NovelToon NovelToon
“Senja Yang Kembali Pulang”

“Senja Yang Kembali Pulang”

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: penulis handal wakakkak

Sinopsis

Alya Maheswari percaya satu hal: cinta pertamanya sudah mati.

Lima tahun lalu, ia meninggalkan kota kecilnya dengan hati yang hancur dan mimpi yang hampir padam. Ia memilih kuliah di luar kota, membangun hidup baru, dan berjanji tak akan pernah kembali ke tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan.

Namun takdir punya caranya sendiri.

Saat ibunya sakit, Alya terpaksa pulang. Dan di kota yang penuh senja itu, ia kembali bertemu dengan Arka Pratama — pria yang pernah menjadi rumahnya… dan juga luka terbesarnya.

Arka bukan lagi pemuda ceroboh yang dulu ia kenal. Kini ia lebih tenang, lebih dewasa, dan menyimpan sesuatu yang belum pernah sempat ia katakan.

Di antara rahasia masa lalu, kesalahpahaman yang belum selesai, dan perasaan yang ternyata tak pernah benar-benar pergi… apakah cinta mereka benar-benar sudah berakhir?

Atau justru, senja hanya menunggu untuk kembali pulang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon penulis handal wakakkak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Bandara, Waktu, dan Hal-Hal yang Tidak Bisa Ditahan

Pagi itu langit Jakarta abu-abu.

Bukan mendung yang dramatis.

Bukan hujan yang memaksa orang berlari.

Hanya langit yang seperti menahan sesuatu.

Alya berdiri di depan pintu keberangkatan internasional dengan koper di sampingnya. Tangannya dingin, padahal AC bandara tidak terlalu terasa.

Di sekelilingnya, orang-orang berpamitan.

Ada yang menangis keras.

Ada yang berpelukan berulang kali.

Ada yang sibuk berfoto.

Alya dan Arka berdiri berdampingan.

Tidak ada tangisan.

Tidak ada janji lebay.

Justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat.

Arka memegang gagang koper Alya seolah-olah itu satu-satunya cara agar ia tidak terlihat kehilangan pegangan.

“Masih sempat berubah pikiran,” katanya ringan.

Alya menoleh, menatap wajah yang sudah ia hafal sejak lima tahun lalu.

“Kamu tuh dari tadi bilang itu.”

“Karena aku tahu kamu.” Arka tersenyum kecil. “Kalau ada satu persen ragu, kamu bisa pura-pura yakin.”

Alya terdiam.

Apakah ada satu persen itu?

Ia tidak yakin.

Yang ia tahu hanya satu: keputusan ini tidak lagi tentang ego.

Ini tentang pertumbuhan.

“Kalau aku batal sekarang,” kata Alya pelan, “aku mungkin bahagia hari ini.”

Arka menunggu.

“Tapi lima tahun lagi… aku bisa saja menyalahkan kamu.”

Kalimat itu jujur. Dan sedikit menyakitkan.

Arka mengangguk pelan. “Makanya aku nggak mau kamu batal.”

Suasana di antara mereka berubah lebih serius.

“Aku nggak takut jarak,” lanjut Arka. “Aku takut kamu berhenti jadi versi terbaik kamu.”

Alya menatapnya lama.

Dulu, Arka adalah alasan ia merasa terikat.

Sekarang, Arka justru orang yang mendorongnya terbang.

Ironisnya, itu membuatnya semakin sulit pergi.

Pengumuman boarding pertama terdengar.

“Penerbangan tujuan Singapura dipersilakan bersiap…”

Detak jantung Alya ikut naik.

Arka akhirnya melepas gagang koper itu.

Tindakan kecil.

Tapi rasanya seperti simbol besar.

“Aku mau ngomong sesuatu,” kata Arka.

Alya mengangguk.

“Aku nggak janji bakal selalu kuat. Nanti pasti ada hari aku capek, kesel, atau ngerasa kamu terlalu sibuk buat aku.”

Alya terdiam.

“Tapi aku janji satu hal.”

“Apa?”

“Aku nggak akan diam dan memendam sampai semuanya meledak.”

Itu bukan janji romantis.

Itu janji dewasa.

Dan entah kenapa, jauh lebih menenangkan.

Alya menelan ludah.

“Aku juga mau janji.”

Arka menatapnya.

“Aku nggak akan pakai kata ‘sibuk’ sebagai alasan buat menjauh.”

Hening.

