"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.
Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.
Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
putaran kematian
"Maka dari itu, aku menarik kesimpulan bahwa kamu adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk kembali ke masa lalu. Dan sepertinya itu adalah kebenaran, bukan?" ucap Margarette dengan nada yang begitu yakin. Baginya, logika itu adalah satu-satunya penjelasan mengapa masa depan yang ia lihat bisa berubah secara drastis dalam sekejap.
Margarette sedikit keliru. Kemampuan Andersen jauh lebih rumit dan menyakitkan daripada sekadar "kembali ke masa lalu". Namun, Andersen tidak merasa perlu menjelaskan hal itu.
"Sepertinya Anda salah orang, Tuan Putri," jawab Andersen pendek sambil berdiri dari kursinya. Ia menatap Margarette dengan tatapan datar, seolah gelar bangsawan gadis itu tidak berarti apa-apa baginya.
Andersen memutuskan untuk pergi.
Sepertinya aku harus mendapatkannya, bagaimanapun caranya... batin Margarette sambil memperhatikan punggung Andersen yang menjauh.
Saat Andersen menghampiri Seila yang masih tampak bingung di sudut ruangan, Fina kembali ke sisi Margarette. Gadis itu tampak mengeluarkan ponselnya dan seperti sedang menghubungi seseorang.
Ia memberikan instruksi singkat sebelum segera melangkah pergi meninggalkan aula pesta, seolah-olah ia baru saja memulai sebuah rencana baru yang jauh lebih besar dari sekadar menghindari serangan.
Disaat yang sama ada beberapa orang yang masuk dari jendela dengan memecahkan kaca jendela.
Di saat sebagian besar tamu undangan terpaku dalam diam karena syok, Andersen sudah bergerak. Ia tidak butuh waktu untuk mencerna keadaan. Dengan gerakan yang hampir tidak tertangkap mata, ia merogoh saku jaket varsity-nya dan menarik keluar sebuah revolver berwarna hitam pekat.
Tanpa ragu, Andersen langsung "memuntahkan" peluru panas ke arah siluet-siluet yang baru saja mendarat di lantai marmer. Ia mengenali seragam taktis gelap itu, mereka adalah pasukan yang sama yang telah membantainya dua kali di parkiran basement.
DAR! DAR! DAR!
Tembakan Andersen sangat presisi dan mematikan. Sambil terus menekan pelatuk, tangan kirinya secara refleks menyambar bahu Seila, menarik gadis itu dengan kasar ke dalam dekapannya untuk melindunginya dari arah tembakan.
Seila hanya bisa terkesiap, terkunci di dalam pelukan Andersen yang dingin dan berbau mesiu, sementara pemuda itu terus menghabisi setiap orang yang mencoba merangsek masuk.
"Kita beruntung mereka memilih masuk lewat jendela," gumam Andersen rendah, napasnya mulai teratur meski adrenalinnya masih memuncak. Ia tetap dalam posisi siaga, matanya menyapu seisi ruangan yang kini dipenuhi jeritan histeris. "Jika mereka masuk lewat pintu utama dalam formasi tempur yang siap... aku tidak akan semudah ini menahan mereka.
Keheningan sesaat menyelimuti aula setelah Andersen menghabisi pasukan gelombang pertama. Aroma mesiu yang menyengat memenuhi udara. Saat itulah, Andersen baru tersadar bahwa ia masih mendekap Seila dengan sangat erat.
Gadis itu tidak memberontak; ia justru mematung, menatap Andersen dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara syok, rasa syukur, dan kekaguman yang dalam.
"Maaf, aku refleks memelukmu tadi," ucap Andersen datar, namun tangannya bergerak cepat melepas magasin kosong dan mengisinya dengan amunisi baru. Klik.
Seila menggeleng perlahan, wajahnya yang pucat mendadak merona merah di tengah kekacauan itu. "Tidak apa-apa... benar-benar tidak masalah," bisiknya dengan suara bergetar.
Namun, momen itu tak bertahan lama. Mata para tamu undangan kini tertuju pada mereka berdua, menjadikan mereka pusat perhatian yang mematikan. Sebelum Andersen sempat menarik Seila keluar dari sana, pintu-pintu utama aula didobrak paksa.
"Cih, bahkan mereka tidak memberiku waktu untuk sekadar bernapas," gerutu Andersen saat melihat bayangan pasukan dalam jumlah yang lebih besar merangsek masuk.
Kali ini, mereka tidak memberinya kesempatan untuk membalas. Tanpa peringatan, serentetan tembakan membabi buta dilepaskan. Sebuah peluru menembus kening Andersen dengan kecepatan yang tak kasatmata.
Dunia Andersen seketika miring. Kesadarannya mulai runtuh ke dalam kegelapan yang pekat. Hal terakhir yang ia lihat adalah wajah panik Seila yang histeris, bibirnya bergerak memanggil namanya berulang kali, namun suaranya terdengar makin menjauh, tenggelam oleh suara denging panjang di telinganya.
