NovelToon NovelToon
SISTEM DIMENSI RIMBA

SISTEM DIMENSI RIMBA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Fantasi
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Khatix Pattierre

“Satu juta tahun sekali, alam semesta memilih wadahnya. Dan kali ini, pilihan itu jatuh pada pemuda yang hampir mati."

Rimba Dipa Johanson hanyalah pemuda yatim piatu yang bertahan hidup di kerasnya pinggiran kota. Hidupnya nyaris berakhir tragis saat dikeroyok preman hingga sekarat di sebuah parit gelap. Namun, di ambang kematian, sebuah cahaya misterius menarik jiwanya masuk ke dalam warisan kuno.

Didampingi oleh Lara, pelayan dimensi yang cantik namun misterius, serta Cesar, serigala legendaris dari Hutan Asura, Rimba memulai perjalanan kultivasinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khatix Pattierre, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: WARISAN IMPERIAL DAN RENCANA SANG JUTAWAN

Setelah melalui penderitaan fisik yang hampir menghancurkan logika manusia di bawah tekanan gravitasi lima kali lipat, Rimba Dipa Johanson kini berdiri di ambang evolusi berikutnya. Ia telah mencapai kekuatan Tingkat Satu Menengah, sebuah pencapaian yang membuat setiap serat ototnya terasa lebih padat dan responsif. Namun, bagi Rimba, peningkatan fisik hanyalah satu sisi dari koin kekuatan. Sisi lainnya, yang jauh lebih kompleks dan misterius, terletak pada kapasitas mentalnya.

Pagi itu, di tengah keheningan dimensi yang hanya dipecah oleh suara gemericik air dari telaga, Rimba merasakan sesuatu yang berbeda di dalam kepalanya. Sebuah sensasi halus, seperti getaran notifikasi pada ponsel pintar namun terasa jauh di kedalaman batinnya, muncul secara tiba-tiba. Sebagai seorang mahasiswa IT, Rimba secara insting menerjemahkan fenomena ini sebagai sebuah "pembaruan sistem".

Pesan mental itu jelas: Struktur otaknya kini telah cukup kuat untuk menampung data yang lebih berat. Ilmu Seribu Satu Pikiran yang menjadi fondasi kecerdasannya, serta Risalah Sembilan Tingkat Pengobatan Surgawi yang menjadi kunci keselamatannya, kini terbuka untuk tahap pendalaman berikutnya.

"Waktunya upgrade," gumam Rimba dengan senyum kecil.

Tanpa membuang waktu, ia melangkah menuju altar batu hitam. Rasa dingin dari batu itu merambat ke kakinya, memberikan sensasi fokus yang instan. Rimba duduk bersila, mengatur napasnya dalam ritme yang sempurna, dan memejamkan mata. Seketika, kesadarannya melesat masuk ke dalam ruang hampa di pikirannya.

Selama dua hari penuh dalam hitungan waktu dimensi, Rimba tidak bergerak sedikit pun. Ia membiarkan pikirannya bekerja seperti prosesor yang melakukan re-coding pada dirinya sendiri. Di dalam sana, ia membelah fokusnya menjadi dua jalur, lalu secara perlahan, ia mencoba menarik garis fokus ketiga dan keempat. Rasanya seperti mencoba menggerakkan empat tangan secara mandiri; awalnya kacau dan menyebabkan pening yang luar biasa, namun perlahan-lahan, ia berhasil menstabilkannya.

Kini, Rimba mampu membelah kesadarannya menjadi empat pikiran mandiri. Secara bersamaan, ia juga menuntaskan pemahaman pengobatannya hingga mencapai Level Dua. Sekarang, ia tidak hanya tahu nama-nama penyakit, tapi ia bisa merasakan aliran saraf manusia, memahami bagaimana Qi bisa digunakan untuk menutup luka terbuka dalam hitungan detik, dan mengenali ribuan jenis tanaman obat hanya dari aromanya.

---

Setelah revolusi mental itu selesai, Rimba merasa tubuh fisiknya menuntut tantangan baru. Ia bangkit dari altar dan melangkah menuju panel kontrol aula indoor. Dengan jari yang lincah, ia mengakses sistem Aether.

"Mari kita lihat seberapa jauh batas tubuh ini," bisik Rimba. Ia mengatur gravitasi ke angka yang bahkan bagi dirinya terdengar mustahil: 25G.

Begitu tombol aktif ditekan, suara mendengung rendah memenuhi ruangan. Brak! Tubuh Rimba nyaris terhantam ke lantai marmer. Berat badannya kini terasa seperti 1,7 ton. Tekanan itu begitu hebat hingga pembuluh darah di matanya nampak memerah dan kulitnya terasa seperti ditarik paksa dari dagingnya. Namun, di sinilah keajaiban empat pikiran bekerja.

