Al-qolbu-lladzi-nkashara laa ya'uudu kamaa kaana, hatta lau haawalnaa tammimahu.
Allahu a’lamu bimaa fi-l quluub.
"Aku lelah, Mas, biarkan aku pergi untuk menghapus lukaku."
Aiza Adiva Humaira, seorang wanita yang sudah memiliki tambatan hati, namun harus merelakan cintanya karena sebuah perjodohan yang tak bisa ia tolak.
Namun, hidup yang ia kira akan baik-baik saja, perlahan hancur karena dua hati tak saling menyatu.
Yuk simak cerita selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BundaNazwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pamit
“Qais!"
Qais, Umi Khasanah dan kyai Mukhtar sama-sama menoleh ke asal suara. Di ujung koridor, dokter Hendra tampak berjalan tergesa-gesa. Pria itu tersenyum karena berhasil menemukan Qais.
“Bagaimana keadaan Mbah Warih?" tanyanya. Ia masih berusaha mengatur nafasnya yang tersengal.
“Belum tau, dok."
Namun fokus mereka teralihkan oleh pintu UGD yang terbuka. Seorang dokter parah baya namun wibawanya sebagai seorang dokter masih kental. Rambutnya tak begitu putih, hanya ada beberapa helai di kepalanya.
Ia menghela nafas panjang, melepaskan stetoskopnya dari leher. Wajahnya terlihat begitu lelah, sangat terlihat bahwa ia adalah dokter profesional.
“Profesor!" panggil dokter Hendra tampak tersenyum senang.
Dokter yang ia panggil profesor itu pun menoleh. Dokter itu tersenyum pada dokter Hendra, lalu mendekat.
“Hendra?" kata dokter itu sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Dokter Hendra pun mengangguk antusias sambil menyalami dokter itu.
“Wah, saya tidak menyangka bisa bertemu kamu disini."
“Iya, prof. Kebetulan saya sedang menyusul pasien yang baru saja dibawa kesini. Namanya Mbah Warih."
“Oh, jadi pasien yang baru saya tangani tadi namanya Mbah Warih? Dan kamu yang mendampinginya kesini?" Ada binar kagum yang menyelimuti wajah dokter itu.
“Bukan, prof. Tadi saya mendadak ada pasien di klinik dan baru saja sampai. Tadi yang mendampingi Mbah Warih kesini adalah Qais.”
Qais langsung menunduk sopan dan tersenyum.
"Oh ya, Qais, ini namanya dokter Hermawan, dia dosen saya waktu kuliah dulu.
Mereka lantas berkenan. Namun binar kagum itu berpindah pada Qais, seolah ada sesuatu yang membuat dokter Hermawan bangga padanya.
“Ini…. keluarganya? Kamu dokter juga, Nak?" tanya dokter Hermawan. Tatapannya tak lepas dari Qais.
“Benar, dok. Saya salah satu keluarganya, dan sebenarnya saya baru lulus kuliah kedokteran, belum resmi," kata Qais.
“Luar biasa…."
Ucapan yang spontan keluar dari mulut dokter Hermawan itu membuat semuanya tercengang, termasuk dokter Hendra dan Qais sendiri.
“Kenapa, prof?" tanya dokter Hendra bingung.
“Tadi saya mendapat laporan bahwa pasien sempat mengalami gagal nafas berat saat diperjalanan kesini, dan mereka bilang nak Qais ini melakukan intubasi pada pasien. Biasanya mahasiswa kelulusan awal akan sangat panik dengan kondisi seperti ini, tapi nak Qais ini berhasil dengan mudah."
Sebuah tepuk tangan dan tatapan kagum itu Qais dapatkan dari dokter Hendra dan dokter Hermawan. Umi Khasanah dan kyai Mukhtar yang mendengarnya ikut tersenyum haru, merasa bangga pada putranya. Bukan hanya tentang kepandaiannya yang begitu cerdas, tapi rasa kemanusiaannya pada Warih yang begitu tinggi. Ia bahkan tak mengatakan bahwa Warih hanya orang lain, tapi ia mengakui bahwa Warih adalah keluarganya.
Sementara Qais, pria itu hanya tersenyum tenang seraya menunduk ketika mendapat pujian seperti itu.
