NovelToon NovelToon
Bukan Simpanan Biasa

Bukan Simpanan Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Bullying dan Balas Dendam / Putri asli/palsu
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Itha Sulfiana

Starla, putri kandung seorang pengusaha kaya yang tidak disayang memutuskan menerima tawaran seorang pria untuk dijadikan simpanan. Setelah empat tahun berlalu, Starla pun memutuskan untuk tidak memperpanjang kontrak diantara mereka lagi. Starla meninggalkan Nino begitu saja. Hingga pada akhirnya, Nino ternyata berhasil menemukannya dan mulai terus membayanginya dengan cara mendekati Kanaya, kakak tiri Starla. Nino, pria yang terbiasa dipuja-puja oleh banyak wanita, jelas tidak terima dengan perbuatan Starla. Seharusnya, dia yang meninggalkan wanita itu. Namun, justru malah Starla yang meninggalkannya.
Berbekal dendam itu, Nino awalnya berniat untuk mempersulit Starla. Siapa sangka, di tengah rencananya mendekati Kanaya, Nino menemukan sebuah fakta bahwa selama ini Starla tak pernah merasakan bahagia. Sedari kecil, hidupnya selalu dirundung kesusahan. Hak-haknya bahkan direbut.
Berawal dari rasa penasaran, Nino justru mendapati bahwa perasaannya terhadap Starla ternyata sudah berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itha Sulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Steak dan bubur

Sepanjang perjalanan pulang, Nino terus memikirkan tentang Starla. Apa yang membuat Starla menangis? Kenapa hubungan Starla dan keluarganya terlihat tidak baik?

"Dika, cari tahu soal kehidupan Starla sebelum ke luar negeri. Aku ingin tahu semuanya tanpa terlewat sedikit pun."

Dika yang masih fokus menyetir segera mengangguk. "Baik, Tuan."

****

"Nona Starla, kenapa malam sekali pulangnya?"

Begitu sampai di rumah, Starla langsung disambut oleh Bibi Wirda yang ternyata sengaja menunggunya sampai pulang ke rumah. Ekspresi perempuan tua itu terlihat sangat khawatir.

"Nona Starla baik-baik saja, kan?" lanjut perempuan tua itu bertanya.

"Aku baik-baik saja, Bi," jawab Starla.

Bibi Wirda buru-buru ke dapur untuk membuatkan teh hangat. Udara terasa sangat dingin. Ia takut Starla jatuh sakit.

"Minum tehnya dulu, Nona!"

Starla menatap secangkir teh yang disodorkan ke depannya dengan mata berkaca-kaca. Satu-satunya orang yang peduli padanya di dunia ini hanya Bibi Wirda seorang.

"Terimakasih, Bibi," ucap Starla dengan suara serak.

Melihat ekspresi Starla yang tampak sedih, Bibi Wirda langsung merasa semakin khawatir.

"Apa terjadi sesuatu di sana?"

Starla tersenyum kecil. "Aku dan Papa ribut lagi," jawabnya.

Bibi Wirda menghela napas panjang. Dia merasa prihatin dengan hidup Starla yang begitu menyedihkan.

Sebagai seorang anak kandung, dirinya malah ditelantarkan begitu saja oleh sang Ayah. Sementara, anak tiri malah begitu disayang oleh Arlo.

"Tapi, Tuan Arlo tidak menyakiti Nona Starla, kan?"

"Tidak," geleng Starla. "Bibi, aku tidak ingin ke rumah itu lagi."

Starla berusaha menahan diri untuk tidak menangis. Tapi, tetap saja air matanya tak bisa dibendung lebih lama lagi.

"Ya, kalau Nona Starla tidak mau ke sana lagi, tidak usah. Nona Starla di sini saja bersama Bibi. Ya?"

Perempuan tua itu memeluk Starla dengan erat. Berusaha memberi perlindungan yang selama ini tak pernah didapatkan oleh Starla dari keluarganya sendiri.

*****

Keesokan harinya, Kanaya mengajak Nino untuk makan di restoran Starla. Awalnya, Nino menolak. Tapi, setelah dipikir-pikir, tak ada salahnya jika dia dan Kanaya berkunjung ke sana.

