NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suara gemericik air dari pancuran kamar mandi terdengar stabil. Rangga sedang mandi. Ini adalah kesempatan emas bagi Alya. Dengan jantung yang berdegup kencang hingga terasa ke kerongkongan, Alya kembali menyelinap ke ruang kerja suaminya.

​Ia langsung menuju laci meja di mana ia melihat berkas "Proyek Eliminasi: Rendi" tadi siang. Tangannya gemetar saat membuka map berwarna biru gelap itu.

​Di dalamnya, bukan hanya sekadar dokumen kerja. Alya menemukan tumpukan foto Rendi. Foto saat Rendi sedang makan siang, saat Rendi berjalan menuju mobilnya, bahkan foto Rendi yang sedang bicara dengan Alya di kantin kantor—diambil dari jarak jauh dengan lensa tele. Di sudut setiap foto, ada catatan tulisan tangan Rangga yang rapi: “Menatap mata Alya selama 3 detik,” “Menyentuh bahu Alya saat tertawa,” “Harus dieliminasi.”

​Alya menutup mulutnya, menahan isak tangis yang hampir pecah. Di dasar map, ia menemukan sebuah flashdisk hitam.

​“Apa ini…” bisiknya lirih.

​Alya segera membawa flashdisk itu ke laptopnya di pojok ruangan. Ia memasukkannya, dan sebuah folder terbuka. Isinya hanya satu video. Dengan ragu, ia menekan tombol play.

​Video itu gelap, menunjukkan sebuah gudang tua yang pengap. Di sana, seorang pria terikat di kursi dengan wajah penuh luka lebam. Itu Rendi. Dan di depannya, berdiri seorang pria dengan punggung tegap yang sangat dikenal Alya.

Rangga.

​Di dalam video, Rangga sedang memakai sarung tangan medis putih dengan sangat tenang. Ia memegang sebuah pisau kecil.

​“Aku sudah bilang, Rendi,” suara Rangga di video terdengar sangat lembut, hampir merdu. “Alya adalah milikku. Mata yang berani menatapnya dengan nafsu seperti itu… tidak pantas untuk tetap ada.”

​Alya tidak sanggup melihat lanjutannya. Ia segera mencabut flashdisk itu dengan kasar, namun saat ia berbalik untuk lari, ia membeku.

​Rangga berdiri di depan pintu.

​Ia hanya mengenakan jubah mandi putih yang masih setengah terbuka, rambutnya basah, dan setetes air jatuh dari ujung rambutnya. Di tangannya, ia memegang sebuah gunting tanaman yang besar dan tajam—ia tampak baru saja memotong bunga mawar dari balkon.

​Rangga tidak marah. Ia justru tersenyum dengan cara yang paling mengerikan yang pernah Alya lihat.

​“Sayang, aku sudah bilang jangan masuk ke sini tanpa izin, kan?” Rangga berjalan mendekat. Langkah kakinya yang telanjang tidak mengeluarkan suara di atas karpet bulu.

​“Mas… video itu… apa yang kamu lakukan pada Rendi?” suara Alya parau karena ketakutan.

​Rangga berhenti tepat di depan Alya. Ia mengangkat gunting tanaman itu, memainkannya di depan wajah Alya hingga kilatan logamnya memantul di mata Alya yang basah.

​“Dia hanya sedikit… bermasalah,” jawab Rangga santai. Ia mengulurkan tangan, mengusap air mata di pipi Alya dengan ibu jarinya yang dingin.

“Dia terlalu banyak bicara, terlalu banyak melihat. Jadi, aku memberinya tempat peristirahatan di mana dia tidak bisa lagi mengganggu kebahagiaan kita.”

​Rangga kemudian memeluk Alya dengan sangat erat, menenggelamkan wajah Alya di dadanya yang bidang.

​“Jangan menangis untuk pria sampah seperti dia, Alya. Kamu punya aku. Aku akan melindungimu dari siapa pun, bahkan dari dirimu sendiri jika kamu mencoba meninggalkan aku.” Rangga mengeratkan pelukannya, dan untuk pertama kalinya, Alya merasakan bahwa pelukan suaminya bukan lagi tempat berlindung, melainkan sebuah jerat yang siap mencekiknya kapan saja.

Bersambung...

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!