NovelToon NovelToon
Pura-Pura Tak Kenal

Pura-Pura Tak Kenal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dijodohkan Orang Tua / Cintapertama
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rosida0161

Rio terpaksa menyetujui menikah dengan Rayi demi warisan supaya tak jatuh pada Rayi yang merupakan cucu dari teman sejati Kakek Brata.
Mereka kuliah di satu kampus dengan jurusan berbeda. Rayi terpaksa menerima syarat dari Rio bahwa di kampus mereka pura-pura tak kenal.
Namun mulai timbul masalah saat Didit teman satu kampus Rayi naksir gadis itu, dan Lala mantan Didit yang ingin mencelakai Rayi, serta Aruna teman sekolah naksir Rio kembali disaat hati Rio mulai bimbang untuk melepaskan Rayi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosida0161, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bertemu Gadis Yang Dulu Diam-Diam Naksir

Sebelum meninggalkan area latihan Rayi membawa daftar anggota club pulang untuk dipelajari siapa saja yang aktif serta yang punya prestasi yang memungkinkan dipilih untuk persiapan untuk diikut sertakan pada event antar club sejabotabek.

"Mbak Rayi ini daftar anggota aktif latihan dan memiliki potensi," Siswoaji pelatih menunggang kuda yang sudah tujuh tahun dipercaya oleh kakek Satya. Bahkan selain kakeknya Siswoaji merupakan pelatih tetapnya.

"Terima kasih, Om Aji," ujar Rayi menerima daftar anggota yang dimaksud oleh si pelatih "Om kapan latihan show jumping?"

"Minggu depan,"

"Oke,"

Saat Rayi menyetir mobil keluar dari area pacuan ada mobil yang coba mendekat. Dan saat ada sebuah mobil yang menghalangi laju mobil yang disetir Rayi, tahu-tahu mobil yang tak lain disetir Didit sudah ada di sebelahnya.

Didit menoleh pada Rayi, "Hai ..." serunya dengan senyum lebar.

"Hai ..." balas Rayi.

"Aku minta nomormu ..." Didit sedikit meninggikan suaranya sambil tangannya nempel ke telinganya menirukan orang sedang menelepon.

Tapi jalan depan sudah kosong membuat Rayi tak mengindahkan keinginan Didit, tangannya melambai lalu tancap maju meninggalkan mobil Didit yang terpaksa tak bisa mengejar, karena ada mobil yang tiba-tiba setengah memotong jalan di depannya.

Didit memukul setir mobilnya kesal karena mobilnya harus tertahan lagi, otomatis membiarkan mobil Rayi meninggalkan depan pacuan dan menjauh.

Sampai di depan rumah kakek Satya ternyata sopir amat sudah duduk di teras sedang menikmati kopi.

"Baru pulang, Non," sapa sopir Amat menyapa Rayi ramah sambil buru-buru berdiri.

"Pak Amat aku mandi sebentar, ya,"

"Baik, Non,"

Bergegas Rayi ke kamarnya untuk membersihkan dirinya. Hanya memerlukan waktu sepuluh menit sudah selesai dan sudah baju ganti dan membawa tas di punggungnya.

"Mampir sebentar ke meja di ruang tengah untuk meneguk coklat susu hangat kesukaannya yang telah disediakan si bibik yang sejak dirinya bayi sudah ikut mengasuhnya.

"Non pisang bakar menteganya," mbak mendekat sambil menyodorkan pisang bakar mentega kesukaannya.

"Makasih, Mbak," seperti terburu-buru Rayi menghabiskan dua pisang bakar mentega.

Bibik segera menuang air putih ke gelas dan diberikan pada Rayi.

"Terima kasih, Bik," segera segelas air berpindah ke perut Rayi "Sudah baik-baik di rumah, Bik, aku ke rumah Kakek Brata dulu ..."

"Baik, Non ..." ujar bibik dan mbak bersamaan.

