Sophia lahir dari keluarga sederhana di pinggiran kota London. Hidupnya tak pernah berlebih, namun penuh kehangatan dari kedua orang tuanya. Hingga suatu hari, datang tawaran yang tampak seperti sebuah pertolongan—keluarga kaya raya, Mr. Rich Charter, menjanjikan masa depan dan kestabilan finansial bagi keluarganya. Namun di balik kebaikan itu, tersimpan jebakan yang tak terduga.
Tanpa sepengetahuan Sophia, orang tuanya diminta menandatangani sebuah dokumen yang mereka kira hanyalah kontrak kerja sama. Padahal, di balik lembaran kertas itu tersembunyi perjanjian gelap. Yakni, pernikahan antara Sophia dan putra tunggal keluarga Charter.
Hari ketika Sophia menandatangani kertas tersebut, hidup Sophia berubah selamanya. Ia bukan lagi gadis bebas yang bermimpi menjadi pelukis. Ia kini terikat pada seorang pria dingin dan penuh misteri, Bill Erthan Charter—pewaris tunggal yang menganggap pernikahan itu hanya permainan kekuasaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SALAM PERKENALKAN YANG SULIT DITERIMA
Grace melangkah keluar dari kamar dengan anggun, langkahnya terukur dan berwibawa. Gaun malam berwarna merah marun yang ia kenakan memeluk tubuhnya dengan sempurna, terbuat dari bahan yang lembut dan jatuh. Potongan bahu terbuka menampilkan kulit pucatnya yang berkilau bagai porselen, sementara deretan batu permata kecil di bagian dada berpendar setiap kali ia bergerak.
Rambutnya terurai bergelombang, sebagian disematkan dengan jepit perak berbentuk mawar. Di pergelangan tangannya yang menenteng tas mewah, gelang berlian berkilau setiap kali jari-jarinya bergerak lembut. Dan, sepatu hak tinggi berwarna senada menimbulkan suara lembut tak… tak… tak… di lantai marmer abu yang dingin.
Lorong rumah itu seolah memberi jalan baginya—dinding berlapis lukisan klasik, aroma bunga lily dari vas kristal di setiap sudut, dan bayangan tubuhnya yang memanjang di lantai karena cahaya lampu temaram.
Sesaat, Grace mengangkat dagunya sedikit—gerakan kecil namun sarat gengsi—ketika matanya menangkap sosok yang datang dari arah berlawanan.
Langkahnya melambat. Di ujung lorong, berdiri seorang gadis dengan pakaian sederhana yang tampak kusam di bawah cahaya lampu gantung. Kain bajunya tampak lusuh, warna lembutnya pudar seperti telah terlalu sering dicuci, dan rambutnya yang tergerai tampak sedikit kusut. Itulah Sophia.
Untuk sejenak, dunia seakan hening.
Sorot mata Grace menyapu gadis itu dari ujung kepala hingga kaki—penuh penilaian, nyaris dingin. Kontras antara mereka terasa tajam; kemewahan dan kesederhanaan bertemu dalam satu lorong yang terlalu mewah untuk menampung keduanya.
Sophia menunduk sedikit, bukan karena takut, melainkan karena sadar akan perbedaan dunia di antara mereka. Jemarinya menggenggam ujung bajunya yang lusuh, seolah ingin menyembunyikan kekakuan yang tak bisa dihindari.
"Waw, lihat. Siapa ini?" Sapa Grace mendekat.
Sophia setengah menunduk, pandangannya bergetar di antara lantai marmer yang memantulkan cahaya dan bayangan sosok anggun yang kini mendekat perlahan. Napasnya tertahan. Ia masih ingat jelas wanita itu—wanita yang ia lihat di kamar timur, tidur bersama Bill dengan tatapan penuh kuasa dan senyum tipis yang menusuk.
Kini, wanita itu berjalan ke arahnya. Setiap langkah Grace terdengar tegas namun halus, seperti irama dari dunia yang berbeda—dunia yang tidak pernah bisa dijangkau Sophia. Gaunnya bergoyang lembut mengikuti gerak tubuh, menciptakan desis halus kain mahal yang bergesekan dengan udara. Aroma parfum bunga mawar dan vanilla samar-samar tercium, menguasai ruang di antara mereka.
"Seperti inikah calon istri kekasihku?" Lanjut Grace, tertawa pahit dan terdengar merendahkan. "Memalukan! Entah darimana lelaki bau tanah itu mendapatkan wanita miskin seperti yang ada di depan mataku sekarang ini..." Grace menggeleng pelan.
Sophia menelan ludah pelan. Ada sesuatu yang membuat tubuhnya kaku—bukan hanya karena kemewahan sosok di hadapannya, bukan juga karena ingatan tentang kejadian itu yang tiba-tiba menyeruak begitu jelas. Namun tidak hanya tatapan, melainkan ucapan Grace kini tertuju padanya, jelas, nyata dingin dan penuh penilaian yang menusuk, seolah setiap inci tubuh Sophia sedang diukur dan dibandingkan dengan standar yang tak mungkin ia capai.
Grace melangkah lagi, lebih dekat ke arah Sophia. Sedangkan, Sophia menunduk sedikit lebih dalam, jemarinya mengepal di sisi rok lusuhnya.
"Kalau kau berani mencintai kekasihku, aku... akan bunuh kamu!"
Ucapan itu seketika Memecah udara—kasar, dingin, seperti pecahan kaca yang menyayat. Sophia tersentak; tubuhnya kaku selama beberapa detik, napasnya tercekat dan mata yang tadinya menunduk spontan melebar, memantulkan cahaya kristal di langit-langit. Jantungnya berdebar cepat, telinga berdengung seolah kata-kata Grace masih bergema di kepala.