Hitung-hitung, untuk membuktikan rumor yang disebarkan Kanaya bahwa Starla memanfaatkan kecantikannya untuk menggoda pelanggan lelaki agar betah kembali ke restoran itu.

"Bos, meja nomor 14 ingin Anda yang melayaninya langsung," lapor salah satu pelayan di restoran Starla.

"Memangnya, tamunya siapa?" tanya Starla.

"Sebaiknya, Bos lihat sendiri saja!"

Dilihat dari ekspresinya, sepertinya pelayan itu sangat mengenal tamu itu. Starla yang didorong oleh rasa penasaran pun langsung keluar dari dapur untuk melihat siapa sebenarnya tamu itu.

"Kalian?" gumam Starla terkejut. Ternyata, yang datang adalah kakak tiri dan calon kakak iparnya.

"Hai, Starla!" sapa Kanaya berpura-pura ramah. "Apa kami merepotkan kamu? Maaf, ya! Tapi, aku tidak terbiasa di layani oleh orang asing. Itu sebabnya, aku meminta kamu untuk melayani kami secara langsung."

Kanaya sengaja memamerkan kemesraan dengan Nino. Dia memeluk lengan pria itu sambil menyandarkan kepalanya di bahu Nino.

"Kalian mau makan apa?" tanya Starla dengan sikap yang terlihat profesional.

"Bagaimana kalau kamu saja yang memilihkan menunya untuk kami?" usul Kanaya.

"Oke," angguk Starla setuju. "Kalau begitu, silakan tunggu sebentar! Makanannya akan segera diantar."

Starla langsung berbalik pergi. Sedikitpun, dia tak menoleh ke arah Nino. Sikapnya benar-benar cuek. Nino bagaikan patung yang tak ada artinya di mata Starla.

"Starla, maaf! Tapi, aku tidak bisa makan steak. Terlalu keras," ucap Kanaya begitu makanan datang.

"Tenang saja! Steak-nya lembut. Gigimu tidak akan copot walau kamu memakannya sampai habis," timpal Starla.

"Tapi, aku benar-benar tidak bisa. Nanti, lambungku bisa iritasi. Bisa tolong ganti dengan makanan yang lebih lembut?"

Starla tahu betul jika Kanaya sengaja mencari-cari masalah dengan dirinya. Oleh sebab itu, dia tak punya pilihan lain selain menuruti perintah kakak tirinya itu. Walau bagaimanapun, sekarang posisi Starla memang kurang menguntungkan. Ada nama restoran yang harus dia jaga dengan baik agar tidak dicemari oleh limbah macam Kanaya.

"Baiklah! Akan ku ganti," angguk Starla.

Dia kembali mengangkat piring di hadapan Kanaya untuk dibawa ke belakang. Namun, saat hendak mengambil piring milik Nino, pria itu malah menahan pergelangan tangan Starla.

"Punyaku tidak perlu ditukar," ujarnya. "Steak adalah makanan favoritku," lanjutnya.

Starla mengangguk patah-patah. Dia buru-buru menarik tangannya dari pegangan Nino lalu berjalan cepat menuju ke belakang.

Beberapa menit kemudian, Starla kembali keluar untuk menyajikan makanan pesanan Kanaya.

Kali ini, dia sengaja membawa bubur untuk si perempuan licik itu.

"Bubur?" Kening Kanaya tampak mengernyit kesal. "Aku bukan orang sakit, Starla. Ganti!" hardiknya.

"Maaf, Kakak," ucap Starla dengan tampang memelas. "Bukankah, kamu bilang kalau kau tidak bisa memakan makanan yang keras? Makanya, aku sengaja menyediakan bubur agar gigi tuamu tidak perlu bekerja keras lagi. Kamu cukup menghirupnya lalu menelannya. Bagaimana?"

Pfft.

Tanpa bisa dicegah, tawa Nino langsung menyembur keluar.

Brak.

Kanaya memukul meja. Starla sampai berjingkat kaget dibuatnya. Sementara, tawa Nino juga lansung berhenti.

