menceritakan sang pangeran bernama iglesias Lucyfer seorang pangeran yang manja dan kekanak-kanakan suatu hari dia dan kakak perempuan Lucyfer iglesias Elice ingin menjadi penyihir high magnus dan bertahun tahun berlalu di mana saat sang kakak kembali lagi ke kerajaan vantier Elice berubah pesat dan menjadi sangat dingin, perfeksionis,fokus dan tak peduli dengan siapapun bahkan Elice malah menantang sang adik dan bertarung dengan sang adik tetapi sang adik tak bisa apa apa dan kalah dalam satu teknik sihir Elice,dan Elice mulai menyadarkan Lucyfer kalau penyihir seperti nya tak akan berkembang dan membuat lucyfer tetap di sana selama nya dan sang adik tak menyerah dia ke akademi yang sama seperti kakak nya dan mulai bertekad menjadi high magnus dan ingin membuktikan kalau diri nya sendiri bisa jadi high magnus tanpa kakak nya dan Lucyfer akan berjuang menjadi yang terhebat dengan 15 teman teman nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nakuho, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
aku yang muak jadi bayang bayang mu
Alun-alun kota Vantier gempar.
Dari kejauhan, sebuah gundukan es raksasa menjulang ke langit malam—tingginya melampaui atap bangunan, memantulkan cahaya obor dan bulan hingga tampak seperti menara kristal kematian. Warga berhamburan keluar rumah, menengadah dengan wajah pucat
“Apa itu…?”
“Es? Sebesar itu?”
“Kerajaan diserang?!”
“Ma—mah, aku takut…”
Bisik-bisik berubah menjadi kepanikan kecil.
Anak-anak ditarik ke pelukan dan di bawa kembali ke rumah mereka masing masing, para pedagang menutup kios, dan lonceng penjaga hampir saja dibunyikan—hingga derap kuda memecah kerumunan.
Para prajurit kerajaan berpatroli cepat.
“Tenang!”
“Itu bukan serangan musuh!”
“Tidak ada invasi!”
“Harap kembali beraktivitas seperti biasa!”
Suara mereka tegas, namun pandangan para warga masih tertuju pada gundukan es itu—diam, dingin, dan terlalu megah untuk disebut “biasa”.
Tak ada yang tahu…
bahwa di puncaknya, seorang pangeran sedang membeku—bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya.
Lucyfer masih terjebak di gundukan raksasa itu sambil menangis.
Para pelayan mulai membantu Lucyfer untuk keluar dari gundukan es raksasa itu.
“pangeran bertahanlah,”
“kalian segera keluarkan pangeran Lucyfer,”
“panggil Elf penyembuh.”
para pelayan yang berbondong-bondong membantu mengeluarkan Lucyfer dari gundukan es raksasa itu.
Tubuhnya gemetar hebat. Ujung jarinya membiru, kaku, nyaris tak bisa digerakkan.
Air mata mengalir tanpa suara, bercampur embun es yang belum sepenuhnya mencair.
Para pelayan istana bergegas mengelilinginya, menyelimutinya, membopongnya menuju Elf penyembuh.
“Pembekuan sementara,” ujar Elf itu setelah pemeriksaan singkat.
“Tidak fatal. Namun dinginnya cukup dalam. Tolong istirahat total ya pangeran."
Lucyfer tidak mengangguk dan hanya menunduk.
Di lorong istana, langkahnya gontai. Setiap langkah terasa berat, seolah lantai dingin menertawakan kelemahannya. Air mata jatuh satu per satu—sunyi, memalukan, tak tertahan.
Di kamarnya, Elviera menyambut—namun cangkir air di tangannya jatuh dan tumpah saat melihat kondisi Lucyfer.
“T-tuan muda—!”
“Anda demam… dan dingin sekali. Berbaring. Sekarang.”
Ia menyelimuti Lucyfer dengan beberapa lapis selimut, memeluknya erat. Tubuh Lucyfer masih bergetar karena kedinginan.
“Ada apa tuan muda Lucyfer…?” suara Elviera melembut.
“Ceritakan. Aku di sini untuk anda.”
Namun kata-kata itu hancur sebelum sempat terucap. Yang tersisa hanya gema kalimat kejam di kepala Lucyfer—kata-kata kakaknya—menusuk lebih dingin dari es.
Ia menangis tersedu, memeluk Elviera sekuat tenaga.
“Kakak… Elice…”
“S-dia…”
Elviera terdiam dan memeluk Lucyfer lebih erat lagi.
“Putri Elice… menindas anda?”
Lucyfer tak menjawab. Ia hanya menunduk. Kepalanya pusing, dadanya sesak. Dunia yang selama ini hangat—runtuh dalam satu malam.
Keesokan harinya, kamar Lucyfer tertutup rapat dan dikunci dari dalam.
Elviera tidak masuk. Ia tahu—anak ini butuh ruang dan Elviera juga tahu Lucyfer memiliki mental yang sangat sangat rapuh sekali.
Di dalam kamar Lucyfer suara barang pecah bergema. Vas, buku, pakaian, kursi—semuanya hancur.
Nafas Lucyfer terengah, matanya merah penuh amarah dan kekecewaan.
“Kenapa…?”
“Aku sudah berlatih…”
“Aku ingin setara…”
Tangannya mengepal dengan kuat.
Ia mengingat jelas tatapan dan sifat Elice yang dingin nampak seperti menertawakan diri nya yang lemah.
“Tatapanmu itu…”
“Benar-benar membuatku ingin… menghancurkan mu."
Di balik lorong istana, dari kejauhan, Elice dan seraphina mengamati.
“Nona Elice apa anda tak terlalu kejam dengan pangeran Lucyfer,”kata Seraphina
“maafkan aku kalau aku menyinggung anda.”
Ia melihat adiknya hancur.
Menangis.
Marah.
Namun wajahnya tetap dingin.
“Aku melakukan ini,” gumamnya pelan,
“karena aku tak mau Lucyfer merasakan dunia sihir yang kejam itu dia alami.”
Tatapannya tajam, tak goyah seolah olah yang dia katakan adalah aku tak pernah salah.
“Jika kau bertahan…”
“kau akan menjadi lebih kuat Lucyfer.”
Dan Elice menatap sedikit lembut ke Lucyfer.
“Lucyfer aku melakukan itu karena aku sayang dan ingin melindungi mu,"
"aku tidak membenci mu,sedikitpun."
Ia berbalik.
Tanpa penyesalan.
Tanpa permintaan maaf ke Lucyfer.
Dan di antara mereka—
jarak yang tak lagi bisa dibekukan oleh es,
atau dijembatani oleh darah.