"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Malam itu, entah mengapa Seruni begitu merindukan anak kelima nya. Ia lihat video terakhir kali saat anak nya sedang bermain dengan kakak-kakak nya. Seandainya saja waktu itu Seruni melarang mereka pergi, pasti sampai saat ini anak-anak nya masih lengkap .
Seruni merasa berdosa sekali sebagai seorang ibu. Ia sampai menangis malam itu mengingat anak-anak nya yang telah pergi meninggalkan nya untuk selamanya.
Dengan beberapa video yang ia dapatkan dari pemilik resto pinggir laut, Seruni menggugat suami nya. Ia ingin cepat bercerai dengan Hamdan dan tidak ingin lagi memiliki hubungan apapun dengan laki-laki jahat itu.
Untung saja ada Adelia yang selalu siap membantu nya. Adelia juga meminta tolong pada pengacara keluarga nya untuk membantu Seruni. Sungguh Adelia sangat lah baik.
Tapi Allah SWT masih menguji wanita cantik dan baik itu dengan keturunan yang hingga saat itu belum hadir di tengah keluarga kecil nya.
Saat Seruni sedang melihat-lihat ponsel nya, sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Seruni pun membuka pesan tersebut
"Hay, suami mu saat ini sedang bersama ku. Menyerah saja, Seruni. Dia sudah tidak menginginkan wanita seperti mu."
Seruni bukan nya sedih saat melihat pesan itu. Hanya hanya tersenyum dan cepat-cepat menyimpan foto-foto yang banyak itu. Akan ia jadikan bukti supaya persidangan nya di permudah nanti.
"Ambil saja suami ku jika kau mau. Kamu memang pantas menjadi tempat pembuangan sampah."
Seruni membalas pesan itu dan tidak lupa menggunakan emot tertawa di akhir kalimat. Setelah penerima membaca pesan nya, nomor itu langsung ia blokir. Ia tidak mau wanita itu mengganggu malam nya.
*****
Keesokan hari nya, Seruni datang ke perusahaan milik keluarga Adelia. Sebuah perusahaan besar yang baru pertama kali nya ia lihat dari dekat.
Tugas nya hari itu, bukan hanya sebagai pengawas makanan dan juga cemilan untuk para karyawan. Seruni juga akan menandatangani perjanjian dengan perusahaan yang besar itu.
Ia duduk di lobi dan menunggu seseorang untuk membawa nya naik ke ruangan Presdir. Ia hanya menuruti nya saja dan tidak ingin lancang untuk berjalan-jalan di sekitar tempat itu.
"Seruni, apa yang kau lakukan di sini? Apa jangan-jangan kau datang untuk melaporkan aku?"
Hamdan berdiri di depan Seruni dengan wajah yang tidak bisa dijelaskan. Ia mengira jika Jasmin datang ke sana untuk melakukan sesuatu pada nya.
"Jadi, kamu bekerja di sini? Oh, aku tidak tahu. Bukan kah selama ini kamu tidak pernah membawa ku ke kantor mu?"
"Jangan berbohong, Seruni. Untuk apa juga kamu datang ke sini kalau bukan untuk melakukan sesuatu pada ku."
"Hidup ku sudah tidak ada lagi tentang mu. Jadi, jangan ke pedean."
"Kau..."
"Ibu Seruni, mari saya antar anda ke ruang Presdir." Ucap seorang sekretaris cantik. Hamdan langsung menoleh dan melihat sekretaris bos nya itu ada di belakang nya.
"Baik. Terima kasih."
Seruni mengabaikan Hamdan dan langsung pergi mengikuti sekretaris cantik itu. Hamdan yang penasaran juga ikut mereka. Ia tidak ingin Seruni melaporkan hal yang tidak-tidak pada atasan nya nanti.
"Maaf, bapak mau kemana?" Sekretaris itu bertanya pada Hamdan yang akan ikut naik ke lift khusus Presdir.
"Saya mau ikut Seruni. Dia istri saya."
