"Aku tidak mencintaimu, Duke Raphael. Dan kamu juga tidak mencintaiku. Jadi kenapa kita harus berpura-pura?"
Itulah kalimat pertama yang dilontarkan Catharina von Elsworth pada tunangannya, Duke Raphael yang terkenal dingin dan misterius. Semua orang shock. Bagaimana tidak? Catharina yang biasanya manja dan clingy, tiba-tiba jadi tegas dan cuek!
Yang tidak mereka tahu, jiwa di dalam tubuh Catharina sudah berganti. Dia sekarang adalah Sania--mantan karyawan kantoran yang mati konyol tersedak biji salak karena terlalu emosi menggerutu tentang bosnya yang menyebalkan.
Lebih parahnya lagi? Sania sadar dia masuk ke dalam novel romansa paling toxic yang pernah dia baca: "The Duke's Devoted Maid". Novel yang di benci nya.
Akankah Catharina berhasil mengubah ending toxic menjadi happy ending versi dirinya sendiri? Atau malah plot novel akan menariknya kembali ke takdir sebagai villain?
Yang jelas, kali ini Catharina von Elsworth yang akan menulis ceritanya sendiri!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKHIR RIWAYAT ELISE
Dan sebelum Elise sempat memproses apa yang barusan terjadi, puluhan orang bergerak keluar dari persembunyian mereka di setiap sudut kapel tua itu. Penjaga kerajaan dengan seragam resmi, Tuan Theodore dengan map di tangannya, dan Duke Henry dengan wajah yang tidak menawarkan ruang untuk negosiasi,lalu ada Lucian yang berdiri dengan tenang tapi matanya sangat serius, dan Duke Raphael yang berdiri paling belakang dengan ekspresi yang sulit dibaca.
Elise mundur selangkah, dua langkah, sampai punggungnya menyentuh dinding dingin kapel.
"Tidak... tidak... ini..." bibirnya bergerak tapi suaranya hampir tidak keluar. Wajahnya memucat seperti darah berhenti mengalir disana.
"Ya," kata Catharina dengan nada yang tidak dingin, tapi juga tidak hangat. Datar, seperti seseorang yang akan menyampaikan fakta. "Ini jebakan. Dan kamu baru saja mengaku semua kejahatanmu di depan saksi-saksi yang lebih dari cukup untuk membawamu ke pengadilan."
"Kamu... kamu..." Wajah Elise berubah-ubah, dari ketakutan ke kemarahan dan kembali lagi. "Kamu tidak hampir mati sama sekali! Semua itu bohong!"
"Benar. Semua itu kabar yang kami buat dan sebarkan sendiri. Kamu percaya karena kamu memang ingin percaya." Catharina meletakkan tudung hitam itu di atas altar. "Orang yang terlalu menginginkan sesuatu selalu lebih mudah dikelabui, Elise. Karena mereka melihat apa yang ingin mereka lihat."
"Tangkap dia," perintah Duke Henry dengan suara yang bergema di antara dinding batu. "Atas tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Lady Catharina von Elsworth dan Marquess Lucian, penyebaran fitnah yang terencana, dan persekongkolan untuk membahayakan bangsawan kerajaan."
Dua penjaga langsung sigap bergerak menangkap Elise. Gadis itu meronta dengan tenaga yang mengejutkan untuk tubuh sekecil dirinya.
"Tidak! Ini tidak adil! Bukan aku yang jahat, Catharina yang jahat! Dia yang merebut semua yang seharusnya menjadi milikku!" lantangnya dengan mata yang menyala- nyala.
"Milikmu?" Catharina tidak mundur. Ia menatap Elise dengan tatapan yang tidak ada kebencian di dalamnya, dan itu entah mengapa justru terasa lebih menyakitkan bagi Elise dari pada kemarahan. "Apa yang seharusnya menjadi milikmu, Elise? Duke Raphael yang tidak pernah sekalipun memberikanmu harapan? Posisi yang tidak pernah kamu miliki? Cinta dari seseorang yang bahkan tidak tahu kamu ada di dalam cara yang kamu bayangkan?"
"Aku mencintai Duke Raphael!"
"Itu bukan cinta." Suara Catharina tetap datar. "Cinta yang sehat tidak mengharuskan kematian orang lain. Yang kamu rasakan adalah kemelekatan pada sebuah mimpi yang tidak pernah menjadi kenyataan, dan kamu memilih menyalahkan orang lain atas hal itu.Itu obsesimu, Elise, itu obsesi! "
Sejurus kemudian, Duke Raphael melangkah maju dari tempat ia berdiri. Ekspresinya tidak bisa disebut marah. Lebih kepada seseorang yang baru saja memahami sesuatu yang sudah lama ada di depan matanya tapi tidak pernah ia lihat dengan benar.
"Elise." Namanya keluar dari mulut Raphael dengan nada yang sangat berbeda dari cara ia biasanya memanggil pelayan. "Aku tidak pernah mengira kamu akan sampai sejauh ini. Aku pikir kamu hanya pelayan yang terlalu bersemangat mencari perhatian."
"Yang Mulia, hamba melakukan ini karena hamba mencintai..."