"Kamu pikir, aku sudah jompo, hah?" tanya Kanaya meradang.

"Memangnya, belum?" tanya Starla.

"Tentu saja belum," jawab Kanaya dengan ketus. "Usiaku belum 30 tahun."

"Maaf, Kakak," timpal Starla. "Aku pikir, usiamu sudah 60 tahun. Wajahmu terlihat tua soalnya."

"Kau..."

"Sudah!" sambar Nino angkat bicara. Sebelum suasana semakin memanas, sebelum pertengkaran akhirnya tercipta, Nino harus bisa mengendalikan situasi yang ada.

"Kanaya, aku sudah sangat lapar. Sampai kapan kamu akan terus berdebat dengan adikmu, hah?" tanya Nino berpura-pura marah.

"Baiklah, kita makan," angguk Kanaya mengalah. "Starla, berikan kembali steak tadi!" titahnya kepada Starla.

"Maaf, steaknya sudah dibuang," kata Starla dengan ekspresi cuek.

"Kamu bisa buat lagi, kan?" Kanaya terlihat kesal sekali.

"Bahannya sudah habis," jawab Starla beralasan.

"Kalau begitu, sajikan makanan yang lain!"

"Makanan yang lain juga sudah habis. Satu-satunya makanan yang tersisa dan masih banyak hanya bubur ini," tukas Starla sembari menggeser mangkuk bubur diatas meja semakin dekat ke arah Starla.

Kanaya tampak cemberut. Namun, Starla sama sekali tidak peduli. Dia hanya tersenyum lalu bergegas untuk kembali ke dapur.

"Dasar sialan!" umpat Kanaya kesal.

Disampingnya, Nino menatapnya tajam sambil bergumam kecil, "Aku benci sekali dengan mulut perempuan yang suka mengumpat kotor."

Jleb.

Mulut Kanaya seketika terkunci rapat. Ucapan Nino sangat efektif membuatnya diam.

"Nino..." panggil Kanaya dengan hati-hati.

"Hm?" sahut Nino.

"Apa kita bisa bertukar makanan? Bubur ini rasanya hambar sekali. Aku tidak suka."

Sambil mesem-mesem sendiri, Kanaya menggeser buburnya ke dekat Nino. Dia sangat yakin jika Nino akan mengalah seperti kebanyakan pria yang lain. Pria itu pasti akan setuju untuk menukar makanan mereka.

Namun, yang terjadi malah sebaliknya. Nino menggeser kembali bubur itu ke depan Starla dan mengambil sikap yang terkesan melindungi makanannya sendiri.

"Kamu makan bubur saja! Bukankah, kamu bilang kalau kamu tidak suka steak ini? Jadi, biar aku saja yang menghabiskannya. Kamu makan bubur itu saja. Bagus untuk kesehatan mu."

"Tapi, aku...."

Terlambat! Nino sudah memakan steak miliknya dengan potongan besar-besar. Hal itu membuat Kanaya akhirnya menyerah.

"Cih, enak saja! Kau pikir, aku akan merelakan makanan yang dibuat oleh Starla untuk kau makan?! Aku sudah merindukan makanan ini selama berbulan-bulan. Mustahil, aku akan memberikannya secara cuma-cuma untuk perempuan seperti kamu."

1
Yulia Dhanty
bagus n menarik
mery harwati
Bagus Starla 👍
Buang laki² yang demi gengsi & ego tinggi hanya untuk merendahkan dirimu😠
Nino pikir di dunia hanya ada dia saja tanpa ada orang lain yang masih baik untuk menolongmu Starla 💪
mery harwati
Nino sama tolol & bodohnya dengan Arlo bila cara berpikirnya Starla akan datang & minta pertolongan sama dia, padahal Starla jelas² sudah bilang tak mau barang bekas Kanaya (termasuk Nino)
Starla bangkit & cari kebahagianmu tanpa Arlo & Nino, masih banyak orang yang baik padamu Starla 💪
Wiwit Manies
mana ini lanjutan nya /Pooh-pooh/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!