NovelToon NovelToon
JANDA SATU ANAK

JANDA SATU ANAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:952
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Rania adalah seorang janda muda dengan satu anak. Meski hidupnya tidak mudah, kecantikannya yang mempesona dan sifatnya yang lembut membuat banyak pria terpikat padanya.
Di tengah usahanya membesarkan anaknya sendirian, dua pria muda tiba-tiba masuk ke dalam hidupnya. Arga, pria brondong yang ceria dan berani, selalu terang-terangan menggoda dan mendekati Rania. Sementara itu ada Damar, pria muda yang dingin, tampan, dan diam-diam selalu memperhatikan Rania dari jauh.
Dua pria.
Satu wanita.
Siapa yang akhirnya akan memenangkan hati janda cantik itu?
Di antara masa lalu yang belum sepenuhnya hilang, tanggung jawab sebagai seorang ibu, dan godaan cinta dari dua pria yang lebih muda…
Akankah Rania membuka kembali pintu hatinya?
Atau justru cinta baru itu akan mengubah hidupnya selamanya? ❤️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati yang Mulai Goyah

Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.

Setelah kejadian di pasar siang tadi, Rania masih belum benar-benar bisa menenangkan pikirannya.

Ia duduk di ruang tamu kecil rumahnya, sementara Rafa sudah tertidur pulas di kamar sambil memeluk boneka panda kesayangannya.

Angin malam masuk perlahan dari jendela yang sedikit terbuka.

Namun yang terus teringat di kepala Rania bukanlah kejadian dengan Reza.

Melainkan satu momen lain.

Pelukan itu.

Saat Damar menariknya menjauh.

Saat tubuhnya tanpa sadar berada dalam pelukan pria itu.

Rania menutup wajahnya dengan kedua tangan.

“Kenapa aku terus memikirkannya…”

Ia sudah terlalu lama hidup sendiri.

Sejak suaminya meninggal, ia selalu menjaga jarak dengan siapa pun.

Namun sekarang…

Segalanya mulai berubah.

Keesokan paginya, Rania bangun lebih awal dari biasanya.

Ia mencoba menyibukkan diri dengan pekerjaan rumah.

Mencuci pakaian.

Membersihkan rumah.

Menyiapkan sarapan.

Namun pikirannya tetap saja melayang ke mana-mana.

“Bunda.”

Rafa berjalan ke dapur dengan rambut sedikit berantakan.

“Iya, Nak?”

“Kenapa Bunda kelihatan capek?”

Rania tersenyum kecil.

“Bunda hanya kurang tidur.”

Rafa mengangguk polos.

Namun beberapa detik kemudian ia berkata lagi.

“Bunda.”

“Iya?”

“Om Damar kuat ya.”

Rania hampir tersedak air minumnya.

“Kuat?”

“Iya. Dia bisa angkat Bunda kemarin.”

Wajah Rania langsung memerah.

“Itu bukan seperti yang kamu pikirkan.”

Rafa hanya tertawa kecil tanpa benar-benar mengerti.

Tidak lama kemudian, suara motor berhenti di depan rumah.

Rania langsung tahu siapa itu.

Arga.

“Pagi, Mbak Rania!”

Seperti biasa, ia datang dengan energi yang selalu terasa cerah.

Rania membuka pintu.

“Pagi.”

Arga melihat wajahnya beberapa detik.

“Kamu kurang tidur ya?”

Rania terkejut.

“Kamu bisa tahu?”

Arga tersenyum santai.

“Wajahmu terlihat sedikit pucat.”

Ia berjalan masuk ke halaman.

Rafa langsung berlari menghampiri.

“Arga!”

Arga mengangkat Rafa dengan mudah.

“Jagoan kecil sudah sarapan?”

“Sudah!”

Melihat mereka tertawa bersama membuat suasana rumah terasa hangat.

Namun beberapa menit kemudian suara mobil kembali terdengar.

Arga langsung menoleh.

“Dan tentu saja…”

Mobil hitam Damar berhenti di depan rumah.

Beberapa tetangga yang lewat bahkan sudah mulai tersenyum melihat pemandangan itu.

Seolah mereka sudah terbiasa.

Damar turun dari mobil dan berjalan mendekat.

Tatapannya langsung tertuju pada Rania.

“Selamat pagi.”

Rania mengangguk kecil.

“Pagi.”

Arga masih menggendong Rafa.

Ia berkata santai.

“Kita memang selalu datang bersamaan ya.”

Damar menjawab tenang.

