Sekelompok mahasiswa mengikuti KKN di Desa Wanasari, desa terpencil yang tak tercatat di peta digital. Siang hari tampak normal; malam hari dipenuhi bisikan, mimpi cabul yang terasa nyata, dan aturan ganjil yang justru mengundang pelanggaran.
Nara Ayudia, ketua KKN yang rasional, berusaha menjaga jarak emosional. Namun satu per satu anggota berubah. Raka digoda sosok perempuan dari sumur lewat mimpi; Lala menjadi sensual dan agresif saat malam tanpa ingatan; Siska disiksa lewat godaan yang bertabrakan dengan imannya; Dion menemukan jurnalnya terisi catatan ritual yang tak pernah ia tulis; Bima mengalami teror fisik paling awal.
Warga desa selalu ramah—dan selalu setengah jujur. Larangan dilanggar. Hubungan menjadi intim, obsesif, dan merusak. Kematian pertama membuka tabir: desa hidup dari tumbal.
Menjelang malam ke-37, terungkap bahwa tumbal terakhir haruslah pemimpin—yang paling kuat menahan diri, namun menyimpan hasrat terdalam. Pilihan desa jatuh pada Nara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. N. Aida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 — PINTU DITUTUP
Suara gedoran dan cakaran di pintu depan Joglo berhenti tepat saat azan Subuh berkumandang. Namun, azan itu tidak terdengar seperti panggilan ibadah yang menenangkan. Suara muazin dari surau kecil di ujung desa terdengar serak, terputus-putus, dan nadanya sumbang—seolah orang yang melantunkannya sedang tercekik atau menahan tawa.
Di ruang tengah, posisi mereka tidak berubah sejak semalam.
Nara duduk memeluk lutut dengan pisau dapur masih tergenggam erat di tangan kanannya. Sendi-sendi jarinya memutih, kaku. Di sebelahnya, Siska tertidur dalam posisi duduk sambil memegang tasbih, kelelahan setelah menangis berjam-jam. Raka melungker di lantai seperti binatang yang terluka, matanya terbuka lebar menatap kosong ke arah pintu, berkedip hanya sesekali.
Hanya Lala yang tidak ada di sana. Gadis itu kembali ke kamarnya sejak tengah malam, dan tak ada satu pun dari mereka yang berani memeriksa keadaannya.
"Udah pagi," bisik Dion. Suaranya memecah keheningan yang tebal seperti debu. "Suara Bima... udah ilang."
Nara mengangguk pelan. Lehernya sakit, kaku. "Kita harus keluar sekarang. Mumpung ada matahari."
"Keluar ke mana, Nar?" tanya Raka tanpa menoleh. Suaranya mati. "Lo denger sendiri Pak Wiryo. Jalanan longsor. Kita dikurung."
"Kita jalan kaki," tegas Nara. Ia berdiri, kakinya kesemutan hebat. "Kita cari sinyal di bukit. Atau kita jalan terus sampe ketemu jalan aspal provinsi. Gue nggak peduli butuh berapa hari. Yang penting kita keluar dari cekungan setan ini."
Nara membangunkan Siska. Gadis itu terlonjak kaget, matanya liar mencari ancaman.
"Kita pulang, Sis. Ayo siap-siap. Bawa yang penting aja. Air, dompet, hp," perintah Nara.
Mereka bergerak cepat, didorong oleh adrenalin ketakutan. Saat Nara hendak mendobrak pintu kamar Lala, pintu itu tidak terkunci.
Kamar itu kosong.
Kasur Lala rapi, spreinya kencang seolah tidak pernah ditiduri. Di atas bantal, tergeletak kebaya merah yang semalam Lala pakai, terlipat rapi. Di sebelahnya, ada secarik kertas dengan tulisan tangan yang indah dan meliuk-liuk:
Aku tidak pergi. Aku pulang.
Jangan dicari. Nanti kalian iri.
"Lala..." desis Nara. Ia meremas kertas itu. "Dia ninggalin kita? Atau dia dibawa mereka?"
"Dia pergi sendiri, Nar," kata Dion dari ambang pintu. Ia menunjuk ke lantai.
Di ubin tegel yang dingin, ada jejak kaki basah. Tapi bukan jejak lumpur. Jejak itu berwarna merah kecokelatan—darah campur tanah liat. Jejak itu mengarah ke jendela kamar yang terbuka lebar.
"Kita nggak bisa nyari Lala sekarang," kata Raka panik, menyambar tas ranselnya. "Kalau kita nyari dia, kita semua mati. Kita harus cabut. Sekarang!"
