Dunia mereka berbeda, tapi takdir mempertemukan hati yang kesepian.”
Sinopsis;Raina hanya ingin hidup tenang, bekerja keras untuk adik-adiknya. Tapi sebuah pertemuan di jalan sepi pinggiran Bogor mengubah semuanya. Julian Jae Hartmann, CEO muda yang dingin dan penuh rahasia, kini tergantung pada kebaikan gadis sederhana ini.
Di balik ketegasan Julian, tersimpan rahasia kelam, intrik keluarga, dan dendam masa lalu yang mengintai dari bayang-bayang. Dua hati yang berbeda dunia, terjebak oleh takdir, harus belajar mempercayai dan menyembuhkan luka masing-masing.
Akankah cinta mampu menembus dinding dingin dan rahasia yang mengelilingi mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Richacymuts, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Daniel langsung menuju ke RS Bhayangkara malam itu, begitu mendangar kabar dari tim investigasi temannya. Mengikuti titik yang dikirim. Mereka tak memberi detail banyak—hanya lokasi yang diduga menjadi tempat seorang pria tak dikenal dengan ciri-ciri mirip Julian sedang dirawat.
Sesampainya di sana,Daniel tidak langsung masuk dulu.
Ia duduk diam di dalam mobil sambil memperhatikan pintu masuk utama lobby rumah sakit dari kejauhan, napasnya berat dan panas seperti menahan badai.
Kalau ini benar-benar Julian ada di sini…
Tidak boleh ada yang tahu dulu.
Tidak boleh ada wartawan, investor, atau orang-orang yang sedang mengincar nyawa bosnya itu.
Ia menghubungi timnya cepat.
“Pastikan tidak ada orang lain yang mengikuti sinyal ini. Kalau ada, singkirkan secara diam-diam,” katanya, suaranya rendah tapi penuh ancaman yang ia sendiri belum pernah rasakan sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, seseorang keluar dari pintu utama lobby rumah sakit,seorang perempuan berjaket coklat dan tas selempang kecil.
Daniel memperhatikannya dari balik kaca mobil.
Tidak kenal.
Tidak terlihat berbahaya.
Gerak-geriknya canggung, wajahnya letih.
Siapa kamu? Kenapa kamu di dekat Julian? Apa kamu saksi? Atau diutus seseorang?
Daniel mengetatkan rahangnya. Tidak boleh gegabah.
Daniel menghubungi tim investigasi kembali dan meminta untuk mencari tahu tentang detail siapa wanita yang berada di dekat Julian.
Ia menunggu. Mengamati wanita itu berjalan menyusuri lorong menuju bangsal ICU. Cara perempuan itu bergerak tidak mencurigakan—justru sebaliknya, tampak seperti seseorang yang kelelahan menjaga pasien.
Beberapa saat kemudian wanita itu kembali lagi
Daniel lalu diam diam mengikuti wanita itu masuk ke dalam rumah sakit sampai ke koridor ruang ICU,dia harus memastikan apakah benar Julian berada di sini.
Setelah wanita itu masuk ruang ICU Daniel mendekat dan melihat dari kaca
ruangan ICU melihat tubuh yang tertidur dengan selang dan monitor—dan detak jantungnya langsung melonjak.
Itu dia.
Julian.
Hidup.
Masih bernapas.
Tapi hampir tidak dikenali.
Daniel memejamkan mata, menahan emosi yang naik terlalu cepat.
Bukan sekadar lega—tapi juga kemarahan yang menggumpal, bergetar, dan menyakitkan.
"Siapa pun yang melakukan ini padamu…
…aku akan cari sampai ujung dunia."
Ia menarik napas panjang, membuka mata lagi. Tidak boleh masuk. Belum sekarang. Ia harus memastikan area sekitar aman, memastikan perempuan tadi bukan ancaman, memastikan tidak ada orang lain yang lebih dulu menemukan Julian.
Semua ini harus rapat, tersembunyi, tak boleh bocor sampai ia tahu siapa yang berada di balik kecelakaan itu.
