NovelToon NovelToon
Senja Garda

Senja Garda

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Mengubah Takdir / Action / Dosen / Epik Petualangan / Penyelamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daniel Wijaya

Siang hari, Aditya Wiranagara adalah definisi kesempurnaan: Dosen sejarah yang karismatik, pewaris konglomerat triliunan rupiah, dan idola kampus.

Tapi malam hari? Dia hanyalah samsak tinju bagi monster-monster kuno.

Di balik jas mahalnya, tubuh Adit penuh memar dan bau minyak urut. Dia adalah SENJA GARDA. Penjaga terakhir yang berdiri di ambang batas antara dunia modern dan dunia mistis Nusantara.

Bersenjatakan keris berteknologi tinggi dan bantuan adiknya yang jenius (tapi menyebalkan), Adit harus berpacu melawan waktu.

Ketika Topeng Batara Kala dicuri, Adit harus memilih: Menyelamatkan Nusantara dari kiamat supranatural, atau datang tepat waktu untuk mengajar kelas pagi.

“Menjadi pahlawan itu mudah. Menjadi dosen saat tulang rusukmu retak? Itu baru neraka.”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daniel Wijaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

RAHASIA SANG BENDAHARA

Waktu: Malam hari pasca-insiden Hantu Banyu. Pukul 23.30 WIB.

Lokasi: Bunker Bawah Tanah, Rumah Utama Menteng, Jakarta.

(POV: Arya Wiranagara)

Di balik kemegahan rumah utama keluarga Wiranagara di kawasan elit Menteng—rumah yang sering menjamu menteri dan diplomat asing—terdapat sebuah pintu yang keberadaannya dihapus dari denah arsitek.

Pintu itu tidak menuju ke gudang anggur atau ruang koleksi seni. Pintu itu menuju ke akar dari segala kekayaan dan kutukan keluarga ini.

Arya Wiranagara berdiri di ruang kerja mendiang ayahnya yang gelap. Dia berjalan menuju rak buku mahoni setinggi tiga meter di dinding utara. Tangannya bergerak hafal, menarik sebuah buku tebal berjudul Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV edisi pertama.

KLIK.

Terdengar suara mekanisme pengunci yang terlepas di balik dinding. Rak buku itu bergeser perlahan tanpa suara, memperlihatkan sebuah lorong tangga spiral dari besi yang turun menuju kegelapan.

Udara dingin langsung menyergap keluar dari lorong itu. Baunya khas—campuran antara kertas tua yang membusuk, kapur barus, dan aroma kayu gaharu yang telah terperangkap puluhan tahun. Bau masa lalu yang stagnan. Bau yang selalu membuat Arya merasa sesak napas, seolah-olah dia sedang berjalan masuk ke dalam perut sejarah yang belum mati.

Dia melangkah masuk. Rak buku menutup otomatis di belakangnya.

Langkah kaki sepatu Oxford kulitnya menggema tak-tak-tak di anak tangga besi yang dingin.

"Lampu," perintah Arya.

Sensor suara menangkap perintahnya. Lampu-lampu pijar kuning menyala berurutan, satu per satu, menerangi ruangan bawah tanah yang luasnya hampir setengah lapangan basket.

Ini adalah Arsip 0.

Dinding ruangan ini terbuat dari beton bertulang setebal satu meter, dilapisi panel kayu jati ukir dari Jepara. Namun, ukiran itu bukan sekadar hiasan. Jika dilihat lebih dekat, setiap lekukan kayu adalah Rajah Pagar Gaib yang rumit—mantra perlindungan yang ditanamkan oleh kakek buyutnya untuk mencegah entitas halus (seperti Tuyul, Babi Ngepet, atau mata-mata ghaib) mengintip apa yang ada di dalam.

Ruangan ini "buta" secara mistis. Tidak ada sinyal yang bisa masuk atau keluar.

Arya berjalan melewati deretan lemari arsip besi kuno buatan Jerman dan Belanda yang berjejer rapi seperti peti mati vertikal. Di sini, tidak ada komputer, tidak ada cloud server. Hanya kertas, tinta, dan stempel basah.

Di sini, Arya bukan CEO yang dipuja majalah Forbes. Di sini, dia hanyalah "Penjaga Kunci".