Nara bimbang. Instingnya sebagai ketua berteriak untuk tidak meninggalkan anggota. Tapi logika bertahan hidupnya lebih keras. Lala sudah berubah. Lala yang semalam... itu bukan lagi temannya.
"Oke," putus Nara berat. "Kita jalan. Kalau ketemu polisi atau warga di luar, kita minta bantuan buat jemput Lala dan jenazah Bima."
Mereka berempat keluar dari Joglo. Pintu depan yang semalam digedor oleh "Bima", kini penuh dengan bekas cakaran dalam. Serpihan kayu berserakan di lantai. Dan di gagang pintu, tertinggal sepotong kuku jari manusia yang copot. Biru dan berdarah.
Siska menutup mulutnya menahan muntah.
Mereka berjalan cepat, setengah berlari, menyusuri jalan desa yang sepi. Kabut pagi ini lebih tebal dari biasanya. Jarak pandang hanya lima meter. Rumah-rumah warga tertutup rapat, pintu dan jendelanya dipalang dari dalam. Tidak ada aktivitas pagi. Desa Wanasari tampak seperti desa mati.
Namun, Nara merasa ribuan mata mengintip dari celah-celah dinding kayu itu. Mengawasi. Menunggu.
"Mobil kita di perbatasan desa kan?" tanya Dion.
"Iya, diparkir deket gapura masuk," jawab Raka. "Kuncinya masih di gue."
Mereka mempercepat langkah. Napas mereka memburu, menciptakan uap putih di udara dingin.
Setelah sepuluh menit berjalan, mereka sampai di tempat yang seharusnya menjadi batas desa.
Nara berhenti mendadak. Dion menabrak punggungnya.
"Lho?" Raka melongo. "Gapuranya mana?"
Di depan mereka, tidak ada gapura selamat datang. Tidak ada jalan tanah berbatu yang kemarin mereka lewati.
Yang ada hanyalah dinding pepohonan.
Pohon-pohon jati raksasa dan semak berduri tumbuh rapat, seolah sudah berada di sana selama ratusan tahun. Akar-akarnya menyembul keluar dari tanah seperti urat nadi raksasa.
"Kita salah jalan kali," kata Siska, suaranya mulai histeris. "Iya kan? Kabutnya tebel, kita pasti muter."
"Nggak mungkin," bantah Raka. "Ini satu-satunya jalan utama. Gue inget pohon beringin itu!"
Raka menunjuk pohon beringin besar di sisi kanan. Itu penandanya. Kemarin, gapura desa ada tepat di sebelah pohon beringin itu. Sekarang, di sebelah beringin itu hanya ada hutan lebat yang gelap.
"Jalannya ilang..." bisik Dion. Ia mengeluarkan kompas dari sakunya. Jarum kompas itu berputar liar, tidak menunjuk utara, melainkan berputar 360 derajat tanpa henti. "Medan magnetnya kacau."
"Cari mobilnya!" teriak Nara. "Kalau mobilnya masih ada, berarti jalannya ketutup longsor atau semak. Kita bisa terobos!"
Mereka menyebar sedikit, menyibak semak-semak basah.
"Di sini!" teriak Dion.
Nara dan yang lain berlari mendekat.
Apa yang mereka lihat membuat harapan mereka hancur berkeping-keping.
Mobil Elf travel yang mereka sewa memang ada di sana. Tapi kondisinya tidak masuk akal.
Mobil itu sudah menyatu dengan hutan.
Tanaman merambat liar telah melilit seluruh bodi mobil, menutupi kaca, menembus masuk lewat celah pintu. Ban mobil sudah hilang, velgnya terbenam setengah meter ke dalam tanah. Cat mobil yang kemarin putih bersih, kini berkarat parah, mengelupas seolah mobil itu sudah ditinggalkan di sana selama dua puluh tahun.
"Nggak mungkin..." Raka mundur, menggelengkan kepala. "Kemarin sore kita baru parkir di sini. Kemarin sore mesinnya masih nyala!"
Nara mendekat, menyentuh kap mesin. Dingin. Dan kasar oleh karat. Ia mengintip ke dalam lewat kaca yang pecah dan ditumbuhi lumut. Jok mobil sudah hancur, busanya keluar, menjadi sarang semut rangrang.
"Satu malam..." gumam Nara. "Hutan ini makan besi dalam satu malam."
"Kita nggak bisa keluar," Siska jatuh terduduk di tanah basah, menangis tanpa suara. "Kita bakal mati di sini kayak mobil ini."
