NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 7) Di ruang operasi

Langit pagi di luar rumah sakit tampak kelabu, meski jam masih menunjukkan pukul delapan. Awan tebal menggantung seperti pertanda buruk. Hujan turun tipis, membasahi kaca-kaca gedung tinggi yang berdiri kokoh di tengah kota.

Di dalamnya, di lantai tiga, lorong menuju ruang operasi dipenuhi bau antiseptik yang tajam dan dingin yang menusuk tulang.

Di sanalah Mira, ibu mertua Laila berdiri. Tangannya gemetar saat mendorong brankar yang membawa anaknya, Dio. Wajah dan bibir Dio memucat hampir keabu-abuan. Selang oksigen menutupi sebagian wajahnya, dan alat monitor jantung di sampingnya berbunyi pelan namun konsisten.

Biip... Biip... Biip, seperti detak waktu yang menghitung sisa harapan.

"Bu, mohon mundur. Kami akan membawanya masuk sekarang," ujar seorang perawat dengan nada lembut tapi tegas.

Mira mengangguk. Kakinya terasa lemas, tapi ia memaksa diri untuk tetap berdiri tegak. Ia menggenggam tangan putranya untuk terakhir kalinya sebelum pintu ruang operasi tertutup.

"Dio… kamu harus kuat. Ini demi ibu dan Laila istrimu," bisik Mira.

Lalu pintu itu tertutup. Dan dunia Mira yang sendirian di depan pintu, seakan ikut terkunci di baliknya.

Lampu merah di atas pintu ruang operasi menyala. Tanda bahwa prosedur telah dimulai. Waktu seperti berjalan lambat, menyiksa. Setiap detik terasa seperti satu jam.

Mira duduk di kursi tunggu dengan tubuh membungkuk. Kedua tangannya yang keriput saling menggenggam erat, kuku-kukunya menekan kulit sendiri hingga memerah. Doa-doa lirih tak berhenti keluar dari bibirnya.

Lorong rumah sakit semakin sunyi. Hanya suara langkah kaki sesekali dan mesin pembersih lantai di kejauhan. Jam dinding berdetak nyaring di telinga Mira.

Satu jam berlalu.

Dua jam.

Tiga jam.

Hujan di luar semakin deras, seperti mencerminkan badai di hati Mira.

Pintu ruang operasi sempat terbuka sedikit. Seorang perawat keluar, membawa kantong darah kosong. Membuat jantung Mira berdegup lebih cepat.

"Bagaimana keadaan anak saya, nona?” tanyanya cepat.

Perawat itu tersenyum tipis. "Masih dalam proses, Bu. Mohon doanya."

Mira mengangguk, meski rasa cemas semakin mencengkeram.

Di dalam ruang operasi, tubuh Dio terbaring tak berdaya di bawah cahaya lampu besar yang terang menyilaukan. Dokter bedah memimpin tim dengan wajah serius.

Alat-alat bedah berkilau. Tangan dokter bergerak cekatan, penuh ketelitian. Setiap sayatan adalah perjuangan. Tiap detak jantung yang muncul di monitor adalah harapan.

Namun di tengah prosedur, alarm monitor tiba-tiba berbunyi lebih cepat.

"Dok, ritme jantungnya menurun!'

"Tambahkan vasopressor. Cepat!"

Suasana menegang. Nafas semua orang di ruangan itu tertahan. Waktu seolah berhenti.

Di luar, Mira tiba-tiba merasa dadanya sesak. Ia tak tahu apa yang terjadi di dalam, tapi hatinya seperti merasakan guncangan.

"Ya Tuhan… tolonglah putraku…”

Di dalam, dokter bekerja semakin fokus. Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, grafik di monitor perlahan kembali stabil.

"Ritme kembali normal, Dok."

Semua orang menghela napas lega.

"Baik. Lanjutkan prosedur."

Empat jam telah terlewati. Lampu merah akhirnya padam. Pintu ruang operasi terbuka perlahan.

Mira berdiri begitu cepat hingga kursinya terdorong ke belakang.

Seorang dokter keluar dengan masker yang kini diturunkan ke dagunya. Wajahnya terlihat lelah, tapi tidak muram.

"Bu Mira?" tanyanya.

"Iya, Dok… bagaimana anak saya?" Suara Mira bergetar.

Dokter itu tersenyum. "Operasinya berjalan lancar. Sekarang beliau sedang dalam masa pemulihan dan akan dipindahkan ke ICU."

Air mata Mira jatuh tanpa bisa ditahan. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar hebat.

"Terima kasih… terima kasih, Dok."

Ia merasa seperti baru saja ditarik kembali dari jurang yang dalam.