Dia berhenti di depan sebuah lemari besi raksasa di ujung ruangan. Lemari itu memiliki lambang Wiranagara lama yang cat emasnya sudah memudar: Gambar Burung Garuda yang mencengkeram Timbangan dan Keris.

Arya memutar kombinasi angka di roda besi—tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI—lalu menempelkan telapak tangannya ke panel biometrik yang tersembunyi di balik ukiran kepala naga.

BIP. KLAK. BRAMM.

Pintu besi setebal sepuluh sentimeter itu terbuka dengan suara engsel berat yang mengerang, seolah keberatan memuntahkan rahasia yang dikandungnya.

Arya menarik napas dalam, menyiapkan mentalnya.

Dia mengambil sebuah map kulit tebal yang permukaannya sudah retak-retak termakan usia. Di sampulnya, tertulis dengan ejaan lama menggunakan ketikan mesin tik manual: "MANIFES PENYATUAN - 1947".

Arya membawa map itu ke meja kayu ulin di tengah ruangan. Dia duduk, menyalakan lampu baca, dan membukanya.

Matanya langsung tertuju pada sebuah foto hitam putih berukuran besar yang terselip di halaman pertama. Foto yang selalu membuatnya merinding karena skala sejarah yang ditangkapnya.

Foto itu diambil di sebuah pendopo rahasia yang tersembunyi di lereng Gunung Lawu yang berkabut, di tengah kecamuk Agresi Militer Belanda II.

Di foto itu, berdiri dua puluh orang.

Mereka bukan tentara berseragam hijau. Mereka adalah manusia-manusia dengan penampilan yang begitu beragam, mewakili setiap sudut gelap Nusantara yang selama ini saling bermusuhan atau tak peduli.

Arya menelusuri wajah-wajah itu satu per satu dengan jarinya:

• Di sebelah kiri, berdiri seorang **Datuk** dari Andalas \(Sumatera\). Wajahnya keras dengan brewok tebal, mengenakan ikat kepala songket dan Rencong terselip di pinggang. Tatapannya setajam Harimau Sumatera.

• Di sebelahnya, seorang **Panglima Dayak** dari Borneo \(Kalimantan\) bertelanjang dada, memperlihatkan tato bunga terung yang memenuhi bahu hingga leher. Sebuah Mandau tersandar santai di bahunya, seolah siap memenggal roh jahat.

• Di barisan tengah, berdiri sosok androgini yang anggun namun mengintimidasi—seorang **Bissu** dari Celebes \(Sulawesi\), memegang Badik pusaka, penjaga keseimbangan Bugis kuno yang dihormati para raja.

• Di sisi kanan, berdiri seorang wanita tua dengan aura yang bahkan di foto hitam putih pun terasa mencekam. **Ratu Leak** dari Nusa Penida \(Bali\), mengenakan kain poleng dan memegang tasbih dari tulang.

• Dan di ujung paling kanan, berdiri tegak seorang **Kapitan Laut** dari Maluku \(Timur\) dengan tombak bermata tiga, otot\-ototnya seperti dipahat dari karang, mewakili kekuatan arus samudra pasifik.

Dan di tengah-tengah lingkaran manusia-manusia sakti itu, duduk seorang pria muda berkacamata bulat, bertubuh kurus, mengenakan setelan jas ala Bung Hatta yang rapi namun memegang pistol Luger di tangan kanan dan Keris di tangan kiri.

Raden Mas Tirto Wiranagara. Kakek buyut Arya. Sang Diplomat.

Di bawah foto itu, terlampir sebuah naskah sumpah. Sebuah "Sumpah Pemuda" versi dunia bayangan yang ditulis dengan darah di atas kertas segel.

Arya membaca teks itu dalam hati, merasakan setiap katanya menekan dadanya:

"KAMI, PENJAGA DARI TUJUH PENJURU ANGIN, MENGAKU:

Selama ribuan tahun kami terpisah oleh laut, terpecah oleh ego kesukuan, dan saling berperang dalam diam. Kelemahan itulah yang membuat penjajah bisa masuk. Mereka tidak hanya menjarah rempah, tapi menjarah jiwa tanah ini.