Tiba-tiba, dari arah hutan yang menutupi jalan, muncul sosok-sosok manusia.
Mereka keluar dari balik kabut, satu per satu.
Kang Jaya.
Pak Wiryo.
Mbah Sakir.
Dan puluhan pemuda desa lainnya.
Mereka tidak membawa cangkul atau arit. Mereka berdiri diam, membentuk barikade manusia yang menutup satu-satunya akses keluar yang sudah hilang itu.
Pak Wiryo tersenyum. Senyum kebapakan yang kini terlihat sangat menjijikkan di mata Nara.
"Sudah mau pulang, Nak Nara?" sapa Pak Wiryo ramah. "Padahal sarapan belum dimakan. Kopinya belum diminum."
"Buka jalannya, Pak!" teriak Nara, mengacungkan pisau dapurnya yang gemetar. "Biarkan kami lewat!"
Pak Wiryo tertawa pelan. Ia melangkah maju, tidak takut sedikit pun pada pisau kecil itu.
"Jalan?" Pak Wiryo merentangkan tangan. "Jalan itu sudah tidak ada. Wanasari sudah menutup pintu. Tamu yang sudah masuk, tidak boleh keluar sebelum hajat selesai."
"Ini penculikan! Saya lapor polisi!" ancam Raka, meski ia tahu ancamannya kosong.
"Polisi?" Kang Jaya mencibir. "Di peta pemerintah, desa ini cuma hutan lindung, Mas. Nggak ada catatan kependudukan. Nggak ada sinyal. Kalian hilang di sini, dunia luar cuma bakal nganggep kalian tersesat di gunung dan dimakan macan."
Nara merasakan dingin merambat dari ujung kaki ke kepala. Realitas menghantamnya telak. Mereka tidak ada di wilayah hukum Indonesia. Mereka ada di wilayah hukum rimba gaib.
"Kenapa kami?" tanya Dion. Suaranya tenang, tapi matanya memancarkan keputusasaan intelektual. "Kenapa harus mahasiswa KKN?"
Mbah Sakir maju, tongkat kayunya mengetuk tanah. Tuk. Tuk.
"Karena kalian muda," suara kakek tua itu berdesis. "Darah kalian panas. Emosi kalian labil. Nafsu kalian besar. Itu energi terbaik untuk membangunkan Ibu Ratu."
"Setiap sepuluh tahun," lanjut Pak Wiryo, "Kami butuh energi baru untuk menjaga tanah ini tetap subur. Untuk menjaga kami tetap... sehat."
Pak Wiryo menunjuk wajah-wajah warga desa di belakangnya. Nara baru menyadari sesuatu. Warga desa ini... kulit mereka terlalu kencang untuk usia mereka. Mata mereka terlalu jernih. Tidak ada yang sakit-sakitan. Mereka "memanen" kemudaan dari tumbal-tumbal sebelumnya.
"Dan kalian," Pak Wiryo menatap Nara lurus tepat di manik mata. "Kalian adalah panen terbaik yang pernah kami dapat. Terutama kamu, Nara."
"Kenapa gue?" tantang Nara.
"Karena kamu keras," jawab Pak Wiryo kagum. "Kamu menahan diri. Kamu logis. Kamu tidak mudah tergoda. Daging yang alot... kalau dimasak lama... rasanya paling gurih. Ibu Ratu suka tantangan."
"Bima itu pembuka," jelas Kang Jaya sambil menyalakan rokok klobot. "Lala itu wadah baru. Raka... Raka itu cadangan energi. Siska itu bumbu penyedap rasa takut. Dan kamu, Nara... kamu adalah Hidangan Utama."
"Sialan!" Raka tidak tahan lagi. Ia melempar tasnya dan berlari menerjang Kang Jaya. "Mati lo semua!"
Kang Jaya tidak bergerak. Saat Raka sudah dekat, Kang Jaya hanya mengibaskan tangannya santai.
BUGH!
Raka terpental dua meter ke belakang, seolah menabrak tembok besi tak terlihat. Ia jatuh berguling, muntah darah. Dada Raka—bekas cakaran itu—berasap.
"Jangan kasar," tegur Kang Jaya. "Tubuhmu sudah ditandai Rini. Kamu milik dia. Kalau kamu lecet, Rini marah sama saya."
Raka mengerang kesakitan, memegangi dadanya yang serasa terbakar.
