di bawah perlindungan Eldric. Meskipun mereka baru saja mengalami kekalahan yang menyakitkan dan meskipun Lira terluka parah, mereka tidak kehilangan harapan.