Satu pikirannya fokus menjaga keseimbangan tubuh agar tetap presisi pada siluet latihan di layar raksasa. Pikiran kedua masuk ke dalam perpustakaan mental untuk mempelajari teknik Tinju Besi Penghancur Langit. Pikiran ketiga mendalami Jurus Jari Iblis Pencabut Saraf, sementara pikiran keempat difokuskan untuk mengasah Panca Indra agar tetap tajam di tengah tekanan yang melumpuhkan.

Dalam latihan yang spartan ini, Rimba mulai mengeksekusi tiga jurus Tinju Besi:

Hantaman Meteor: Ia harus memukul udara dengan kecepatan yang melampaui suara di bawah beban 25G. Setiap pukulan menciptakan ledakan kecil yang menggetarkan aula.

Getaran Gempa: Ia melatih tangannya untuk mengeluarkan getaran Qi frekuensi rendah yang bisa menghancurkan struktur molekul di dalam target tanpa merusak bagian luarnya.

Dentuman Vakum: Pukulan yang begitu kuat hingga menciptakan ruang hampa udara sesaat, mampu menghempaskan lawan dari jarak jauh.

Sembari tangannya memukul, jemarinya juga melatih Jari Iblis:

Totokan Kelumpuhan: Akurasi jarinya harus mencapai titik mikroskopis pada siluet saraf di layar.

Sentuhan Kematian Semu: Menghitung denyut energi yang bisa menghentikan fungsi organ tanpa merusaknya.

Jari Penembus Zirah: Mengalirkan seluruh Qi ke ujung jari telunjuk hingga ujungnya bersinar tajam, siap menembus plat baja sekalipun.

Dua bulan berlalu dalam siklus latihan yang mengerikan itu. Berkali-kali Rimba pingsan karena kelelahan ekstrem, hanya untuk bangun dan mengulanginya lagi. Namun, kegigihan itu membuahkan hasil. Rimba berhasil menembus Tingkat Satu Tinggi. Di dunia kultivasi luar, seorang praktisi tingkat satu tinggi mungkin hanya bisa menahan beban 4G, namun Rimba berdiri tegak di bawah 25G dengan keluwesan seorang penari. Ia telah menjadi monster yang memiliki kekuatan fisik enam kali lipat lebih besar dari rekan-rekan selevelnya.

---

Suatu petang, setelah sesi latihan yang panjang, Rimba duduk bersama Lara di meja makan. Cesar duduk dengan tenang di samping kursi Rimba, sesekali menerima potongan daging dari tuannya.

"Lara, ada satu hal yang mengganjal di pikiranku," Rimba memulai pembicaraan sambil menyeka peluh di lehernya.

Lara mendongak, matanya yang indah menatap Rimba dengan perhatian penuh. "Apa itu?"

"Dimensi independen ini... dia akan selalu ada bersamaku ke mana pun aku pergi, kan?" tanya Rimba. "Maksudku, Giok di leherku ini adalah gerbangnya. Jadi, meskipun aku berada di luar sana, aku tetap bisa masuk ke sini?"

Lara mengangguk perlahan. "Benar, Rimba. Dimensi ini terikat pada jiwamu melalui perantara Giok tersebut. Ke mana pun ragamu melangkah di dunia fana, dimensi ini tetap berada di sisimu. kamu bisa masuk ke sini dalam hitungan detik kapan saja kamu mau."

Rimba menghela napas lega, senyum lebar mulai menghiasi wajahnya. "Syukurlah. Soalnya, satu bulan lagi aku harus pergi ke kota provinsi untuk mulai kuliah IT. Aku sempat khawatir kalau aku hanya bisa masuk ke sini jika berada di kamar kakek saja."

Lara sedikit mengernyitkan dahi, merasakan aura jahil mulai terpancar dari wajah Rimba. "Kenapa kamu tampak begitu senang?"

Rimba menggoyangkan alisnya dengan gaya menggoda. "Ya senang dong! Artinya, kebutuhan hidupku di kota nanti sudah terjamin. Aku nggak perlu pusing cari kos-kosan mahal, tinggal tidur di sini saja. Makanan pun sudah ada yang masakin dengan sangat enak... Sayangku kan sangat perhatian padaku," ujar Rimba sambil menatap lekat mata Lara.

"Iiih... kamu! Apa-apaan sih?!" seru Lara, wajahnya seketika merona merah padam. Ia segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk merapikan piring meski tangannya sedikit gemetar.

Rimba terkekeh, namun tawanya perlahan meredup. "Tapi tetap saja, Lara. Aku harus punya penghasilan di dunia luar. Warisan tabungan Kakek mungkin hanya cukup untuk bertahan satu setengah tahun kuliah. Biaya hidup di provinsi itu mahal, dan aku butuh perangkat komputer yang mumpuni untuk kuliah IT. Aku tidak ingin bergantung sepenuhnya pada dimensi tanpa punya aset di realitas."