Beberapa menit kemudian, Dio didorong keluar dari ruang operasi menuju ICU. Tubuhnya masih dipenuhi selang dan kabel. Mesin ventilator membantu napasnya. Namun monitor menunjukkan detak jantung yang stabil.

Bip… bip… bip.

Suara itu kini terdengar seperti musik paling indah di telinga Mira. Ia berjalan di samping brankar, menggenggam jari Dio yang masih dingin.

"Nak… kamu berhasil. Kamu kuat…" lirihnya dari balik kaca ruang ICU, sambil tersenyum di antara air mata.

Tiba-tiba, Mira teringat bahwa ada seseorang yang harus diberikan kabar gembira ini. Dialah Laila, menantunya.

Segera Mira mengambil ponselnya. Memencet nomor Laila lalu menghubunginya.

"Nomor yang anda tuju, sedang tidak dapat menerima panggilan." Sebuah kalimat yang terus berulang-ulang mengalun di ujung telepon.

Perasaan Mira tidak enak. Lantaran Laila tidak pernah absen untuk mengangkat teleponnya.

"Tumben sekali Laila tidak angkat." Batinnya menekan dada, berusaha mengontrol kekhawatirannya.

Tidak berhenti sampai disana, Mira mencoba menelepon Aini. Satu-satunya teman kerja Laila yang ia kenali.

"Halo bibi?" sapa Aini yang berada ditengah keramaian bandara.

"Nak Aini, Laila ada disitu tidak?" Satu pertanyaan yang membuat Aini termangu.

"Halo nak Aini?" ucap Mira menyadarkan Aini dari lamunannya.

"ah iya bibi," Aini tersentak. "Itu... Maaf bibi. Saya tidak tahu. Mungkin Laila lagi ada kesibukan, jadi tidak bisa mengangkat telepon. Soalnya, saya sedang di bandara. Mau pulang ke Jakarta. Sebentar lagi, pesawat yang kami tumpangi akan berangkat."

"Oh, begitu ya nak..." sahut Mira dengan wajah murung, sebelum akhirnya menutup telepon.

Tutttt.

"Haaaah," Aini mendengus kasar. Ia menatap sendu layar ponselnya seraya berkali-kali bergumam meminta maaf karena telah membohongi ibu mertua Laila.

"Tidak perlu merasa bersalah. Karena Laila telah membuat keputusannya sendiri," Bella memegang pundak Aini. "Ayo, kita berangkat."

Tiada lama, pesawat mereka pun lepas landas meninggalkan Sao Paulo, bersamaan dengan Laila yang sekejap lagi akan menjadi istri David Mendoza.

Urusan mereka di Brazil telah usai. Beberapa hari mereka disana benar-benar panjang dan berliku-liku. Seolah melalui satu tahun yang penuh dilema.

Namun, Aini dan Bella tetap kembali. Pulang membawa diri dan kabar baik. Tetapi tidak dengan Laila, yang tinggal untuk menebus hutangnya.

Tak terasa, esok sudah menyambut. Awan terlihat cerah seakan mengisyaratkan keceriaan.

Di dalam ruang ICU, Dio mengerjapkan matanya perlahan. "Laila... " itulah yang pertama ia ucapkan, sesudah melalui hari-hari penuh perjuangan.

Mira menggenggam erat tangan Dio, ia bersyukur putranya itu telah siuman lebih cepat dari perkiraan. Seperti mujizat. "Nak, akhirnya kau sadar juga."

Dengan pelan namun agak lemas, Dio mengedarkan pandangan. Tapi tidak menemukan yang ia cari-cari.

"Laila dimana?" lirih Dio, hendak mengangkat badannya.

Mira enggan memberitahu kenyataan kepada sang anak, kalau istrinya itu memutuskan tinggal di Brazil selama satu tahun ke depan demi melunasi hutang mereka.

Mira menunggu Dio pulih sepenuhnya. Baru pelan-pelan, dia akan mengungkap kebenaran. Sekarang, bukan waktu yang tepat untuk menyampaikannya.

Karenanya, Mira hanya berkata sambil menahan pergerakan Dio, "jangan banyak bergerak nak. Nanti bisa kenapa-kenapa. Laila baik-baik saja kok. Dia dalam perjalan pulang ke Jakarta."

Hanya itu kalimat yang mampu diucapkan Mira, guna menenangkan Dio.

"Sudah ya, kamu mending istirahat." Lanjutnya merentangkan tubuh lemah Dio.

Dio pun kembali menutup matanya, dan didalam angan-angannya dia berikhtiar. "Laila... Sepertinya aku berhasil melawan penyakitku. Nanti kalau aku sudah sehat dan kau pun telah kembali ke Jakarta, kita jalan-jalan ke pantai ya? Cepatlah pulang, aku merindukanmu sayangku." Batinnya melebarkan senyum dalam lelapnya itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!