Di antara ribuan orang yang lalu-lalang, seolah hanya mereka berdua yang berdiri dalam lingkaran kecil waktu.

“Ka…” suara Alya melembut, “kalau nanti aku berubah—”

“Aku juga berubah.”

“Tapi kalau berubahnya bikin kita asing?”

Arka tersenyum tipis.

“Kalau kita jadi asing, berarti kita berhenti ngobrol. Selama kita terus ngobrol, kita nggak akan asing.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi seperti pegangan.

Alya melangkah mendekat.

Ia memeluk Arka.

Bukan pelukan terburu-buru.

Bukan pelukan dramatis.

Pelukan yang tenang.

Tapi lama.

Arka memeluknya balik, lebih erat dari biasanya.

“Aku bangga sama kamu,” bisiknya.

“Aku takut,” balas Alya jujur.

“Takut itu normal. Kabur itu yang jangan.”

Alya tertawa kecil di antara napas yang mulai berat.

Pengumuman boarding kedua terdengar.

Ini benar-benar waktunya.

Alya menarik diri perlahan. Ia menatap wajah Arka seolah ingin menghafalnya ulang—garis rahangnya, mata yang selalu terlihat lebih tenang dari isi kepalanya.

“Jangan lupa makan,” katanya refleks.

Arka terkekeh. “Kamu pergi ke luar negeri, yang kamu khawatirin itu?”

“Iya.”

Arka menggeleng pelan, lalu menatapnya lebih serius.

“Kalau suatu hari kamu ngerasa terlalu berat di sana, jangan pendam sendiri.”

“Kamu juga.”

Alya mengambil koper itu.

Satu langkah.

Lalu berhenti.

Ia menoleh.

Arka masih berdiri di tempat yang sama.

Tidak melambai.

Tidak tersenyum lebar.

Hanya menatap.

Dan di mata itu, Alya melihat sesuatu yang lebih besar dari rindu—

Kepercayaan.

Ia akhirnya berjalan masuk ke area pemeriksaan.

Setiap langkah terasa seperti melepas satu lapisan lama hidupnya.

Saat ia menoleh terakhir kali, Arka masih di sana.

Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya—

Ia tidak merasa meninggalkan sesuatu.

Ia merasa sedang membawa sesuatu bersamanya.

Di dalam pesawat, saat sabuk pengaman terpasang dan mesin mulai menderu, Alya menatap jendela.

Jakarta mengecil perlahan.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Arka.

Aku nggak akan berdiri di tempat. Satu tahun ini bukan cuma waktu kamu berkembang. Aku juga.

Alya tersenyum.

Ia membalas:

Kita ketemu lagi sebagai versi yang lebih kuat.

Pesawat lepas landas.

Perutnya terasa kosong sesaat.

Bukan karena takut terbang.

Tapi karena ia sadar—

Sekarang tidak ada lagi jarak lima menit naik motor.

Tidak ada lagi spontan datang ke apartemen.

Sekarang, setiap rindu akan punya harga.

Waktu.

Uang.

Tenaga.

Dan komitmen.

Alya menutup mata.

Ia tidak tahu seperti apa satu tahun ke depan.

Ia tidak tahu apakah cinta bisa tetap stabil di tengah ambisi.

Tapi satu hal ia tahu—

Kali ini, mereka tidak sedang menghindari perpisahan.

Mereka sedang menguji kedewasaan.

Dan jauh di bawah rasa yakin itu…

Ada satu pertanyaan yang belum berani ia ucapkan:

Jika nanti setelah satu tahun,

mereka sama-sama tumbuh…

Apakah mereka akan tumbuh ke arah yang sama?

Atau justru menjauh tanpa sadar?

Pesawat menembus awan.

Dan untuk pertama kalinya,

Alya sadar—

Jarak bukan hanya soal kilometer.

Tapi tentang siapa yang tetap memilih tinggal… meski dunia menawarkan begitu banyak kemungkinan lain.

1
putra Damian
k
putra Damian
lanjut ka
pembaca sejati
baguss
penulis handal wakakkak
👍
penulis handal wakakkak
besok saya pastikan saya akan kembali ke solo sebagai rakyat bisa.
ahh pria solo itu lagii🤣🤣
penulis handal wakakkak
yang suka romace mampir yok
penulis handal wakakkak
haraheta
pembaca sejati
??
pembaca sejati
komitmen apaan?
pembaca sejati
👍
penulis handal wakakkak
lanjut ga sih tapi nulis dulu wkwkwk🤣
pembaca sejati: patah jari
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!