Hari ini, di hadapan ancaman Unit Van Der Tijd yang ingin memperbudak roh Nusantara, kami melepaskan ego kedaerahan kami.

Tidak ada lagi sihir Jawa, tidak ada lagi mantra Sumatera, tidak ada lagi racun Kalimantan. Mulai hari ini, kami adalah satu dinding pertahanan.

Kami menyerahkan harta kerajaan kami—emas, permata, dan pusaka—untuk dilebur menjadi satu kekuatan baru. Sebuah Bahtera Ekonomi yang akan membiayai perang abadi ini.

Wiranagara bukanlah pemilik. Wiranagara adalah Bendahara. Wiranagara adalah Bahtera."

Arya menutup mata sejenak.

Inilah alasan kenapa Wiranagara Group memiliki akses tambang di pedalaman Kalimantan, perkebunan di Sumatera, dan resor di Bali tanpa hambatan warga lokal. Bukan karena uang pelicin. Tapi karena para "Penjaga" di daerah-daerah itu tahu: Wiranagara adalah bank pusat mereka.

Setiap keuntungan perusahaan digunakan untuk merawat situs, menyogok pejabat agar tidak menggusur tanah keramat, dan membiayai operasi seperti yang dilakukan Aditya.

Arya adalah nahkoda bahtera ini. Dan tugasnya adalah memastikan bahtera tidak karam kehabisan uang, agar adiknya—sang eksekutor lapangan—bisa terus bertarung.

"Kakek menyatukan Nusantara dengan sumpah darah," bisik Arya pada foto kakeknya yang terlihat tenang namun berbahaya itu. "Dan sekarang cucunya harus mempertahankannya dengan laporan keuangan dan suap menyuap."

Arya membalik halaman selanjutnya.

Matanya terpaku pada profil musuh yang membuat persatuan mustahil itu terjadi. Musuh yang membuat Dukun Santet Jawa mau bersalaman dengan Panglima Perang Dayak.

TARGET: UNIT "VAN DER TIJD"

(**Speciale Eenheid voor Occulte Zaken)**

Arya harus tahu apa yang sebenarnya terjadi di Palembang tahun 1948. Kenapa kakeknya memberi peringatan khusus soal Sungai Musi dan "Mata Sriwijaya".

Dia membuka lembar berikutnya dengan kasar, suara kertas tua yang robek memecah kesunyian bunker.

1
Kustri
☕dit, kowe butuh energi💪👏
Kustri
nekatmu semangatmu
💪💪💪
Santi Seminar
pasti ada jalan keluar😭
Kustri
lanjut yok💪
Kustri
remuk ajur mumur njobo njero😫😭
Santi Seminar
hmmmm
Kustri
ws tak kei sajen wae☕🌹tp krg menyane thor😁
Kustri
waduuuuuh... py iki!!!
amben moco koq mbok gawe deg"an wae to thor
opo yo sia" pengorbanane adit...
duh Gusti... 😫
Kustri
deg"an was" qu, yn nama sg tercoreng ws bener" ora berkutik mental'e nyungsep, tp yakin adit luwih👍
Kustri
trenyuh qu melu ngrasakne dit😩
☕bn pulih💪
kiro" adik'e duwe rekaman ttg ibu'e pora
mungkin iso nonton/ngrungokne ulang 😭
Kustri
ya Allah... melasi si adit, sebagian ingatan hrs hilang lg😭😭
ws tak sogok☕bn memorine adit balik meneh, ibu lho😩
Kustri
serangan ditunda pemirsa😩
sabaaaar...💪
Kustri
☕u trio tim yg kocak😁
Kustri
tak tunggu kelanjutane Dit💪
Kustri
hantu lagi👺👻
bn episod ora ene sg ora gawe tegabg💪💪💪
Kustri
ngeyel men to jar!
ws diomongi ojo kluyuran ogh, bn sopo sg meh nulungi
Kustri
atiqu mbok gawe ky sungai musi... terombang ambing 💪
Kustri
senyuman bikin klepek" gk konsen😆😆😆
Kustri
arya ☕sik, bn semangat ngrewangi adit
kolaborasi kakang ro adi🚀💪💪💪
Santi Seminar
☕☕lanjutt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!