Pandangan Daniel kembali pada Julian, namun ia tetap berdiri di kejauhan, seperti bayangan.
“Bertahanlah sedikit lagi,” gumamnya lirih, suara penuh luka dan api.
“Aku sudah menemukanmu… dan aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhmu lagi.”
Daniel menyingkir dari jendela ICU sebelum siapa pun menyadari keberadaannya. Ia berjalan cepat menuju area parkir belakang, tempat ia bisa berbicara tanpa terdengar.
Telepon satelit kecil di sakunya bergetar pelan—kode dari tim yang sudah tiba lebih dulu.
“Lokasi aman,” laporan singkat terdengar di telinganya.
“Bagus,” jawab Daniel cepat. “Kirimkan dua orang untuk berjaga di luar bangsal ICU. Tidak perlu kontak dengan siapa pun. Pantau saja siapa yang masuk dan keluar.Jangan sampai ada yang curiga "
“Siap.”
Ia memutus sambungan, lalu langsung menghubungi kontak lain—sebuah nomor yang tidak pernah ia pakai kecuali keadaan benar-benar kritis: tim IP medis pribadi perusahaan, unit yang biasanya disiapkan untuk pengamanan darurat eksekutif.
“Ini Daniel Weber . Kita punya situasi level merah. Aku butuh dua tenaga medis berjaga di RS Bhayangkara, Indonesia.mulai malam ini. Pantau kondisi pasien atas nama tidak disebutkan, tapi aku akan kirimkan catatan medisnya nanti dan alamat lengkapnya.”
Suara di seberang langsung berubah waspada.
“Baik, Pak. Perawatan standar atau protokol penuh?”
“Untuk sekarang, pantauan penuh. Jangan menampakkan identitas. Jangan bicara dengan siapa pun.”
“Dimengerti.”
Daniel mengembuskan napas yang sejak tadi ia tahan. Satu lapisan keamanan sudah terpasang.
Sekarang lapisan kedua.
Ia berjalan menuju ruang administrasi rumah sakit dan meminta bicara dengan kepala bagian perawatan. Sikapnya tenang, rapi, namun sorot matanya tajam—dan tanpa banyak pertanyaan, pihak rumah sakit menerima kehadirannya seperti seseorang yang sangat penting.
“Saya ingin pasien dari kamar ICU 3 dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP begitu kondisinya stabil,” ucap Daniel tegas. “Pastikan semua peralatan disiapkan, termasuk monitor mandiri.”
Petugas itu menatapnya ragu. “Baik, Pak. Tapi… apakah keluarga pasien—”
“Tidak perlu diberi tahu,” potong Daniel halus namun dingin. “Anggap saja itu bentuk perhatian dari pihak rumah sakit. Tidak ada pemberitahuan kepada pengantar pasien...”
Daniel sengaja tidak menyebut nama wanita yang dia ketahui dekat dengan Julian selama menghilang.Daniel merasa harus tetap hati-hati dengan wanita itu.
Ia tidak ingin melibatkan wanita itu lebih dalam sebelum ia tahu apa perannya—atau apakah ia benar-benar hanya orang baik yang kebetulan lewat.
Petugas mengangguk cepat. “Baik, Pak. Kami jaga kerahasiaannya.”
Daniel mengangguk puas.
Setelah semua selesai, ia kembali ke lorong ICU. Dari kejauhan, ia melihat Raina masih duduk di dekat brangkar Julian , menatap Julian dengan wajah letih.
Ia memperhatikannya beberapa detik. Sikapnya… tidak tampak mencurigakan. Justru terlihat seperti seseorang yang benar-benar peduli.
Tetap saja, Daniel tidak akan mengandalkan perasaan.
Bagi dunia, Julian Jae Hartmann masih cuti.
Dan sampai ia mengetahui siapa yang berani menyentuh CEO keluarga Hartmann, semuanya harus tetap seperti itu.
Dengan langkah tenang yang justru terasa dingin, Daniel berbalik dan menghilang ke arah tangga darurat.
Malam ini, pengamanan baru saja dimulai.