“Sepertinya begitu.”

Beberapa saat kemudian mereka duduk bersama di teras.

Rafa bermain di halaman dengan robot dan mobil barunya.

Arga bersandar santai di kursi.

Damar duduk dengan posisi tegak seperti biasa.

Rania membawa minuman untuk mereka.

Namun suasana terasa sedikit berbeda hari ini.

Lebih canggung.

Akhirnya Arga berkata lebih dulu.

“Ngomong-ngomong… kejadian kemarin.”

Rania menatapnya.

Arga melanjutkan.

“Pria itu tidak akan mengganggumu lagi.”

Damar juga berkata pelan.

“Jika dia muncul lagi, beri tahu kami.”

Rania mengangguk.

“Terima kasih.”

Beberapa detik mereka terdiam.

Lalu Arga tiba-tiba menatap Damar.

“Kamu cepat sekali kemarin.”

Damar menoleh.

“Maksudmu?”

Arga menyeringai.

“Menarik Rania langsung ke pelukanmu.”

Rania langsung memerah.

“Itu bukan seperti itu!”

Damar tetap terlihat tenang.

“Aku hanya melindunginya.”

Arga tertawa kecil.

“Ya, ya. Aku tahu.”

Namun ekspresi wajahnya berubah sedikit lebih serius.

“Kalau aku yang ada di sana duluan… aku juga akan melakukan hal yang sama.”

Kalimat itu membuat jantung Rania berdetak lebih cepat.

Dua pria ini benar-benar tidak menyembunyikan perasaan mereka lagi.

Siang hari, Rania sedang menjemur pakaian di halaman belakang ketika seseorang tiba-tiba berdiri di belakangnya.

“Mbak Rania.”

Ia menoleh.

Damar.

Pria itu datang tanpa suara.

“Ada apa?”

Damar terlihat sedikit ragu.

Hal yang jarang sekali terlihat dari dirinya.

“Aku ingin menanyakan sesuatu.”

“Apa?”

Damar menatapnya dengan serius.

“Kamu takut pada kami?”

Rania terkejut.

“Takut?”

Damar mengangguk pelan.

“Karena kami terlalu memaksakan perasaan kami.”

Rania langsung menggeleng.

“Tidak.”

Ia menunduk sedikit.

“Aku hanya… belum siap.”

Damar tidak terlihat kecewa.

Ia hanya berkata dengan suara tenang.

“Aku mengerti.”

Ia menambahkan pelan.

“Tapi aku tidak akan mundur.”

Rania menatapnya.

Damar jarang mengatakan sesuatu dengan begitu jelas.

“Aku tahu kamu sudah melalui banyak hal.”

“Tapi kamu pantas bahagia lagi.”

Kalimat itu membuat hati Rania terasa hangat.

Namun juga sedikit sakit.

Karena ia takut berharap lagi.

Sore hari, Rafa bermain di halaman bersama Arga.

Mereka sedang berlomba mobil mainan.

“Mobil Rafa menang!”

Arga pura-pura jatuh.

“Aduh! Aku kalah!”

Rafa tertawa keras.

Rania berdiri di teras sambil memperhatikan mereka.

Tidak jauh dari sana, Damar juga berdiri bersandar di pagar.

Beberapa detik mereka hanya diam.

Lalu Arga berkata tiba-tiba tanpa menoleh.

“Sepertinya dia mulai goyah.”

Damar menatapnya.

“Maksudmu?”

Arga tersenyum tipis.

“Hatinya.”

Damar tidak menjawab.

Namun matanya kembali tertuju pada Rania.

Wanita itu sedang tertawa kecil melihat Rafa bermain.

Senyum yang dulu jarang terlihat di wajahnya.

Arga melanjutkan dengan nada santai.

“Masalahnya sekarang…”

Ia menoleh pada Damar.

“Siapa yang akan dia pilih?”

Damar menjawab tenang.

“Itu bukan sesuatu yang bisa kita paksa.”

Arga tertawa kecil.

“Benar juga.”

Namun ia menambahkan dengan nada penuh keyakinan.

“Tapi aku tidak akan kalah.”

Damar juga menjawab dengan tenang.

“Aku juga.”

Di teras rumah, Rania masih melihat mereka tanpa sadar.

Ia tidak mendengar percakapan mereka.

Namun satu hal mulai ia sadari.

Hatinya…

Yang selama ini ia kunci rapat…

Mulai goyah sedikit demi sedikit.

Dan ia tidak tahu ke mana perasaan itu akan membawanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!