"Maaf, dia bahkan suami saya. Kami akan bercerai sebentar lagi karena dia kepincut janda sebelah rumah." Seruni langsung menjawab seperti itu. Ia tidak ingin lagi berhubungan dengan Hamdan.
Sedangkan sekretaris itu hanya terdiam dan tidak tahu bagaimana harus menanggapi keadaan itu.
"Kalau begitu, Bapak silahkan pergi ke lift yang lain. Bu Seruni adalah tamu kami hari ini."
"Tamu?"
Hamdan masih terdiam dan Seruni langsung masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas. Ia sedikit pusing karena baru pertama kali nya naik lift selama itu.
Ia bahkan berpegangan pada dinding lift karena takut dengan sedikit guncangan yang ia rasa. Setelah mereka tiba di lantai yang mereka tuju, pintu lift pun terbuka.
Seruni keluar secara perlahan. Kepala nya sungguh pusing sekali. Ia berhenti sesaat sebelum kembali melanjutkan mengikuti sekretaris tersebut.
"Pak, saya membawa Bu Seruni untuk menemui Bapak."
"Persilahkan ia masuk."
Seruni masuk ke dalam ruangan itu dengan takut-takut. Ia melihat, ruangan presdir sangat lah luas. Ia berjalan sambil menunduk karena tidak berani melihat pria itu.
"Apakah anda yang bernama Seruni?"
"Iya, Pak. Saya Seruni."
"Masih muda. Sudah punya anak?"
"Saya sudah memiliki enam anak perempuan. Tapi dua di antara nya telah meninggal dunia."
"Waw! enam? Luar biasa. Ini, perjanjian antara Bu Seruni dan perusahaan kami. Di baca dulu point-point nya."
"Tidak perlu, Pak. Saya percaya pada Bapak dan Adelia. Adelia sangat baik. Pasti Keluarga nya juga baik."
"Tidak begitu, Bu Seruni. Justru saya yang berterima kasih pada anda. Selama ini, tidak ada yang bisa dekat dengan Adelia kecuali anda. Sejak dekat dengan anda, adik saya itu berubah menjadi riang. Dulu, ia sempat depresi karena sering di bully oleh teman-temannya.
Bukan itu saja. Banyak teman yang mendekati nya hanya karena ia berasal dari keluarga berada. Adel sering di manfaatkan karena kebaikan hati nya."
"Oh, begitu. Saya tidak menyangka jika ada kejadian seperti ini. Saya lihat, Adelia sangat kuat dan tegar. Bagi saya Adelia adalah sang penolong bagi keluarga kami."
"Hmmm,, kalau begitu. Tandatangani saja surat ini. Saya berharap, kerja sama kita bisa berjalan lancar. Ingat ya, Bu Seruni. Jangan pernah mengkhianati kami jika suatu saat anda mendapatkan tawaran yang lebih baik dari perusahaan kami."
"Baik. Saya akan tandatangan. Dan, saya bukan seorang pengkhianat."
Seruni langsung menandatangani surat itu. Kini, diri nya resmi bekerja sama dengan perusahaan milik keluarga Adelia.
Setelah surat itu berhasil di tandatangani, Seruni juga mendapat kan uang muka untuk pekerjaan nya esok. Karena pegawai perusahaan itu sangat ramai, jadi ia meminta bantuan para tetangga untuk membantu nya.
"Terima kasih, Bu Seruni. Saya Adam. Semoga kerja sama kita berkah. Dan pegawai kami bisa makan makanan enak dengan harga terjangkau."
"Baik. Saya permisi dulu, Pak Adam. Saya mau ke tempat anak saya. Hari ini mereka ikut lomba."
"Oh, baiklah kalau begitu. Silahkan, Bu Seruni."
Seruni keluar dari ruangan itu dan di sambut kembali oleh sekretaris nya Pak Adam. Sekretaris itu membantu Seruni turun melalui lift. Sungguh mereka sangat bertanggung jawab pada Seruni yang merupakan orang desa.
Jika tidak ada yang memberi nya petunjuk, sudah bisa di pastikan jika ia akan nyasar di kantor tersebut.
"Seruni....."
bersinar 😮