"Berhenti..." Raphael memotong dengan pelan tapi tegas. "Jangan gunakan kata itu untuk membungkus semua yang sudah kamu lakukan. Orang yang mencintai tidak mencoba membunuh. Tidak merencanakan kehancuran orang lain. Apa yang kamu sebut cinta adalah keinginan untuk memiliki sesuatu yang tidak pernah ditawarkan padamu."
Elise menangis, tapi tidak ada di ruangan itu yang tergerak oleh air matanya. Semua sudah mengenal wajah itu terlalu baik.
Para penjaga memasang belenggu pada tangannya.
"Bawa dia ke penjara kerajaan," perintah Duke Henry. "Dan pastikan Marcus Marlowe sudah diamankan."
"Sudah dari dua jam lalu, Yang Mulia," lapor Tuan Theodore. "Pria itu tidak memberikan perlawanan."
Saat penjaga menyeret Elise ke arah pintu, gadis itu memutar kepalanya dan menatap Catharina satu kali lagi. Matanya menyala dengan sesuatu yang lebih dalam dari kemarahan biasa.
"Suatu hari nanti kamu akan merasakan apa yang aku rasakan, Catharina. Kehilangan segalanya. Sendirian. Tidak dilihat oleh siapa pun."
Catharina tidak langsung menjawab. Ia menunggu sampai langkah Elise dan para penjaga cukup jauh, sampai suara meronta-ronta itu menghilang ditelan malam, barulah ia bergerak ke depan pintu kapel dan menatap langit yang penuh bintang.
"Aku sudah pernah merasakan itu," bisiknya pada malam yang hanya Lucian yang cukup dekat untuk mendengarnya. "Dan itu yang membuatku tahu bahwa rasa sakit bukan alasan untuk menyakiti orang lain."
***
Setelah semua penjaga pergi dan kapel tua itu kembali hanya diterangi bulan, Catharina menghembuskan napas panjang yang sudah ia tahan sejak entah kapan. Tubuhnya tiba-tiba terasa sangat berat, seperti semua tegangan yang ia kencangkan selama berhari-hari itu luruh sekaligus.
Lucian ada di sana sebelum ia sempat goyah, tangannya menyangga lengan Catharina dengan lembut. "Kamu luar biasa malam ini."
"Aku capek," jawab Catharina jujur sambil bersandar ke bahunya. "Tapi setidaknya sudah selesai."
Duke Henry mendekat dan meletakkan tangannya di puncak kepala Catharina dengan gerakan yang jarang ia lakukan di depan umum. "Kamu brilliant, Catharina. Dan sangat berani. Ayah bangga padamu. "
"Aku hanya menggunakan apa yang sudah ada," ujar Catharina sambil tersenyum ke arah ayahnya.
Duke Raphael menunggu sampai Duke Henry bergerak bicara dengan Tuan Theodore sebelum ia mendekat ke arah Catharina. "Catharina." Namanya keluar dengan cara yang berbeda dari biasanya, lebih pelan, lebih berhati-hati. "Aku minta maaf. Kalau aku lebih waspada dari awal, lebih memperhatikan apa yang ada di sekitarku, ini semua mungkin tidak akan terjadi."
"Berhenti di situ, Raphael." Catharina tidak memotong dengan kasar. Tapi jelas. "Ini bukan tanggung jawabmu. Elise membuat pilihan-pilihan ini sendiri. Kamu tidak bisa menanggung pilihan orang lain."
"Tapi..."
"Tapi kamu bisa belajar darinya." Catharina menatapnya sebentar. "Itu saja yang perlu kamu lakukan."
Raphael mengangguk. Ada sesuatu di wajahnya yang tampak sedikit lebih ringan dari saat ia pertama kali masuk ke kapel itu beberapa jam lalu.
"Terima kasih sudah bersedia terlibat malam ini," kata Catharina. "Tanpa kehadiranmu, Elise mungkin tidak akan semudah itu membuka mulutnya."
"Itu memang satu-satunya hal berguna yang bisa aku lakukan." Ia mengangguk sekali lagi, lalu berbalik dan berjalan ke arah Duke Henry untuk berpamitan.
Lucian menatap kepergian Raphael sebentar, lalu menoleh ke Catharina dengan ekspresi yang campuran antara serius dan tidak serius. "Dia benar-benar sudah berubah, ya."
"Orang bisa berubah kalau kehilangan cukup besar untuk mengajarinya." Catharina meraih tangan Lucian dan menggenggamnya. "Ayo pulang. Aku sudah luar biasa mengantuk."
Lucian tertawa kecil, tawa yang hangat dan tidak dibuat-buat. "Baik, pahlawan malam ini. Mari pulang."
Mereka meninggalkan kapel tua itu di bawah langit yang sama yang menyaksikan semuanya. Drama Elise sudah berakhir.
Tapi seperti yang Catharina ketahui jauh di dalam dirinya, di dunia bangsawan yang penuh lapisan dan kepentingan ini, satu babak berakhir hanya berarti babak berikutnya sudah menunggu di tikungan.
Ia hanya berharap babak berikutnya tidak dimulai terlalu cepat.
Tapi tentu saja, harapan dan kenyataan di dunia ini tidak selalu berjalan beriringan.
***
BERSAMBUNG