"Terimakasih, dokter. Tapi saya hanya pemula yang masih butuh banyak ilmu. Saya hanya melakukan sesuai insting dan hati nurani saya."
Dokter Hendra menepuk pundak Qais dengan bangga.
“Meskipun begitu, itu adalah pencapaian yang luar biasa, Qais. Saya bangga sama kamu."
“Benar, Qais. Melihat orang berbakat seperti kamu, rasanya saya baru melihat mutiara. Kamu rencananya mau lanjut kuliah kemana, Nak?" tanya dokter Hermawan.
“Untuk itu saya belum tahu, dokter. Saya masih mencari biaya agar bisa melanjutkannya." Qais mengatakannya dengan jujur tanpa mengharap apa-apa.
"Wah, kebetulan kalau begitu. Minggu depan rumah sakit kami membuka seleksi tahunan untuk Fellowship Bedah Jantung di Leipzig Heart Center, Jerman. Ini program unggulan rumah sakit kami. Saya melihat dedikasimu tadi. Saya ingin kamu ikut tesnya. Slot ini terbatas, tapi saya yakin dengan kemampuanmu. Bagaimana, kamu mau?"
Umi Khasanah dan kyai Mukhtar saling pandang dan tersenyum haru, dokter Hendra menatap bangga pada Qais.
"Kalau kamu mau datanglah ke kantor saya besok, ambil formulirnya dan ikuti tesnya. Saya harap kamu masuk dalam daftar yang saya kirim ke sana.”
"Ayo, Qais. Ini kesempatan langka. Saya yakin kamu bisa menjadi dokter bedah jantung terbaik.”
Sebelum menjawab, Qais menatap kedua orang tuanya. Umi Khasanah dan kyai Mukhtar tampak mengangguk dengan mata berkaca-kaca karena haru sekaligus bangga.
"Baik, dokter. Besok saya akan ambil formulirnya.”
***
Seperti janjinya, ba’da subuh Qais langsung berangkat untuk mencari alamat Aiza. Dengan berbekalkan google untuk mencari siapa itu Arjuna, Qais pun berhasil menemukannya.
Tidak sulit bagi Qais, sebab nama keluarga Arjuna sudah terkenal di seluruh Indonesia, bahkan di beberapa negara.
Tepat pukul enam pagi, dimana Jakarta masih tampak berkabut, Qais mendatangi rumah mewah itu.
Ada sedikit keraguan di hatinya ketika menatap pintu gerbang yang tinggi itu, seolah gerbang itu adalah batas yang sulit ia lewati.
"Bismillahirrahmanirrahim. Saya kesini demi Mbah, bukan karena Aiza.”
Setelah memantapkan diri, Qais lantas menghampiri satpam yang berdiri di gerbang itu.
"Assalamualaikum, Pak,” ucap Qais sopan.
"Waalaikumsalam. Anda cari siapa ya disini?” tanya salah satu satpam tersebut .
"Saya mau cari Aiza. Saya tetangganya dari kampung. Aizanya ada?”
Satpam itu menatap Qais dari ujung kaki hingga ujung kepala, tatapannya sedikit heran. Dalam pikiran mereka, Qais tidak terlihat seperti dari kampung, dari style memang terlihat sederhana, tapi tidak dengan visual dan cara Qais berbicara tidak terlihat seperti dari kampung.
"Anda yakin bahwa Anda dari kampung nona Aiza?” tanyanya ragu.
"Benar, Pak. Saya kesini cuma mau memberitahu keadaan neneknya." Kedua satpam itu terdiam saling pandang untuk beberapa saat, lalu kemudian sama-sama mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu silahkan tunggu disini dulu! Saya akan panggilkan nona Aiza."
Qais mengangguk. Dia memilih duduk di pos satpam untuk beristirahat barang sejenak.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama. Qais tertegun untuk sesaat, lalu setelahnya menunduk. Ia sontak berdiri ketika di depannya, Aiza sudah berdiri, menatapnya sekilas, lalu menunduk. Wanita itu tampak mengusap wajahnya, mungkin dia habis menangis.
“A-assalamualaikum, Aiza.”
"Waalaikumsalam, Gus.”
"Em…. bagaimana keadaanmu?”