"Bawa mereka kembali ke Joglo," perintah Pak Wiryo. "Kunci dari luar. Jangan dikasih makan nasi. Kasih bunga kantil dan air kelapa muda saja. Kita butuh mereka bersih untuk ritual malam ke-37."
"Itu masih seminggu lagi!" teriak Nara saat tangan-tangan kekar pemuda desa mencengkeram lengannya.
"Seminggu di sini terasa cepat, Nak," bisik Pak Wiryo saat Nara diseret melewatinya. "Nikmati sisa waktumu menjadi manusia. Karena setelah ini... kamu akan menjadi abadi di dalam perut bumi."
Mereka diseret paksa kembali ke Joglo. Tidak ada perlawanan berarti. Tenaga mereka kalah jauh oleh kekuatan supranatural yang melindungi warga desa.
Sesampainya di Joglo, mereka dilempar masuk ke ruang tengah. Pintu utama ditutup dari luar. Terdengar suara palang kayu besar dipasang dan dipaku. DOK! DOK! DOK!
Mereka dikubur hidup-hidup di dalam rumah.
"Kita abis..." isak Siska. "Kita beneran abis."
Nara merangkak mendekati jendela. Dipalang papan tebal dari luar. Hanya ada celah kecil untuk cahaya masuk.
Di dalam keremangan itu, Dion kembali membuka jurnalnya. Ia menyalakan korek api untuk penerangan.
"Nar," panggil Dion. Suaranya aneh.
Nara menoleh.
"Ada tulisan baru lagi," kata Dion. "Tapi kali ini bukan tulisan tangan kasar itu."
"Terus?"
"Ini tulisan tangan gue. Tapi gue nggak ngerasa nulis."
Dion membacakan isi jurnal itu dengan suara bergetar:
Nara, ini Dion. Kalau kamu baca ini, berarti Dion yang asli sudah hilang.
Logikaku sudah runtuh. Aku mulai paham pola desa ini.
Ini bukan sekadar ritual tumbal. Ini siklus kelahiran kembali.
Mereka tidak membunuh kita. Mereka mengganti kita.
Lala sudah berhasil diganti. Jiwanya sudah dibuang, tubuhnya dipakai.
Aku sedang proses. Pikiranku mulai terpecah. Aku melihat diriku sendiri berdiri di sudut ruangan, tersenyum padaku.
Nara, satu-satunya cara keluar adalah dengan tidak menjadi manusia.
Atau... menjadi yang paling kejam di antara mereka.
Bunuh wadahnya sebelum isinya penuh.
Bunuh Lala.
Nara terdiam. Bunuh Lala?
Tiba-tiba, pintu kamar Lala terbuka perlahan.
Gadis itu keluar.
Lala masih memakai kebaya merah yang sama. Tapi kini, wajahnya dirias lengkap layaknya pengantin Jawa. Paes hitam menghias dahinya. Bibirnya merah darah. Dan aroma melati yang menguar dari tubuhnya begitu pekat hingga membuat kepala pusing.
Lala tidak berjalan. Ia melayang tipis di atas lantai—ujung kain jariknya tidak menyentuh debu.
Lala tersenyum pada mereka berempat yang meringkuk ketakutan.
"Selamat datang kembali di rumah," sapa Lala. Suaranya ganda—suara Lala yang cempreng bertumpuk dengan suara wanita dewasa yang berat dan berwibawa. "Maaf rumahnya berantakan. Nanti malam 'suami-suami' kalian datang. Persiapkan diri ya."
Lala menatap Raka yang terkapar.
"Mas Raka..." Lala mendekat, berjongkok. "Rini titip salam. Katanya dia kangen. Nanti malam dia mau 'main' lagi. Jangan lari ya. Rini suka yang pasrah."
Raka menjerit, menyeret tubuhnya mundur sampai menabrak tembok.
Nara menatap Lala—atau makhluk yang memakai wajah Lala. Tangannya kembali meraba gagang pisau dapur yang ia selipkan di pinggang.
Kata-kata di jurnal Dion terngiang: Bunuh wadahnya sebelum isinya penuh.
Nara sadar, KKN ini bukan lagi soal pengabdian. Ini adalah perang perebutan tubuh. Dan jika ia harus membunuh sahabatnya sendiri untuk bertahan hidup... mungkin itulah ujian terakhir untuk menjadi "pemimpin" yang diinginkan desa ini.
Di luar, langit Desa Wanasari berubah menjadi ungu gelap, seolah memar yang menutupi seluruh cakrawala. Pintu telah ditutup. Dan di dalam, monster itu sudah tinggal satu atap bersama mereka.