[ KEBERUNTUNGAN... TETAPI KAMU MASIH BELUM MENGAMBIL KESEMPATAN YANG BAIK... ]
Suara dingin itu kembali menggema, menusuk hingga ke dasar jiwanya tepat sebelum jantungnya berhenti berdetak.
Andersen tersentak kembali ke dunia nyata. Ia berdiri mematung tepat setelah Margarette melangkah pergi. Hufftt... Hufftt... Napasnya terasa berat dan panas, seolah-olah oksigen di aula mewah itu telah habis terbakar. Bayangan teNtang lautan mayat dan dinginnya peluru yang menembus keningnya masih terasa begitu nyata di sarafnya.
"Sungguh menyiksa... ini benar-benar gila," bisik Andersen parau.
Melihat Andersen yang tiba-tiba jatuh terduduk dengan wajah pucat pasi dan keringat dingin, Seila langsung berlutut di sampingnya. Matanya memancarkan kecemasan yang mendalam.
"Andersen? Kamu kenapa? Wajahmu pucat sekali!" tanya Seila sambil memegang bahu pemuda itu.
"Tidak apa-apa, Seila. Aku hanya... tiba-tiba merasa kurang sehat," jawabnya berbohong demi menekan kepanikan.
"Kalau begitu, ayo kita pulang saja sekarang! Kamu butuh istirahat," sahut Seila tegas. Tanpa menunggu persetujuan, gadis itu menarik tangan Andersen, membantunya berdiri, dan menggenggam erat lengannya.
Dalam langkah cepat mereka menyusuri koridor mal yang mulai sepi, Andersen menyadari sesuatu. Wajah Seila kian memerah, napasnya sedikit tidak teratur.
"Seila? Kamu baik-baik saja?" tanya Andersen pelan, matanya tetap menyapu keadaan sekitar.
"Maaf... maafkan aku," bisik Seila tanpa berani menatap mata Andersen. Wajahnya semakin merona hingga ke telinga.
"Aku tiba-tiba menarikmu keluar dari acara dan mengambil keputusan sepihak. Aku hanya... aku sangat khawatir melihatmu tadi."
Andersen tidak sempat membalas. Matanya menangkap pergerakan di lantai bawah. Dari kejauhan, sekelompok pria dengan perlengkapan tempur taktis mulai menaiki eskalator. Langkah mereka berirama, berat, dan penuh maksud mematikan.
Pasukan itu meluncur naik, hanya terpaut jarak beberapa puluh meter di seberang posisi mereka berdua.
Jantung Andersen berdegup kencang, namun ia memaksa otot-otot wajahnya untuk tetap relaks. Ia tidak boleh menunjukkan tanda-tanda permusuhan atau ketakutan.
Ia bersikap setenang mungkin, seolah-olah ia hanyalah seorang remaja biasa yang sedang menemani teman kencannya pulang, berusaha tidak menjadi titik fokus dalam radar penglihatan para pembunuh profesional itu.
"Andersen... siapa mereka?" tanya Seila pelan. Ia sempat menoleh beberapa kali ke arah pasukan yang terlihat sangat ganjil berada di tengah mal mewah itu. "Kenapa mereka membawa senjata?"
Andersen menarik lembut tangan Seila, menuntunnya agar terus berjalan tanpa perlu menoleh lagi.
"Tidak apa-apa, Seila. Jangan diperhatikan,"
"Mungkin mereka tim keamanan khusus yang sedang menjemput seseorang penting di atas. Kita hanya perlu terus berjalan."
Langkah kaki mereka menggema di koridor beton saat pintu lift terbuka di area basement. Suasana di sana begitu sunyi, hanya ada dengung lampu neon yang berkedip. Andersen mencoba memecah keheningan yang canggung.
"Seila... kamu akan pulang dengan siapa?" tanya Andersen.
Seila menunduk, memainkan jemarinya. "Sebenarnya aku harus menunggu supirku menjemput di lobi depan, jadi mungkin akan memakan waktu yang lumayan lama..."
Andersen menatap gadis itu sebentar. Rasa dingin merayap di tengkuknya, sebuah firasat buruk yang sudah sangat ia kenali. "Baiklah kalau begitu, apakah kamu ingin pergi bersama—"
DAR! DAR! DAR!
Kalimat Andersen terputus oleh suara hantaman peluru. Kali ini, serangan datang dari titik buta yang sama sekali tidak ia antisipasi. Tubuhnya terhentak hebat saat beberapa peluru menembus dadanya, menyebarkan rasa panas yang melumpuhkan.
Pandangannya memudar, dan hal terakhir yang ia rasakan adalah aspal dingin yang menyentuh pipinya, sementara jeritan Seila menghilang ditelan kegelapan.
Namun, kali ini ada yang berbeda.