Empat tahun lalu, Flaire Nathasha menghilang setelah melahirkan secara rahasia, meninggalkan Jaydane Shelby dengan luka pengkhianatan dan seorang putra balita bernama Jorden. Jaydane, sang penguasa bisnis sekaligus mafia, membesarkan Jorden dengan kebencian mendalam, mengira Flaire membuang anak mereka demi kebebasan dan karier.
Kini, Flaire kembali ke Jerman sebagai CEO Fernandez yang memukau dengan julukan "Queen of Lens". Kecantikannya yang tak tertandingi membuat Aurora, tunangan Jaydane, merasa terancam dan mulai menggali identitas ibu kandung Jorden yang misterius.
Jaydane yang dibutakan dendam mulai menghancurkan bisnis Flaire untuk memaksanya berlutut. Namun, di balik lensa kontak yang selalu menutupi warna mata aslinya, Flaire menyimpan luka trauma masa lalu difakta bahwa ia adalah korban pengasingan paksa keluarganya dan sama sekali tidak tahu bahwa bayinya masih hidup di tangan pria yang kini mencoba menghancurkannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon caxhaaesthetic, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PACUAN MAUT DI JALANAN BERLIN
"Iya, Nak! Mama di sini! Mama tepat di belakang Jorden. Jorden harus kuat, tutup mata Jorden dan hitung sampai sepuluh, ya? Jangan takut, ada Papa dan Mama yang akan menjemput Jorden!" Flaire berusaha menstabilkan suaranya meski hatinya hancur berkeping-keping.
Jaydane melirik Flaire sekilas. Mendengar Flaire menyebut dirinya 'Mama' membuat sesuatu yang beku di dalam hatinya mencair, namun amarahnya terhadap Aurora justru semakin membara.
"Pegang kemudi, Flaire! Jaga tetap lurus!" perintah Jaydane tiba-tiba.
"Apa?! Jay, aku tidak bisa..."
"SEKARANG!"
Flaire dengan cepat memegang lingkar kemudi saat Jaydane menurunkan kaca jendela dan mengeluarkan tubuhnya sedikit ke luar. Angin malam menghantam wajah tampannya yang kini berubah menjadi malaikat maut. Ia mengangkat pistol kaliber tinggi miliknya, membidik dengan presisi yang hanya dimiliki oleh seorang bos Mafia.
DOR! DOR!
Dua tembakan dilepaskan. Peluru pertama meleset menghantam aspal, namun peluru kedua tepat mengenai ban belakang kanan SUV Aurora.
Mobil SUV itu oleng hebat. Suara decitan ban yang bergesekan dengan aspal menimbulkan percikan api yang dramatis di tengah gelapnya malam. Mobil itu berputar 180 derajat sebelum akhirnya menghantam pembatas jalan dengan keras.
"JORDEN!" Flaire menjerit. Sebelum mobil Jaydane berhenti sempurna, Flaire sudah membuka pintu dan berlari menuju reruntuhan mobil Aurora.
Jaydane melompat keluar, senjata siap di tangan. Ia menendang pintu belakang SUV yang ringsek itu hingga lepas. Di sana, Jorden meringkuk di bawah kursi, gemetar namun selamat karena sistem keamanan mobil yang canggih.
"Jorden!" Flaire menarik tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Ia mencium seluruh wajah Jorden, tangisnya meledak. "Maafkan Mama, Sayang. Maafkan Mama meninggalkanmu begitu lama..."
Jorden memeluk leher Flaire dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada sintal Flaire yang naik turun karena napas yang memburu.
"Mama jangan pergi lagi... Jorden takut..."
Sementara itu, Aurora merangkak keluar dari kursi pengemudi dengan wajah berdarah. Ia menatap pemandangan itu dengan penuh kebencian. "Dia anak haram, Jaydane! Dia seharusnya tidak pernah lahir!"
Jaydane melangkah mendekat, mengarahkan moncong pistolnya tepat di kening Aurora. "Kau salah satu hal. Jorden bukan anak haram. Dia adalah pewaris tunggal Shelby yang ibunya telah kau sakiti."
Jaydane menoleh ke arah Flaire yang sedang memeluk Jorden di bawah lampu jalan. Sinar lampu itu mengenai mata Flaire, menonjolkan warna hijaunya yang mistis warna yang sama dengan mata Jorden.
"Dan untukmu, Aurora," bisik Jaydane dingin.
"Mati terlalu mudah. Aku akan memastikan kau membusuk di penjara bawah tanahku, meratapi setiap detik kau mencoba menyentuh keluargaku."
Jaydane menurunkan senjatanya saat polisi dan anak buahnya mengepung lokasi. Ia berjalan menuju Flaire dan Jorden, lalu merangkul keduanya dalam satu pelukan besar yang protektif. Untuk pertama kalinya dalam empat tahun, Jaydane merasa 'rumah' yang ia cari bukan lagi sebuah bangunan, melainkan wanita bermata hijau dan putra kecil di pelukannya.
***
Malam itu, Mansion Shelby akhirnya merasakan kehangatan yang sesungguhnya. Jorden, yang kelelahan setelah peristiwa traumatis tersebut, tertidur pulas di tengah ranjang king size yang luas. Di sisi kirinya, Flaire berbaring sambil terus membelai rambut pirang putranya, seolah takut jika ia berkedip, bocah itu akan menghilang lagi.
Di sisi kanan, Jaydane berbaring miring, menumpu kepalanya dengan tangan sambil menatap dua orang paling berharga dalam hidupnya. Cahaya lampu tidur yang remang menyoroti otot lengan Jaydane yang kekar, menciptakan suasana yang intim namun sarat dengan ketegangan yang tertunda selama bertahun-tahun.
"Dia benar-benar memiliki matamu, Flaire," bisik Jaydane memecah keheningan. "Dan keras kepalaku."
Flaire menoleh, kanta lekapnya sudah dilepas sepenuhnya, menampilkan pupil Crush Green yang berkaca-kaca. "Terima kasih telah menjaganya, Jay. Meskipun kau membenciku, kau tetap menjadi ayah yang hebat untuknya."
"Aku tidak pernah benar-benar bisa membencimu," sahut Jaydane serak. Ia bergeser mendekat, mengabaikan jarak yang tersisa. "Aku hanya membenci rasa sakit yang kau tinggalkan."