Kening Rimba berkerut, ia mulai menghitung-hitung rencana mencari kerja paruh waktu atau buruh cuci piring di kota nanti. Semangat mudanya menyala, namun ia juga sadar akan keterbatasan finansialnya.

Lara terdiam cukup lama, memandangi kegigihan Rimba. Akhirnya, ia meletakkan serbetnya dan berdiri. "Mungkin... masalah dunia luarmu itu bisa diselesaikan dengan cara yang lebih mudah. Ikuti aku."

---

Rimba berdiri dengan rasa penasaran yang membuncah. Ia mengekori Lara melewati lorong-lorong rumah yang belum pernah ia jelajahi sebelumnya. Lenggokan tubuh Lara yang anggun di depannya sempat membuatnya terpesona sejenak, namun rasa ingin tahunya lebih besar.

Lara berhenti di depan sebuah pintu ganda berukiran emas yang sangat megah. Begitu ia menyentuh gagang pintunya, pintu itu terbuka dengan suara desisan udara, menunjukkan sebuah ruangan luas yang nampak seperti brankas kerajaan. Lampu kristal di langit-langit menyala otomatis, memantulkan cahaya pada benda-benda di dalamnya.

Di tengah ruangan, terdapat dua meja rendah berukir. Mata Rimba membelalak sempurna saat melihat apa yang ada di atas meja tersebut.

Di meja pertama, tergeletak sebuah batu Giok Imperial Heart berwarna hijau emerald yang luar biasa pekat. Ukurannya masif, kira-kira satu meter kubik. Cahayanya nampak hidup, seolah ada energi yang mengalir di dalamnya. Di meja kedua, tersusun rapi puluhan batangan emas mengkilat yang nampak sangat berat.

"Apa ini, Sayang?" tanya Rimba tanpa sadar. Ia melangkah maju dan mencoba mengangkat salah satu batang emas tersebut. "Berat sekali! Ini emas asli?"

Lara sempat memberikan lirikan tajam atas panggilan 'sayang' yang kedua kalinya, namun ia membiarkannya karena merasakan bahwa Rimba sedang serius dan mengucapkannya tanpa rasa jahil. "Ini semua adalah hartamu, Rimba. Warisan yang ditinggalkan untuk pemilik sah dimensi ini."

"Semua ini... milikku?" Rimba menoleh dengan ekspresi tidak percaya.

"Benar. kamu bisa menjualnya jika kamu butuh uang untuk kehidupan di luar. Dan kamu tidak perlu khawatir akan kehabisan. Meja-meja ini memiliki sihir spasial; jika satu barang terjual, dalam waktu tertentu hartanya akan muncul kembali secara otomatis. Ini adalah sumber kekayaan yang tidak terbatas."

Lara mendekati batu giok raksasa itu dan mengeluarkan sebuah senter kecil. Ia menempelkan cahaya senter ke permukaan giok. Ajaibnya, cahaya itu menembus seluruh bongkahan giok tersebut tanpa ada satu pun cacat atau kotoran di dalamnya.

"Batu giok Imperial Heart sebesar ini sudah sangat langka di duniamu. Jika kamu menemukan pembeli yang tepat, bongkahan ini saja nilainya bisa mencapai 40 Miliar Rupiah atau bahkan lebih. Sedangkan emas-emas ini adalah emas murni 24 karat peninggalan era perang. Setiap batangnya seberat satu kilogram, dan di laci bawah sana, aku sudah menyiapkan sertifikat keaslian peninggalan kuno agar kamu bisa menjualnya secara legal tanpa dicurigai sebagai pencuri."

Rimba berdiri mematung. Angka 40 Miliar berdengung di telinganya seperti lebah. Ia memandangi emas dan giok itu bergantian. Sebagai anak yang tumbuh dalam kemiskinan, melihat kekayaan sebanyak ini di depan mata terasa seperti mimpi di siang bolong.

"Waaahhh... asyik ini!" seru Rimba sambil tertawa lebar. Kegembiraannya meledak. Ia membayangkan bagaimana ia akan membeli laptop gaming tercanggih dan ponsel paling mahal untuk mendukung kuliahnya.

Namun, di balik kegembiraannya, otak IT Rimba mulai bekerja. Ia tahu bahwa membawa satu kilogram emas ke toko emas biasa di desa akan mengundang kecurigaan polisi atau perampok. Ia butuh strategi. Ia harus menjualnya di kota kabupaten, tempat di mana orang kaya adalah hal biasa.

"Lara, terima kasih. Kamu benar-benar penyelamatku," ucap Rimba dengan tulus. Ia menatap giok itu sekali lagi, dan sebuah rencana matang mulai tersusun di kepalanya. Rencana untuk mengubah status sosialnya secara instan begitu ia menginjakkan kaki di peradaban.

1
G.Lo
Semoga nggak putus saja update nya...cerita ok sekali...👍👍
D'ken Nicko
up dobel thor
D'ken Nicko
mantap poll ,up yg banyak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!