Tangan Sophia yang semula menggenggam ujung bajunya terlepas, jari-jarinya bergetar. Ada panas yang menyebar ke pipinya—bukan hanya dari malu, tetapi dari ketakutan murni. Ia mundur satu langkah tanpa disadari, tumitnya hampir tersangkut di ujung karpet, dan sebuah suara kecil hampir tak terdengar terlepas dari bibirnya.
“Grace!”
Suara itu terdengar lantang, memecah ketakutan yang baru saja Sophia rasakan. Seketika, keduanya menoleh ke sumber suara dan memandang Bill yang datang mendekat.
Sophia memandang Bill—pria itu tampak berbeda dari apa yang ia ingat. Sorot matanya tajam namun dalam, seolah menyimpan badai yang berusaha ia kendalikan. Setelan jas hitamnya pas di tubuh, membuat bahunya tampak kokoh dan langkahnya mantap. Namun di balik ketegasan itu, ada sesuatu yang lembut, sesuatu yang membuat dada Sophia bergetar tanpa sadari dengan apa yang baru saja Grace ucapkan tadi.
Lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya ke wajah Bill, menonjolkan garis rahang tegas dan mata kelam yang kini terpaku pada Grace. Napasnya terlihat berat—ia menahan emosi, tapi juga ketegasan. Setiap langkah yang ia ambil membawa aroma samar parfum maskulin yang tajam, mencampur dengan aroma mawar dari parfum Grace, menciptakan kontras yang aneh tapi memikat.
"Sayang, kau sudah siap?" Ucap Grace sambil melingkarkan tangannya pada lengan Bill saat pria itu telah berada di dekat mereka.
Sekilas, mata Bill dan Sophia saling menangkap, namun Sophia langsung menundukkan kepalanya, bahkan sedikit membungkukkan tubuhnya dengan sopan.
"Diakah gadis yang akan Ayah jodohkan untukku?" Gumam Bill, menatap Sophia dari atas kepala hingga ujung kaki. Sama seperti Grace, penuh penilaian. "Sayang, kau pikir aku akan mencintainya?"
Sophia menelan saliva. Kata-kata itu keluar jauh lebih menyakitkan dari ucapan, bahkan ancaman Grace tadi.
"Berpikirlah seribu kali untuk mencintai dia, sayang." Kata Grace, menatap Bill lekat.
Bill hanya tersenyum sambil menangkap dagu Grace. "Hanya kau yang aku miliki, honey!" Katanya. Di saat yang sama, dalam satu gerakan, Bill mencium bibir Grace manis, lembut, juga hangat.
Sophia yang ada di hadapannya terkejut, tidak hanya menelan rasa kikuk dan canggung, melainkan luka untuk yang kedua kalinya ia Terima. Bagaimana bisa calon suaminya berani melakukan hal tersebut di depan matanya sendiri. Perlahan, air matanya mengalir tanpa sadar, membasahi wajahnya yang pucat dan tertelan setiap kali tenggorokannya tercekat, mendengar napas dan suara yang sesekali muncul dari ciuman mereka.
"I always love you," Gumam Bill melepaskan ciumannya. Matanya bergerak, kembali menangkap wajah Sophia. "Kau pikir aku akan melakukannya bersamamu setelah kita menikah nanti?"
Grace tertawa pahit. "Kau tidak waras, sayang."
Sophia menelan saliva.
Bill mendesis sambil tetap memandang rendah Sophia. "Kau tidak perlu canggung lagi jika kita melakukan ini di depanmu. Sebab, kau sudah pertama kali melihatnya bukan?"
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari pisau mana pun. Sophia terpaku, tubuhnya gemetar halus. Sekujur wajahnya memucat, dan pandangannya segera jatuh ke lantai, tak berani menatap pria itu lagi. Napasnya tercekat, dada terasa sesak, sementara air mata terus mengalir tanpa lagi bisa ia bendung.
Sophia menggigit bibir bawahnya keras-keras—berusaha menahan isak, tapi suara kecil tetap lolos di sela tenggorokannya. Bahunya bergetar pelan, lalu ia menunduk lebih dalam, seolah ingin lenyap dari pandangan mereka. Semua rasa—malu, sakit hati, dan kecewa—bercampur menjadi satu di dadanya.
“Ayo, sayang. Aku antar kamu pulang.”
Nada suara Bill berubah lembut lagi, nyaris berbisik, namun tetap menyimpan nada perintah yang tak bisa dibantah. Ia menatap Grace sekilas—tatapan yang mengandung sesuatu yang tak sepenuhnya tulus, tapi cukup untuk membuat Grace tersenyum samar.
Gaun sutra Grace berayun lembut saat tubuhnya ditarik mengikuti langkah Bill, hak sepatunya beradu dengan lantai marmer, meninggalkan gema yang memudar di lorong panjang.
Sophia masih tertunduk. Ia bahkan tak berani menatap punggung mereka yang semakin menjauh—siluet dua orang yang tampak serasi dalam cahaya lampu temaram. Dunia mereka tampak jauh, terlalu tinggi untuk dijangkau, dan setiap derap langkah yang terdengar lenyap dari telinganya terasa seperti satu demi satu bagian hatinya ikut tercabut.
Ketika akhirnya pintu besar di ujung lorong tertutup rapat di belakang mereka, rumah itu kembali sunyi. Hanya Sophia yang tersisa di sana—berdiri dengan mata basah, bahu gemetar, dan napas yang terputus-putus bersama campuran aroma parfum Grace dan Bill yang masih menggantung di udara, menimbulkan rasa pahit yang tak bisa ia jelaskan.
****