Di ruang tamu Rayi mampir ke foto kakek Satya yang bersama dirinya, "Kek nanti kapan-kapan aku nginep di sini ..."

Sampai di rumah kakek Brata lelaki itu duduk di ruang tengah.

"Kakek ..." Rayi mencium punggung tangan lelaki yang menunggunya pulang.

"Bagaimana di lapangan lancar?" Kakek Brata telah memberi ijin pada Rayi untuk tetap berkegiatan di pacuan kuda, baik sebagai penunggang kuda, mau pun sebagai ketua club sekaligus pemilik club pacuan kuda.

"Alhamdulillah Kek,"

"Ya sudah istirahat dulu " ujar kakek Brata.

"Ya, Kek," segera Rayi menuju ke kamarnya.

Dan saat membuka pintu kamar langsung disambut oleh foto pernikahannya dengan Rio, membuat langkahnya tertahan.

"Ya ampun hampir lupa kalau aku ini sudah menikah ..." kemudian perlahan kakinya melangkah kearah fotonya bersama Rio.

Rayi menatap ke muka Rio yang tampan tapi terkesan cuek, bahkan dingin.

Terngiang kembali ucapan Rio.

"Dan aku juga berharap kamu sepakat dengan aku untuk menyelesaikan pernikahan ini setelah aku pulang dari Jepang. Satu lagi rahasiakan pernikahan ini dari teman-temanmu,"

"Huh nih laki dingin banget huh gua juga nggak naksir-naksir amat!" Dumel Rayi menunjuk foto Rio.

"Kamu masih delapan belas tahun harusnya fokus pada kuliahmu jangan keburu nikah-nikahan." kembali pada ucapan nyinyir Rio.

Huh lancang sekali dia nuduh aku kegatelan, siapa lagi yang mau nikah-nikahan!

Rayi menatap cincin berlian di jari manisnya, kalau saja tak takut kakek Brata curiga tak sudi dia mengenakannya.

Lalu dia melempar tubuhnya ke sofa, kalau tak takut pada kakek Brata ingin diturunkan foto pernikahannya dengan Rio.

"Ah aku harus melupakan laki arogan dan sombong itu, ada tugas untuk memeriksa daftar anggota yang aktif dan anggota pilihan Om Aji sebagai kandidat peserta di event tiga minggu lagi,"

Setelah makan malam segera Rayi pamit ke kamar untuk memeriksa daftar anggota club di pacuan kuda warisan kakeknya.

Rayi menemukan nama Didit Gunawan, hem benar dia absen hampir empat bulan dan mulai aktif lagi beberapa hari lalu saat dirinya menolong dari kuda yang ngambek.

Setiap selesai kuliah Rayi langsung pulang ke rumah kakek Satya, setelah makan dia istirahat untuk persiapan ke pacuan, karena sedang giat-giatnya latihan.

Siswoaji sebagai pelatih tak pernah main-main dalam memilih calon perserta yang akan mewakili Satya Club. Walau dirinya sudah empat kali juara pada tingkat Flat Racing sebanyak dua kali diusianya empat belas tahun dan lima belas tahun serta juara umum pada Jump Racing antar club di Jakarta, jika kali ini latihannya tak menunjukkan kemajuan tak akan pernah dipilih.

Rayi tak khawatir pada berat badannya, walau gelar juara sudah setahun lalu, tapi berat badannya masih tetap ideal, tak jauh dari empat puluh lima kilo. Artinya masih masuk banget untuk syarat berat badan untuk joki balapan kuda.

Rayi tersenyum saat ada nama Airin bersanding dengan namanya yang diproritaskan sebagai wakil dari clubnya bertanding dengan penunggang kuda pilihan club lainnya sejabodetabek, yang akan berlaga memperebutkan juara umum.

Jika di Jakarta Rayi sedang disibukkan dengan nama-nama keanggotaan club pacuan kuda, di Jepang Rio baru saja meninggalkan restaurant setelah dijamu begitu selesai meeting dengan calon patner kerjasama perusahaan.