"Alhamdulillah, saya sangat baik, Gus. Kalau boleh saya tau, apa yang membawa Gus Qais ke sini?”
“Aiza, saya…. Saya ingin memberitahu kalau Mbah sedang sakit dan sudah dibawa ke rumah sakit di Jakarta.”
Mendengar itu, Aiza spontan mengangkat kepalanya, menatap Qais dengan tatapan terkejut. Air mata menetes di balik cadarnya, membasahi cadar biru itu.
"L-lalu bagaimana keadaan Mbah sekarang, Gus?” Suaranya bergetar karena tangis yang seolah menggumpal di tenggorokannya.
Di dalam tunduknya, Qais tersenyum tenang.
“Alhamdulillah. Kondisi Mbah sekarang sudah stabil, tinggal masa pemulihan. Saya harap, kamu secepatnya ke rumah sakit Bima Sejahtera."
“Baik, Gus. Terimakasih sudah menjaga Mbah selama saya ndak ada."
“Sama-sama, Aiza. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai sesama makhluk ciptaan Allah untuk saling membantu."
Aiza mengangguk. Sesaat, hanya keheningan yang menyelimuti mereka. Cuaca dingin pagi itu seolah gambaran jiwa mereka yang sudah terasa asing.
“Aiza….. saya rasa saya sudah selesai, kalau begitu saya permisi."
Qais hendak berbalik pergi, tapi suara Aiza yang memanggil namanya membuat Qais berbalik menatap Aiza.
“Gus!"
Qais tertegun melihat cadar Aiza yang basah karena air mata. Gadis itu terisak sambil menatapnya. Qais langsung membuang muka, hatinya sakit melihat air mata itu, melihat mata teduh yang tampak basah dan bengkak.
"Kenapa menangis, Aiza? Mbah sudah baik-baik saja.”
Sebenarnya Qais tahu bahwa Aiza bukan menangis karena neneknya, hanya saja Qais tak ingin membuat luka mereka semakin dalam dengan mengingat masa lalu. Lagipula Qais tahu batasan, dia dan Aiza sudah tak bisa seperti dulu.
"Gus……hiks….maaf, tapi Aiza ndak bisa…."
“Apa yang membuatmu ndak bisa, Aiza? Jangan biarkan dirimu menjadi istri yang durhaka karena masa lalu yang belum usai. Allah telah memilih Arjuna, berarti Allah sudah menetapkan Arjuna adalah jodoh yang terbaik untukmu." Pandangannya menerawang jauh, helaan nafas terdengar berat dari rongga hidungnya. “Ikhlas, Aiza. In Syaa Allah, Allah akan menyiapkan tempat terindah di surganya bagi hamba yang ikhlas."
“Tapi bagaimana denganmu, Gus? Apa kamu ikhlas? Apakah kamu bahagia?"
Qais tersenyum tenang, ciri khasnya yang membuat semua orang merasa teduh saat menatapnya.
"In Syaa Allah saya sudah ikhlas, Aiza. Dan……ya. Hari ini, Allah membawa saya pada buah keikhlasan itu. Saya mendapat tawaran kuliah di Jerman.”
"J-jerman? Jadi Gus akan pergi jauh?"
Pria itu menatap, lalu mengangguk.
“Iya. Doakan saya lulus tes ya. In Syaa Allah, kamu juga akan selalu bahagia bersama Arjuna."
Aiza tersenyum di balik cadarnya. Senyum perih dan juga rasa bangga secara bersamaan.
“Aamiin. Selamat, Gus, kamu berhak mendapatkan kehormatan ini."
Qais hanya menunduk dan tersenyum sebagai tanggapan.
“Saya pamit, Aiza. Jadilah istri yang patuh pada Arjuna."
“In Syaa Allah, Gus. Semoga Gus juga selalu mendapatkan kebahagiaan di negri orang nanti."
“Aamiin. Assalamualaikum.”
"Waalaikumsalam.”
Kalimat salam menjadi penutup pertemuan mereka. Entah sampai kapan, mungkin akan lama, atau tidak akan pernah berjumpa. Wallahu a'lam.
Kalau sudah tiada baru terasa
Bahwa kehadirannya sungguh berharga....
🤣🤣
di tunggu up lgi ka 😍
up lgi dong ka😍