Mari menepi dari kisah Cinderella Story (Pangeran tampan/CEO menikahi Upik Abu), kisah kawin kontrak, dan juga kisah menikah dengan keterpaksaan karena balas budi. Saatnya kita belajar dari pengalaman ana yang aku tulis dikarya perdanaku ini.
Ana merupakan mahasiswi magang di PT. Asri Global Tbk, di perusahaan tersebut ana bertemu dengan seorang pria yang benama julio, julio merupakan manager acounting di divisi tempat ana magang.
Sejak pandangan pertamanya dengan ana, julio sudah menaruh hati terhadap ana, sehingga ia mendekati ana.
Tak banyak rekan-rekan kantornya yang mengetahui jika ternyata julio telah memiliki istri dan anak di kampung halamannya, begitu pun dengan ana.
Hingga hubunganan mereka mereka yang sudah terlalu jauh, sampai pada akhirnya ana mengandung anak julio.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Selamat datang kampung halaman nenek yang indah dan asri, butuh waktu tempuh delapan jam perjalanan darat untuk sampai di kampung halaman nenek.
Sebelum neneknya meninggal, Ana biasanya memilih naik pesawat agar lebih cepat, namun kali ini ia memilih perjalanan darat agar ia dapat menikmati keindahan alam di sepanjang perjalanan.
Pihak travel mengantar Ana tepat sampai di depan rumah neneknya, bertahun-tahun sudah Ana tidak kemari, rupanya rumah nenek sudah banyak perubahan.
Pagar kayu yang dahulu kini berubah menjadi pagar besi yang kokoh, halaman yang di tumbuhi rerumputan hijau serta banyak pepohonan kini berubah menjadi semen dan beberapa pot bunga anggrek yang berbaris di teras rumah nenek, cat tempok putih bersih warna favorit nenek berubah menjadi warna pink cerah.
'Mungkin Papa yang sudah menyuruh Pakde Giman untuk merenovasinya, agar terlihat lebih modern,' gumam Ana dalam hati.
Ana menarik kopernya masuk ke halaman rumah neneknya, kemudian ia memencet bel pintu rumah sambil memanggil Pakde Giman.
Ting... Tong... Ting... Tong...
Ting... Tong... Ting... Tong...
"Pakde Giman... Pakde, ini Ana datang Pakde..."
"Njih Sekedap."
Terdengar suara pria dari dalam, Ana menunggu dengan sabar. Lima menit kemudian pintu rumah di buka dan....
Ana melihat wajah itu, wajah yang sangat ia kenal, wajah yang saat ini Ana mencoba melupakannya, menghapus semua memory kebersamaan dengannya.
Ya... Pria itu adalah Julio
Ana dan Julio sama-sama tertegun saling bertatapan sangat lama, keduanya sama-sama terkejut.
"An... Ana," suara Julio terdengar lirih menyebut nama Ana.
Tiba-tiba dari arah belakang tubuh Julio muncul seorang wanita yang sedang menggendong seorang bayi perempuan, wanita tersebut menghampiri Julio dan Ana.
Pikiran Ana mulai berkelana ke mana-mana ia menduga wanita itu adalah istri sah Julio. Ada kilatan rasa perih yang menghantam Ana ketika melihat wanita itu dan anaknya yang di gendongnya.
"Sinten bie?"
Tanya wanita itu kepada Julio, namun Julio tidak menjawab pertanyaannya. Pria itu masih terus menatap Ana lekat-lekat.
Entah mengapa tiba-tiba perut Ana bergejolak, Ana merasa sangat mual dan ingin sekali memuntahkan isi perutnya.
"Bo... boleh saya pinjam toiletnya?" Ana benar-benar sudah tidak tahan menahan rasa mualnya.
Wanita itu mempersilahkan Ana masuk ke dalam rumahnya dan mengantarkan Ana ke toilet.
"bie, nyuwun tulung direnangi rumiyin mbake, kulo nilemaken adek lan damel teh."
*abi tolong tungguin dulu mbaknya, aku mau nidurin adek dan bikin teh hangat.
Wanita itu berjalan ke kamar anak, meninggalkan Julio yang sedang mununggu Ana di depan toilet, Julio yang sedikit kawatir dengan kondisi Ana mengetuk pintu toilet.
"Apa kamu baik-baik saja, An?" tanya Julio.
Namun tidak ada jawaban dari Ana, hampir dua puluh menit kemudian Ana baru keluar dari toilet.
"Apa kamu baik-baik saja, An?" Julio kembali mengulang pertanyaannya sambil memegang bahu Ana, dengan secepat kilat ana mengibaskan tangan Julio.
"Jangan sentuh aku!!" jawab Ana dengan ketus, ia tidak sudi lagi di sentuh oleh pria yang telah menipu dirinya.
Julio meminta Ana untuk duduk di ruang tamu, sebenarnya Ana tidak ingin berlama-lama berada di dekat Julio namun ia ingin meminta penjelasan mengapa rumah neneknya bisa di tempati olehnya.
Tidak lama kemudian wanita itu datang dengan membawa teh hangat untuk Ana.
Untuk meredakan rasa mualnya Ana pun langsung meminum teh yang telah di hidangkan untuknya, sambil minum Ana mencuri-curi pandangan pada wanita itu.
"Bagaimana Mba, sudah enakan? Perkenalkan nama saya Retno." Wanita itu mengulurkan tangannya ke arah Ana.
Dengan ragu Ana menerima jabatan tangannya."Saya Ana, maaf jadi merepotkan. Saya kemari karena ini adalah rumah almarhum nenek saya," ucap Ana.
"Maaf Mba, dua bulan lalu saya dan suami saya ini telah membeli rumah ini dari bapak Reino Alfian," terang Retno.
Tubuh Ana bergetar, matanya sedikit berkaca-kaca mendengar pernyataan wanita itu. 'Jadi benar dugaanku, wanita ini adalah istri sahnya Julio dan rumah ini sudah di jual Papa,' gumam Ana dalam hati.
"Ya sudah kalau begitu saya permisi dulu." Ana beranjak dari tempat duduknya, namun Julio menahannya untuk pergi.
"Saya akan mengantarnya." Suara julio nampak tenang namun terdengar tegas.
Seketika Ana langsung menatap Julio dan juga menatap istrinya."Ti... tidak perlu! Saya bisa pulang sendiri," ucap Ana tidak kalah tegasnya, ia tidak mau jika dirinya di cap sebagai perebut suami orang.
"Ia mba biar suami saya saja yang mengantar, takut mbaknya kenapa-kenapa di jalan. Mbaknya kan tadi habis muntah pasti sekarang lemas." Retno berbalik berbicara kepada Julio "Bi, ganti baju dulu gih."
"Hem.." Julio berjalan menuju kamarnya.
Melihat Julio pergi, kesempatan ini di pakai oleh Ana untuk segera pergi dari rumah Julio. "Mbak Retno terima kasih atas teh hangatnya. Maaf saya buru-buru, saya permisi dulu." Ana menarik kopernya dan keluar dari rumah Julio dengan tergesah-gesah.
"Loh Mbak?" Retno mencoba mengejarnya, namun Ana sudah keluar dari pagar dan tak terlihat lagi.
Ana yang terlalu terburu-buru, sampai-sampai tidak memperhatikan jika di depannya ada mobil sedang melaju kencang. Tanpa senga, Ana pun terserempet mobil tersebut.
suka sama cerita nya walau baca yg 21+ tapi tetap bagus cerita nya walau belum baca semua bab nya