Menuju lobhy hotel dengan langkah tenang, tiba-tiba.

"Rio ..."

Rio merasa ada yang memanggil namanya, tapi dia tak yakin.

"Rio Hadi Subrata ..."

Rio menghentikan langkahnya saat nama lengkapnya disebut.

Rio menoleh.

Seorang gadis cantik bergegas kearahnya.

"Rio benar ini kamu kan?" Seru gadis itu menatap lekap pada Rio yang juga menatapnya.

"Aruna ..." ujar Rio yang pada akhirnya dengan senyum cerah.

Gadis bernama Aruna tertawa dan mengulurkan tangannya, "Setelah hampir empat tahun tak bertemu ..."

Rio menerima uluran tangan Aruna.

Mereka saling menggenggam erat dan sama-sama tertawa cerah. Pertemuan sahabat lama sesama teman yang duduk di bangku sekolah lanjutan atas tiga setengah tahun lalu.

"Bagaimana kalau kita ngobrol sebentar?" Ajak Aruna seperti tak rela cowok yang dulu ditaksirnya lepas begitu saja.

"Boleh," angguk Rio lalu menarik tangannya dari genggam erat Aruna.

"Dimana?" Aruna mengerling Rio, dan diam-diam mengakui jika pemuda remaja yang dulu selalu serius belajar itu, kini menjelma menjadi lelaki dewasa yang gagah dan semakin tampan. Mana rela dia melepasnya begitu saja setelah sempat kecewa dulu tak bisa menggapai di tampan kutu buku.

"Di sekitar hotel sini saja, ya," ujar Rio yang tak mau membuang waktu berkendaraan secara badannya sudah lelah, sebenarnya ingin segera berendam di air hangat lalu meringkuk tidur di bawah selimut, karena besok masih ada acara kunjungan ke lapangan untuk melihat bahan-bahan yang dipergunakan oleh pabrik yang memproduksi alat-alat medis. Tapi tak sampai hati menolak ajakan Aruna, terlebih lagi gadis itu teman lama dan baru bertemu.

"Oke ke restaurant hotel ini saja, oke?" Aruna menawari.

"Oke,"

Maka keduanya menuju ke restaurant. Aruna memesan Flat Capucino begitu juga dengan Rio.

Sambil menikmati secangkir capucino mereka mengobrol sambil tertawa mengingat masa remaja dulu.

"Lalu kamu masih single, eh maksudku belum menikah dong ..." kerling Aruna.

Rio tersenyum. Nggak penting banget memberitahu pernikahannya yang mendadak dengan gadis remaja yang menurutnya bocil itu. Beruntung cincin kawin sudah dilepas sewaktu dia di bandara.

"Nggak menjawab berarti belum nikah, dong ..." agak lega hati Aruna jika lelaki yang pernah diimpikannya semasa sekolah dulu belum terikat pernikahan, "Kalau pacar gimana?"

Nah pas pertanyaan masalah pacar ada debar dalam dadanya. Masa seganteng Rio dan setajir cucu pewaris harta triliunan belum punya pacar sih.

Rio tersenyum dan tak memberikan jawaban. Dan Aruna terdiam sesaat hanyut oleh senyum lelaki yang terkenal kalem semasa di bangku sekolah, dan sampai saat ini ternyata senyum itu tak berubah, bahkan semakin menarik saja.

1
Rosida0161
ya mike up trimksih koreksinya
Ririn Rafika
semangat kak
Ririn Rafika
semangat kak
suka banget alurnya
Memyr 67
𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉𝗇𝗒𝖺? 𝖺𝗉𝖺 𝗂𝗇𝗂 𝗆𝖺𝗄𝗌𝗎𝖽 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗆𝗂𝗄𝖾 𝗎𝗉? 𝗈𝗍𝗁𝗈𝗋 𝗇𝗎𝗅𝗂𝗌, 𝗅𝗂𝗁𝖺𝗍 𝗄𝖺𝗆𝗎𝗌 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝗌𝗂𝗁?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!