NovelToon NovelToon
Our Hurt Story

Our Hurt Story

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: zaniera99

Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie

Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.

Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.

Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?

Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"

Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9:Sama saja

Aku melangkah pulang ke asrama dengan perasaan yang campur aduk, seolah-olah ada batu besar yang menghimpit dadaku. Setiap langkah yang kulangkahi terasa sangat berat, membawa beban penghinaan yang baru saja kuterima. Botol minum yang kupungut dari dasar tempat sampah tadi kubawa ke wastafel toilet asrama. Aku membasuh botol itu bersih-bersih dengan sabun, menggosok setiap inci permukaannya seolah-olah aku sedang mencoba menyeka rasa malu yang melekat di sana. Namun, meskipun botol itu sudah kembali mengilat, rasa hina dalam jiwaku tetap tidak hilang. Bagaimanakah cara membasuh hati yang sudah lumat terinjak? Kata-kata Arif tentang ayahku terus terngiang-ngiang, berputar-putar di telinga seperti kaset rusak yang enggan berhenti.

Langkahku semakin lunglai saat menghampiri pintu Kamar 7. Kamar ini biasanya menjadi tempatku berlindung dari kejamnya dunia luar, namun sore ini, aku masuk dengan hati yang kosong. Aku hanya ingin berbaring, menutupi wajahku dengan bantal yang empuk, dan membiarkan kegelapan memadamkan segala memori tentang apa yang terjadi di kelas tadi.

"Hanie? Baru pulang?"

Suara Kak Qasrina menyapa sesaat setelah aku mendorong daun pintu kamar yang berat itu. Dia sedang duduk bersila di atas tempat tidurnya, dikelilingi oleh tumpukan catatan yang tebal. Cahaya matahari sore yang masuk melalui celah jendela menyinari wajahnya, membuatnya tampak seperti seorang kakak yang sangat perhatian. Aku hanya mampu mengangguk kecil tanpa suara dan terus menuju ke tempat tidurku di sudut kamar.

"Kenapa ini? Matamu merah seperti baru selesai menangis saja?" Kak Qasrina bangkit dari tempat tidurnya. Dia meletakkan catatannya ke samping dan menghampiriku, lalu duduk di tepian tempat tidurku. Sentuhannya pada bahuku terasa hangat, namun entah mengapa, aku merasa sedikit kaku.

Pada saat itu, ada dorongan yang sangat kuat dalam diriku untuk menumpahkan segalanya. Aku ingin menangis di bahunya, memberitahunya bahwa Syasya yang dia kenal itu sudah mulai menunjukkan belangnya yang sebenarnya. Aku ingin mengadu bahwa Arif sudah melampaui batas dengan menghina orang tuaku. Namun, entah kenapa, lidahku terasa kelu seolah-olah telah dilem. Ada satu suara dalam pikiranku yang membisikkan rasa takut. Apakah aku akan terlihat terlalu lemah di matanya? Apakah dia akan bosan mendengar aduan dari seorang anak yang terus-menerus menjadi korban?

"Tidak apa-apa, Kak. Debu masuk ke mata tadi saat jalan pulang dari sekolah. Anginnya kencang sekali di lapangan," aku memberikan alasan yang paling klise dan paling tidak logis di dunia. Aku tahu dia tidak percaya, namun aku belum siap untuk jujur.

Kak Qasrina terdiam sejenak. Dia menatapku dengan pandangan yang cukup dalam, seolah-olah dia sedang membaca setiap rahasia yang kusembunyikan di balik manik mata. "Hanie... Kakak sudah bilang, kan? Jangan simpan semuanya sendirian. Kita kan berteman, kita teman sekamar. Kalau Arif atau siapa pun membuat masalah lagi, beri tahu Kakak. Biar Kakak yang menegurnya habis-habisan. Kakak tidak akan membiarkan siapa pun merundung adik Kakak ini."

Aku memaksakan sebuah senyuman tipis di bibir. "Terima kasih, Kak."

Namun malam itu, suasana asrama yang biasanya tenang mulai terasa janggal. Saat lampu asrama mulai diredupkan, aku berbaring di atas tempat tidur, mencoba memejamkan mata tetapi pikiranku masih giat berputar. Tiba-tiba, aku mendengar bunyi pintu kamar dibuka perlahan. Melalui celah kelopak mata yang kubuka sedikit, aku melihat Kak Qasrina keluar dari kamar.

Rasa ingin tahu mendorongku untuk bangun secara diam-diam. Aku menghampiri pintu dan mengintip melalui celah kecil. Kak Qasrina sedang berdiri di depan pintu kamar kami, berbisik-bisik dengan seorang senior dari kamar sebelah. Wajah mereka tampak serius, seolah-olah sedang membahas sebuah strategi perang. Aku tidak mendengar keseluruhan percakapan mereka karena suara mereka sangat lirih, namun sesekali, telingaku menangkap nama "Syasya" dan "Hilya" disebut dengan nada yang cukup tajam. Kenapa Kak Qasrina membahas tentang mereka dengan senior lain? Apakah ini tentang aku, atau ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi?

Saat Kak Qasrina melangkah masuk kembali ke dalam kamar, aku cepat-cepat memejamkan mata dan mengatur napas agar terlihat seperti sudah nyenyak tidur. Dia berdiri sejenak di ujung tempat tidurku, menatap ke arahku dalam kegelapan. Aku bisa merasakan tatapannya yang tajam itu, namun aku tidak berani bergerak.

Dia kemudian duduk di meja belajarnya dan menyalakan lampu meja yang redup. Dia membuka sebuah buku catatan kecil bersampul hitam yang jarang kulihat sebelumnya. Dia mulai menulis dengan sangat tekun, penanya bergerak cepat di atas kertas. Sesekali dia berhenti, menatap ke arah langit-langit seolah sedang merencanakan sesuatu, kemudian menyambung tulisannya kembali. Cara dia menatapku beberapa saat tadi... ada sesuatu yang tidak beres. Itu bukan pandangan simpati yang biasa dia berikan. Itu lebih kepada pandangan sinis.

Aku menyelipkan tangan ke bawah bantal, menggenggam cermin kecil yang selalu bersamaku. Permukaannya yang dingin sedikit banyak menenangkan hatiku yang sedang berkecamuk.

"Apakah Kak Qasrina ini benar-benar tulus menolongmu, Hanie? Atau kamu hanya sekadar catur dalam permainannya?" Satu suara kecil, halus dan berbisa, mulai berbisik dalam kepalaku.

Aku cepat-cepat menepis pikiran buruk itu. Tidak mungkin! Kak Qasrina adalah satu-satunya manusia yang memperlakukanku dengan penuh hormat di asrama ini. Dia yang menyelamatkanku dari rasa kesepian. Tak mungkin dia memiliki niat terselubung. Namun, kecurigaan yang sudah mulai tumbuh itu sulit untuk dicabut kembali.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak aku pindah ke Kamar 7, aku merasakan ruang yang kuanggap sebagai 'surga' dan tempat perlindungan itu terasa sangat sempit dan menyesakkan. Dinding-dinding kamar seolah-olah semakin menghimpit, dan setiap napas Kak Qasrina yang terdengar di dalam keheningan malam itu membuatku merasa tidak tenang. Aku sadar, di asrama ini, tidak ada satu tempat pun yang benar-benar aman dari muslihat manusia.

Kuharap fikiranku ini salah.

1
gempi
n
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!